
Perlahan Mario mendorong pelan tubuh kedua adiknya, lalu melepas dekapan keduanya. Kemudian dengan cepat Mario berjalan kearah tangga, dan setengah berlari dia menaiki tangga. Dan ketika masuk kedalam kamarnya, Mario segera menutup pintu dengan rapat dan menguncinya
Kemudian dia langsung merebahkan tubuhnya keatas ranjang dan berusaha menahan air matanya yang sejak tadi telah siap keluar. Karena tak tahan menahan sesak di dadanya, akhirnya Mario hanya bisa menelungkupkan wajahnya dalam bantal dan menarik nafas dalam-dalam
Dan aku yang saat ini juga masih berbaring gelisah di tempat tidur, mengambil hp lalu menimbang-nimbang kira-kira aku harus menelepon Mario atau tidak. Tapi entah kenapa aku merasa tak tenang, sehingga walaupun ragu aku tetap menghubunginya
Dan Mario yang mendengar hp nya berdering, langsung merogoh hp nya yang masih berada di dalam saku celananya.
“Ya sayang?”
Aku menarik nafas panjang ketika mendengar nada suara Mario
“Kamu nangis?” tanyaku
Diam, tidak ada jawaban
“Aku kesana ya, kamu siap-siaplah. Kita pergi keluar”
Aku menelan ludahku ketika mendengar jawaban Mario. Kemudian belum sempat aku menjawab, obrolan sudah terputus. Aku segera menatap hp dengan bengong kemudian sambil menarik nafas panjang aku meletakkan hp kembali di lantai kemudian berusaha merebahkan tubuhku kembali
Dan Mario yang memutus obrolan dengan Intan, segera bangkit dari posisi berbaringnya, kemudian langsung masuk kedalam kamar mandi, menyiram tubuhnya sebentar kemudian berganti baju dengan cepat
Cukup menggunakan rool on dan parfum seadanya, Mario segera turun dari kamarnya.
“Kak….?” panggil Tasya ketika dilihatnya Mario di tangga
Mario sedikitpun tak menoleh, melainkan melanjutkan langkahnya
“Ma, Pa aku keluar. Mungkin aku nggak pulang malam ini” hanya itu ucapan Mario ketika dia menoleh kearah orang tuanya yang menatapnya serius
Kemudian Mario kembali melanjutkan langkahnya, dan tak menoleh lagi kearah seluruh keluarganya yang masih saja menatap kearahnya. Tak lama telah terdengar suara deru motor Mario di luar, kemudian setelahnya suara deru motor tersebut kian menjauh
“Biarkan, mama sangat mengenal Mario. Dia sangat menyayangi kalian berdua, tidak mungkin dia akan marah selamanya pada kalian”
Tasya dan Raisa mengangguk dengan wajah mendung. Sementara aku yang masih berbaring sedikit bingung ketika mengingat ucapan Mario tadi
“Keluar?” gumamku sambil menarik nafas panjang
Kemudian aku bangkit lalu turun dari ranjang, mengganti daster yang kukenakan dengan baju yang pantas aku pakai untuk diajak hang out dengan Mario. Setelah selesai berganti pakaian, aku masuk ke kamar kedua anakku, dimana aku lihat keduanya sudah tampak lelap. Dengan pelan aku turun dari lantai atas, kemudian berjalan kearah ruangan Ibrahim dan temannya yang masih tampak mengobrol seru
“Titip Meka sama Bobby ya. Kakak mau keluar sebentar sama Mario” ucapku ketika masuk keruangan kerja mereka
__ADS_1
Ketiganya yang sibuk menatap layar hp mereka kompak mengangkat kepala. Kemudian kulihat Ibrahim seperti menggerakkan jarinya di atas layar hp
“Sudah malam loh kak, mau kemana?” terdengar nada nggak suka dari Ibrahim
Aku sadar sih, ini memang sudah malam. Hampir pukul dua belas malam, tentulah Ibrahim protes. Tapi mau bagaimana lagi, aku tahu Mario lagi kalut, dan dia butuh aku, dan aku harus menemaninya
Baru saja aku mau menjawab, terdengar suara deru motor di luar rolling, dan aku tahu itu Mario. Sehingga aku tidak menjawab pertanyaan Ibrahim melainkan segera berjalan kearah pintu rolling, untuk membuka rolling agar Mario bisa masuk
Ketika rolling kubuka, tampak olehku Mario turun dari atas motor masih memakai helm di kepalanya
“Im, mas bawa kakak kamu sebentar, ya. Nggak lama kok, sebentar aja….”
