Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Tak Perduli Lagi


__ADS_3

"Ma nenek sama kakek mau pamitan"


Aku bergeming saat Meka mengetuk pintu. Karena tak mendapat sahutan dariku, Meka mengulangi mengetuk pintu sampai akhirnya aku bangkit dan berjalan turun bersama Meka


Wajahku masih datar saat mama mertuaku dan mbak Sari merangkul ku ketika mereka berpamitan


"Tolong berfikir sekali lagi ya Ntan, kasihan anak-anak" ucap mama mertuaku ketika beliau mendekapku


Aku tak merespon sedikitpun perkataannya, aku hanya diam dan wajahku masih datar


Bobbi dan Meka melambaikan tangan mereka ketika kakek mereka mengklakson dan aku segera memutar badanku begitu mobil itu berjalan keluar dari halaman


"Mama kenapa?"


Aku hanya tersenyum getir ketika Meka bertanya, dan aku segera merangkul mereka berdua, mengajaknya masuk dan duduk bersama menonton tivi


Malamnya kembali kami tidur bertiga di kamarku dan aku kembali tak bisa tidur


Bayangan mas Arif bergumul dalam keadaan polos dengan Mirna kembali memenuhi mata dan kepalaku


Aku berkali-kali menarik nafas panjang dan membolak balikkan badanku berharap agar aku segera terlelap


Karena masih juga tak bisa tidur dengan memberanikan diri aku mengambil hp dan membuka aplikasi sosial mediaku


Benar tebakanku, ketika aku membuka beranda profilku begitu banyak status hasil tag orang-orang untukku


Aku mendekap mulutku ketika membaca kolom komentar para netizen, sumpah serapah yang paling mendominasi yang rata-rata mereka berkata kalau ini suamiku sudah lama dia aku buang, kasihan istrinya, yang kuat ya untuk mbak nya


"Ya Tuhan....." desis ku


Lebih parahnya mereka men tag instansi pemerintahan, tak tanggung-tanggung bahkan mereka men tag instansi pemerintah pusat


"Tamat karirmu kali ini mas...." kembali aku bergumam


Lalu aku menscroll kebawah, dan kulihat siaran live salah seorang teman dunia maya ku. Dan lagi-lagi aku membekap mulutku ketika dengan jelas wajahku, wajah mas Arif dan wajah Mirna terlihat di siaran live nya


"Nih guys tercyduk pasangan mesum di desa kami, nggak tanggung-tanggung yang mergokinya istri sah nya langsung" begitu suara orang tersebut kudengar


Karena tak ingin melihat lebih banyak lagi hujatan dan caci maki untuk perbuatan terkutuk mas Arif aku memilih keluar dari aplikasi tersebut dan kembali tercenung


"Jika sudah begini bagaimana dengan nasib jualan online ku?" batinku


Aku menarik nafas panjang dan segera membalik hp ketika benda tersebut berdenting


bagaimana keadaan kamu Ntan


Aku tersenyum membaca pesan dari Mario


Ah, lelaki satu ini tahu saja jika aku sedang galau


Baru juga aku mau mengetik membalas pesan dari Mario, hp ku berdering, nomor baru

__ADS_1


Dengan agak ragu aku mengangkat panggilan tersebut


"Ya halo, ini siapa?"


"Ini Heri mbak, temannya pak Mario kemarin"


Aku kaget begitu mengetahui jika yang menelepon ku adalah Heri, anggota polisi tempat mas Arif di tahan sekarang


"Ya pak Heri, ada apa?"


"Apa kabar mbak?"


Aku tersenyum


"Alhamdulilah sehat pak, bagaimana pak?, ada yang bisa saya bantu?"


"Begini mbak, pak Arif nya sejak kemarin itu tidak sehat, dan dia mengatakan jika beliau ingin bertemu dengan mbak, mbak bisa tidak kesini besok?"


Aku mendecak kesal dan memutar mataku dengan malas


"Loh bukannya sepeninggal saya pulang orang tuanya datang?"


"Iya benar mbak, tapi pak Arif nya inginnya bertemu dengan mbak"


"Maaf ya pak, bilang sama mas Arif sampai kapan pun saya tidak akan pernah mau menemui dia, bilang sama dia, ketemu di pengadilan saja saat dia disidang atas kasus perzinahananya dan sidang perceraian kami, karena besok saya menggugat cerai dia, bilang aja kaya gitu pak"


Hening, dan ku dengar pak Heri menarik nafas panjang


"Jadi beneran nggak bisa datang mbak?"


