Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Niatku


__ADS_3

Setelah Mario pulang, aku segera menelepon adikku untuk mengantarkan Meka dan Bobbi pulang


Tak lama telah muncul adikku, tapi dia tidak membawa kedua anakku melainkan datang bersama ayah dan ibuku


Wajahku langsung menegang ketika melihat raut wajah sangar ayahku, karena aku yakin dia pasti sudah tahu berita perbuatan mesum mas Arif


Dan benar saja, belum lagi beliau duduk, beliau sudah langsung berteriak marah


"Masih kamu mau mempertahankan suami bajingan seperti itu?"


Aku hanya diam mendengar ayahku memarahiku, tidak sepatah katapun aku menjawab omongannya. Aku hanya menundukkan kepalaku


"Kemana wajah kami, kami letakkan Intan??!"


Aku masih saja menundukkan kepalaku ketika ayahku kembali berteriak marah


"Aku sudah melaporkan mas Arif yah, aku yakin kali ini dia akan dipenjara" jawabku setelah ayahku cukup lama diam dan nafasnya yang tadi memburu telah tenang


"Bagus memang harusnya sudah sejak kemarin kamu melaporkan bajingan itu" geram ayahku lagi


Kemudian ayah dan ibuku menasehatiku yang intinya memintaku berpikir jernih tentang sifat mas Arif yang buruk ini


Hal pertama yang menjadi pertimbangan mereka adalah jarak kasus mas Arif yang digerebek polisi ketika dia dinas luar kemarin dengan kasus semalam hanya berjarak sebulan lebih, dan itu bukanlah jarak yang lama, dan itu membuktikan jika mas Arif memang tidak bisa dijadikan suami yang baik, karena selalu mengumbar syahwatnya


Setelah selesai menasehatiku, kedua orang tuaku pulang dan tak lama adikku muncul dengan membawa Meka dan Bobbi, Meka dan Bobbi segera berlari menghambur kepelukan ku ketika mereka turun dari atas motor


Aku sangat berharap jika Meka dan Bobbi tidak mengetahui kasus yang kembali menimpa papa mereka


Karena perasaanku masih sangat hancur, aku mengajak keduanya tidur di kamarku


Tengah malam aku masih tidak bisa tidur, bayangan pergumulan mas Arif dan Mirna yang kulihat jelas di depan mataku kembali terlintas dengan jelas


Aku mengusap wajahku dan beristighfar berkali-kali agar hatiku tenang


Hingga ayam telah berkokok, barulah aku bisa memicingkan mataku


...----------------...


Dengan malas aku menoleh kearah hp ku yang berdering, ini entah sudah panggilan yang keberapa kali dari mbak Sari dan mama mertuaku yang aku abaikan


Pesan yang dikirim oleh merekapun satupun tak ada yang kubaca, boro-boro mau ku balas


Pesan what's aap maupun messenger dari teman-teman dan langgananku memenuhi dua aplikasi tersebut


Mereka mengucapkan rasa prihatin dan memintaku untuk sabar dan kuat dalam menghadapi cobaan ini

__ADS_1


Pesan mereka kebanyakan hanya aku baca, hanya sebagian yang aku balas, itupun dengan kalimat pendek, "terima kasih"


Kembali hp ku berdering, kulihat di layar tertera nama Mario. Dengan cepat aku mengangkat panggilan Mario


"Aku sudah dinas sekarang Ntan, maaf ya nggak pamit sama kamu" ucapnya


Aku tersenyum mendengar suara lembutnya, entahlah suara Mario serasa mood booster tersendiri untukku


"Kalau butuh apa-apa bilang sama aku, bahkan jika kamu butuh pengacara" ucapnya sambil terkekeh


Aku ikut terkekeh pula mendengar ucapannya


"Nantilah Yo, aku masih pikir-pikir lagi"


Terdengar Mario menarik nafas panjang


"Kayanya kamu ngarep banget aku jadi janda" jawabku karena Mario diam


Terdengar Mario terkekeh


"Kutunggu jandamu, maaf bila aku menyumpahi, saking aku cinta padamu, kau janda pun aku mau"


Aku terkekeh mendengar Mario bernyanyi


"Udah ah mulai deh ngarang bebas" jawabku masih dengan terkekeh


Hingga akhirnya aku tersenyum bahagia dengan perhatiannya, dan lagi-lagi hal terkecil yang dilakukan Mario mampu membuatku sedikit lupa dengan masalah berat yang tengah menimpaku


