
Aku kembali menarik nafas panjang ketika melihat keramaian orang di dalam balai desa
Semua mata langsung tertuju ke arahku begitu aku masuk bersama bu kades, ku dengar suara kasak kusuk yang tak jelas
Bu kades membawaku duduk bersebelahan dengan dirinya. Duduk berseberangan dengan mas Arif dan Mirna
Aku memandang tajam kearah mas Arif yang menatap ke arahku, kebencian dan rasa muak ku kian bertambah padanya
Pak kades langsung memulai pertemuan malam ini, setelah sebelumnya mengucap salam
Sepanjang arahan dan nasehat yang disampaikan pak kades, tak sekalipun aku mengalihkan mataku dari dua orang yang sangat menjijikkan di mataku
Hp ku berdering yang memaksaku mengambilnya dan menganggukkan kepalaku tanda meminta izin pada pak kades
"Ntan kamu dimana?"
Terdengar jelas suara panik dari seberang
"Di balai desa tempat mas Arif dinas" jawabku sambil menoleh kearah mas Arif yang kembali menatap ke arahku
"Apa yang terjadi di sana?"
"Lah mbak nelpon aku karena apa?" tantang ku
"Ada postingan tentang...." suara mbak Sari menggantung
"Iya, mas Arif kembali digerebek melakukan perbuatan mesum" jawabku datar sambil kembali menatap dingin kearah mas Arif
Kemudian aku langsung memutus panggilan agar mbak Sari tidak menganggu sidang warga malam ini
Aku kembali duduk di tempatku semula dan kembali menatap dingin pada mas Arif
"Kami minta para saksi untuk memberikan kesaksiannya di sini, agar kita semua tahu bagaimana kronologi sebenarnya" ucap pak kades lagi
Mulailah pria pertama yang aku temui yang juga sama-sama tinggal di rumah dinas bersuara
"Istri pak Arif menemui saya pak kades" ucap beliau lalu pria itu mulai menceritakan apa yang aku katakan padanya sampai dengan dia menelepon tiga orang lainnya
Lalu ketiga pria yang disebutkan pria pertama tadi bersuara semua dan seperti kata pria pertama jika awal mulanya dari laporanku
Akhirnya pak kades menoleh ke arahku, bu kades yang duduk di sebelahku kembali mengusap punggungku, dan suasana balai desa kembali sepi
Dengan menatap dingin kearah mas Arif aku memulai ceritaku. Dari awal, dari perasaanku yang tak tenang di rumah, hingga telepon dan pesan yang tidak diangkat dan tidak dibaca oleh mas Arif aku ceritakan semuanya
Sampai akhirnya aku nekad kesini walau hari sudah siang, dan ternyata yang ku dapati adalah kenyataan melihat suamiku sedang bercinta dengan perempuan lain
Mendengar kalimatku yang menyebutkan jika aku mendengar suara aneh dari dalam kamar, ruang balai desa kembali riuh, sebagian orang menyoraki sebagian lagi terlihat geram dan mengumpat dengan sumpah serapah mereka
__ADS_1
"Jadi bagaimana ini keputusannya pak kades, apa orang berdua ini kita arak keliling desa atau kita serahkan kekantor polisi atau bagaimana?"
