
Pagi buta suamiku sudah bangun, dan aku yang bangun setelahnya hanya membiarkan dia membuat kopi untuk dirinya sendiri
Jam enam pagi saat kedua anakku telah selesai mandi datanglah mobil mertuaku
"Papa sudah beritahu mama dan papa jika hari ini papa pergi keluar daerah" ucap suamiku seakan memberitahuku karena aku menoleh heran ketika mendengar suara salam dari mereka
Setengah tujuh dua mobil jemputan kedua anakku sampai, setelah mencium wajah mereka aku mengantarkan mereka keluar
Lalu mas Arif mengejar keduanya ketika mereka akan naik kedalam mobil
"Papa mulai hari ini dinasnya jauh nak, kalian baik-baik ya di rumah dengan mama"
Kedua anak kami memandang heran kearah wajah papanya yang tampak sendu
"Berangkatlah nanti telat" teriakku agar mas Arif berhenti sok sedih di depan kedua anakku
Mas Arif hanya menarik nafas panjang ketika melihat kedua mobil jemputan berangkat meninggalkannya yang berdiri mematung
"Sudah beres?"
Aku tak menjawab pertanyaan mama mertuaku, hanya mengarahkan daguku kearah maa Arif, agar mas Arif yang menjawab pertanyaannya
Jam tujuh lewat mas Arif menarik koper yang semalam diisinya dengan pakaian, dimasukkannya kedalam mobil
Mama mertuaku protes karena tidak setuju jika hanya membawa pakaian satu koper padahal mas Arif akan menetap di sana, hanya seminggu sekali pulang
Dan aku hanya mengikuti beliau masuk ke kamar kami untuk mengeluarkan seluruh pakaian mas Arif hingga tak ada satupun pakaian mas Arif yang tersisa di dalam lemari
Dan mas Arif tampak kaget ketika melihat aku dan mamanya menarik tas besar lalu memasukkan kedalam mobilnya
"Nanti mampir ke toko, beli lemari!"
Aku kembali tak menjawab ucapan mama mertuaku melainkan aku naik keatas dan segera mandi
Hingga akhirnya jam delapan aku telah duduk di sebelah mas Arif yang mengemudi
Dan benar, di toko yang paling besar di daerah kami mama mertuaku turun
"Yuk beli lemari"
Aku menoleh kearah mas Arif yang diam
"Belinya di daerah sana saja ma, biar nggak bawanya kejauhan" jawabku
Mama mertuaku diam tapi mas Arif aku setuju dan dia menjelaskan jika omongan aku benar
Akhirnya mama mertuaku menurut kembali masuk kedalam mobil mereka. Sepanjang jalan aku lebih banyak diam dan lebih fokus menatap hp
Maaf Mario aku nggak jadi kesana hari ini, hari ini mas Arif pindah tempat dinas dan aku mengantarnya
Begitulah isi pesan What's app ku pada Mario, tak lama telah berwarna biru
*Jadi kamu serius mau balikin skincare yang aku belikan untuk kamu?
__ADS_1
Iya*
Lalu aku menatap jalan ke depan, dan kudengar jika mas Arif berkali-kali menarik nafas panjang
"Aku sedih ma...."
Aku diam tak menjawab omongannya
"Maafin aku ya ma, aku janji video yang mama lihat tidak akan pernah terulang lagi"
Lalu aku duduk menghadap mas Arif
"Apa sih mas yang buat mas tertarik pada mereka?"
