
Aku segera menghapus cepat air mataku ketika terdengar suara teriakan dari Meka dan Bobbi
Kedua anakku langsung berlari ke arahku dan aku kembali memastikan jika tidak ada lagi sisa air mata di wajahku
"Sudah nak?" tanyaku sambil tersenyum kearah mereka
Meka dan Bobbi mengangguk lalu dengan cepat keduanya menggandeng kedua tanganku, lalu kami pergi menuju parkiran
Hampir satu jam berikutnya barulah kami sampai di rumah karena tadi kami mampir di tempat makan
Begitu sampai rumah aku meminta pada Meka dan Bobbi untuk beristirahat, begitu juga dengan aku, aku segera masuk ke kamarku, naik ke ranjang dan segera menenggelamkan wajahku kedalam bantal dan berteriak sekuat yang ku bisa
Aku terus menangis sepuas-puasnya, hinaan dan makian Tasya tadi begitu membekas di hati aku, hingga rasanya aku benar-benar terluka
Mungkin karena kelamaan menangis akhirnya aku tertidur dan baru terbangun ketika hari telah sore
Selesai mandi aku membawa kedua anakku ke rumah orang tuaku, pada awalnya aku hanya mengobrol ringan sambil menunggu maghrib, dan kedua anakku bercerita bagaimana antusiasnya mereka ketika bertemu dengan papa mereka tadi
Awalnya ibuku tampak menoleh heran ke arahku, tapi aku jelaskan pada beliau, walau bagaimanapun juga mas Arif adalah ayah dari Meka dan Bobbi, terlepas dari sifat buruknya yang telah tega mengkhianati ku dan sekarang ingin menjual rumah kami
Hingga akhirnya aku bicara serius pada kedua orang tuaku ketika adikku membawa Meka dan Bobbi jalan-jalan
"Aku ingin membatalkan pernikahanku yah"
Tampak ayah dan ibuku kaget dan memandang heran padaku
Aku hanya menarik nafas dalam melihat tatapan mereka padaku
"Ada masalah apa?" tanya ibuku
Kembali aku menarik nafas dalam mendengar pertanyaan ibuku
"Tidak mungkin jika tidak ada masalah serius" sambung ibuku
"Kedua adik Mario tidak menyukaiku buk..." jawabku akhirnya dengan sendu
Akhirnya aku menceritakan semua pada kedua orang tuaku bagaimana perlakuan Tasya dan Raisa padaku, dari awal ketemu di rumah orang tua Mario sampai tadi Tasya menelepon ketika aku di lapas
Kulihat reaksi datar dari ibu dan ayahku
"Itulah kenapa ayah dan ibu bilang agar kamu pikir-pikir dulu kemarin Ntan..." jawab ayahku
Aku hanya bisa menundukkan kepalaku saat ayah dan ibuku menasehati ku
"Yakin kamu mau membatalkan pernikahan kalian?" ayahku bertanya kembali setelah beliau panjang lebar menasehati ku
Aku mengangguk pelan
"Aku nggak bisa yah menikah dengan lelaki yang anggota keluarga nya tidak menyukaiku, apalagi mereka menghina dan menuduhku yang tidak-tidak" jawabku
__ADS_1
"Aku tidak mau makan hati dengan hidup bersama ipar model begitu, lebih baik sebelum terlambat makanya aku memilih mundur dari kehidupan Mario. Yang dikatakan kedua adiknya itu benar, aku sama Mario tidak selevel, jadi wajar jika kedua adiknya tidak menyukaiku"
Terdengar tarikan nafas berat dari ibuku mendengar jawabanku
"Sudah bicara sama Mario?"
Aku menggeleng
"Aku bicara dulu sama ibuk dan ayah, baru setelah mendapat ijin dari ayah sama ibuk aku akan bicara sama Mario"
Ayah dan ibuku saling toleh, kemudian keduanya sama-sama menarik nafas panjang
"Ayah tidak bisa memaksa Ntan, karena semua itu yang bakal jalani adalah kamu, kami sebagai orang tua cuma bisa memberi nasihat dan dukungan, tapi ada baiknya kamu berfikir dengan kepala dingin, jangan sampai keputusan kamu ini akan kamu sesali dikemudian hari"
Giliran aku yang menarik nafas panjang mendengar ucapan ayahku
"Pikirkan baik-baik ya nak, jangan gegabah" giliran ibuku yang menambahi
Kembali aku menganggukkan kepalaku, dan ketika kedua anakku pulang dari jalan-jalannya aku pulang
...----------------...
