Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Berita Penggerebekan


__ADS_3

Setelah melihat nomor hp yang diberikan Mario, aku meletakkan hp di dalam lemari, merebahkan tubuhku mencoba untuk tidur


Karena alarm sudah aku setting, jadi pagi ini aku tidak kesiangan lagi seperti kemarin


Setelah selesai melaksanakan kewajibanku aku segera masuk dapur, masak untuk sarapan dan makan siang kami


Ketika jam enam kurang aku telah membangunkan kedua anakku dan telah pula menyiapkan sarapan untuk mereka


Tak lupa bekal mereka juga telah aku masukkan kedalam tas mereka masing-masing


Ketika dua angkutan jemputan mereka tiba di depan rumah, kedua anakku langsung masuk kedalam masing-masing mobil dengan melambaikan tangan ke arahku


Dan kembali aku memulai rutinitas ku seperti kemarin, berulang-ulang terus setiap hari


Tapi siang ini agak berbeda sedikit, karena banyak paket yang sampai, jadi aku mulai memilah paket-paket tersebut karena akan aku antarkan kepada pemesan


Tepat tengah hari, aku keluar dari dalam rumah dengan membawa kantong kresek cukup besar yang aku letakkan di dekat kakiku, hari ini ada sepuluh pesanan yang harus aku antar, dan aku harus mengantarnya dengan cepat karena satu jam lagi Bobi pulang sekolah


Di jalan pulang aku tersenyum senang karena semua pesanan telah semua aku antar


Aku mendadak menghentikan motorku ketika di depan rumah orang tua Mario, mamanya Mario melambaikan tangan memintaku berhenti


Aku segera turun dari atas motor, mengulurkan tangan pada perempuan paruh baya tersebut dan mencium punggung tangannya


"Ada yang bisa aku bantu buk?"


"Ini Ntan, katanya kamu jualan online ya?"


Aku mengangguk


"Iya buk, ada yang bisa aku bantu?"


"Aduh nggak enak ngomong di jalan, yuk masuk dulu"


Aku jadi sedikit bimbang, karena jam kepulangan Bobi sudah dekat


"Aduh maaf buk, kalau sekarang nggak bisa, soalnya anak kedua aku sebentar lagi pulang sekolah"


Tampak sekali raut kecewa dari wajah mamanya Mario


"Gini aja, ibu mau apa?, nanti aku bantu"


"Ibu itu kepengen ngirim makanan buat Mario, kira-kira kamu bisa bantu ngirim nya nggak?"


Mataku langsung membulat dan aku menelan ludahku


"Mario kan dinasnya jauh buk"


"Iya juga sih"


"Begini aja, nanti aku bantu packing terus aku bantu ngirimnya lewat jasa pengiriman"


"Bisa gitu?"


Aku mengangguk


"Ibu simpen nomor hp aku" ucapku sambil menuliskan nomor hp ku di atas kertas, lalu kertas tersebut aku sobek dan kuberikan pada mamanya Mario


"Makasih ya Ntan"


Aku kembali menganggukkan kepalaku lalu berpamitan pada mamanya Mario


Baru saja aku sampai rumah, hp ku berdering dan aku berfikir kira-kira siapa yang meneleponku melalui messenger


Aku harus menelan ludahku dengan susah payah karena kembali ini adalah panggilan dari Mario


Dengan menarik nafas panjang akhirnya aku menerima panggilannya

__ADS_1


"Ya Mario?" sapaku


"Akhirnya kamu angkat juga" terdengar suara lega dari seberang


"Terima kasih ya karena kamu tadi mau berhenti saat mama menyetop kamu"


Aku terkekeh


"Oalah, jadi ibu tadi bilang?"


"Iya, kamu tahu lah mama dari dulu tidak berubah, jika dia kangen sama aku pasti ngirimin makanan kesukaan aku"


Aku tersenyum


"Pa kabar Ntan?"


"Baik, kamu sendiri gimana?"


"Nggak enak ngobrol lewat messenger, bisa kirim nomor What app kamu nggak?"


"Iya sebentar" jawabku


Tanpa menaruh curiga aku segera mengetik nomor hp ku lalu mengirimnya pada Mario


Dan tak sampai dua menit telah ada nomor baru yang masuk, panggilan video


Aku langsung berjalan kebingungan ketika menyadari kekeliruanku mengapa aku dengan mudahnya memberikan nomor hp ku pada Mario


Tapi tak urung panggilan video itu aku terima. Dan jantungku rasanya mau copot ketika tampil wajah Mario


"Hai....." sapanya sumringah


Aku berusaha untuk tersenyum dan bersikap biasa saja


"Kamu kenapa Ntan, kok kayanya gugup gitu?"