Aku menoleh kearah Ibrahim yang tahu-tahu sudah berdiri di belakangku dan sedang menatap kearah Mario dengan wajah datar
“Sebentar aja….” Ucapku sambil menepuk bahunya
Ibrahim mendecak, kemudian dia ikut keluar dan berdiri di samping motor Mario ketika aku naik keatas motor tersebut
“Jangan ngebut, dan jangan lama” hanya itu yang diucapkan Ibrahim ketika motor sudah menyala
Aku tersenyum kemudian melambaikan tanganku kearah Ibrahim yang masih berdiri di tempatnya. Setelah motor melaju, aku segera memeluk pinggang Mario dan menempelkan daguku di pundaknya. Tangan kiri Mario digunakannya untuk mengusap kepalaku sebentar, kemudian tak lama tangan tersebut kembali di stang motor dan melajukan motor dengan negbut
Mario sepertinya tidak mendnegar teriakanku, terbukti dengan dia yang masih saja ngebut. Dengan memejamkan mata karena takut aku makin mengeratkan pelukanku ke pinggangnya. Aku membuka mataku ketika Mario memelankan laju motor, dan ternyata kami sudah berada di barisan orang-orang yang berjualan makanan
Akhirnya Mario benar-benar menghentikan motornya, dan mampir kesalah satu toko yang menjual minuman hangat dan gorengan. Aku hanya memperhatikan saja ketika Mario berbelanja dan memuji sifat merakyatnya
“Untuk Ibrahim dan kawan-kawannya. Sama teman di kantor yang sedang piket” ucapnya ketika memberikan kantong kresek padaku. Aku hanya mengangguk ketika menerimanya, kemudian aku kembali naik keatas motor
“Jangan ngebut, aku nggak suka. Takut” ucapku yang dijawab Mario dengan terkekeh
Kemudian kembali Mario melajukan motor dengan ngebut, dan aku kembali memejamkan mataku dengan ketakutan. Saat motor yang dikendarai Mario akan berbelok ke tempatnya berdinas, aku menarik nafas lega
“Loh pak, kok kesini lagi?” tanya anak buah Mario ketika kami turun dari motor
Mario tersenyum, kemudian mengambil kantong kresek yang aku ulurkan
“Nih untuk kalian, biar nggak ngantuk” ucap Mario memberikan kantong tersebut pada anak buahnya kemudian segera berpamitan. Kemudian kembali Mario melajukan motor dengan ngebut, dan berhenti di depan ruko.
Ibrahim yang mendengar suara deru motor Mario, segera bangkit dan membuka rolling. Aku tersenyum kearah Ibrahim dan memberikan kantong kresek padanya.
“Betulkan sebentar” ucap Mario sambil melepas helm nya kemudian berjalan masuk mendahului Ibrahim yang masih terlihat melihat isi kantong kresek yang tadi aku berikan padanya
__ADS_1
Kemudian aku juga masuk dan menyusul Mario yang ternyata masuk keruang kerja Ibrahim, bergabung dengan Dani dan Reno yang telah meletakkan hp mereka masing-masing
“Sayang, minta bantal satu. Aku tidur gabung mereka”
Aku melongo mendengar ucapan Mario, tapi aku menurut dan segera menganggukkan kepalaku. Kemudian aku berjalan menaiki tangga. Tapi baru beberapa anak tangga, Mario memanggilku
Dengan merangkul bahuku, aku dan Mario berjalan menaiki tangga, berjalan kearah kamarku. Begitu sampai kamar, aku langsung mengambil satu buah bantal dan memberikannya pada Mario
“Bisa tidak, jika malam ini kamu temani aku” ucap Mario
Aku bergeming sedetik, kemudian menganggukkan kepalaku. Dengan menarik nafas panjang, aku meraih tangan Mario, menggenggamnya dengan hangat sambil menatap penuh cinta padanya
“Di bawah saja ya, di ruang tamu” ucapku
Mario mengangguk, kemudian kami berjalan keluar dari kamarku, dan kembali bersama-sama menuruni anak tangga. Duduk di sofa yang ada di ruang tamu, berdua.
Berkali-kali kulihat Mario menarik nafas panjang, dan aku membiarkannya sampai dia sendiri siap untuk berbicara padaku
“Tadi Tasya dan Raisa nangis sambil peluk aku” buka Mario
Gantian aku yang menarik nafas panjang. Kemudian aku dengan setia mendengarkan cerita Mario. Tentang rasa kecewanya dan keputusannya yang tak ingin kedua adiknya hadir dipernikahan kami nanti
“Jangan seperti itu. Kalian saudara kandung. Aku tahu kamu kecewa sama mereka, tapi kan mereka sudah minta maaf. Sudah seharusnya sebagai kakak tertua, apalagi kakak satu-satunya bagi mereka, kamu harus memaafkan kekhilafan mereka”
“Semua orang pernah berbuat salah Yo, tapi apa salahnya jika kamu memaafkan mereka. Mereka melakukan itu karena mereka sangat menyayangi kamu. Harusnya kamu bangga memiliki kedua adik yang sangat menyayangi kamu”
“Tapi mereka sudah kelewatan Intan”
Aku menggeleng
“Yang disakitin mereka itu aku loh sayang, bukan kamu. Yaaa, walaupun akhirnya kamu sakit hati karena perlakukan mereka sama aku. Tapi aku nggak apa-apa. Karena akhirnya kesombongan mereka aku bayar dengan kesuksesan”
Penyebab
“Buktinya, mereka nggak lagi ngeremehin aku. begitu juga dengan kamu Mario. Janganlah hanya karena mereka melakukan satu kesalahan maka kamu membenci mereka. Ingat, kalian itu sedarah, satu papa mama, bukan orang lain. Orang lain saja jika salah sama kita, kita mau memaafkan. Masa ini adik sendiri kamu nggak mau?”
“Please Yo kamu jangan egois. Kan aku sudah bilang, kasihan mama sama papa. Aku yakin mereka kepikiran tentang ini. Ya kan?”
Mario diam, dan dia hanya bisa menarik nafas dalam. Kemudian akhirnya Mario menyampaikan apa alasan dia sangat kecewa dengan kedua adiknya
“Jadi karena aku memutuskan pertunangan kita dulu?” tanyaku kaget
__ADS_1