
"Jika kamu berusaha untuk melupakan seseorang. Namun hati dan pikiranmu masih menyebut namanya, itu tandanya orang yang di sana mencintaimu" (Ali bin Abi Thalib)
Aku menelan ludahku ketika aku membaca quotes yang kulihat di Instagram malam ini.
Aku kembali mengulangi membaca kalimat tersebut, kemudian berusaha untuk mencernanya.
Kemudian aku tersenyum getir sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
Quotes ini hanya membuat senang hatiku saja. Hanya sekedar menghibur, tapi bukan kenyataan, batinku sambil kembali tersenyum getir.
Tak mungkinlah Mario mencintaiku, bahkan hanya untuk bilang rindu pun dia tak pernah lagi
Karena tak ingin terus-terusan termakan dengan quotes yang tiba-tiba mengganggu pikiranku, aku melihat video lainnya
Tapi kebanyakan isinya memang tentang curahan hati seseorang yang seolah-olah menyemangati dirinya sendiri yang sedang rapuh
"Dunia tipu-tipu" gumamku lagi yang segera log out dari aplikasi tersebut lalu meletakkan hp ke atas meja
Aku kemudian melirik kearah kedua anakku yang telah tampak pulas. Seharian ini keduanya memang ikut denganku di toko
Iseng, aku mengambil gambar keduanya lalu membuatnya sebuah status di whatsapp
Tak lama, masuk pesan dari mas Arif
Mereka sehat kan buk?
Aku tersenyum sekilas membaca pesan yang dikirim oleh ayah kedua anakku itu
Iya sehat, kecapean mungkin karena ikut aku di toko seharian ini
Kulihat langsung centang biru dan Mas Arif sedang mengetik pesan
Boleh nggak buk, jika libur sekolah nanti Meka dan Bobby ayah ajak ke rumah ayah?
Aku tampak tertegun membaca pesan yang barusan dikirimkan mas Arif
Ke Rumah mas Arif? ada Mirna?, rasanya nggak deh. Mending aku nyari aman saja. Aku nggak ingin kedua anakku nanti kenapa-kenapa di sana
Lagian kemarin Bobby juga bilang, jika dia marah lihat ayahnya menyayangi orang lain. Bisa jadi bukannya senang-senang karena liburan di tempat ayahnya, kedua anakku malah membuat hubungan mas Arif dan Mirna runyam
*Kok nggak di balas buk?
Boleh ya buk, please. Kali ini biarkan anak-anak liburan di tempat ayah
Ayah kepikiran terus dengan Bobby yang ngamuk kemarin*
Aku kembali tertegun membaca pesan yang kembali dikirim oleh mas Arif
Aku menimbang, kalimat apa yang harus aku tulis. Aku tak ingin mas Arif tersinggung dan salah sangka
*Aku sih tergantung Meka sama Bobby saja mas. Jika mereka mau, ya tidak apa-apa
Tapi jika mereka nggak mau, jangan dipaksa
In Syaa Alloh Bobby ngerti kok mas, kan sudah kita jelaskan sama-sama kemarin. Dan aku juga bilang sama mereka berdua, jika mereka punya adik yang lucu*
Semua pesan yang ku kirim langsung centang biru semua
Dan kulihat mas Arif masih mengetik balasan
"Ya Tuhan orang ini" gumamku
"Mikir nggak sih dia kalo istrinya begitu posesif ketika kemarin melihatku?" tambahku lagi
__ADS_1
Terima kasih ya buk karena ibuk sudah mau jelasin sama Bobby. Dan terima kasih juga karena ibuk sudah mau legowo menerima Mirna
Aku tersenyum kecut membaca kalimat terakhirnya
"Legowo?, kamu pikir aku legowo?, sakit hati aku mas. Tapi karena aku bukan wanita bodoh saja makanya aku lebih memilih melepaskan kamu untuk Mirna dari pada bertahan sama kamu yang tukang selingkuh" geram ku
Karena tak ingin mas Arif makin ngalor ngidul, aku tidak membalas lagi pesan mas Arif
Dan Arif yang pesannya hanya dibaca saja oleh Intan terus berharap jika Intan akan membalas pesannya
Tapi kembali dia harus sadar karena memang hubungan mereka memang hanya sebatas ibu dan ayah bagi anak mereka saja, bukan sebagai suami istri lagi
"Mungkin Intan masih kecewa sama sikap dan kebiasaanku dulu" lirihnya
...----------------...
Senin pagi, seperti biasa angkot jemputan kedua anakku sudah tiba di depan ruko.
Aku melambaikan tanganku kearah kedua anakku ketika angkot sekolah mereka berlalu
"Kak, ada yang mau kesini nanti"
Aku menoleh kearah Ibrahim yang memarkirkan motornya
"Siapa?"
Ibrahim angkat bahu yang membuatku penasaran
"Jam berapa?, kakak mau ke toko loh"
"Nggak tahu jam berapa"
"Lahhhh kok bisa gitu?"
