
"Kamu ngomong apa Sa?"
Terdengar suara mendengus, aku yakin jika Raisa sangat kesal mendengar jawabanku
"Nggak usah ngelak kamu, kamu ngomong apa sama kak Mario sampai semalam kak Mario datang menemui aku dan kak Tasya, lalu kak Mario marah-marah sama kami, jika bukan karena hasutan kamu, nggak mungkin kak Mario semarah ini sama kami"
"Sumpah Sa, aku nggak bilang apa-apa sama Mario"
Aku tergagap ketika hp yang aku tempelkan di telinga ditarik Mario dari belakang dengan cepat
Wajahku menegang karena Mario langsung menekan icon loudspeaker yang mengakibatkan suara Raisa lantang terdengar
"Halah nggak usah ngelak kamu, nggak usah pakai sumpah, apapun alasan kamu kami nggak akan percaya, kamu pasti telah mencuci otak kak Mario sehingga marah dan nekad menemui kami"
"Asal kamu tahu ya Ntan, selama ini kak Mario tidak pernah memarahi kami apalagi semarah seperti malam tadi, tapi sejak kak Mario tunangan sama kamu, semuanya kacau, kamu memang pembawa sial untuk kami, sampai kapanpun aku sama kak Tasya nggak akan pernah nganggap kamu ipar kami, najis punya ipar model kamu kaya gitu"
Aku hanya menelan ludahku mendengar ucapan Raisa, sedangkan Mario yang menggenggam hp ku, rahangnya tampak mengeras dan memandang tajam ke arahku
Aku menggelengkan kepalaku kearah Mario memintanya tidak menjawab perkataan Raisa
"Kenapa kamu diam, hah?, berfikir bagaimana caranya brain wash kakak kami lagi?, iya??!"
Aku mendekat dan berusaha merebut hp yang dipegang kuat Mario
"Nggak Sa, aku nggak seperti itu, aku sudah meminta sendiri sama Mario untuk menjauhiku"
"Dasar janda genit, nggak bisa apa coba kamu goda laki-laki lain, jangan kakak kami"
Aku mengusap wajahku karena wajah Mario makin angker
"Sa, nelponnya nanti lagi ya?, aku lagi banyak kerjaan" jawabku cepat dengan langsung menekan icon berwarna merah
Selesai menekan icon merah tersebut aku menatap wajah Mario dengan degup jantung yang berdebar kencang
"Selain kalimat tadi, kalimat apa lagi yang sering diucapkan kedua adikku?"
Aku diam tak menjawab melainkan segera duduk di sofa
"Jawab aku Intan Permata Sari!!!!"
Aku kembali menelan ludahku mendengar suara Mario menggeram menahan marah
"Nggak ada Yo, cuma itu"
Mario mendengus kesal, bangkit dari kursinya dan langsung berjalan keluar
Aku segera mengejar langkahnya yang saat ini tengah memakai sepatu
"Mario kamu mau kemana?, please jangan ngamuk lagi" ucapku menarik tangannya
Mario tak menjawab melainkan melepas pelan tanganku lalu berjalan cepat kearah mobilnya
Aku hanya bisa tertegun ketika melihat Mario pergi meninggalkan rumahku
Aku kembali masuk kedalam rumah, duduk terhenyak di sofa
__ADS_1
Kemudian kepalaku berputar ketika aku mendengar nada dering hp yang berbeda dengan nada dering hp ku
Aku segera mengambil hp yang tergeletak di bawah meja, hpnya Mario
Nomor yang masuk tertera nama orang yang tidak aku kenal lengkap dengan jabatan di depannya, pastilah ini panggilan masuk dari teman sekantornya Mario
Dengan menarik nafas dalam aku hanya membiarkan panggilan tersebut tak terjawab kemudian hp yang ada di tanganku tersebut berdenting tanda pesan masuk
Dan lagi-lagi aku tak berniat untuk membukanya karena itu tidak sopan
Karena aku khawatir jika pesan itu penting akhirnya aku yang mengalah. Dengan cepat aku naik ke kamarku, mengambil jaket dan kunci motor
Segera aku keluar dari rumah dan langsung mengeluarkan motor dari garasi, bergegas mengegas motor menuju rumah Mario
Tampak olehku mobil Mario terparkir di halaman rumah mamanya, dengan ragu aku turun dari atas motor berjalan kearah teras dengan degup jantung yang berdegup kencang
"Tasya dan Raisa sudah kelewatan ma!!!!"
