
Besoknya mama dan Papanya Mario menemui Tasya dan Raisa. Dan Raisa yang sudah diberitahu apa yang sebenarnya terjadi oleh Tasya, ketakutan sendiri.
Sang papa, begitu sampai di rumah Tasya langsung meminta Tasya menghubungi Raisa agar datang ke rumahnya dan mereka berbicara langsung di rumah Tasya disaksikan oleh Ferdian dan juga Virgo.
Virgo yang tidak tahu apa-apa sama shock-nya seperti Ferdian malam kemarin ketika Mario datang.
Baik Virgo maupun Ferdian memandang istri mereka dengan menggelengkan kepala mereka, tidak mempercayai perbuatan istri mereka yang begitu rendah.
"Sebenarnya papa itu ingin memarahi kalian berdua tanpa diketahui oleh suami kalian, tapi berhubung tanggung jawab papa itu sudah pindah sama suami kalian, Makanya Papa memarahi kalian itu di depan suami kalian. Agar setelah Papa sama Mama pulang, mereka yang akan yang menasehati kalian" ucap papa mereka mulai meluapkan amarahnya.
Tasya dan Raisa langsung menunduk ketika mendengar ucapan marah Papanya.
Mama mereka tidak berbicara sepatah kata pun ia menyerahkan semua kepada suaminya. Dan Tasya sama Raisa hanya tertunduk dalam dan mulai terisak.
"Air mata kalian itu tidak berguna sekarang, hubungan Intan sama Mario sudah hancur dan itu disebabkan oleh kalian berdua" geram Papa mereka lagi.
"Papa sama Mama sangat kecewa dengan sikap kalian berdua. Kami tidak pernah mengajari kalian membeda-bedakan status dan sosial orang. Tapi mengapa kalian berdua malah berkelakuan rendah pada Intan. Dan seolah-olah menganggap bahwa kalian jauh lebih mulia dari Intan".
"Papa sama Mama itu tidak pernah membeda-bedakan kalian bertiga. Papa sayang semua sama kalian bertiga. Tapi setelah mengetahui bahwa kalian sangat berkelakuan buruk sama kakak kalian, papa sama mama jadi berpikir ulang untuk menyayangi kalian kembali".
Dengan cepat Tasya dan Raisa mengangkat kepala mereka. Kemudian kedua-duanya sama-sama menggeleng lalu berjalan cepat ke arah Papa mereka dan reflek bersimpuh di kaki Papanya sambil memohon ampun.
"Maafin kami pa, kami sangat menyesal. Tolong Pa maafin kami berdua, kami janji kami tidak akan mengulangi perbuatan kami lagi" ucap Tasya memohon.
"Permohonan maaf kalian dan penyesalan kalian berdua itu tidak akan mengembalikan Intan sama Mario lagi!!" bentak papanya
"Makanya sebelum melakukan sesuatu itu dipikir dulu, dipikir ulang akibatnya. Jangan asal ngomong sembarangan".
Makanya Papa dulu sering sekali bilang sama kalian sebelum kalian mencubit seseorang coba cubit dulu tangan kalian jika kalian merasa sakit maka jangan kalian mencubit orang. Begitupun saat kalian akan menghina orang, coba kalian cicipi dulu kalimat itu, jika kalimat itu rasanya pedas, maka jangan diucapkan sama orang".
"Kalian orang terdidik, orang berpendidikan. Tapi tingkah kalian sama sekali tidak menunjukkan bahwa kalian itu berpendidikan, malah menunjukkan bahwa kalian itu seperti orang yang tidak pernah dididik sama sekali dan itu sangat memalukan mama sama papa".
Tasya dan Raisa terus terisak dan tidak melepaskan kaki Papa mereka.
__ADS_1
"Bertahun-tahun kami berdua meyakinkan Mario untuk membuka hatinya sama perempuan lain dan ketika dia kembali membuka hatinya untuk Intan malah kalian merusaknya".
Saat papanya Mario mengucapkan kalimat itu, Mama Mario menunduk dan terisak.
"Kalian tidak tahu betapa sayangnya Mama kalian itu sama Intan" .
"Kalian berdua jauh dan jarang sekali pulang, bahkan saat lebaran pun kalian jarang pulang. Hanya Intan yang dekat dengan mama kalian. Setiap mama kalian meminta bantuan, Intan tidak pernah berkata nanti, dia langsung datang. Entah saat itu dia sedang sibuk atau tidak, dia akan berkata "Iya ma Intan kesana sekarang".
"Tapi sekarang mama kalian malu sendiri untuk meminta bantuan Intan. Karena apa?, Karena kelakuan kalian berdua!!!".
"Kami punya 5 cucu dari anak kalian, tapi karena jarang bertemu, jadi kami tidak pernah merasakan sempurnanya menjadi seorang kakek dan nenek. Tapi sejak Intan dekat kembali dengan Mario, kedua anak Intan begitu dekat dengan kami. Dan mereka juga sangat menyayangi kami. Dan kami merasa bahwa mereka itu adalah cucu kami, kami berdua menyayangi mereka, sama seperti kami menyayangi anak kalian".
