
Aku dengan cepat keluar dari dalam kamar setelah berganti pakaian. Meka dan Bobby pasti lapar karena sudah lewat jam makan malam mereka. Sementara Mario sepertinya masih betah berada di dalam kama mandi dan aku hanya membiarkannya. Mungkinlah dia lelah dan ingin berlama-lama duduk di bawah shower karena tadi habis menggempur ku
Dan masalah lelah, tentulah aku juga lelah sekali karena harus ekstra tenaga menghadapi aksi brutal Mario, tapi mau apalagi, tugasku sebagai ibu tidak bisa aku abaikan. Setelah yakin jika rambutku agak kering, aku segera keluar dari dalam kamar dan menuruni tangga disaat terdengar suara kedua anakku berteriak di bawah
“Nah tuh ibuk” ucap mereka ketika melihatku
Aku memasang senyum kearah mereka kemudian berjalan kearah dapur, menghangatkan sayur yang tadi aku bawa dari rumah mertuaku, dan segera membuka rice cooker untuk mendingin nasinya.
Selesai menata semua menu di atas meja aku segera naik memanggil Mario. Dan kebetulan saat itu Mario juga akan turun dari atas.
Secara bersama kami makan malam lengkap dengan Ibrahim dan juga dua karyawanku. Sambil makan kami selingi dengan obrolan ringan. Dan ketika selesai makan malam, aku membersihkan meja sementara Mario bergabung dengan Ibrahim dan dua temannya yang duduk di luar ruko
Aku mendekati kedua anakku, membantu mereka mengerjakan tugas sekolahnya karena besok adalah jadwal mereka masuk sekolah lagi setelah empat hari libur.
Dan hari ini, rutinitasku masih seperti biasanya. Bangun pagi-pagi buta karena harus menyiapkan sarapan dan bekal kedua anakku. Bedanya adalah jika aku bangun aku langsung turun dari ranjang, maka pagi ini sedikit berbeda karena aku mencium wajah Mario terlebih dahulu
“Morning sayang…..” ucapku ketika aku mencium wajahnya
Tak ada jawaban, hanya tubuh Mario yang menggeliat sebentar. Dan aku langsung turun dari ranjang da keluar dari kamar, langsung menuruni tangga dan langsung menuju dapur.
“Papa nggak kerja buk?” tanya kedua anakku ketika mereka mencium punggung tanganku, hendak berangkat sekolah karena angkot jemputan mereka telah sampai
Aku mengangkat bahuku menjawab pertanyaan Meka dan melambaikan tangan ketika mobil yang menjemput kedua anakku berlalu
Kemudian aku masuk dan segera menuju kamar berniat membangunkan Mario. Tapi ternyata ketika aku masuk Mario sudah memakai baju seragam dinasnya
“Loh, ngga cuti?” tanyaku kaget
Mario yang sedang menyisir rambutnya menoleh dan tersenyum
“Aku itu kepala, mana ada cuti-cutian” jawabnya yang ku sambut dengan memanyunkan bibirku
“Ya kali…..” jawabku sambil berdiri di belakangnya dan langsung memeluk pinggangnya dari belakang
“Aku mau lihat mas Arif. Sudah dua hari loh dia dipenjara. Apa kabar dia” jawab Mario sambil memutar badannya sehingga sekarang dia balik memelukku
“Jadi beneran mas Arif di penjara?”
Mario mengangguk, dan aku tercengang
“Shock terapilah untuknya, biar nggan macam-macam lagi sama kamu”
Aku tak menjawab melainkan menarik bibirku kesamping mendengar jawaban Mario.
“Kamu ke toko?”
__ADS_1
Aku menggeleng
“Loh, kenapa?”
“Ya pikirku beberapa hari ini kamu cuti, jadi aku stay di rumah sama kamu. Atau minimal kemana gitu…?” pancingku
Mario tersenyum mendengar jawabanku
“Minggu depan kita ke pantai, sabtu sore kita berangkat” jawabnya yang membuat senyumku langsung merekah
“Sama anak-anak?” tanyaku
“Ya iya dong. Orang kita punya anak, ya ajak anak. Tapi sambil kita buat anak juga nanti” selorohnya yang membuatku memukul lengannya reflex
Mario terkekeh melihatku yang memukulinya, segera ditangkapnya tanganku dan menarikku kedalam dekapannya.
