
Tasya kian terisak-isak mendengar Mario menangis. Sedangkan Ferdian tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya memandang ke arah istri dan kakak iparnya secara bergantian.
Dengan pelan dituntunnya bahu Tasya oleh Ferdian dan di bawanya duduk di sofa.
Sementara, setelah mendudukkan Tasya di sofa, Ferdian mendekat dan duduk di sebelah Mario, dan berusaha menepuk pundak kakak iparnya berkali-kali.
"Aku tidak tahu Kak apa yang terjadi di antara kalian berdua, jika memang Kakak mau bicara empat mata pada Tasya aku akan meninggalkan kalian berdua" ucap Ferdian pelan.
Mario yang masih menangis tidak menjawab pertanyaan Ferdian melainkan dia terus menunduk dalam.
Begitupun dengan Tasya, Dia hanya bisa menatap sedih ke arah Mario yang menangis akibat perbuatannya.
Saat Ferdian berdiri dan hendak melangkahkan kakinya dengan cepat tangannya ditarik oleh Mario.
Ferdian menoleh ke arah Mario yang sekarang berdiri dan sedang mengusap kasar wajahnya, tampak dengan jelas betapa rasa sedih dan kecewa terpampang jelas di mata Mario.
"Kamu tidak usah pergi Fer, kamu tetap di sini dan kamu harus tahu apa yang telah istri kamu lakukan kepadaku" kata Mario lirih.
Dengan pelan baik Mario maupun Ferdian sama-sama berjalan ke arah sofa dan sekarang mereka duduk berhadapan dengan Tasya yang masih terus terisak.
"Tasya, Apa kamu masih mau bungkam?" tanya Mario yang sekarang suaranya jauh lebih tenang daripada tadi.
Tasya terus menunduk dan tidak menjawab pertanyaan kakaknya.
Mario menarik nafas panjang lalu merebahkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Ini sebenarnya apa yang terjadi Kak?, maaf jika aku lancang" tanya Ferdian kembali
Mario mengangkat kepalanya, menarik nafas panjang lalu menatap ke arah Tasya yang masih saja menunduk.
"Kamu tanya saja sama istri kamu apa yang telah dia lakukan sampai aku begini marahnya".
Ferdian yang wajahnya masih tampak kebingungan menoleh kembali ke arah Tasya dan menyentuh tangan istrinya dengan lembut.
__ADS_1
Tasya mengangkat kepalanya lalu menggeleng, dengan mata basah dia menoleh ke arah Mario dan menatap Mario dengan wajah sedih seakan-akan dia ingin berkata bahwa apa yang dilakukannya itu benar.
"Ayo bilang, jelaskan semuanya sama kakak" ucap Mario lagi dan sekuat tenaga dia berusaha tenang.
"Aku lakukan ini semua karena aku sama Raisa itu sayang sama kakak" lirih Tasya akhirnya
Mario mengusap kasar wajahnya lalu kembali menunduk mendengar jawaban Tasya.
"Ini bukan sayang namanya Tasya, tapi ini egois" jawab Mario lirih.
"Kemarin kakak telah ke sini dan kakak telah bilang dengan jelas sama kamu dan Raisa, jangan ikut campur urusan pribadi Kakak. Tapi sepertinya kalian berdua tidak mendengarkan omongan Kakak, hingga akhirnya Kalian terus berusaha menghasut Intan, mencaci maki Intan hingga akhirnya Intan menyerah dan memutuskan pertunangan dengan kakak".
Ferdian menoleh kearah istrinya dengan tatapan tak percaya.
"Tapi itu kami lakukan untuk kebaikan Kakak, Kak....." kembali Tasya mempertahankan alasannya
Mario menggeleng dan kembali mengusap kasar wajahnya
Tasya kembali terisak mendengar jawaban Mario.
"Kalian tahu demi kebahagiaan kalian berdua apapun Kakak rela lakukan. Kakak melindungi kalian berdua, bahkan ketika kalian sudah bersuami sekalipun, kakak tetap melindungi kalian. Kakak tetap menjaga kalian. Kakak tetap sayang sama kalian berdua, tapi apa balasan kalian sama kakak?, kalian tega menghancurkan hati kakak"
Tasya Kian terisak dalam mendengar jawaban menyentuh dari Mario.
"Kakak sangat kecewa sama kalian berdua, Tasya. Kalian adalah orang nomor 2 yang sangat Kakak sayangi di dunia ini setelah mama. Tapi kalian tidak pernah bisa memahami apa itu keinginan Kakak, kalian tidak pernah bisa memahami apa yang menjadi tujuan dan kebahagiaan buat kakak.....".