Aku hanya menarik nafas panjang mendengar warga kembali emosi, dan aku hanya bisa menatap marah pada mas Arif dan selingkuhannya yang sampai saat ini tidak bersuara
Aku mengangkat tanganku, yang membuat ruangan kembali hening
"Ya bu?" tanya pak kades padaku
"Aku boleh bertanya pada mereka berdua pak kades?" ucapku
Mas Arif mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku dengan mata sendu
Pak kades mengangguk. Melihat pak kades mengangguk, aku berdiri, dan kembali tanganku dipegang oleh bu kades, sepertinya beliau masih mengkhawatirkan mental ku
"Sudah berapa lama hubungan kalian?, karena mas pindah kesini baru tiga minggu" ucapku dengan mata terus memandang kearah mas Arif
Mas Arif menggeleng dan kulihat jika wajahnya makin mendung
"Tidak seperti itu ma" jawabnya
Aku menggeleng mendengar jawabannya
"Seminggu yang lalu saya kesini, perempuan ini pernah datang pagi-pagi buta ke rumah dinas suami saya" lanjut ku lagi
Kembali ruangan mulai gaduh, dan kembali kudengar geraman kesal dari para wanita mendengar ucapanku
"Ohh memang dasar Mirna nya yang gatel, kucing kok dikasih ikan asin, ya nemplok" ucap yang lain
"Kamu di sana saja mas, jangan kesini!" ucapku dengan nada dingin
"Tolong dengarkan penjelasan papa, ma"
Aku menggeleng
"Pertanyaan ku belum kalian jawab" kembali aku bersuara dan nadanya masih dingin
"Mirna jawab, sudah berapa kali kamu ditiduri oleh suamiku??!!" geram ku
Mirna tidak menjawab melainkan terus terisak
"Bawa saja mereka ke kantor polisi pak kades, nanti aku akan buat laporan tentang perzinahan" ucapku karena keduanya tak juga menjawab pertanyaanku
"Tidak usah bu, karena polisi sudah menuju kemari" jawab sebuah suara
Wajah mas Arif kembali menegang dan aku hanya menatap padanya dengan mengedipkan mataku
Kembali ruangan ini gaduh, dan aku duduk kembali di kursi dengan menarik nafas panjang berkali-kali
__ADS_1
"Ma tolong dengarkan papa" ucap mas Arif yang langsung berdiri dari kursinya dan langsung berjalan cepat ke arahku
Sedikitpun aku tak bereaksi saat mas Arif memeluk kakiku, aku hanya menatap ke depan, melihat kearah Mirna yang terus terisak
"Ma maafkan papa ma, papa khilaf ma"
Aku menurunkan mataku begitu mendengar ucapan mas Arif
"Berapa kali kamu khilaf nya mas?, sudah berkali-kali itu bukan khilaf tapi doyan, kebiasaan" jawabku dingin
Mas Arif tak memperdulikan banyaknya warga yang melihat aksinya. Dia terus saja menangis sambil memeluk kakiku
Aku dan warga yang ada di dalam ruangan ini menoleh ketika ada sebuah mobil berhenti dan masuklah beberapa orang polisi
Salah satu dari mereka memberi hormat pada pak kades, lalu terlihat pak kades seperti memberikan penjelasan, aku hanya memperhatikan mereka dari tempat dudukku, sementara mas Arif masih terus menangis di kakiku
"Bapak dan ibu ikut kami ke kantor" ucap polisi tersebut menghampiriku
Aku menoleh kearah bu kades
"Nanti saya menyusul dengan bapak bu, ibu nggak usah khawatir" ucapnya yang ku balas dengan anggukan kepala
Lalu seorang polisi segera mengangkat tubuh mas Arif yang masih berlutut di kakiku dengan sesenggukan menangis, lalu seorang lagi menuntun Mirna yang juga masih tampak terisak
"Ibu duduk di depan saja" ucap seorang polisi padaku
Aku menurut, segera aku naik, sedangkan mas Arif dan selingkuhannya duduk di belakang dengan diapit polisi di kanan kiri mereka
Sepanjang jalan menuju kantor polisi yang berjarak sekitar satu jam lebih aku lebih banyak diam, menjawab sekedarnya saja pertanyaan polisi yang duduk di sebelahku
Ketika turun, aku memilih berjalan duluan tidak mau berbarengan dengan mas Arif dan selingkuhannya
Di dalam kantor polisi barulah semuanya terungkap jelas, mas Arif dan Mirna mengakui perbuatan mesum mereka
Dan yang paling membuatku shock adalah pengakuan Mirna jika hampir setiap malam mereka berhubungan layaknya suami istri
"Ya Tuhan....." desis ku sambil menutup mulutku tak percaya
"Bajingan kamu mas" geram ku dengan langsung berdiri dan memukul kepalanya dengan tas yang sejak tadi aku bawa
Seorang polisi segera menahan gerakan tanganku yang terus memukuli mas Arif dan akhirnya membawaku keluar dari ruangan tersebut
Dengan menangis aku keluar dari dalam kantor polisi dan terduduk lemas di rumput yang ada di halaman kantor
Polisi yang tadi membawaku keluar hanya berdiri di belakangku, menjaga ku
Tak lama muncullah pak kades dan bu kades dan empat pria yang tadi masuk bersamaku kedalam rumah dinas mas Arif
__ADS_1
Bu kades segera turun dari atas motor dan langsung berlari kecil ke arahku. Sampai di dekatku kembali aku didekapnya dengan erat dan aku kian menangis tersedu-sedu
"Aku mau pulang saja bu, aku tidak sanggup menghadapi ini" lirihku di sela-sela isak tangisku