Aku berjalan kearah hp yang aku letakkan di atas meja hias, karena benda tersebut berdering
Kulihat di layar tampil nama Mario. Dengan sedikit menarik nafas dalam aku menerima panggilannya
"Bukain pintunya Ntan, aku di depan sekarang"
Aku berjalan kearah saklar lampu dan menghidupkan lampu yang tadi ku matikan, aku melirik jam yang tergantung di tembok, jam setengah sembilan kurang lima menit
Segera aku berjalan kearah pintu dan membuka kunci pintu. Ketika pintu terbuka, muncul wajah Mario dengan senyum mengembang
"Ya Tuhan senyumnya...." batinku menatap senyum di wajah bersih Mario
Mario masuk walau tidak aku persilahkan. Dan segera di berjalan kearah ruang tamu
"Kok sepi sayang, anak-anak mana?" tanyanya sambil duduk
"Ikut adikku ke mall, jalan-jalan katanya"
Mario ber O panjang sambil tampak manggut-manggut, sedangkan aku berjalan kearah belakang dan muncul kembali dengan membawa air dingin dan toples kacang bawang
Aku duduk berhadap-hadapan dengan Mario, hal yang tidak pernah aku lakukan sejak kami tunangan
Dan kulihat tatapan heran dari mata Mario ketika melihat aku duduk di depannya
"Sudah tidur tadi?" tanya Mario yang sepertinya ingin mencairkan suasana kaku karena sejak tadi aku hanya diam
"Kamu marah?" tanyanya sambil berpindah duduk di dekatku
__ADS_1
Aku menggeser dudukku agar Mario bisa duduk, tapi sedikitpun aku tidak menoleh kearah Mario yang menatap dalam padaku
"Bilang sama aku, apa yang terjadi" sepertinya kesabaran Mario habis karena sejak tadi aku hanya diam tak meresponnya, hingga sekarang dia menarik bahuku dan membuatku menghadap kearahnya
Aku hanya bisa menarik nafas dalam sambil melihat kearahnya
"Aku ingin kita putus Yo" ucapku pelan sambil tak berkedip menatap matanya
Mario tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya begitu mendengar ucapanku
"Maafkan aku karena sekali lagi aku mengecewakanmu...." kembali aku berucap dengan sekuat tenaga menahan agar tangisku tidak pecah
Mario melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang kedua bahuku, mengusap kasar wajahnya, menghembus nafas panjang dan menunduk dalam
"Mungkin kita terlalu terburu menjalin kembali hubungan kita, kita tidak tahu jika lingkungan kita telah berubah, tidak seperti ketika kita menjalin kisah kasih kita dulu"
Mario masih menunduk, dan sekarang menyatukan kedua tangannya di atas hidungnya
Karena tidak mendapat jawaban darinya, aku akhirnya memilih menyandarkan tubuhku di sofa dan melihat kearahnya yang tampaknya masih shock
"Kamu sadar nggak sih Ntan dengan apa yang barusan kamu ucapkan, hmmm?" tanyanya menoleh ke arahku
Aku menarik nafas dalam dan menganggukkan kepalaku
"Nggak, aku nggak mau putus dari kamu!"
Aku tersenyum getir mendengar ucapan Mario dan membalas pegangan tangannya pada tanganku
"Mario, dengerin aku!" ucapku menarik tangannya yang kembali mengusap kasar wajahnya
"Hubungan kita ini tidak bisa kita lanjutkan, terlalu banyak resikonya jika kita bersama"
Mario menggeleng dan kembali membuang wajahnya dari pandanganku
"Kamu bisa cari perempuan yang jauh lebih segalanya dibanding aku, aku yakin kamu bisa mendapatkannya, bahkan detik ini juga aku yakin kamu bisa mendapatkannya"
"Intan, jika aku ingin mencari perempuan yang jauh di atas kamu itu sudah sejak lama aku dapatkan, tapi tidak ada perempuan yang seperti kamu.....!!!"
Aku menggeleng
"Tidak ada yang istimewa dalam diri aku sehingga kamu segila ini Mario!!!. Di luaran sana banyak gadis yang kecantikannya jauh dibanding aku, yang kekayaannya jauh di atas orang tua aku, yang popularitasnya jauh melebihi aku, jadi untuk apa kamu mengejar aku, aku janda beranak dua, yang hidupnya sebentar lagi akan semakin sulit karena rumahnya akan terjual"
"Aku tidak ingin kamu sengsara karena menikahi aku, jadi aku mohon sama kamu, carilah perempuan lain, yang jauh lebih segala-galanya dibanding aku"
Kembali Mario membuang wajahnya dan menghembus nafas panjang
"Katakan sejujurnya sama aku, apa alasan terbesar kamu ingin membatalkan pernikahan kita?"
Aku terdiam dan langsung gugup seketika
__ADS_1
"Karena kedua adik aku, kan???"
Aku terdiam mendengar pertanyaannya, terlebih sekarang Mario menatap tajam ke arahku