Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Kedua Anakku Rindu Dengan Mario


__ADS_3

Kedua anakku menatap ke arahku, kemudian keduanya menggeleng.


"Loh kok beda, kenapa kalau sama ayah marah kalau sama Ibu tidak?" tanya ku ingin tahu apa yang ada di dalam hati mereka.


"Ya beda saja. Soalnya kami nggak suka Ayah sayang sama orang lain. Kalau ibu kan memang ibu sayang sama kami. Papa juga sayang sama kami, tapi kan sejak ayah sama Ibu pisah, ayah jarang nemuin kami" jawab Bobby polos.


Aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban dari Bobby.


"Iya nanti Ibu akan ngomong sama ayah, biar Ayah lebih sering nengok kalian, ya?" jawabku sambil mengusap kepala Bobby.


"Sebenarnya sih kami itu bukan pengen ayah yang nengok kami Bu. Tapi kami itu pengennya yang nengok kami itu papa. Karena selama ini yang jauh lebih perhatian dengan kami itu Papa bukan ayah" jawab Meka yang kali ini benar-benar mengena di hatiku.


"Ya Tuhan bahkan kedua anakku jauh lebih merindukan Mario dibanding ayah mereka sendiri" batinku sambil terdiam tidak tahu harus menjawab apa atas ucapan Meka.


"Ibu juga sudah lama sekali tidak menelepon Papa, apa Ibu tidak kangen sama Papa?"


Dan sekali lagi aku harus memaksakan senyum atas pertanyaan yang dilemparkan oleh Meka.


"Kangen, tapi kan kita tahu sendiri Papa sibuk. Lagian papa kan pindah dinasnya, tidak lagi dekat dengan kita. Itulah kenapa Papa jarang nemuin kita. Dan Kalian juga tahu, ibu juga sibuk di toko. Makanya ibu itu juga jarang nelpon Papa. Tapi ibuk janji, jika ada waktu ibuk akan nelpon Papa" ucapku kepada mereka berdua agar mereka berdua berhenti menanyakan tentang Mario.


"Jika ibuk sibuk, Kami saja yang telepon Papa" ucap Bobby sambil menadahkan tangannya ke arahku meminta HP.


Aku kembali menelan ludah ku, bingung harus memberi alasan apalagi kepada mereka berdua terlebih saat ini Bobby seperti setengah memaksa meminta HP kepadaku.


Dengan sedikit malas akhirnya aku memberikan HP kepada Bobby yang langsung menanyakan Siapa nama kontak Mario di dalam HP ku.


Aku langsung mencari kontak Mario, setelah ketemu aku langsung mendial nomor tersebut. Lalu segera menyerahkan HP yang tadi ku ambil di tangan Bobby kembali kepada Bobby.


Dan wajahku langsung berubah harap-harap cemas ketika melihat Bobby menggigit-gigit bibirnya karena panggilannya belum juga diangkat oleh Mario.


Dengan wajah kecewa akhirnya Bobby mengembalikan HP ke tanganku


"Nggak diangkat buk sama papa" ucapnya dengan nada sedih.


"Kan tadi ibu sudah bilang, Papa itu sibuk. Nanti jika Papa nggak sibuk lagi, pasti Papa nelpon balik, ya?" bujuk ku sambil kembali mengusap kepala Bobby.


Bobby dan Meka langsung membalik tubuh mereka dan beranjak pergi meninggalkanku.


Dan aku hanya bisa menarik nafas panjang kembali melihat wajah kedua anakku yang berubah murung.Karena kedua Anakku pergi bergabung dengan Ibrahim dan dua temannya, aku memilih naik ke atas karena memang hari sudah cukup malam dan aku ingin beristirahat.


Baru saja aku membaringkan tubuhku, Hp-ku tiba-tiba berdering yang membuat aku segera turun dari atas tempat tidur.

__ADS_1


Dan Entah kenapa tiba-tiba jantung ku berdebar keras ketika aku melihat di layar tampil nama Mario.


Sebelum mengangkat panggilan Mario, aku menarik nafas panjang terlebih dahulu. Lalu setelah agak tenang aku mulai menekan ikon warna hijau ke atas dan menerima panggilan Mario.


"Maaf Intan, aku tadi lagi di jalan. Dan ini baru saja masuk ke dalam rumah, pulang dari dinas. Ada apa? tumben kamu nelpon aku" .


Aku menelan ludahku mendengar pertanyaan kaku dari Mario. Dan mulutku menganga sebentar.


Tidakkah dia berinisiatif untuk meneleponku karena dia kangen sama aku? tapi malah dia bertanya tumben aku meneleponnya. Pertanyaan Mario ini membuatku benar-benar merasa tak enak hati.


"Maaf Mario jika kamu tidak suka karena aku tadi menelpon kamu. Sebenarnya yang menelpon kamu tadi itu bukan aku, tapi Bobby. Karena dia kangen sama kamu, ingin bicara sama kamu. Tapi ya maaf jika kedua anakku tadi melakukan kesalahan, Karena mengganggu aktivitas kamu. Sekali lagi, aku minta maaf sama kamu. Ya sudah, kamu silahkan istirahat. Selamat malam Mario" jawabku dengan segera memutus panggilan dari Mario.


