Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Apa Lagi Ini Ya Rabb


__ADS_3

Karena proses BP4R selesai, surat rekomendasi juga sudah terima. Maka yang sibuk adalah papanya Mario kembali. Dia yang seorang pensiunan polri, sudah sangat mengerti apa saja yang harus dilakukannya.


Ayahku yang manawarkan bantuan, diterima beliau dengan senang hati, jadilah hari ini ayahku dan papanya Mario yang sibuk mengurusi berkas pernikahan kami di KUA. Aku fokus di toko, sementara Mario fokus di kantornya. Terlebih karena jabatannya juga sudah naik, otomatis dia juga sibuk. Dan aku memang sudah tahu dengan profesinya sejak dulu, tidak terlalu ambil pusing ketika seharian Mario tidak menghubungiku


Paling jam istirahat Mario akan menghubungiku sebentar menanyakan kabarku, sudah makan atau belum, jangan terlalu kecapean, butuh makan apa. Pertanyaan biasa saja, tidak ada yang special kecuali ketika tiba-tiba dia muncul sebentar hanya untuk melihat wajahku dan mengusap kepalaku. Touch action yang sangat aku suka dari Mario. Sederhana, tapi mampu membuatku melambung


Dan karyawanku yang memang sudah tahu jika aku dan Mario akan menikah, setiap Mario masuk ketoko, mereka akan sedikit menganggukkan kepala mereka dan tersenyum ramah.


Dan hari ini, ketika aku sedang sibuk di toko, kembali aku harus menarik nafas panjang ketika aku melihat mas Arif masuk. Wajahnya terlihat biasa saja ketika melihatku, begitu juga dengan aku. Aku berusaha untuk bersikap acuh padanya. Perkelahiannya dengan Ibrahim seminggu yang lalu masih membuatku marah dan benci padanya


Seorang karyawanku langsung mendekati mas Arif ketika melihat mas Arif tampak melihat-lihat barang. Dan melalui ekor mataku, aku melihat jika mas Arif seperti menjelaskan sesuatu yang membuat karyawanku mengangguk-anggukkan kepalanya


“Terima kasih, silahkan datang kembali” ucapku sambil tersenyum ramah ketika pembeliku selesai melakukan pembayaran padaku


“Buk, bapak itu mencari ini…….” sebut karyawanku yang tadi melayani mas Arif


Aku menoleh sebentar kearah mas Arif yang menatap kearah kami


“Kita nggak punya barang yang diingin beliau. Kita hanya menjual kebutuhan rumah tangga, pakaian, pecah belah, itu saja. Sepeerti yang kamu lihat”


Karyawan ku itu menganggukkan kepalanya kemudian berpamitan padaku dan kembali kehadapan mas Arif. Dan kulihat kembali karyawanku tersebut terlihat berbicara dengan mas Arif


Aku kembali bersikap biasa saja ketika mas Arif berjalan ke arahku


“Buk, kita harus bicara” ucapnya ketika sudah berdiri di depanku


“Mau bicara apa? Disini saja bicaranya. Mas lihat sendirikan jika aku sibuk, jadi maaf aku nggak bisa jika bicara di tempat lain”


Kulihat mas Arif menarik nafas panjang, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya


“Aku mau ajak anak-anak ke rumah ku”


Dengan cepat aku menoleh, dan menatapnya cukup lama


“Aku tahu mereka sudah libur”


Aku masih bergeming mendengar ucapan mas Arif. Kemudian aku juga menarik nafas panjang


“anak-anak ada di ruko, nggak disini. Jika mas mau bawa mereka, mas tanya dulu sama mereka. Kalau mereka mau, mas bisa bawa, tapi kalau mereka nggak mau, jangan dipaksa”


Mas Arif mengangguk, kemudian kembali dia berkata meyakinkanku jika anak-anak pasti mau. Aku hanya tersenyum sekilas mendengar ucapan percaya dirinya


“Disana ada Ibrahim kan buk?”


Aku mengangguk, dan kembali kulihat mas Arif menarik nafas panjang. Lalu aku menoleh kearah kedua kasirku, meminta pada mereka untuk stay disini dulu karena aku akan pulang sebentar

__ADS_1


“Pulang sama aku kalau begitu, aku nggak mau kalian berkelahi lagi. Walau aku tahu pasti nanti Ibrahim akan kembali nggak suka melihat mas”


Mas Arif tersenyum kecut, kemudian dia berjalan mengikutiku yang telah lebih dulu berjalan mendahuluinya. Benar tebakanku, wajah Ibrahim langsung garang ketika melihatku dan mas Arif masuk. Aku langsung menggelengkan kepalaku kearahnya, dan menyentuh lengannya. Ibrahim melengos dan pura-pura fokus menatap layar laptop yang ada di depannya


“Meka sama Bobby di atas dek?” tanyaku memecah kekakuan


Ibrahim hanya berdehem menjawab pertanyaanku. Dan aku segera naik dan meminta pada mas Arif untuk menunggu di teras ruko, duduk di kursi yang ada di sana. Jangan di dalam, karena aku khawatir dia dan Ibrahim akan saling adu jotos lagi


Meka dan Bobby segera turun begitu kuberitahu jika ada ayah mereka dibawah. Dan mas Arif langsung merentang tangannya ketika kedua anaknya berlari kearahnya


“Nggak mau!!!!” jawab kedua anakku kompak ketika mas Arif akhirnya mengungkapkan tujuan sebenarnya dia kesini


Mas Arif berusaha meyakinkan kedua anaknya dan terus berusaha membujuk keduanya. Aku hanya diam, sedikitpun tidak membantu usahanya tersebut.


