
Hari ini aku berencana untuk menemui mama dan Papanya Mario setelah lebih dari satu tahun aku tidak menginjakkan kakiku di rumah tersebut.
Ada rasa canggung ketika kakiku akan melangkah ke teras rumah asri tersebut yang tampak tertutup.
Tapi karena memang niatku dari awal ingin menemui mereka berdua, walaupun dengan ragu aku terus melangkah hingga sampai di depan pintu.
Dengan pelan aku mengetuk pintu yang tak lama setelahnya terdengar suara sahutan dari dalam rumah.
"Intan?, ini benar kamu?" tanya mamanya Mario seakan tak percaya bahwa memang aku yang saat ini berdiri di depannya.
Aku tersenyum ke arah beliau kemudian aku mencium punggung tangan beliau dengan takzim. Tapi beliau malah menarik ku dalam dekapannya dan memelukku dengan erat.
"Siapa Mah?" teriak suara dari dalam.
Mamanya Mario tidak menjawab pertanyaan suaminya melainkan segera mengajakku masuk dan begitu melihatku masuk bersama istrinya, Papanya Mario menatap ke arahku tak berkedip.
"Papa sehat?" tanyaku sambil mencium punggung tangan Beliau juga.
Beliau mengangguk sambil mengusap kepalaku, dan dapat Kulihat ada pancaran kasih sayang dari mata beliau ketika menatapku.
"Ayo kita duduk, kenapa hanya berdiri saja?" ucap beliau akhirnya tersadar karena memang sejak tadi kami berdiri.
Secara bersamaan aku dan mamanya Mario tertawa. Kemudian kami sama-sama berjalan dan duduk di sofa.
"Mau minum apa?, biar mama yang ambilkan" tanya mamanya Mario
Aku menggeleng
"Nggak usah mah. Nggak usah repot-repot. Jika pun aku haus aku bisa ambil sendiri" jawabku.
Kembali keduanya tersenyum dan menatap sayang padaku.
Lalu kami mengobrol ringan menanyakan kabar kami masing-masing. Dan tak lupa juga kedua orang tua Mario menanyakan bagaimana kabar kedua anakku dan juga menanyakan bagaimana perkembangan usahaku
Aku pun menceritakan jika usahaku berjalan dengan sangat lancar dan sekarang aku juga sudah membuka tour and travel haji dan umroh.
"Wow, Kamu memang benar-benar seorang bisnis women Ya..." puji papanya Mario padaku.
Aku tersenyum
"Masih belajar Pah, dan aku masih butuh doa dari kalian semua" jawab ku merendah.
"Kalau doa, jangan pernah kamu ragukan Intan. Papa dan mama sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Tentu saja kami berdua selalu mendoakan kebaikanmu" jawab mamanya Mario.
Aku tersenyum haru mendengar jawaban beliau.
Setelah cukup mengobrol ringannya, Akhirnya Aku mengutarakan Niatku Mengapa aku datang mengunjungi mereka.
__ADS_1
"Apa?, kamu mau mengajak mama dan papa Umroh?" tanya Papanya Mario sambil menoleh kearah istrinya dengan tak percaya.
Aku mengangguk cepat sambil tersenyum kearah beliau
"Iya Pa, aku mau mengajak mama sama papa umroh, mama sama papa mau kan?".
Kembali keduanya saling toleh.
"Ini sebagai bentuk wujud syukur aku atas karunia Alloh selama ini sama aku, karena Alloh sudah baik sama aku. Untuk itulah aku mengajak orang-orang yang aku sayang untuk umroh, termasuk ngajak mama sama papa".
Keduanya masih diam tidak menjawab perkataanku padahal aku sudah menjelaskan pada mereka dengan wajah sumringah.
"Ayo dong mah, mau ya.....? kita semua berangkat. Aku, Kakakku, orang tuaku, juga mama sama papa. Jadi kita itu rencananya akan berangkat bersama-sama minggu depan"
Mungkin kedua orang tua Mario shock, oleh karena itulah mereka tidak menjawab ataupun merespon perkataanku.
"Tolong ya ma, pa... mau?, karena nama Papa sama Mama itu sudah aku daftarkan".
Kedua orang tua Mario langsung mengusap wajah mereka dan keduanya secara refleks sama-sama mendekap ku.
"Entah dengan cara apa kami mengungkapkan kebahagiaan kami atas surprise yang kamu berikan ini Intan" ucap papanya Mario.
Aku tersenyum bahagia melihat wajah mereka yang tersenyum sumringah.
"Itu artinya Mama dan Papa mau kan?" tanya ku kembali
Keduanya langsung mengangguk cepat
Aku langsung mengucapkan rasa syukur dan langsung mendekap keduanya seraya mengucapkan terima kasih karena akhirnya mereka mau menerima ajakanku.
