
Entah mengapa hari ini aku teringat dengan mas Arif, dan perasaanku sangat tidak nyaman. Berkali-kali aku berusaha menenangkan hatiku tapi tetap saja aku teringat dengannya
Berbagai pikiran buruk menghantuiku, jangan-jangan, jangan-jangan itulah yang memenuhi otakku. Tidak biasanya aku begini, biasanya aku akan bersikap cuek jika dia di luar, mungkin karena itulah akhirnya aku tidak mengetahui kelakuannya di belakangku
Tapi berbeda dengan hari ini, bayangan gadis desa yang mengantar nasi uduk pagi-pagi waktu itu menghantuiku, terlebih dengan sikap gugup dan kikuk mas Arif ketika aku menyapa gadis manis itu
Mas Arif juga ku telepon tidak aktif, dan aku kirimi pesan juga masih centang satu. Mungkin hpnya low atau bisa jadi daerah sana terkena dampak mati lampu sehingga tidak ada sinyal
Atau jangan-jangan mas Arif lagi sakit?
Aku menarik nafas dengan gelisah. Orderan yang harusnya aku antarkan hari ini aku pending karena bad mood, dan pada customer aku meminta maaf karena cancel mengantar barang kali ini dengan alasan aku tidak enak badan
Apa aku harus menghubungi Mario?, ah rasanya tak enak aku mengadu padanya tentang suasana hatiku, sedangkan aku tahu Mario menyayangiku, tapi aku harus mengadu pada siapa lagi jika bukan pada Mario, masa iya aku ngomong dengan mertuaku?, jelas mereka akan besar kepala nanti karena ternyata aku masih mengkhawatirkan anak mereka
Karena tidak menemukan keputusan yang pas, akhirnya aku lebih memilih menghubungi Mario
Kulihat jam masih menunjukkan angka sepuluh pagi, dan itu artinya Mario sedang berdinas, jika aku menghubunginya tentulah aku mengganggu waktunya
Kembali aku menarik nafas panjang dan kembali mencoba menghubungi mas Arif
Dan kembali aku harus menelan kecewa karena nomor mas Arif sejak semalam masih tak aktif dan pesan yang ku kirim masih centang satu
"Terserahlah, aku harus menghubungi Mario" putus ku dengan langsung menempelkan hp ke telingaku
Tersambung dan diangkat, itulah aku sukanya dengan Mario, dia cepat tanggap kalau aku yang menghubungi
"Ya sayang?"
Aku mendecak dan kudengar Mario terkekeh
"Ada apa Intan Permata Sari...?" tanya Mario, masih dengan nada lembut
"Aku Kok keinget mas Arif ya dari semalam?"
Kembali kudengar Mario terkekeh
"Cie yang rindu suaminya....?"
Kembali langsung menekuk wajahku ketika mendengar Mario kembali menggodaku
"Mario!!!"
__ADS_1
"Iya maaf, terus aku harus apa?"
Aku kembali mendecak kesal.
"Berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan mas Arif, positif thinking, ya?"
Aku menarik nafas panjang
"Kalau aku kesana gimana ya Yo?"
"Jam berapa sampainya kalau jam segini aja kamu masih di rumah?"
Aku melihat jam di tembok, jam dua belas lewat, hampir jam setengah satu. Jika aku berangkat jam satu, aku bisa tiba di sana paling cepat jam tujuh malam, batinku
"Menurut kamu aku harus bagaimana?"
