Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Sidang


__ADS_3

Begitu sampai di dekatku Mario langsung mengusap kepalaku


"Ya Tuhan...." kembali batinku berkecamuk karena kebiasaan kecilnya ini


Jujur saja, aku paling senang saat Mario mengelus kepalaku, rasanya dia sangat sayang padaku dan menganggap aku seperti anak kecil, begitu memanjakanku


"Hai Ntan....."


Aku segera memasang senyum pada mamanya Mario dan segera menepis tangan Mario yang masih mengacak rambutku


Mario mengangkat bahunya ketika aku meninggalkannya dan berlari kecil menyusulku yang saat ini sedang mencium punggung tangan mamanya


"Kok ibu nggak bilang kalo ada Mario?" tanyaku sambil menggeser bahu Mario dengan tanganku karena sejak tadi di mepet terus padaku


"Ada mama kamu" geram ku


Mario cengengesan yang membuat aku makin geram


"Ada apa ya buk?" tanyaku langsung duduk demi menghindari Mario yang terus saja mepet padaku


"Sepupunya Mario ada yang jadi pengacara" ucap mamanya Mario yang langsung membuatku mengerti kearah mana omongan ini


"Nggak usah lah buk, aku menyerahkan semuanya pada pihak pengadilan aja mau menghukum mas Arif berapa lama"


"Terus perceraiannya?"


Aku langsung memasang wajah cemberut kearah Mario lalu mendelikkan mataku yang dibalas Mario dengan terkekeh


"Aku sudah janjian sama sepupuku, yuk kita pergi sekarang"


Aku menggeleng saat Mario menarik tanganku


"Anak kamu pulang jam dua kan?, sebelum jam dua kita akan pulang"


Karena Mario telah menyeretku mau tak mau aku menurut terlebih ketika Mario memberikan helm ku yang kuletakkan di atas motor padaku


"Pakai motor aku saja yang cepat" ucap Mario yang telah duduk di atas motor besarnya


"Ayo naik!" ucapnya ketika aku hanya bengong melihatnya yang telah duduk


"Buruan....nanti kita terlambat, dan kamu telat pulang, mau?"


Aku segera naik dan menutup kaca helm ke wajahku.


"Pegangan!" ucap Mario lagi ketika motor sudah berjalan


Aku bergeming, aku masih duduk santai, sampai akhirnya aku segera memeluk pinggangnya dengan erat ketika Mario secara sengaja menjalankan motor besarnya dengan ngebut


Mario tersenyum senang ketika kedua tanganku melingkar di perutnya terlebih ketika aku meletakkan daguku di pundaknya


"Aku mencintaimu Intan...." ucap Mario menoleh dan mencium pipiku

__ADS_1


Refleks aku memukul bahunya lalu kembali mengeratkan pelukanku ketika Mario kembali dengan sengaja melajukan motor dengan ngebut lagi


Aku langsung turun ketika motor Mario berhenti, dan Mario yang juga turun segera membuka helm ku, lalu merapikan rambutku


Aku hanya menatap kearahnya tanpa berkedip


"Kenapa?"


"Aku nggak suka" jawabku dengan memasang wajah cemberut


"Kenapa?"


"Aku baper Mario....." jawabku sambil berjalan mendahuluinya dengan wajah yang masih kesal


Mario tersenyum penuh arti mendengar jawabanku lalu dia berlari kecil mengejarku yang telah mendorong pintu


"Akhirnya datang juga" ucap seorang pria yang usianya aku yakin di atas kami, sekitar empat puluhan keatas


Mario dan lelaki itu saling rangkul dan aku memasang senyum kaku pada pria yang sekarang mengulurkan tangannya ke arahku


"Beni....." ucap pria itu menyebutkan namanya yang kusambut dengan menyebutkan namaku juga


Setelah Mario dan pak Beni berbasa basi lalu Mario langsung menyampaikan maksud dan tujuannya mendatangi kantor pria itu


"Tenang saja, saya dengan senang hati akan menjari lawyer anda mbak Intan, saya pastikan suami anda akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas pengkhiatannya pada anda"


Kembali aku tersenyum kaku mendengar ucapan tegas pria yang duduk di depan kami ini


Pak Beni menganggukkan kepalanya


"Perzinahan dalam KUHP diatur dalam pasal Pasal 411, yang berbunyi setiap orang yang melakukan persetubuhan dengan orang yang bukan suami atau istrinya, dipidana karena perzinaan, dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau pidana denda paling banyak kategori II"


Aku menganggukkan kepalaku mencoba memahami perkataan beliau


"Selain anda, apa ada saksi lain yang melihat langsung perbuatan perzinahan tersebut?"