"Mama sudah hubungin kamu?, tadi kata mama kamu ngasih nomor hp kamu ke mama"


"Belum, mungkin nanti"


Lalu aku kembali harus berusaha meredam degup jantungku yang berdetak tak karuan


"Sudah punya anak berapa kamu Ntan?"


"Dua, kamu?"


"Sama"


Aku tersenyum kaku mendengarnya


"Sudah sekolah semua?"


"Yang pertama, kelas satu SD. Kamu?"


"Kelas tiga dan kelas dua" jawabku lagi


Lalu kami sama-sama diam, dan aku makin bingung mau bicara apa, terlebih karena Mario terus menatapku


"Mario, nanti lagi ya?, mobil yang antar jemput anakku sampai" ucapku karena ada suara klakson di depan


"Aku boleh kan Ntan menghubungi kamu tiap hari?"


Aku menggeleng


"Status kita sudah beda Yo" ucapku sambil melambaikan tangan dan dengan cepat mengakhiri panggilan karena Bobi berteriak di depan pintu


Dan ternyata Mario tidak berubah, masih ngeyel seperti dulu, tiap hari dia menghubungiku dan mengirimiku pesan. Terlebih ketika aku ke rumah mamanya, di sana dia melakukan panggilan video pada sang mama dan seperti sengaja memancing-mancing ku agar aku ikut masuk dalam obrolan mereka

__ADS_1


Ketika selesai mem packing paket lauk yang akan dikirimkan mamanya Mario aku segera meminta alamat Mario agar bisa aku tulis di kertas yang akan aku tempel


Aku menghentikan gerakan tanganku ketika aku mendengar alamat yang disebutkan mamanya Mario


"Loh buk, sejak kapan Mario pindah tugas?"


Mama Mario tersenyum


"Sejak lima tahun yang lalu"


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, karena alamat yang aku tulis jaraknya hanya dua jam dari sini


"Kalau begitu paketnya kita titip travel saja buk, nggak usah lewat jasa pengiriman, kalo lewat travel malah sore ini bisa langsung nyampe ke Mario"


"Ibu sih nurut mana baiknya saja Ntan"


Aku mengangguk lalu menelepon travel yang biasa mengantar pesananku ke daerah yang tak jauh dari tempat Mario dinas


"Travelnya nanti akan kesini bu, sudah aku telepon" ucapku ketika berpamitan


Mamanya Mario mengelus pundakku


"Terima kasih ya Ntan untuk bantuannya, untung ada kamu"


Aku tersenyum dan segera mengambil hp dalam tas ketika benda tersebut berdering


"Ya pa?" jawabku karena itu suamiku yang menelepon


"Ma, papa masih sekitar tiga hari disini, masih ada uang kan?"


Aku memejamkan sebentar mataku


"Mau berapa?"


"Dua juta aja ma"


"Iya, tunggu aja" jawabku pelan


Aku kembali tersenyum kearah mamanya Mario lalu panggilan telepon berakhir dan aku langsung berpamitan pulang


Sampai di rumah aku kembali menimbang-nimbang antara mengirimi suamiku uang atau tidak, karena dia baru pergi tiga hari, masa uang tiga juta kemarin sudah habis?"


Kembali lamunanku buyar ketika kembali hp ku berdering


"Ma kok belum transfer?"


Aku menarik nafas panjang


"Maaf pa, saldo mama abis buat belanja, maaf ya...." alasanku


Karena jujur saja aku benar-benar curiga kali ini. Dan benar, aku langsung mendapatkan makian dari suamiku


Dan aku hanya memejamkan mataku saja mendengarnya yang memaki-makiku


"Masa uang kemarin sudah habis pa?"


"Keperluan kan banyak, ya jelas habis lah, kamu saja yang nggak tahu"


Aku melengos sambil mendecak mendengarnya yang terus menggerutu. Karena aku tak ingin mendengar gerutu nya, dengan segera aku memutuskan panggilan


Dan hari ini adalah hari terakhir suamiku dinas luar, menurut prediksi dia akan pulang besok


Tapi alangkah shock nya aku ketika melihat berita di tivi, berita tentang penggerebekan tiga orang oknum pegawai negeri yang terciduk sedang melakukan perbuatan mesum di hotel dengan wanita yang bukan pasangan mereka


Degup jantungku kian berdebar kencang ketika kulihat jelas mobil yang biasa terparkir di garasi rumah kami ada dalam tayangan berita tersebut


Dengan cepat aku mencari portal berita online, dan hatiku kian yakin jika salah satu oknum yang digerebek itu adalah suamiku, terlebih dengan disebutkannya instansi tempat ketiga pria tersebut berdinas

__ADS_1


"Mas Arif....?" gumamku dengan air mata yang langsung mengalir


__ADS_2