Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Honeymoon


__ADS_3

Mulut Mirna ternganga mendengar jawaban keras dan perbuatan kasar suaminya, segera dia mendekat dan meminta map yang ada di tangan Mario dan kemudian membaca tulisan yang ada di atas kertas tersebut


“Apa yang membuat mas berat menandatangani surat ini. Isi nya tidak ada yang aneh. Semuanya wajar” ucap Mirna dengan mengembalikan map kembali pada Mario, kemudian dia menoleh dengan wajah marah kearah mas Arif


“Mas jangan mencari banyak alasan ya. Kalau mas mau disini terserah. Tapi aku mau pulang. Sudah pak Mario, biarkan saja suami saya anda tahan. Tapi saya mohon, tolong lepaskan saya pak. Bapak mau buat perjanjian apapun tentang saya, asal saya bisa pulang saya akan setujui semuanya”


Mas Arif menoleh marah kearah istrinya yang sekarang kembali memohon pada Mario. Dengan menghembus nafas kasar dia mendengus dengan kesal


“Yakin mas? Kalau mas yakin, oke. Saya limpahkan kasus ini keatas. Dan kemungkinan besok mas akan langsung pindah tempat. Mas langsung saya kirim ke lapas”


Mirna menggeleng keras dan kembali menghampiri suaminya, berusaha membujuk suaminya agar mau menandatangani perjanjian yang ditawarkan oleh Mario


“Kamu pikir aku akan setuju dengan ide dia yang meminta ku untuk tidak menemui kedua anakku tanpa ijin darinya dan juga Intan?. Tidak Mirna, Meka dan Bobby itu anak aku, bukan anak Mario, jadi kenapa aku harus meminta ijin sama dia dulu jika mau menemui kedua anakku?. Dia punya hak apa atas kedua anakku?”


Rahang Mirna mengeras, dengan berani dia menarik bahu suaminya hingga menghadap kearahnya


“Ma situ memang berbahaya. Jadi wajar jika mbak Intan dan pak Mario melakukan ini. Mereka takut jika mas bisa menyakiti kedua anak mas, atau mas akan melakukan perbuatan nekad”


“Gila kamu. Kamu pikir aku akan mencelakai kedua anakku?!” bentak mas Arif yang membuat dia langsung saling adu argument dengan istrinya


Mario hanya menarik nafas panjang melihat bagaimana dua orang tersebut kembali rebut


“Oke lah. Karena tidak ada kesepakatan. Deal ya mas, kasusnya aku limpahkan” ucap Mario santai sambil memutar badannya dan berjalan meninggalkan sel tersebut


Mirna yang melihat Mario pergi, segera berteriak berusaha menghentikan langkah kaki Mario


“Pak, nanti pak. Pak Mario, kembali pak. Keluarkan saya saja pak. Karena saya setuju semua dengan perjanjian yang bapak buat” teriak Mirna


Tapi Mario tidak menoleh, dia terus saja berjalan yang membuat Mirna langsung terduduk lemas dengan menggenggam erat jeruji besi sambil berurai air mata


“Kenapa pula aku harus menyusul kamu mas. Andai saja aku hari itu tidak terhasut tentulah aku tidak akan menerima nasib sial seperti ini” ratap Mirna


Mas Arif mendecak dan makin memandang kesal kearah Mirna yang masih saja terisak walau sudah berapa kali dia membentaknya

__ADS_1


“Aku mau pulang. Pak Mario…… tolong keluarkan aku….!!! teriak Mirna


Rahang mas Arif mengeras karena sejak tadi Mirna terus berteriak yang membuat kepalanya pusing jadi makin pusing, hingga dia harus kembali membentak istrinya tersebut


“Heh, bisa diam tidak kalian berdua!!!” bentak seorang petugas karena sejak tadi suara Mirna yang terus berteriak ditambah lagi dengan mas Arif yang membentak istrinya membuat petugas tersebut kesal


Mirna langsung terdiam dan mundur hingga sampai di sudut sel. Kemudian dia terduduk dan kembali menangis terisak


“Tolong panggilkan Mario, pak. Aku menyetujui perjanjian darinya” ucap mas Arif pelan


Mirna yang tadi terisak segera mengangkat kepalanya dan menoleh kearah suaminya yang saat ini telah berdiri di depan jeruji besi. Petugas yang tadi membentaknya menganggukkan kepalanya, kemudian segera pergi dari hadapan Mas Arif


Mirna dengan cepat berdiri ketika petugas tersebut telah pergi, dan langsung berlari kecil kearah suaminya


“Mas serius kan mas? Nggak bohong lagi?”