"Besok aja, coba kamu hubungi lagi mas Arif siapa tahu sudah aktif"
Setelah mengucapkan terima kasih karena nasehatnya, aku segera menghubungi adik bungsuku, memintanya untuk membawa kedua anakku ke rumah orang tuaku, kemudian aku menelepon travel, minta di jemput dan diantar ke tempat suamiku, karena aku memutuskan akan berangkat hari ini juga walau tadi Mario telah melarang ku untuk pergi hari ini
Awalnya Meka dan Bobbi menolak ketika aku menyampaikan pada mereka agar mereka malam ini tidur di rumah kakek neneknya, karena aku mau melihat papa mereka
Mereka bersikeras meminta padaku untuk ikut serta, tapi aku bilang jika aku besok akan pulang, aku kesana hanya untuk melihat dan memastikan jika papa mereka baik-baik saja, setelah melihat keadaan papa mereka aku akan pulang kembali ke rumah
Jadi dengan wajah sedih karena masih menangis, Meka dan Bobbi menurut ketika adik bungsuku menaikkan mereka keatas motor
"Ikut Om jalan-jalan" bujuk adikku agar keduanya diam
Setelah kedua anakku dibawa pergi dengan adikku, aku yang telah siap menunggu jemputan travel dengan gelisah
Jam satu lewat barulah travel menjemput ku. Aku langsung masuk ke dalam mobil yang ternyata telah berisi lima penumpang lain yang searah dengan kami
Karena mengantarkan penumpang sampai ke rumah-rumah mereka aku tiba di rumah dinas mas Arif sudah lewat jam delapan malam
Kulihat ruang tengah lampunya tidak menyala, tapi lampu luar dan lampu di dapur tampak menyala
Dengan agak takut-takut aku berjalan mendekat kearah pintu, mengeluarkan hp dan mencoba menelepon mas Arif
Tersambung dan ku dengar jika suara hpnya ada di dalam rumah, kembali aku mengulangi panggilan karena panggilan pertamaku tidak diangkat, dan aku semakin yakin jika hp mas Arif ada di dalam rumah
Karena tidak diangkat-angkat, aku mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam
__ADS_1
Karena tidak mendapat jawaban aku berniat mengetuk pintu belakang yang lebih dekat dengan kamar, jadilah aku meletakkan koper di depan pintu lalu berjalan kearah belakang
Untuk sampai ke pintu belakang, aku harus melewati samping kamar, tapi langkahku seketika terhenti ketika di samping kamar aku mendengar ada suara aneh dari dalam
Karena penasaran aku meletakkan telingaku ke jendela yang tertutup gorden
"Ahhhh... maaassss....."
Mulutku ternganga, mataku membulat, kakiku rasanya gemetar ketika aku mendengar suara *******, aku yakin itu suara laknat dari mulut seorang perempuan
Dan kembali aku memusatkan telingaku untuk memastikan jika aku tidak salah dengar, dan kembali aku mendengar suara laknat itu
Dan suara dipan yang berderit yang semakin meyakinkanku jika di dalam mas Arif pasti sedang berbuat mesum
Dengan menahan sesak dan sakit di dada, aku berjalan cepat kearah rumah dinas yang tak jauh dari rumah dinas mas Arif
Pada tuan rumah aku bilang dengan jujur jika aku mendengar suara aneh dari dalam kamar mas Arif
Lelaki yang umurnya tak jauh beda dengan mas Arif segera tampak menelepon seseorang, yang tak lama setelahnya muncul tiga orang lelaki paruh baya
Dan tuan rumah tempat aku memberitahu tadi mengatakan pada tiga lelaki yang baru datang tentang apa yang aku dengar
Dengan cepat kami berlima kembali berjalan kearah rumah dinas mas Arif dan langsung menuju arah kamarnya mas Arif
Dan kali ini suara yang kami dengar semakin heboh dan kencang, bahkan aku dengar dengan jelas suara perempuan yang berteriak tertahan menahan sesuatu
Dan juga aku dengar suara nyeracau dari mas Arif. Jika empat pria tadi saling toleh, berbeda halnya dengan aku yang shock
Aku langsung terduduk lemas di tanah dengan air mata yang mengalir tanpa bisa aku tahan
Aku lihat jika keempat pria itu berbicara seperti kode, lalu mengajakku berjalan ke depan
Walau masih dengan menangis, aku menuruti ajakan mereka untuk ke depan.
Salah satu dari empat pria tadi merogoh kantong celananya dan langsung memasukkan anak kunci kedalam lubang kunci, sekali putar pintu langsung terbuka
Dengan mengendap kami masuk, dan kembali seorang lelaki memintaku berjalan di depan
Dengan degup jantung yang berdebar kencang, aku berjalan pelan kearah kamar, mengintip melalui gorden yang terbuka sedikit oleh tiupan kipas angin
Tubuhku rasanya limbung ketika dengan mata kepalaku kulihat dengan jelas mas Arif sedang main kuda-kudaan dengan seorang perempuan yang berada di bawah dengan posisi nungging
__ADS_1
"Aaahhhhh...., Mas Arif apa yang sedang kamu lakukan??!!!" teriakku lantang yang langsung membuka lebar gorden