Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Sidang


__ADS_3

Dengan cepat mas Arif dan perempuan yang ada di depannya menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka


Kaget bercampur panik kentara sekali di wajah keduanya. Terlebih ketika empat lelaki yang masuk bersamaku tadi juga ikut masuk ke dalam kamar dan mereka juga melihat apa yang dilakukan mas Arif dengan perempuan yang pagi-pagi kemarin pernah kesini


Aku dengan air mata yang tidak bisa ku bendung, berjalan ke arah mas Arif yang terus merapatkan tubuhnya dengan selimut


Perempuan yang juga berdiri di dekat mas Arif tampak membelakangi kami


PLAAAKKKK


Secepat kilat tanganku melayang ke wajah mas Arif, lalu aku menarik kasar bahu perempuan yang membelakangi kami


PLAAAAKKKKK


Aku juga menampar kuat wajahnya


"Kurang ajar kalian berdua!!!" teriakku histeris


Setelah itu tanganku membabi buta memukuli mas Arif. Sedikitpun mas Arif tidak membalas pukulan ku, dia hanya bisa menunduk ketika aku memukulinya sambil berteriak marah bercampur nangis


Dan perempuan yang masih berada di ruangan itu tak luput pula dari amukanku. Berkali-kali aku menampar dan membenturkan kepalanya ke tembok


Empat pria yang ada di sana berusaha menarik tanganku berusaha menghentikan aksiku yang terus memukuli wanita selingkuhan suamiku


"Dasar wanita murahan!!" teriakku


Selagi aku berteriak histeris ternyata di depan rumah dinas mas Arif telah ramai dengan warga


Bahkan beberapa sampai menerobos masuk.


"Astaghfirullah pak Arif....." ucap seseorang yang membuatku menoleh ke arahnya


Ternyata dia adalah kepala kantor tempat mas Arif berdinas, yang waktu pertama kali kami datang kesini yang menyambut kami


"Mirna!!!!" kembali sebuah suara teriakan terdengar oleh kami


Seorang perempuan paruh baya masuk lalu dengan kasar menarik rambut perempuan yang tadi aku pukuli


Kembali perempuan yang dipanggil Mirna itu dipukuli oleh perempuan paruh baya yang aku yakini adalah ibunya. Sementara mas Arif terus menunduk malu.


Dan aku yang masih shock terduduk lemas di lantai sampai ada seorang perempuan yang masuk dan langsung mendekap ku


"Yang sabar bu, yang sabar" ucapnya


Aku menatap wajah perempuan itu lalu segera memeluknya dengan erat dan langsung menangis sesenggukan


"Bawa keluar saja bu istrinya pak Arif, bawa ke rumah kita dulu" ucap kepala kantor, bos nya mas Arif


Aku tidak memperdulikan bagaimana Mirna yang terus menangis dipukuli ibunya

__ADS_1


"Buat malu kamu Mirna!!!" teriak ibunya tak kalah histeris


Aku menurut ketika istri kepala kantor mengangkat tubuhku dan membawaku keluar


Ketika di luar, banyak ibu-ibu dan perempuan dewasa memegang bahuku seolah-olah mereka memberi dukungan untukku


Aku sudah tak menghiraukan bagaimana warga yang masuk kedalam rumah sekarang menyeret paksa mas Arif dan selingkuhannya


Aku terus dibimbing oleh istri kepala kantor dan seorang perempuan muda, yang mengusap-usap bahuku


"Kita arak keliling desa saja pak!"


"Benar pak, mereka berdua sudah buat kotor desa kita!!!"


"Kita bawa ke kantor polisi saja!"


"Bawa ke rumah pak kades, terus kita usir mereka berdua dari sini!"


Begitu banyak teriakan kemarahan dan kekesalan yang terdengar oleh telingaku, tapi aku sudah tak mau menoleh kebelakang lagi, terserah warga mau apakan mas Arif dan perempuan, mau mereka arak keliling desa juga terserah aku tidak peduli


Sampai di rumah kepala kantor aku segera di dudukkan di kursi lalu perempuan paruh baya yang membawaku tadi langsung berjalan cepat ke belakang dan tak lama keluar dengan membawa air dingin


Dan gadis muda yang duduk di sebelahku, segera menuangkan air kedalam gelas lalu memberikannya padaku


"Yang sabar...." kembali keduanya berkata begitu


Aku yang menatap kosong hanya mampu meneteskan air mata tanpa bisa menjawab ucapan mereka