“Kami nggak mau ikut ayah ke desa itu. Jauh, lagian disana ada istri ayah. Kami nggak suka sama dia”


Mas Arif melirik ke arahku, dan aku membalas tatapan tajamnya. Aku tak ingin mas Arif salah sangka. Aku tidak mau jika dia berfikir jika aku yang menghasut otak kedua anakku


Karena kedua anaknya tetap tidak mau, akhirnya mas Arif menyerah dan menarik nafas panjang sambil menatap ke arahku


“Kamu nikahnya kapan buk?”


Aku tersenyum segaris mendengar pertanyaannya


“Sebentar lagi, doakan saja semuanya lancar”


“Jangan lupa undang aku ya buk” ucap mas Arif sebelum dia akan pergi naik ke motornya


“Kata oom, nggak boleh ngundang mantan….” jawab Meka spontan yang membuatku menunduk menahan tawa


*********


Hari ini adalah tepat dua minggu setelah kami sidang pra nikah kemarin. Dan menurut papanya Mario dan ayahku, semua berkas sudah selesai semua. Dan pernikahan kami akan diadakan awal bulan depan. Dan itu artinya, sekitar tiga minggu lagi


Sayang, malam ini aku pulang ke ruko kamu ya. Mampir saja kok


Aku tersenyum ketika membaca pesan dari Mario. Ketika pesan itu dikirimnya bertepatan dengan aku yang sedang makan siang di atas


Iya, aku tunggu


Hanya itu jawabanku setelah itu aku melanjutkan makan siangku. Dan ketika malam, saat ruko akan tutup, aku melihat Mario masuk ke dalam toko dan tersenyum ke arahku. Ada raut letih di wajahnya, dan aku segera mengusap wajahnya dengan sayang dan menampilkan senyum terbaikku untuk membuatnya lebih rileks


“Katanya mau langsung ke ruko” ucapku ketika kami berjalan keluar. Karyawanku melambaikan tangan mereka kearah kami ketika mereka sudah diatas motor mereka masing-masing


Aku naik motor dengan Mario yang mengiring di belakang. Dan ketika sampai di ruko, aku dan Mario langsung menuju ke belakang. Aku langsung menyeduhkan kopi instan untuk Mario dan duduk di sampingnya yang langsung meraih cangkir yang barusan aku letakkan

__ADS_1


“Tasya dan Raisa ada di rumah mama” lirih Mario ketika dia meletakkan cangkir


Aku menelan ludah mendengar nama kedua adik Mario tersebut. Perasaanku mulai tak enak, dan aku merasa ada seseatu yang disembunyikan oleh Mario. Karena terlihat dari tatapan matanya yang nanar seperti orang bingung


“Memangnya ada apa kalau ada mereka di rumah mama?” tanyaku pelan


Mario menoleh dan berusaha untuk tersenyum. Seragamnya dibukanya kancing bagian atas dan dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi makan


“Aku nggak suka sama mereka” jawab Mario menerawang


Aku membuang nafas panjang kemudian ikut menatap kosong ke depan


“Nggak bisa begitu Mario. Walau bagaimanapun juga mereka adalah adik kamu dan akan selamanya menjadi adik kamu. Terlepas dari kelakuan buruk mereka sama kamu dan aku”


Kudengar Mario menarik nafas panjang. Kemudia dia menoleh ke arahku, menggenggam erat tanganku


“Kamu tetap masih mau menikah denganku walau nanti kedua adikku akan marah besar?”


Aku tersenyumm kecut mendengar pertanyaan Mario, kemudian menganggukkan kepalaku


“Kan kita sudah berjanji, apapun akan kita hadapi bersama. Tak perduli jika itu kedua adikmu”


Mario menarik nafas lega kemudian kembali mengusap kepalaku


“Jika begitu aku pulang sekarang, aku mau hadapi kedua adikku. Apa mau mereka sekarang, aku tak perduli. Terlebih jika itu menyangkut masa depanku”


Aku mengangguk menyetujui ucapan Mario. Memang kedua adiknya harus dikasih sikap. Walau Mario sudah menjauhi mereka karena kecewa dengan sikap mereka, siapa yang tahu jika mereka masih saja tidak sadar dan masih berusaha menentang hubungan kami?


Setelah itu Mario langsung meraih gelas kopinya dan segera menenggak habis kopi tersebut. Lalu dia segera bangkit dari kursinya dan aku mengikuti aksinya.


“Aku pulang, sayang ya…?” ucap Mario sambil menarik kepalaku dan melabuhkan sebuah kecupan di keningku


Aku melambaikan tanganku kearah Mario ketika mobil yang dikendarainya mulai bergerak menjauh. Dan ketika aku masuk ke dalam ruko, hp yang tadi aku tinggalkan dalam tas yang aku letakkan di atas kulkas berdering


Aku tertegun melihat nomor baru yang masuk. Dan dadaku mulai berdegup kencang karena aku menduga-duga siapa gerangan yang meneleponku malam-malam begini


“Intan, mana suami aku? Kurang apa, kamu selama ini menjanda sehingga kamu masih menjalin hubungan dengan suami aku?”


Aku melongo mendengar suara perempuan di seberang sana. Jujur aku tidak faham suara siapa ini yang menelepon ku.


Aku dnegar perempuan itu memaki-makiku dan mengataiku gatel karena masih mendekati suaminya


“Kamu Mirna?” tanyaku akhirnya


Perempuan di seberang diam, dan aku menarik nafas panjang

__ADS_1


“Ya Rabb, apalagi sih ini?” keluhku sambil menggelengkan kepalaku dan duduk di kursi makan dengan lesu


__ADS_2