Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Marahnya Mario


__ADS_3

Mario tidak memperdulikan bagaimana kedua adiknya yang ketakutan di belakang, bahkan Tasya sampai berteriak marah padanya


"Kak jangan ngebut, kami nggak mau mati konyol"


Mario tak menggubris


"Kak, kami punya anak, kami nggak mau mati sekarang!!!" teriak Tasya lagi


Raisa makin mengeratkan pegangannya pada jok mobil tempatnya duduk dan mulutnya tak hentinya komat kamit berdoa


Disebuah tempat yang agak sepi, Mario menepikan mobilnya, mengusap wajahnya dengan kasar lalu menoleh kearah kedua adiknya yang masih berwajah tegang di belakang


Mario menghempas nafas panjang lalu mematikan mesin mobil


"Turun!!!"


Raisa dan Tasya bergeming, sementara Mario yang telah melepas seat bealt di tubuhnya segera membuka pintu mobil lalu turun mendahului kedua adiknya


Tasya dan Raisa yang melihat Mario telah turun, kembali saling toleh dan terperanjat ketika Mario menggedor kaca mobil


Dengan takut keduanya turun dan berdiri berdekatan


"Kalian berdua apakan Intan?"


Tasya dan Raisa menarik nafas panjang begitu mendengar pertanyaan Mario


"Tasya?, Raisa?, kalian apakan Intan?"


"Kita nggak ngapa-ngapain dia kak, emang mbak Intan ngomong sama kakak?"


Mario menoleh kesal kearah Tasya yang tampak gelisah


"Nggak ngomong apa-apa, tapi dia meminta mundur dari kakak, dan ini adalah kemundurannya yang kedua kalinya"


Raisa dan Tasya refleks saling toleh


"Jawab kakak, apa yang kalian katakan sama Intan??!" bentak Mario


Tubuh Tasya dan Raisa terlonjak kaget saking kencangnya bentakan Mario


"Nggak ada kak, sumpah!!!"


Mario membalikkan badannya, menarik bahu Tasya dan mencengkeramnya dengan erat


"Apa kalian berdua perlu kakak paksa, hah???!"


Tasya memundurkan kepalanya karena Mario tepat berteriak di depan wajahnya


"Kak, harusnya kakak itu berterima kasih sama kami, karena kami menyelamatkan kakak dari perempuan yang sudah menyakiti kakak"


Mario melepas cengkeramannya pada Tasya, lalu beralih pada Raisa


"Menyelamatkan?, apa yang kamu selamatkan?"


Raisa menelan ludahnya


"Kak, dia itu sudah meninggalkan kakak, apa kakak lupa bagaimana dulu kakak terluka karena ditinggal mbak Intan menikah?"

__ADS_1


Mario mengusap wajahnya dengan kasar


"Kasusnya sama seperti sekarang, bedanya dulu Intan mundur karena memang keinginannya, tapi kali ini dia mundur karena kalian"


"Kok kita?, mbak Intan nya aja yang lebai, orang kita nggak ngapa-ngapain dia kok"


Mario mengusap kembali wajahnya karena kedua adiknya masih membantah


"Apa perlu kalian kakak bawa ke kantor polisi?"


Tasya dan Raisa kembali saling lirik


"Kak, ayo dong kak, jangan childis gini, kita itu sayang sama kakak, kita nggak ingin kakak dimanfaatin sama Mbak Intan"


"Intan tidak pernah manfaatin kakak, justru Intan membuat semangat kakak makin besar, Intan kembali mengembalikan kebahagiaan kakak yang dulu hilang"


"Kakak baca nggak sih kak postingan terakhir dia?, coba kakak cerna, benar yang mbak Intan katakan bahwa kakak harus cukup pintar untuk melupakan orang yang telah menyakiti kakak"


"Raisa dengar, kakak yang tahu bagaimana Intan, apa alasan dia menulis postingan itu, dan itu bukan ditujukan untuk kakak"


Raisa tersenyum sinis mendengar ucapan Mario


"Kakak peringatkan sama kalian berdua, stop ganggu masalah pribadi kakak, awas kalau kalian sekali lagi ganggu hubungan kakak dengan Intan"


Raisa dan Tasya mendengus kesal dengan wajah cemberut


"Rupanya kakak lebih mempercayai perempuan itu ketimbang kami saudara kakak sendiri"


"Tasya stop!!!"


"Intan jauh lebih mengenal kakak dibanding kalian berdua, jika kalian memang mengenal kakak, kalian tidak akan melakukan ini pada kakak"


Kembali Tasya dan Raisa saling toleh


"Salah kak, status dan strata sosial kakak sama mbak Intan berbeda"


"Kalian..…..?" geram Mario


"Memang benar kan kak apa yang kami katakan, mbak Intan janda anak dua, nggak punya pekerjaan, sedangkan kakak?"