“Kamu sudah lepas KB kan?” tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepala
“Aku ingin punya anak banyak dari kamu” lirih Mario yang mampu membuat bulu romaku meremang
“Sudah ah, ayo turun. Bisa-bisa kamu nggak jadi ngantor kalau peluk aku terus” jawabku cepat karena Mario sudah bergelagat aneh
Sekali lagi Mario terkekeh dan menggenggam jariku, membawaku turun. Aku langsung menyiapkan sarapannya begitu Mario duduk di kursi meja makan, dan tak lupa juga menyeduh kopi cappuccino kesukaannya
“Istirahat nanti aku akan pulang” ucap Mario ketika aku mencium punggung tangannya
“Ada yang aneh?” tanyaku
“Nggak sih kak, Cuma kasihan saja. Masa pengantin baru sudah ditinggal dinas” ledek Ibrahim yang mampu membuatku berlari kearahnya dan berusaha memukulnya
Ibrahim berkelit dan berusaha menghindari pukulanku dan kami bertiga langsung terkekeh dengan kekonyolan kami. Reno yang baru datang hanya bisa memandang kami dengan wajah bingung
Sementara Mario yang tiba di kantornya, disambut hormat dengan anak buahnya dan langsung memberikan laporan pada Mario tentang mas Arif dan Mirna yang mereka tahan
“Kalian kasih makan kan mereka?” tanya Mario sambil duduk di tempatnya
“Iya komandan, sesuai perintah komandan”
Mario menganggukkan kepalanya kemudian dia memutar kursinya, mengambil catatan kriminal mas Arif an Mirna di dalam lemari yang ada di belakang kursinya, setelah itu dia segera bangkit dan berjalan keluar dari dalam ruangannya
“Biarkan saya sendiri. Saya akan bicara empat mata sama mereka berdua” ucap Mario ketika anak buahnya mengekor di belakangnya
Anak buah Mario akhirnya menurut dan memilih mundur dan membiarkan kepala satuan mereka pergi sendiri ke penjara kantor ini, menemui mas Arif dan Mirna yang memang sejak dua malam ini menjadi penghuni jeruji besi di kantor ini
Langkah sepatu Mario terdengar jelas oleh telinga mas Arif sehingga dia yang duduk di lantai segera berdiri dan langsung berdiri di depan pintu penjara tempatnya
__ADS_1
“Ck, saya kira siapa….” Ucap mas Arif mendecak ketika mengetahui jika yang datang adalah Mario
Mario tersenyum samar mendengar ucapan mas Arif. Dia tidak terpengaruh sedikit pun dengan sikap tak ramah mas Arif padanya. Mario segera berdiri di depan mas Arif dengan map yang ada di tangannya. Sementara Mirna, yang melihat jika suaminya sedang berbicara dengan seseorang segera ikut berdiri dan ikut mendekat kearah pintu
“Pak, tolong keluarkan saya. Saya tidak bersalah pak. Saya tidak ada maksud untuk membuat pesta pernikahan Intan berantakan. Saya kesana Cuma mencari suami saya”
Mas Arif menggerakkan kepala dan kembali dia mendecak kesal mendengar ocehan Mirna
“Kamu bisa diam tidak?. Kalau tidak kamu akan aku pukul”
Mario tersenyum sinis mendengar ucapan mas Arif pada istrinya, sementara Mirna yang dibentak oleh mas Arif segera mundur selangkah. Tapi wajahnya masih memandang penuh harap pada Mario
“Mau ngapain kamu kesini?” mas Arif kembali membuka suara
Dan Mario masih tampak tenang mendengar mas Arif yang masih saja bernada tak suka padanya, senyum tipis masih mengembang di bibirnya dan itu semakin membuat mas Arif muak melihatnya
“Mas ini lucu, ini kan kantor saya. Saya kepala disini, tentulah saya ada di sini. Harusnya saya yang bertanya, kenapa mas ada di sini?. Kurang apa setahun kemarin mendekap di penjara sehingga mau mas tambah lagi?”
Rahang mas Arif mengeras mendengar ejekan Mario. Dia tak menyangka jika dia akan kalah telak dengan jawaban Mario. Dan Mirna yang mengetahui jika yang berdiri di depan suaminya saat ini adalah kepala polisi di kantor ini, jadi menebak-nebak jika pria tegap itu adalah suaminya Intan
“Bapak kepala kepolisian disini?” tanyanya takut-takut
Mario mengangguk kearah Mirna sambil tersenyum samar
“Jadi bapak suaminya Intan?”
Kembali Mario mengangguk
“Iya, mbak benar. Saya suaminya Intan. Perempuan yang mbak dan suami mbak temui kemarin”
Mirna menelan ludahnya mendengar jawaban Mario, dia hanya bisa menoleh takut-takut kearah Mario sekarang yang masih memasang wajah santai
“Jadi tujuan kamu kesini itu mau pamer?”
Kali ini Mario terkekeh mendengar ucapan mas Arif, kemudian Mario membuka map yang sejak tadi ada di tangannya
“Di dalam map ini berisi catatan kriminal mas selama ini. Dan ini bisa saya tambahi dengan perbuatan tak menyenangkan yang mas lakukan di pernikahan kami kemarin. Dan mas pasti tahu berapa lama hukumannya”
Mas Arif membuang mukanya mendengar jawaban Mario. Dia semakin merasa terpojok, dan kian merasa benci pada Mario yang tetap berada di atas angin
“Kamu nggak usah bertele-tele, kamu memang berniatkan memenjarakan saya? Jadi silahkan saja. Saya tidak takut”
Mario menganggukkan kepalanya mendengar jawaban mas Arif dan dia semakin tersenyum sinis mendengarnya
“Yakin?. Kalau mas yakin mau saya penjarakan, saya sih oke-oke saja. Tinggal saya buat BAP nya, terus mas resmi deh jadi tahanan kami”
__ADS_1
Rahang mas Arif mengeras dan dia mendengus kesal mendengar jawaban santai Mario. Sementara Mirna semakin tak berani berkutik, dia sudah semakin ketakutan akan nasibnya yang akan bernasib sama sialnya dengan suaminya