"Iya pak, nggak bisa, dan nggak akan pernah bisa"


Selesai mendengar jawabanku pak Heri mengucapkan terima kasih karena aku telah mau menjawab telepon darinya, lalu beliau menitipkan salamnya untuk Mario padaku


Selesai menerima panggilan dari pak Heri aku makin kesal dan makin bad mood


Sehingga pesan Mario hanya aku jawab singkat dan langsung meletakkan hp di atas kasur


Seperti biasa jika mendapatkan jawaban singkat dariku Mario akan berhenti mengirimiku pesan karena sepertinya dia faham jika aku bad mood


...----------------...


Rabu pagi menjelang siang aku telah rapih karena aku akan ke kantor pengadilan agama untuk melaporkan gugatan perceraianku pada mas Arif


Aku telah membawa semua berkas, sehingga pihak pengadilan langsung segera memproses laporanku. Begitu laporan aku selesai dicatat aku menarik nafas lega dan keluar dari dalam gedung tersebut


Berjalan pelan kearah parkiran dan bersiap naik motor matic kesayanganku


Seminggu kemudian aku kembali mendapatkan telepon dari pak Heri yang mengatakan jika mas Arif akan dipindahkan ke lapas, menunggu masa sidangnya, dan kembali aku tidak perduli, terserah dia mau dibawa kemana aku sudah tidak perduli, sudah bukan urusan ku lagi


Dan setelah mendapatkan telepon dari pak Heri, aku kembali menerima panggilan telepon dari mama mertuaku

__ADS_1


Walau malas menerima panggilannya tapi karena aku masih mempunyai rasa sopan santun akhirnya panggilannya aku angkat juga


"Ntan dapat telepon dari kantor polisi tempat Arif ditahan tidak?"


Aku memutar sebentar kepala ku karena jujur saja aku sangat malas membahas masalah mas Arif lagi


"Ya kenapa ma?"


"Kamu serius Ntan melanjutkan tuntutan kamu?"


"Iya serius, malah gugatan juga sudah aku layangkan" jawabku santai tanpa beban


Ku dengar mama mertuaku beristighfar dan tak lama terdengar suara isak tangisnya


"Ma dengarin aku ya, aku sudah nggak kuat lagi menghadapi hobi mas Arif yang suka selingkuh, aku nyerah ma. Aku bukan nggak mikirin Meka sama Bobbi, justru karena aku memikirkan masa depan mereka lah makanya aku menggugat mas Arif, aku nggak mau kedua anakku hidup dengan cemoohan orang-orang yang mengatakan papa mereka raja mesum, walau memang seperti itulah kenyataannya"


"Dan yang paling penting itu ma, aku memikirkan kondisi psikis aku, cukup ma aku bertahan selama ini, sering dibentak, dianggap pembantu, dipermalukan di depan temannya mas Arif, mama enak, mama nggak ngerasainnya, aku yang ngerasainnya. Jadi aku mohon, stop ma memelas sama aku, karena sampai kapanpun aku akan terus melanjutkan kasus ini, dan aku tidak akan memaafkan pengkhianatan mas Arif"


"Tolong fahami perasaanku sebagai sesama perempuan ma, bukan sebagai menantu dan mertua"


"Tapi Ntan?"


"Tenang aja ma, aku akan bagi rata harta gono gini, tidak akan aku makan sendiri, bahkan jika mama sama papa bersikeras meminta semuanya karena mas Arif yang ada gajinya, aku akan berikan semuanya, toh walau tanpa mas Arif aku selama ini bisa membiayai hidup aku dan kedua anak kami"


Tak terdengar suara mama mertua ku menjawab, yang kudengar hanya suara isak tangisnya saja


"Maafin Intan ma, kali ini Intan tidak akan mematuhi kata-kata mama, kali ini Intan benar-benar menyerah"


Selesai berkata begitu aku langsung mematikan obrolan dan menyandarkan kepalaku dengan memijit-mijit keningku


Kembali aku melihat hp ku karena benda itu kembali berdering


"Mamanya Mario?" lirihku dengan cepat membetulkan posisi dudukku


"Ya buk?" ucapku dengan nada suara berusaha tenang


"Dimana Ntan, bisa kerumah ibu sebentar nggak?"


Kulihat jam di tembok, menunjukkan hampir keangka dua belas


"Iya, tunggu sebentar ya buk"


Selesai berkata begitu aku segera menyambar kunci motor lalu berjalan keluar rumah dan segera mengunci pintu


Dan kembali ketika di luar aku lihat ada rombongan emak-emak yang duduk di teras salah satu rumah tetangga dan ketika aku melirik, aku lihat mereka menatap ke arahku


Aku pura-pura tidak melihat mereka dan terus saja melajukan motor kerumah Mama nya Mario


"Intan Permata Sari!!!!"


Aku yang baru saja menurunkan standar motor langsung memejamkan mataku ketika aku sangat mengenal suara yang memanggilku

__ADS_1


"Ya Tuhan...." lirihku dengan langsung membuka mataku dan melihat kearah Mario yang berjalan ke arahku dengan senyum mengembang di wajahnya


__ADS_2