Karena telah mengetahui bahwa kedua orang tua Mario bersiap berangkat umroh bersama keluarga besar ku, aku lalu berpamitan pulang.
Dan kembali kedua orang tua Mario mendekap ku dengan sayang sambil mengusap-usap kepalaku.
Hingga akhirnya hari yang kami nantikan itu tiba dan saat ini kami semua sudah berada di bandara yang akan membawa kami terbang menuju kota Mekkah
"Intan Permatasari!!" teriak sebuah suara yang membuat kami semua langsung menoleh ke sumber suara.
Seharusnya aku sudah bisa menebak siapa yang memanggil namaku. Karena tidak ada satu manusia pun di dunia ini memanggil namaku dengan nama lengkap kecuali Mario.
Aku hanya bisa menelan ludah ketika kulihat Mario berjalan cepat ke arah kami.
Aku berusaha tersenyum walaupun senyumku itu senyum kaku ke arah Mario yang saat ini telah berdiri di depanku.
"Mario, tidakkah kamu ingin bersalaman dan memeluk kedua orang tuamu? tanyaku heran.
Mario tertawa tanpa rasa bersalah sedikitpun. Kemudian dia memutar badannya lalu berjalan ke arah kedua orang tuanya yang menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan.
__ADS_1
Segeralah dipeluknya kedua orang tuanya dengan rindu dan dapat aku lihat jika mamanya Mario tampak meneteskan air mata.
Kemudian Mario beralih dengan menyalami kedua orang tuaku, kakakku dan juga Ibrahim. Lalu kembali Mario berdiri di depanku
"Kenapa kamu tidak bilang jika kamu akan umroh?" tanya Mario menatap penuh pada mataku.
"Hah?" reaksiku dengan mulut menganga.
Kemudian Mario menggaruk kepalanya dengan bingung melihat bagaimana reaksi ku atas pertanyaannya.
"Aku nitip mama sama papa ya Ntan" ucap Mario akhirnya karena aku hanya menatap heran pada wajahnya.
Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya. Ketika pesawat yang akan membawa kami akan berangkat, aku berpamitan pada Mario. Tapi ketika aku akan melangkah, kembali tanganku ditarik oleh Mario.
"Ada apa?" tanya ku sambil mendongak ke arahnya.
"Titip doa ketika kamu berada di Jabal Rahmah" lirih Mario.
Aku menelan ludahku ketika mendengar ucapannya
"Pasti, aku pasti mendoakan kamu di sana" lirihku .
Mario tersenyum kemudian tangannya terulur ke kepalaku, mengusap pelan kepalaku yang tertutup kerudung
"Hati-hati di sana ya Ntan...." lirihnya.
Aku hanya bisa mengangguk. Kemudian aku segera berjalan cepat menyusul yang lainnya dimana saat ini mereka sudah mulai menaiki tangga pesawat.
Akhirnya nyaris dua belas jam berikutnya kami semua tiba di kota Mekkah.
Ketika berada di Kota Mekkah, aku mengikuti serangkaian rukun wajib dan sunnah nya umroh. Dan ketika berada di depan Ka'bah aku memejamkan mataku memunajat kan doa keharibaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Saat aku memejamkan mataku dan memanjatkan doa, wajah Mario terlintas di kepalaku.
Aku segera membuka mataku dan langsung beristighfar lalu kembali aku memejamkan mataku dan sekali lagi wajah Mario yang terlintas di kepalaku.
Dan ketika kami berada di Jabal Rahmah, sesuai dengan permintaan Mario, aku menyebut nama Mario di sini dan kembali ketika aku memejamkan mataku kembali ada wajah Mario melintasi kepalaku.
"Ya Tuhan...... kenapa sejak tadi hanya Mario yang ada di kepalaku" batinku.
Aku kembali untuk khusyuk berdoa dan kembali berusaha untuk memusatkan pikiranku dengan tenang berdoa, tapi kembali wajah Mario melintas.
Aku menarik nafas panjang karena sejak tadi hanya wajah Mario yang terlintas di kepalaku
"Ya Alloh jika memang Mario adalah jodohku tolong dekatkan kami, tapi jika memang bukan dia jodohku tolong jauhkanlah dia" bisikku.
Hingga akhirnya serangkaian perjalanan umroh kami selesai selama sembilan hari. Dan akhirnya, saatnya kami semua kembali ke tanah air dan kembali ketika tiba di bandara Mario menyambut kami.
__ADS_1
Hatiku kembali bergetar ketika menuruni tangga pesawat. Kulihat Mario melambaikan tangannya ke arah kami.
Aku kembali teringat bagaimana selama aku di tanah suci hanya Mario yang terlintas di setiap doaku.