Karena masalah ini aku jadi tidak berani membuka aplikasi sosial mediaku, aku yakin ada banyak yang men tag namaku dalam postingan mereka terkait dengan video mesum dan video sidang di balai desa kemarin


Saat aku duduk melamun di teras belakang dengan memandang luasnya hamparan sawah yang menghijau, terdengar suara klakson di depan, saat itu hari telah sore, Meka dan Bobbi sedang tidur-tiduran dengan santai di depan tivi yang menayangkan acara kartun favorit mereka


Aku sedikitpun tidak berniat bangkit dari dudukku karena aku mengenal betul suara klakson mobil di depan, mobil mertuaku


Bahkan suara ketukan pintu di depan tidak aku hiraukan. Aku masih asyik duduk di belakang, sehingga teriakan kencang dari Meka hanya aku balas dengan jawaban deheman saja


"Ada kakek sama nenek di depan ma" teriak Meka


Aku mendengar suara mama mertuaku yang menyapa kedua anakku dan menanyakan keberadaanku


"Mama ada di belakang" jawab Meka


Aku pura-pura tidak mendengar ketika banyak langkah kaki di dapur dan berjalan menuju teras belakang


"Intan sayang......" ucap mama mertuaku yang langsung menghambur memelukku

__ADS_1


Aku hanya tersenyum segaris ketika beliau mendekap ku, dan tak menghiraukan bagaimana beliau terisak-isak


"Bagaimana ceritanya Ntan....?" lirih beliau disela isak tangisnya


Aku menoleh kearah mbak Sari yang telah duduk di kursi di dekatku


"Tanya saja mbak Sari, karena mbak Sari pasti sudah lihat di sosial media" jawabku datar


Mama mertuaku diam, begitu juga dengan yang lain


"Kamu yang sabar ya Ntan, ini cobaan nak, cobaan untuk kita semua"


Aku tertawa sinis mendengar ucapan mama mertuaku


"Ini bukan cobaan ma, tapi ini adalah kenyataan betapa bobroknya akhlak mas Arif" jawabku dingin


Mereka semua terdiam mendengar jawabanku


"Jika kalian meminta aku untuk bersabar dan memaafkan mas Arif, harus aku katakan terus terang, aku tidak bisa. Bukan sekali dua kali ini mas Arif berbuat mesum, tapi telah berkali-kali, dan sepertinya kesabaranku telah sampai di garis finish, sehingga aku tidak bisa lagi memaafkan dan mentolerir perbuatan mas Arif"


Semuanya tak ada yang bersuara mendengar jawaban lantang ku


"Dengan mata kepalaku sendiri aku memergoki mas Arif sedang meniduri perempuan lain, kalau mama ada di posisi aku apa yang akan mama lakukan?"


Mama mertuaku diam mendengar pertanyaanku. Dan kembali aku tersenyum sinis melihat reaksi diam mama mertuaku


"Baru sebentar ma mas Arif kegerebek, bukannya belajar dari pengalamannya malah mas Arif mengulangi, apa itu namanya jika bukan kebiasaan?"


Kembali mereka hanya diam


"Maaf ya ma, pa, jika aku kalian anggap tidak sopan, tapi aku sudah sangat sakit hati dengan kelakukan buruk mas Arif"


"Mama dan papa lihat sendiri bagaimana mas Arif kemarin berlutut di kaki aku dan bersumpah tidak akan mengulangi lagi perbuatannya, tapi apa?, mas Arif kembali jatuh di lubang yang sama, dan kali ini aku sendiri yang memergokinya"


"Saya tanya sama kalian, jika yang melakukan perbuatan mesum itu adalah aku, apa yang akan kalian katakan pada mas Arif?"


Masih semuanya diam tak ada yang bersuara sedikitpun, dan aku kembali tersenyum sinis dengan menggeleng-gelengkan kepalaku


"Aku yakin kalian semua akan meminta mas Arif menceraikan aku detik itu juga, kalian akan mengatakan jika aku wanita murahan yang tidak pantas menjadi istri mas Arif lagi, iyakan?"


"Tapi kenapa giliran mas Arif yang berkali-kali melakukan kesalahan kalian selalu memintaku untuk bersabar dan memaafkan kekhilafan mas Arif?, mengapa?"


Masih tak ada jawaban


"Maaf ma, tekad saya sudah bulat, saya tidak akan mencabut laporan saya pada kasus perzinahan yang dilakukan mas Arif, dan kemungkinan besar saya juga akan menggugat mas Arif di pengadilan agama"

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, aku bangkit dari kursi lalu meninggalkan mereka yang hanya bisa menarik nafas panjang


__ADS_2