"Mungkin ini adalah terakhir kalinya Kakak menemui kamu, kakak tidak akan pernah menemui kamu lagi dan bilang sama Raisa bahwa kakak tidak akan pernah menemuinya juga. Kalian jangan salah faham, Kakak tidak pernah memutuskan hubungan darah kita karena hubungan darah kita akan selamanya terjalin"
"Kakak hanya ingin menenangkan diri Kakak, oleh karena itulah kakak tidak tahu entah kapan kakak akan menemui kalian berdua kembali, tapi untuk saat ini yang bisa kakak katakan adalah kakak tidak akan menemui kalian sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan".
Selesai berkata seperti itu Mario bangkit dari sofa lalu segera berjalan keluar dan Tasya yang mendengar ucapan kakaknya segera bangkit berlari mengejar Mario dan berusaha menangkap tangan kakaknya.
Ferdian yang mendengar duduk perkara yang diucapkan oleh Mario ikut berdiri juga dan mengejar Mario.
__ADS_1
Tapi Mario yang sudah kecewa dengan perbuatan Tasya hanya melepaskan dengan pelan tangan Tasya yang berusaha menghentikan langkahnya.
"Kak tolong Kak, tolong berhenti Kak. Tolong dengerin aku Kak. Kak tolong please, please maafin aku kak. Aku nggak tahu kalau akan begini jadinya. Kak tolong Kak maafin aku Kak, Aku menyesal. Maafin aku Kak...... Kak Mario maafin aku...." ucap Tasya yang terus menangis.
Sedikitpun Mario tidak menghentikan langkahnya, dia terus berjalan melangkah menuju motornya lalu secepat kilat dia memutar motornya dan langsung pergi meninggalkan Tasya yang hanya bisa menangis meraung menyesali perbuatannya.
"Kak Mario.... tolong berhenti Kak, kembali Kak..... maafin aku Kak...." teriak Tasya histeris yang terduduk di lantai teras dengan menangis pilu.
Ferdian yang melihat istrinya menangis sedih hanya bisa menatap istrinya dengan bingung, lalu menatap kepergian Mario dengan wajah sedih.
Dengan pelan Ferdian berusaha mengangkat tubuh istrinya. Tasya yang terus menangis berusaha melepaskan pegangan suaminya dan terus berteriak-teriak memanggil nama Mario.
Dan Mario yang sekarang melajukan motornya meninggalkan rumah mewah Tasya, melajukan motornya tanpa arah dan tujuan. Air matanya terus mengalir deras dan berusaha ditutupnya dengan helm agar tidak terlihat oleh orang-orang.
Hatinya benar-benar hancur, impiannya sudah porak-poranda. Impiannya untuk hidup bahagia bersama dengan Intan wanita yang selama ini sangat diimpikannya sudah hilang. Pupus sudah harapannya untuk bisa hidup berdua bersama Intan.
Karena tidak tahu kemana dia akan pergi, Mario melajukan motornya dengan pelan kembali ke rumah dinasnya. Perjalanan yang ditempuhnya dari provinsi tempat tinggal Tasya menuju rumahnya ditempuhnya dengan perjalanan selama tiga jam.
Begitu sampai di rumah dinasnya yang ditinggalkannya dua hari ini, Mario langsung masuk ke dalam kamarnya, menelungkupkan wajahnya dan menangis pilu.
Hingga malam barulah dia keluar dari kamarnya dan duduk merenung di depan TV. TV yang menyala sedikit pun tidak menarik perhatiannya.
Pikirannya kacau, yang ada di dalam otak dan hatinya saat itu hanyalah Intan, bagaimana caranya dia membuat Intan kembali menjadi miliknya. Dan Intan percaya diri untuk bersanding dengannya.
Beri aku kesempatan untuk menunjukkan kepada Tasya dan Raisa bahwa aku pantas bersanding denganmu Mario, kalimat terakhir Intan kemarin, kembali terngiang-ngiang di telinga Mario.
Mario menarik nafas dalam mencoba untuk mencerna dan memahami kalimat yang diucapkan oleh Intan kemarin.
"Cuma kamu yang pantas bersanding denganku Intan, bukan perempuan lain" lirih Mario pilu.
Dan hatinya kian tersayat ketika melihat layar hp nya yang menyala. Di Sana tampil wajah Intan sebagai wallpaper hp nya
"Aku akan terus menantimu Intan, sampai akhirnya Tuhan mempersatukan kita kembali dan tidak akan memisahkan kita lagi".
__ADS_1