Mas Arif sedikitpun tidak menoleh, melainkan hanya mendecak. Sementara di koridor terdengar langkah sepatu yang tak lama Mario muncul kembali dengan wajah tenang seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya


“Mana suratnya?” tanya mas Arif ketika Mario berdiri di depannya


Mas Arif mendecak kemudian dia mengatakan jika memang dia setuju dengan perjanjian yang dibuat oleh Mario. Dan dia siap menanggung semua konsekuensi apabila dia melanggarnya


“Secepat ini berubahnya mas. Tadi ngotot nggak mau?” ejek Mario


Mas Arif kembali mendecak, dan itu membuat Mario tersenyum sinis kearahnya. Setelah mas Arif kembali mengutarakan persetujuannya Mario segera menelepon anak buahnya yang segera datang dan membuka sel


Mirna begitu pintu sel terbuka langsung segera keluar dan menarik nafas dengan lega. Sementara mas Arif keluar dengan santai, dan menurut ketika digelandang oleh petugas menuju ruangan Mario. Sementara Mario sejak anak buahnya sampai ke depan sel tadi, telah lebih dulu meninggalkan sel tersebut


Pintu ruangan Mario diketuk, dan setelah ada jawaban dari dalam, petugas yang membawa mas Arif dan Mirna mendorong pintu masuk dan membawa keduanya masuk. Dengan canggung Mirna duduk di sofa empuk yang ada di ruangan kerja Mario. Dan mas Arif langsung mengedarkan pandangannya keruangan kerja Mario, dan detak jantungnya serasa berhenti ketika di tembok dilihatnya foto Intan dan Mario. Foto lama, foto mereka masih memakai seragam putih abu-abu


“Foto ketika saya dan Intan berpacaran dulu” ucap Mario yang membuat mas Arif mengalihkan perhatiannya dengan melengos


“Ini suratnya, dan saya harap mas tidak membuang waktu” ucap Mario yang menyodorkan map yang tadi dibawanya ke sel kearah mas Arif yang segera mengambil pena dan langsung membubuhkan tanda tangannya di atas surat perjanjian tersebut

__ADS_1


“Saya pak?”


Mario menggeleng kearah Mirna


“Mbak cukup jaga suami mbak saja. Jangan buat dia nakal dan berbuat seenaknya lagi”


Mirna mengangguk cepat mendengar ucapan Mario, tapi mas Arif langsung memasang wajah dingin


“Bawa mereka keluar. Dan pastikan jika keduanya sampai di rumah dengan selamat” ucap Mario kearah anak buahnya yang menganggukkan kepala dan membawa mas Arif dan Mirna keluar dari dalam ruangan Mario


Sepeninggal dua orang yang dalam beberapa hari menjadi masalah dalam kepalanya, Mario tersenyum senang. Kemudian dia langsung mengambil hp nya dan langsung membuka aplikasi booking hotel untuk satu minggu


Setelah selesai reservasi hotel, Mario langsung mengirimkan bukti reservasi yang tadi di tangkap layar olehnya kemudian mengirimkannya pada istrinya. Dan aku yang sedang fokus di depan laptop menoleh kearah hp ketika benda tersebut berdenting. Dan melongok kan kepalaku sebentar. Dan melihat melalui bilah status jika Mario mengirimkan pesan gambar


Karena aku penasaran, aku segera membuka pesan yang dikirimkannya dan mataku langsung terbelalak senang ketika melihat isi gambar tersebut. Secepat kilat aku langsung mendial nomor Mario dan langsung diangkatnya


“Seriusan besok?” tanyaku dengan suara antusias


Terdengar suara tawa dari Mario yang membuatku makin kegirangan ketika dia memintaku untuk segera prepare karena malam ini juga kami akan berangkat. Dan aku tanpa menunggu komando selanjutnya langsung berlari masuk ke kamarku dan langsung mengisi koperku dengan pakaian ku dan juga pakaian Mario


Selesai dengan pakaian ku aku berpindah ke kamar kedua anakku dan mengisi satu koper lagi dengan baju Meka dan Bobby. Jam empat sore saat kedua anakku baru tiba di rumah dari pulang sekolah, Mario juga tiba dan langsung kami sambut dengan pelukan hangat


“Jam enam ini kita berangkat. Biar sampai di hotelnya tengah malam. Jadi kita masih punya kesempatan untuk istirahat sebelum akhirnya besok kita berlibur” ucap Mario yang langsung membuat kedua anakku melesat berlari ke kamar mereka dan segera mandi. Begitu juga dengan aku dan Mario, tapi tentu saja ritual mandi kami menjadi lama karena kami melakukan senam dewasa terlebih dahulu di kamar kami kemudian dilanjutkan di kamar mandi


Dan benar saja, selesai maghrib kami semua telah berada di dalam mobil. Mario mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan kedua anakku sangat bahagia, keduanya sibuk mengajak bicara papa mereka. Dan Mario dengan senang hati meladeni ucapan kedua anak kami


“Nanti kita naik jet ski ya pa” ucap Bobby yang disetujui langsung oleh Mario


“Pa, papa bisa snorkeling nggak? Nanti ajarin aku ya pa?” Meka tak mau kalah


Dan lagi-lagi Mario mengangguk dan mengiyakan semua permintaan kedua anak kami. Aku yang duduk di samping Mario hanya tersenyum mendengar celotehan kedua anak kami sampai akhirnya tak lama kemudian suasana mulai terasa hening. Dan ketika aku menoleh ke belakang, tampak kedua anak kami telah tidur


Aku dan Mario yang saling toleh hanya tersenyum menyadari jika akhirnya kedua anak kami terlelap. Mario dengan tangan kirinya, meraih satu tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Sesekali diciuminya jariku dengan sayang

__ADS_1


“Semoga setelah kita pulang dari bulan madu kamu hamil sayang, ya?” ucap Mario yang ku amin kan sambil gantian mencium jarinya dengan penuh rasa cinta


__ADS_2