Aku mengangguk cepat


"Ada pak, ada empat lelaki yang bersama saya waktu saya menggerebek mas Arif"


"Nah, kalau begitu bukti kita kuat"


"Bahkan kalau saya tidak salah, salah satu dari lelaki itu sempat memvideokan saat kami menggerebek"


Setelah berkata seperti itu aku menarik nafas panjang karena tiba-tiba dadaku rasanya berdenyut sakit ketika aku kembali teringat bagaimana aku melihat dengan mata kepalaku sendiri mas Arif dan Mirna saling berteriak kenikmatan


Kurasakan usapan di kepalaku, lalu aku menoleh kearah Mario yang saat ini sedang memandang serius ke wajahku


"Berhenti memikirkan mas Arif"


Aku kembali menarik nafas panjang dan mencoba tersenyum kearahnya

__ADS_1


...----------------...


Aku yang telah diberitahu dengan surat panggilan jika hari ini adalah sidang kasus perzinahan mas Arif sejak pagi sudah siap


Aku berangkat dengan ayah dan kakak pertamaku. Sebelum kami ke pengadilan, kami kekantor pak Beni terlebih dahulu, barulah setelahnya kami berangkat bersama menuju pengadilan


Sampai di pengadilan, kulihat mertua dan iparanku ada di sana. Melihatku masuk dengan lawyer dan keluargaku, mertuaku langsung berjalan ke arahku dan langsung mendekapku


"Tolong pikirkan lagi nak..."


Aku hanya tersenyum segaris menjawab ucapan mama mertuaku sedangkan ayah dan kakakku melengos melihat mertuaku, tampak sekali kebencian di mata mereka


Kemudian aku segera diajak lawyer masuk dan kami langsung duduk di tempat kami, sedangkan ayah dan kakakku duduk ditempat pengunjung sidang


Tak lama mas Arif masuk dengan dikawal dua orang polisi, kepalanya tertunduk dan saat ini dia mengenakan peci


Aku tersenyum sinis melihatnya mengenakan peci hal yang jarang sekali dilakukannya, untung-untung setahun dua kali dia mengenakan peci, itupun saat shalat Ied


Ketika mas Arif didudukkan di tengah-tengah ruangan, dia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku


Matanya merah dan berembun lalu mengalir air matanya sambil menatap sendu ke arahku


Aku dengan cepat membuang wajahku dan tak memperdulikan air matanya


Kemudian ketika hakim dan hakim anggota masuk, sidang segera dimulai. Pak Beni langsung membacakan tuntutanku di sertai dengan bukti-bukti yang ditunjukkan oleh ku beberapa hari yang lalu untuk menguatkan perzinahan yang dilakukan mas Arif


Selain dari bukti dariku, pak Beni juga menghadirkan saksi dua orang lelaki yang ikut menggerebek mas Arif di malam itu


"Sebenarnya kami punya dua orang saksi lagi yang mulia, tapi yang dua nya berhalangan hadir, dan kemungkinan sidang yang akan datang mereka berdua bisa datang memberikan kesaksian mereka" setelah berkata begitu pak Beni duduk kembali


Lalu ketika giliran lawyer nya mas Arif yang memberikan kesaksian mereka, beliau membantah tuduhanku dan menyalahkan aku mengapa aku tidak ikut pindah, mengikuti mas Arif yang pindah tugas, dengan begitu bisa dipastikan jika mas Arif tidak akan berselingkuh dan melakukan perzinahan


Aku hanya tersenyum sinis mendengar ucapan lawyer nya mas Arif, tapi sedikitpun aku tidak gentar, karena aku punya bukti yang sangat kuat


Sidang akhirnya di tunda karena belum menemukan titik terang dan baru mendengarkan kesaksian dari masing-masing kami, dan mas Arif kembali digiring oleh dua orang polisi yang tadi membawanya, sebelum berjalan mas Arif seperti berkata pada dua polisi yang memegang tangannya


Lalu kedua polisi tersebut membawa maas Arif kehadapanku, dan aku bergeming ketika mas Arif berdiri di depanku


"Ma....?"


Sedikitpun aku tidak menjawab, aku hanya menatap dingin padanya


"Tolong maafkan aku ma, aku menyesal ma. Aku janji aku tidak akan mengulangi perbuatan aku lagi"


Aku masih bergeming dan tak bereaksi sampai akhirnya mas Arif meneteskan air matanya


"Stop menangis di depanku mas, air mata kamu tak lebih dari air mata bawang. Aku tidak akan termakan lagi dengan air mata buaya kamu mas, aku sudah memutuskan akan terus melanjutkan kasus ini. Dan lusa kita ketemu lagi di sidang perceraian kita, sudah terima surat dari pengadilan agama kan?, jadi persiapkan diri kamu untuk menghadapi sidang perceraian kita"


"Tapi ma?"


"Nggak ada tapi-tapian, kamu nggak ada kesempatan lagi mas, kesempatan kamu telah habis, kesempatan yang selama ini aku berikan sama kamu, kamu sia-siakan, jadi sekarang nikmatilah hasil dari karyamu"

__ADS_1


Sambil berkata seperti itu aku dan pak Beni berdiri lalu meninggalkan mas Arif yang menatap kepergianku dengan wajah sedih


__ADS_2