Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Beri Aku Kesempatan


__ADS_3

Dengan agak kesusahan akibat menangis aku memasukkan kunci kontak motor ke tempatnya


Baru saja aku hendak menjalankan motor tersebut, gerakan tanganku dihentikan oleh dekapan Mario pada bahuku


Aku memejamkan mataku ketika Mario terisak sambil memelukku


"Jangan lakukan ini padaku Intan..." lirih Mario terputus-putus


Aku segera mematikan motor, memasang kembali standar motor lalu turun, segera aku mendekap Mario dan terisak di dekapannya


"Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan jika aku layak bersanding denganmu Mario" lirihku


Mario hanya menekan kuat kepalaku di dadanya dan berkali-kali kurasakan jika dia menciumi puncak kepalaku tanpa sedikitpun menjawab perkataanku


"Beri aku kesempatan" tambahku lagi sambil menarik kepalaku dan memegang kuat tangannya


"Kesempatan apa?, kesempatan yang terbaik adalah dengan kita memulai hidup baru kita, itu saja. Tidak ada yang lain"


Aku menggeleng


"Kamu yakin dengan takdir kan Yo?, jika memang kita berjodoh dengan cara apapun Tuhan pasti akan kembali menyatukan kita, tapi tolong kali ini beri aku kesempatan untuk membuktikan diriku pada kedua adikmu, jika aku bukanlah parasit, jika aku bisa menjadi istrimu tanpa menumpang hidup padamu"


Mario menggeleng kuat, dan aku kembali memegang kuat tangannya


"Takdir memang belum berpihak pada kita Yo, dan jika suatu hari nanti kamu menemukan wanita yang bisa membuatmu mencintainya, jangan pikirkan bagaimana aku, karena seperti yang kukatakan tadi, aku bahagia jika melihatmu bahagia walaupun itu bukan denganku"

__ADS_1


Selesai berkata seperti itu aku melepas cincin tunangan di jari manisku lalu mengambil tangan Mario, dan meletakkannya di atas telapak tangan Mario


"Yakinlah Mario bahwa aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu" ucapku sambil tersenyum getir


Mario hanya menatap kosong padaku dengan berlinang air mata, lalu aku mengusap pelan wajahnya dan kembali meraih tangannya, mencium punggung tangannya dengan takzim lalu kembali tersenyum getir kearahnya


Setelah itu aku kembali naik keatas motor dan segera berlalu meninggalkan Mario yang hanya bisa menatap kepergianku dengan nelangsa


Dan sesampainya aku di rumah, aku segera masuk, kulihat Meka dan Bobbi ternyata sudah di rumah dan sedang menonton tivi


"Mama naik dulu ya nak" ucapku sambil mengusap kasar wajahku


Meka dan Bobbi saling toleh lalu hanya bisa menatap ke arahku yang berjalan menaiki tangga


Aku segera menghempaskan tubuhku di atas ranjang dan kembali menangis sesenggukan


Mungkin memang benar yang dikatakan ayahku, aku terlalu cepat mengambil keputusan tanpa berpikir baik dan buruknya


Aku tidak pernah berpikir jika kedua adik Mario akan menolak ku mentah-mentah, aku terlalu berpikir jika semuanya baik-baik saja, hingga akhirnya ketika kenyataan tak sesuai seperti yang kuharapkan aku sakit sendiri


Aku kian terisak dalam tangisku ketika aku mengingat bagaimana akhirnya aku kembali kecewa dalam waktu yang tak jauh


Kecewa karena pengkhianatan mas Arif dan sekarang kecewa karena gagal menikah dengan orang yang aku sayang


Aku duduk, menekuk lututku dan kembali menangis, entah sudah bagaimana bentuk wajahku saat ini karena sejak masuk rumah hingga malam aku hanya terus terisak

__ADS_1


Bahkan panggilan Meka dan Bobbi yang ingin makan malam hanya aku sahut singkat, hingga akhirnya kedua anakku itu makan sendiri


Tengah malam aku terjaga karena mimpi buruk, mungkin karena terlalu memikirkan kejadian tadi hingga akhirnya terbawa sampai ke alam mimpi


Segera aku turun dari ranjang, berjalan kearah meja dan mengambil hp, membuka hp dan mengaktifkan data selularnya


Aku hanya menarik nafas dalam ketika melihat begitu banyak pesan yang masuk dari Mario


Dan kembali air mataku mengalir membaca isinya


"Aku juga akan sulit melupakanmu Mario, tapi aku yakin aku bisa" lirihku sambil mengusap kasar wajahku ketika selesai membaca pesannya


Aku kembali meletakkan hp dan menarik nafas panjang, kemudian kembali naik keatas ranjang dan hanya bisa membolak balikkan badanku dengan gelisah sampai suara kokok ayam berbunyi aku masih tak juga bisa memejamkan mataku


Kerjaku hanya menangis dan menangis. Begitu banyak penyesalan dalam hatiku hingga membuatku makin merasa manusia paling tidak beruntung di dunia


Karena telah subuh aku segera turun kebawah, melaksanakan kewajibanku lalu memulai rutinitas ku. Dan seperti biasa semuanya berjalan hingga aku selesai membereskan rumah


Jam sepuluh pagi aku kembali naik ke kamarku, mandi dan begitu selesai mengganti pakaian aku naik kembali ke atas ranjang, tidur karena mataku terasa berat. Tak butuh waktu lama akhirnya aku terlelap


Sedangkan Mario yang sudah berada di kantornya tampak murung, berkali-kali dia melihat hpnya, berharap jika Intan akan mengiriminya pesan


Dilihatnya jika terakhir Intan aktif jam dua dini hari tadi, hingga sekarang wanita yang dicintainya itu belum aktif juga.


"Apa yang harus aku lakukan Tuhan?" lirih Mario sambil mengusap kasar wajahnya

__ADS_1


Dipandanginya gambar wajah Intan yang memenuhi galeri hpnya. Dan dia tersenyum getir mengingat bagaimana hangatnya cinta mereka berdua


"Aku akan terus menunggumu Intan...." lirihnya


__ADS_2