Mas Arif diam tak menjawab pertanyaanku
"Ingat mas, tanpa mas sadari mas sudah membawa penyakit, dan aku khawatir kebiasaan mas yang suka jajan itu berdampak buruk untuk kesehatanku"
Kembali mas Arif sibuk dengan penyesalan dan janji-janjinya yang akan berubah
Aku hanya menggelengkan kepalaku mendengar janjinya
"Aku nggak yakin kamu berubah, karena seekor anjing yang telah makan kotoran, akan begitu seterusnya" jawabku telak
Dan kembali aku mendengar tarikan nafas panjang mas Arif
Hingga akhirnya nyaris empat jam perjalanan barulah kami mulai memasuki daerah tempat mas Arif berdinas
Sepanjang jalan kami melihat toko mana saja yang besar yang kira-kira nanti akan kami singgahi setelah kami selesai beres-beres
Dengan ditemani mama mertua, aku berbelanja seluruh keperluan mas Arif selama di sana dan tak lupa pula aku membeli nasi bungkus untuk kami makan siang
Ternyata untuk sampai di tempat mas Arif berdinas kami masih membutuhkan waktu dua jam perjalanan. Karena memakan waktu yang sangat lama akhirnya nasi bungkus yang tadi aku beli, kami makan dipinggir jalan
Saat turun aku langsung melihat pemandangan perkebunan yang ada di kanan kiri jalan, daerah dataran tinggi tentulah udaranya dingin dan cocok dijadikan daerah perkebunan
Mama mertua sama halnya denganku, bahkan beliau memuji keindahan alam tempat dinas baru suamiku
Kami tak lama istirahat, karena selesai makan siang kami lalu melanjutkan perjalanan
Sesuai dengan surat tugas yang dibawanya mas Arif langsung menjalankan mobil dengan pelan untuk mencari kantor barunya
Dan benar saja, kantor tersebut kantor biasa, tidak megah seperti kantor tempat mas Arif dulu berdinas
"Nikmati saja" lirihku ketika kembali kulihat raut kecewa di wajahnya
Kami semua turun, dan mengikuti mas Arif masuk kedalam kantor. Di sana mas Arif langsung disambut ramah dengan semua pegawai kantor, bahkan mereka semua menyalami kami
"Inilah daerah kita pak Arif, semoga bapak betah" ucap seorang bapak paruh baya yang ternyata adalah kepala kantor disini
Lalu bapak tersebut juga membawa kami ke rumah dinas yang ada di belakang kantor ini
"Sudah kami bersihkan tadi pak, jadi bapak tinggal masuk saja" ucap beliau
__ADS_1
Aku dibantu dengan mertuaku menurunkan semua perabotan dan segala barang untuk mas Arif selama tinggal disini
Selama aku merapihkan kamar mas Arif, mama mertuaku membereskan belakang dengan mencuci perabotan yang tadi kami beli dan papa mertua memasang gas dam regulatornya, baru setelah itu beliau memanaskan air untuk membuat kopi
Sedangkan mas Arif langsung dibawa oleh pimpinannya berkeliling tempat ini, melihat sekeliling dan menjelaskan apa saja yang ada disini
Selesai itu barulah mas Arif masuk dan duduk bersama kami. Dan kembali wajahnya sedih
"Semua butuh proses dan mungkin ini pembelajaran untuk kamu" ucap papa mertuaku
Mama mertuaku mengelus punggung mas Arif dan aku yang duduk di dekat pintu kamar hanya melirik saja pada mas Arif
Dan kesedihan mas Arif kian bertambah ketika kami akan pulang, tampak sekali dia berat melepas kepergian kami
Dan aku akhirnya berusaha untuk berempati lah padanya sebenarnya aku masih sangat kesal
Saat mas Arif memelukku aku hanya tersenyum dan mengusap punggung nya
"Jaga kesehatan, jangan telat makan" pesanku
Mas Arif mengangguk dan mengusap wajahku
"Mama hati-hati ya di rumah"
Aku mengangguk, lalu ketika giliran mas Arif menyalami orang tuanya, mama mertuaku tampak menyusut air matanya
Perlahan dan pasti mobil mertuaku berjalan, sedangkan mobil kami ditinggalkan di sini, karena aku tidak bisa menyetir, lagian juga sebagai alat transportasi mas Arif
Hingga enam jam, atau hampir tengah malam aku sampai di rumah dan saat itu kedua anakku telah tidur bersama ibuku
Saat aku naik ke atas kamar, hp ku berdering
Dengan malas aku melirik hp dan melihat jika yang menelepon ku adalah Mario
"Besok aku tunggu"
Aku mendecak kesal mendengar ucapannya
"Mario aku sangat ngantuk nyaris seharian aku di dalam mobil"
Kudengar Mario tertawa
"Ntan, besok sebelum berangkat tolong mampir ke rumah mama ya?"
"Untuk apa?" ucapku dengan mata yang langsung membesar
"Kata mama ada yang ingin dititipkan nya"
Aku diam tak menjawab, apalah nanti yang akan dipikirkan mama Mario tentang ku
"Jika begitu paket dari kamu aku titip sama travel aja lah" jawabku kesal
"Becanda Ntan, mama nggak tahu kok jika kamu kesini, nggak mungkinlah aku ngasih tahu orang jika kamu kesini, aku menjaga nama baik kamu, bagaimanapun aku tak ingin orang menilai buruk tentang kamu"
__ADS_1
Aku diam, aku tampak memikirkan ucapan Mario