Dan Mario yang tidak menyangka jika Intan akan memutus panggilan tampak melongok.


"Apa pertanyaan aku tadi menyinggung perasaan Intan ya? Kok tiba-tiba Intan memutuskan panggilan?" gumam Mario seperti pada dirinya sendiri.


Dan aku yang begitu selesai berbicara pada Mario, Langsung kembali meletakkan hp-ku ke atas meja dan tak lupa mematikan datanya.


Berkali-kali aku menarik nafas panjang mencoba menenangkan hatiku yang tiba-tiba merasa tidak enak.


Aku lalu melirik jam di tembok, kemudian aku turun ke bawah menghampiri mereka dan Bobby. Mengajak mereka untuk segera tidur walaupun aku tahu besok itu hari Minggu, tapi mereka harus tidur karena hari memang sudah malam.


Dan Mario yang mengetahui jika Intan kecewa padanya, segera mengetikkan pesan dan mengirimkannya pada Intan. Tapi hingga beberapa menit berikutnya, pesan yang Mario kirimkan kepada Intan masih centang satu, itu artinya pesan tersebut belum terkirim.


Mario tersenyum kecut, ketika dia menggumamkan kalimat tersebut.


...----------------...


Pagi buta aku sudah bangun, melaksanakan kewajibanku. Membersihkan ruko, menyiapkan sarapan untuk Ibrahim beserta dua karyawan ku yang lainnya baru setelah itu aku mandi.


Selesai berganti baju, aku memoles sedikit bedak tipis ke wajahku. Baru setelah itu aku meraih handphone yang semalam aku letakkan di atas meja rias ku .


Ketika datanya mulai aku aktifkan, tampil beberapa notifikasi pesan yang masuk. Salah satunya berasal dari Mario.


Aku tersenyum getir ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh Mario semalam.


"Kamu tidak perlu minta maaf Mario, karena sebenarnya yang salah di sini adalah aku, bukan kamu" gumamku sambil menutup aplikasi WhatsApp dan sama sekali tidak membalas pesan yang Mario kirimkan.


Segera aku membangunkan kedua anakku. Tapi sepertinya mereka masih juga belum ada gerakan untuk bangun.


Aku hanya membiarkan mereka untuk tidur kembali, karena memang hari masih pagi.

__ADS_1


Aku melongok kan kepalaku ke arah HP yang barusan aku letakkan, ketika benda tersebut berdering.


"Mario?" desis ku.


Aku yang telah membaca pesan permintaan maaf yang Mario kirimkan semalam, kembali memilih untuk tidak mengangkat panggilan dari Mario.


Dan Mario menarik nafas panjang ketika panggilannya kembali tidak diangkat oleh Intan.


Tapi Mario tidak putus asa. Kembali diulanginya menghubungi nomor Intan, sehingga akhirnya panggilan tersebut diangkat dan terdengarlah suara Intan di seberang.


"Iya Mario, Ada apa? Selamat pagi" sapa ku ketika akhirnya aku mengangkat panggilan dari Mario.


"Intan aku minta maaf jika perkataan aku semalam itu menyinggung perasaan kamu.


Aku tersenyum ketika kembali mendengar permintaan maaf dari Mario.


"Nggak apa-apa Mario. Aku ngerti kok, aku tahu kamu sibuk. Makanya semalam aku tidak melanjutkan obrolan".


"Tapi aku tidak yakin" jawab Mario.


Dan aku tidak menjawab ucapan Mario. Karena aku tahu Mario itu bisa mengetahui jika aku sedang berbohong.


Selagi Aku hendak menjawab ucapan dari Mario, ternyata Meka terjaga dan langsung meminta HP padaku.


"Papa sibuk Nak. Lebih baik Meka bangun dan mandi"


Dan Mario yang mendengar jelas ucapan Intan, langsung meminta Intan untuk memberikan HP kepada Meka.


Dan aku tidak ada pilihan lain selain memberikan HP tersebut kepada Meka yang langsung berwajah sumringah ketika dia mendengar suara Mario menyapanya.


"Papa, kami itu kangen sama Papa. Kenapa Papa tidak pernah datang kesini lagi?, terus mama bilang kemarin Papa sibuk. Apa iya sih Papa sibuk sampai sama sekali tidak pernah menghubungi kami?".


Entah apa jawaban yang disampaikan oleh Mario, yang jelas wajah Meka kulihat sangat ceria.


"Papa janji ya, bahwa Papa akan segera pulang dan menemui kami?"


Dan aku kembali tersenyum getir mendengar harapan Meka.


Sampai akhirnya aku meminta hp-ku kepada Meka, karena aku ingin berbicara kepada Mario. Dan aku meminta Meka untuk segera membasuh mukanya.


"Jangan didengerin perkataan anakku ya Mario. Namanya juga masih anak-anak, maklumlah. Jadi nggak usah dimasukkan ke dalam hati".

__ADS_1


"Kenapa aku tidak harus masukkan ke dalam Hati? justru aku senang karena Meka dan Bobby merindukanku. Itu artinya mereka masih sayang sama aku. Dan apakah kamu juga merindukanku Intan, seperti kedua anakmu? tanya Mario yang membuatku langsung terdiam.


__ADS_2