"Apa kakak nggak malu?, mikir dong kak!!!"


Dengan cepat Mario menarik bahu Tasya dan menunjuk tepat di wajah adiknya tersebut


"Sekali lagi kamu merendahkan Intan, kakak nggak akan segan-segan menampar kamu!!!"


Tasya menepis tangan Mario dengan kasar


"Akan aku ingat ya kak, bagaimana perlakuan kakak sama aku, dan bisa aku yakinkan kalau kakak akan menyesal"


Setelah berkata begitu Tasya menarik tangan Raisa menjauh dari sana


Tapi baru beberapa langkah mereka berjalan, Mario telah dapat menghentikan keduanya


"Kalian berdua yang harusnya sadar, bahwa kakak sangat mencintai Intan, dan sampai kapanpun itu akan tetap terjadi, persetan jika kalian akan melakukan apapun karena kakak tidak akan perduli"


"Terserah kakak, dan kami tidak akan perduli lagi sama kakak, jika kakak lebih memilih mbak Intan dibanding kami, silahkan. Itu artinya memang perempuan itu lebih penting dari kami yang adik kandung kakak"

__ADS_1


Mario diam mendengar jawaban keras kepala dari Tasya


"Jadi kalian tetap tidak mau mengakui kesalahan kalian?"


"Kami tidak salah kak, yang salah itu adalah otak kakak karena tidak bisa berpikir jernih lagi karena cinta, tapi kami yakin saat kakak patah hati kembali oleh mbak Intan, kakak akan menyadari bahwa apa yang kami katakan selama ini benar"


Mario mengusap wajahnya


"Kalian berhenti disini!" ucapnya sambil mengeluarkan hp


Aku yang tengah melamun, kaget ketika hp yang terletak di dekat kakiku berdering


Aku menarik nafas panjang sebelum menerima panggilan tersebut


"Intan katakan sejujurnya padaku apa yang telah dikatakan oleh kedua adikku sampai kamu ingin mengakhiri hubungan kita ini?"


Tasya dan Raisa langsung membelalakkan mata mereka begitu mendengar siapa yang kakak mereka telepon


Aku menarik nafas panjang


"Mereka nggak bilang apa-apa Yo, cuma aku jadi sadar diri saja dengan posisi aku"


Mario melirik kearah kedua adiknya yang pastinya mendengar ucapan Intan karena saat itu Mario menloudspeaker hpnya


"Sudah aku bilang Ntan, kamu itu pembohong yang payah, kamu tidak pintar melakukan kebohongan di depanku"


Kembali aku menarik nafas panjang


"Sudah aku bilang Yo, aku tidak bisa jika selalu mereka benci dan mereka itu adalah adik-adikmu, aku tak ingin karena aku hubungan kamu dengan adik-adikmu jadi rusak, aku nggak apa-apa Yo, mungkin memang takdir Tuhan tidak akan pernah menyatukan kita"


Selesai berkata seperti itu aku langsung terisak


"Maafkan aku Mario jika aku kembali mengecewakan kamu" lirihku terputus-putus


Mario menggelengkan kepalanya lalu menatap tajam kearah kedua adiknya yang masih menekuk wajah mereka


"Kalian dengar sendiri kan apa yang dikatakan Intan, bahkan hingga detik ini dia masih tidak memberitahu kakak apa yang telah kalian lakukan padanya"


Tasya dan Raisa membuang wajah mereka


"Bisa jadi itu hanya akal-akalan dia kak agar kakak semakin yakin bahwa dia yang teraniaya, dan kami yang dzalim"


Gigi Mario gemelutuk mendengar jawaban Raisa


"Sayangnya kalian sudah berkeluarga, jika tidak, bisa kakak yakinkan jika kalian akan kakak tampar"


Raisa dan Tasya menelan ludah mereka dengan susah payah mendengar jawaban Mario


Mario yang sejak tadi menahan amarahnya mengepalkan tangannya dengan keras lalu menghantam kursi yang terletak di dekat mereka, di atas trotoar


Kursi yang terbuat dari besi itu langsung penyok yang membuat Tasya dan Raisa langsung tercekat dan menutup mulut mereka


Tak hanya sekali, berkali-kali Mario menghantamkan tinjunya kesana, hingga akhirnya dia jatuh terduduk di trotoar dengan menundukkan kepalanya


Tasya dan Raisa makin tak berani mendekat, keduanya bergeming dan hanya bisa menarik nafas dengan gugup


Apalagi ketika mereka lihat kursi yang tadi dihantam kakaknya penyok tak berbentuk

__ADS_1


Andaikan yang dihantam itu adalah tubuh mereka, bisa dipastikan jika tulang mereka akan patah tak beraturan


__ADS_2