Dan Mirna yang habis dipukuli ibunya segera memungut pakaiannya yang berserakan di lantai lalu bergegas berjalan ke kamar mandi dengan menunduk dan memegang erat selimut yang melilit di tubuhnya


Melihat Mirna keluar dari dalam kamar teriakan mencemooh dari beberapa perempuan yang ada diluar terdengar riuh rendah


"Huuuuuu....." sorak mereka


Dan Mirna yang telah masuk kedalam kamar mandi hanya bisa terduduk lemas di lantai kamar mandi dengan menangis tersedu-sedu


Sementara ibunya yang menyusul Mirna ke kamar mandi hanya bisa menahan malu karena ibu-ibu di luar juga menyoraki dan mencemoohnya


Dan Arif yang ada di dalam kamar sekarang sedang berhadap-hadapan dengan bos nya di kantor


"Pakailah pakaiannya pak Arif, kami akan menunggu di luar" ucap bosnya Arif


Arif tidak menjawab melainkan terus menundukkan kepalanya, dan langsung duduk terhenyak ketika pintu kamarnya ditutup


Diusapnya wajahnya dengan kasar, bayangan buruk kehancuran rumah tangga dan pekerjaannya sudah di depan matanya


Cukup lama dia tercenung tak tahu harus berbuat apa selain merutuki dan menyesali perbuatannya


Sepuluh menit kemudian barulah dia keluar dengan pakaian lengkap. Berjalan pelan kearah ruang tamu dimana telah ada Mirna yang duduk dengan kepala menunduk dalam

__ADS_1


Melihat Arif keluar, kembali warga bersorak meneriakinya, bahkan kilatan kamera dari beberapa hp langsung menangkap wajahnya dan wajah Mirna, lalu mulailah tangan-tangan mereka sibuk memencet-mencet hp mereka dan saling toleh dan menunjuk-nunjuk layar hp satu sama lain


Di sudut ruangan isak tangis dari ibunya Mirna terdengar jelas, malu bercampur marah lengkap dirasakannya.


Arif dan Mirna didudukkan di tempat berbeda dan keduanya langsung diinterogasi oleh kepala desa yang juga hadir


"Benar yang saya dengar tentang perbuatan mesum yang kalian lakukan?" tanya pak kades


Baik Arif maupun Mirna tak ada yang bersuara, semuanya masih menunduk dalam


"Kita arak saja pak kades!" kembali terdengar teriakan


Dan suasana diluar kembali tidak kondusif sehingga membuat pak kades akhirnya berinisiatif membawa Mirna dan Arif ke balai desa


Kembali ketika keduanya keluar, warga memuncaki mereka bahkan mencaci maki mereka. Bahkan ibu-ibu bahkan menarik rambut Mirna


"Kecil-kecil sudah mau jadi pelakor, dasar kegatalan!!!" teriak mereka


Mirna hanya pasrah saja saat rambutnya dijambak warga yang geram dengan perbuatannya


Tak hanya Mirna, Arif juga tak luput dari cemoohan mereka


"Dasar orang kota tidak ada akhlak, sudah tahu punya istri, masih suka selingkuh, padahal istrinya sudah cantik masih saja gatel"


Pak kades kembali menasehati warganya yang kembali emosi, meminta pada mereka untuk memberi jalan agar memudahkannya membawa pergi Arif dan Mirna kebalai desa


Warga yang diminta pak kades untuk kembali pulang ke rumah ternyata malah membandel, mereka secara beramai-ramai menggiring Arif dan Mirna menuju balai desa


Sementara aku yang mulai tenang kembali hanya bisa terdiam


"Ibu makan dulu, ya?" ucap ibu kades yang telah membawa piring berisi nasi dan menyodorkannya ke hadapanku


Aku menggeleng.


"Semuanya telah terjadi bu, tapi ibu harus tetap menjaga kesehatan ibu"


Kembali air mataku mengalir dengan deras, dua kali ini aku merasakan sakit yang teramat sangat akibat perbuatan tak senonoh suamiku


Tapi kali ini sakitnya lebih terasa karena aku menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku bagaimana suamiku meniduri perempuan lain


Aku terburu mengusap wajahku ketika mendengar suara salam dari luar


Seorang pemuda masuk dan langsung mendekat kearah ibu kades


"Istrinya pak Arif diminta pak kades untuk ke balai desa"


Bu kades menoleh ke arahku, duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku


"Yang kuat ya bu?, ada kami" lirihnya sambil menganggukkan kepalanya ke arahku

__ADS_1


Dengan menarik nafas panjang aku berdiri lalu mengikuti bu kades berjalan keluar


__ADS_2