"Tapi sekarang, untuk menemui kedua anak itu lagi kami pun sudah tidak punya muka lagi".
"Maafkan kami Pah, kami minta maaf. Kami janji kami akan berubah"
lirih Raisa dengan suara tercekat
"Kalian tidak tahu bahwa luka terdalam seorang anak yang dirasakannya itu jauh lebih dalam luka yang dirasakan oleh orang tua".
"Saat Mama melihat betapa kembali bersedih dan hancurlah hidup Mario. Saat Itulah dunia Mama kembali runtuh".
"Mama tidak pernah melihat bagaimana bahagianya wajah Mario ketika dia berdua dengan Intan, matanya sangat berbinar penuh dengan Cinta dan Mama yakin bahwa mereka berdua itu saling mencintai".
"Tapi di akhir pertemuan Mama dengan Intan, saat dia mengembalikan cincin pertunangan. Saat itu Intan bilang bahwa dia tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Mario, karena dia tidak bisa melihat hubungan persaudaraan kalian hancur hanya karena dirinya" .
Tasya dan Raisa yang sekarang duduk kembali ke kursi mereka saling toleh.
"Dan yang kalian lakukan yang kalian pikir itu benar, kalian salah. Karena kebahagiaan yang kalian pikir untuk Mario itu adalah bukan kebahagiaan Mario tapi keegoisan kalian".
"Mama mau tanya sama kalian berdua, apa yang telah di lakukan oleh Intan sama kalian berdua sampai kalian sangat membencinya?".
Kembali Raisa dan Tasya sering toleh kemudian kembali menundukkan kepala mereka.
__ADS_1
"Tidak ada kan?, Intan itu tidak pernah melakukan kejahatan sama kalian, kalianlah yang jahat itu. Kalianlah yang berlaku jahat sama Intan".
"Sadarilah nak, apa yang kalian lakukan itu bisa menjadi bumerang untuk kalian sendiri."
"Kalian beruntung karena memiliki saudari ipar yang mau menerima kalian. Coba jika saudara dan saudari ipar kalian tidak menerima kalian sama seperti kalian yang tidak menerima Intan, mama yakin kalian akan merasakan apa yang Intan rasakan".
"Mama sama papa sudah sangat kecewa sama tingkah kalian berdua. Jadi kami sudah mengambil kesimpulan, bahwa kami tidak akan datang ke rumah kalian lagi. Bukan karena kami membenci kalian, tapi karena kami ingin memberi pelajaran sama kalian berdua"
"Dan jika pun kalian nanti punya waktu untuk pulang ke rumah mama sama papa, rumah kami terbuka lebar untuk kalian berdua kapanpun Kalian mau pulang, rumah kami terbuka untuk kalian".
Tangis Tasya dan Raisa langsung pecah yang semula tangisnya hanya terisak, langsung berubah menjadi tangis kencang ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Mama mereka
Kembali mereka bangkit dari kursinya dan langsung menubruk tubuh mama mereka, memeluk erat perempuan paruh baya tersebut dan menangis sejadi-jadinya
"Maafin kami mah, kami sangat menyesal. Demi Tuhan mah kami sangat menyesal. Tolong mah maafkan kami berdua, kami berjanji Kami tidak akan pernah melakukan perbuatan rendah ini lagi. Kami berjanji kami akan membawa kembali Intan pada kak Mario. Tolong mama jangan berkata seperti itu, kami sangat menyayangi mama" ucap Tasya dengan suara tak jelas .
Mamanya menggeleng lalu dengan pelan diusapnya kepala Tasya dan Raisa.
"Beri waktu untuk mama menenangkan diri karena untuk saat ini mama sama Papa sangat kecewa dengan kelakuan kalian berdua".
Salah berkata demikian Mama Mario menoleh pada suaminya dan papanya Mario mengangguk, lalu mereka sama-sama berdiri dan berpamitan dengan kedua menantunya.
Melihat mama dan Papanya berdiri sontak Raisa dan Tasya langsung berlutut dan memegang Kaki mama dan Papanya sambil menangis meraung.
Mama dan Papa Mario mendongakkan wajah mereka ke langit-langit rumah Tasya, menarik nafas panjang.
Jika mama Mario terisak-isak menangis menahan kesedihan hatinya, maka berbeda halnya dengan papa Mario, beliau menarik nafas panjang lalu mengusap wajahnya di mana matanya telah berkaca-kaca.
Lalu keduanya sama-sama memupuk melepaskan tangan Tasya dan Raisa secara paksa dari kaki mereka lalu keduanya berjalan keluar dari rumah Tasya dan tidak menoleh ke belakang lagi di mana kedua anak perempuan mereka terus berteriak memanggil mereka dan memohon ampun atas kesalahan mereka.
Ferdian dan Virgo hanya menarik nafas dalam, dan secara bersama-sama mengangkat bahu istri mereka, membawa keduanya untuk kembali berdiri.
Tasya dan Raisa terus menoleh ke arah luar dan terus memanggil Mama Papa mereka berharap jika kedua orang tua mereka menghentikan langkah mereka.
__ADS_1