"Tahu ah, jika nggak jelas kakak nggak mau nunggu. Kakak sibuk. Lagian hari ini kakak juga mau nengok kantor tour and travel. Kak Indra sudah dari kemarin nyuruh kakak lihat kesana"
"Tumben"
"Ya beliau mau laporan, makanya nyuruh kakak kesana"
Ibrahim mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian segera masuk bersamaku kedalam ruko, lalu dia langsung membuka lebar rolling
Tak lama muncul Rian dan Dani. Sedangkan aku langsung naik keatas mengambil jaket dan helm
"Berangkat kak?"
Aku mengangguk kearah mereka
"Terus nanti tamunya?"
"Alah kalau nggak penting-penting amat kalian ajalah yang hadapi, tanya apa mau dia. Kalau memang penting, kalian telpon kakak"
Ibrahim mengangguk mendengar jawabanku. Dan aku segera mengegas motor matic ku, berlalu kearah kantor tour and travel
Setengah jalan aku berbelok karena tak jadi, karena kantor tersebut bukanya jam sepuluh pagi. Dan aku kembali memilih tujuan awal, toko
Toko sudah siap ketika aku sampai. Karena masih pagi, sebagian karyawanku masih sarapan. Dan ketika melihatku mereka tak sungkan menawariku sarapan pula. Bahkan biasanya mereka bergantian membawakan aku sarapan
Dan aku senang-senang saja karena memang aku biasanya tidak sempat sarapan kalau di ruko
Jam delapan nan mulailah pembeli datang, dan itu biasanya akan terus sampai siang
Apalagi karena sekarang menjelang akhir tahun ajaran sekolah. Stok baju sekolah yang jauh-jauh hari aku siapkan, sudah mulai banyak berkurang. Dan aku sudah memesan kembali kepada distributor di ibukota untuk mengirimiku pakaian seragam sekolah
__ADS_1
Jika biasanya aku menjual aksesoris, maka aku rubah dengan peralatan sekolah. Lengkap. Jadi pembeli tidak hanya membeli seragam, tapi juga yang lainnya sudah tersedia semua di toko ku
Jam sebelas siang kak Indra menelepon, katanya dia sudah menyiapkan seluruh laporannya
Aku kembali berpamitan dengan dua kasir ku, lalu memanggil kasir cadangan karena aku akan menemui kakak pertamaku
Tiiin tiinn tiiinn.....
Aku segera menoleh kearah mobil warna biru dongker yang berlawanan arah denganku ketika mobil tersebut sejak tadi tak berhenti mengklakson
"Ya Tuhan....." batinku grogi ketika aku melihat ternyata Mario yang mengemudikan mobil tersebut
Dan aku tidak berhenti. Aku hanya memperlambat laju motorku, kemudian aku menganggukkan kepalaku sedikit kemudian aku kembali mengegas motor ku meninggalkan mobil Mario yang rupanya berhenti
Aku hanya melihat mobil tersebut melalui kaca spion, tapi sama sekali tidak berhenti.
Degup jantungku seketika semakin berpacu kencang ketika aku melihat Mario
"Apa itu tadi benar Mario?" gumamku masih tak percaya
Aku segera mengusap wajahku dengan tangan kiriku kemudian aku segera ngebut dan tidak berani menoleh ke spion lagi
Ketika aku masuk ke kantor tempat kak Indra, hp ku berdering. Sebenarnya ketika aku di jalan tadi benda tersebut berdering terus tapi aku sama sekali tidak berniat untuk berhenti dan menerima panggilannya
"Angkat nah Dek...." ucap kakakku ketika aku duduk di depannya tetapi hp ku masih saja berdering
"Malas ah kak"
Kakak ku tersenyum dan dia melongok kan kepalanya kearah hp yang ku letakkan di atas meja
"Mario?" tanya kakakku
Aku mengangguk, lalu menceritakan jika tadi di jalan hendak kesini aku berpapasan dengannya
"Dia cuti?"
Aku mengangkat bahuku mendengar pertanyaan kakakku
Dan kembali hp ku berdering dan kakakku yang mengangkatnya. Wajahku langsung kaget ketika tangan kakakku jauh lebih cepat dibanding tanganku
"Iya Mario?, Intan di kantor tour and travel, kalau kamu nggak sibuk dan nggak keberatan, kamu bisa menyusul kesini"
Aku langsung melotot kan mataku kearah kakakku ketika beliau berkata tanpa persetujuan dariku
Entah apa jawaban Mario, karena tampak kakakku itu diam seperti mendengar jawaban Mario
"Oke..." jawab kakakku kembali sambil menatap penuh arti padaku
Dan aku langsung memasang wajah masam ketika kakakku selesai ngomong dan meletakkan hp di depanku
"Mario on the way kesini"
Aku mendecak kesal mendengar omongannya
"Selesaikan masalah kalian dek, jangan berlarut-larut. Kakak tahu kamu masih mencintainya"
Kembali aku mendecak mendengar ucapan sok tahu kakak ku itu
"Assalamualaikum....."
Refleks aku langsung memutar kepalaku ketika aku mendengar salam di pintu yang di dorong, bukan karena apa-apa. Aku sangat hafal suara tersebut
"Mario....." desis ku ketika melihat Mario masuk dengan senyum mengembang di wajahnya
__ADS_1
Tubuh tinggi dan atletis Mario mendominasi mataku ketika dia masuk kesini dan itu cukup membuat degup jantungku kian berpacu tak menentu