Aku tercekat ketika ku dengar suara Mario yang meninggi, niatku yang semula ingin mengucap salam jadi ku urungkan karena takut
"Jadi kedatangan aku semalam jauh-jauh menemui mereka tidak mereka anggap, keterlaluan!!!" kembali terdengar olehku suara tinggi Mario
Kembali hp Mario berdering yang akhirnya memaksaku memberanikan diri mengetuk pintu dan mengucap salam
Mamanya Mario yang mendengar ada suara ketukan dan salam diluar tampak memanjangkan lehernya
"Tenang dulu Yo, tahan emosi kamu, ada suara salam di luar, sepertinya ada tamu"
Aku kembali mengulang mengetuk pintu dan mengucap salam ketika kudengar suara hening di dalam
"Intan?, masuk nak!"
Aku tersenyum kearah mamanya Mario yang tampak kaget begitu membuka pintu melihatku berdiri sambil tersenyum kaku kearahnya
"Aku cuma mau kembalikan hp Mario ma, ketinggalan di rumah, sejak tadi berdering terus, aku takut itu panggilan penting"
Mario yang mendengar suara Intan segera berdiri dari kursinya
Aku menelan ludahku dan menatap wajah Mario dengan tegang ketika kulihat Mario berjalan kearah kami
"Masuk sayang!" ucap Mario sambil menggenggam tanganku
Aku menggeleng
"Aku kesini cuma mau nganter hp kamu yang ketinggalan" ucapku pelan
Mario melepaskan tangannya yang menggenggam tanganku, mengambil hpnya yang kuulurkan dan tampak melihat kearah layarnya yang kembali menyala
Mario segera menerima panggilan masuk dan aku yang merasa telah selesai tujuanku segera mengarahkan tubuhku kearah mamanya Mario
"Ma, aku pulang dulu ya"
Mamanya Mario mengangguk walau jelas kulihat ada raut kecewa dari pancaran matanya
Baru saja aku membalikkan badanku sebuah tangan kurasakan menarik tanganku
__ADS_1
Aku menoleh, kulihat tangan Mario menarik tanganku tapi dirinya tampak serius berbicara di hp tanpa melihat ke arahku
Aku melirik kearah mamanya Mario yang tampak tersenyum simpul ke arahku, lalu beliau berjalan meninggalkan kami
Dan Mario tidak melepaskan tanganku, terus saja dia menggenggam tanganku walau pembicaraannya tampak sangat serius
"Iya pak, nanti malam kita bergerak, sekarang saya di rumah orang tua saya, ada urusan sedikit" kemudian terdengar Mario tertawa
Selesai itu pembicaraan berakhir dan Mario menatap dalam pada mataku
"Mau pergi tanpa izin dariku?"
Aku diam dan menelan ludahku tanpa berani menjawab pertanyaan Mario
"Sini!" ucapnya menarik tanganku lalu mendekap ku
"Masuk dulu, kamu harus ikut bicara sama mama dan papa, dan aku minta maaf karena tadi meninggalkan kamu"
Aku mengangguk sambil mendongakkan kepalaku menatap kearah Mario yang menundukkan wajahnya melihat ke arahku
Aku menurut ketika dibawa Mario kearah ruang tamu, dimana mama dan papanya Mario melihat kearah kami
"Mama minta sama kamu untuk berkata jujur" ucap mama Mario menatap ke arahku yang membuat jantungku langsung berdetak kencang
"Ceritakan semua apa yang dikatakan Tasya dan Raisa tentang kamu"
Aku menggeleng
"Intan....??!"
Aku kembali menggeleng
"Nggak usah ma, aku tidak mau menceritakannya, karena aku takut nanti aku salah bicara, intinya yang mereka bilang tentang aku itu banyak benarnya, kecuali yang mengatakan aku menggunai-gunai Mario dan mencuci otaknya itu yang tidak benar, yang lainnya benar"
Mario beserta orang tuanya tampak menarik nafas panjang, sedangkan aku langsung menundukkan kepalaku
"Jadi kamu tetap pada pendirian kamu tidak mau bilang apapun?" tanya Mamanya Mario lagi
Aku kembali mengangguk pasti
"Tapi kamu masih mau kan meneruskan hubungan kalian?"
Kali ini aku menoleh kearah papanya Mario, yang memandang ke arahku dengan tatapan serius
Aku menoleh sekilas kearah Mario yang juga berwajah sama tegangnya seperti papanya
Aku diam, menundukkan kepalaku, tidak berani menjawab
"Ntan.....?"
Aku masih bergeming mendengar mamanya Mario memanggil ulang namaku
"Yang menjalani keluarga itu kalian, bukan Tasya ataupun Raisa, mereka hanya bisa komentar saja, biarkan saja mereka mau ngomong apa, yang penting itu kalian yang harus jalan terus, mama sama papa merestui hubungan kalian, kami sangat menyayangimu Ntan..."
Aku hanya bisa menunduk mendengar ucapan mamanya Mario yang terputus-putus, aku yakin beliau menahan air matanya saat berkata seperti itu
__ADS_1