Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Marahnya Mantan Mertuaku


__ADS_3

Ntan mama mau ke rumah anak-anakmu


Aku tertegun ketika membaca pesan what's app yang dikirim mantan mama mertuaku pagi ini


"Oh, gitu ya?, jadi sekarang nyebutnya rumah anak-anakku" gumamku


Iya ma, Intan tunggu balasku


Kulihat mantan mama mertuaku sedang mengetik pesan balasan


Nggak usah nyiapin apa-apa, mama nggak lama


Kembali aku tertegun membaca pesannya


"Tak biasanya mama ngirim pesan kaya gini" gumamku lagi


"Tapi terserahlah, toh aku bukan mantu mama lagi, jadi wajar jika mama ngirim pesannya kaya gitu"


Aku segera beres beres rumah, karena memang aku tidak ada jadwal pengantaran paket hari ini, kebetulan juga aku ingin istirahat dari banyaknya rutinitasku sebagai emak dua anak dan juga pedagang online yang memaksaku harus mengantarkan pesanan pembeliku sampai di depan rumah mereka


Aku kembali mengambil hp yang berdering di atas meja ketika aku sudah berada di dapur


"Ya Yo?"


"Buka pintunya, aku sudah di depan"


Aku segera mematikan hp sambil berjalan kearah depan. Dan benar saja, dari jendela kaca sudah aku lihat Mario berdiri di depan sudah berpakaian dinas


Senyum Mario segera terkembang begitu aku membuka pintu


"Selamat pagi calon ibu dari anak-anakku" ucap Mario dengan langsung memelukku


"Hei aku belum mandi" balasku dengan mendorong tubuhnya


"Terserah" jawab Mario ngeyel dengan terus mendekapku


Untuk sejenak aku membiarkan Mario memelukku sampai akhirnya dia melepas sendiri dekapannya padaku


Aku nyengir karena saat itu masih memakai daster


"Maaf...." ucapku sambil tersenyum tak enak kearah Mario yang melihatku dari atas hingga bawah


"Kenapa minta maaf?" jawab Marko sambil membimbingku masuk dengan memeluk bahuku


"Ya karena aku masih dasteran" jawabku yang langsung membawanya ke dapur


"Aku kan sudah pernah bilang, bagi aku perempuan dasteran itu seksi, aura ibunya keluar banget"


Aku tergelak mendengar jawaban Marko


"Ngeteh apa ngopi?" ucapku sambil memasukkan gula kedalam gelas


"Teh saja, tapi jangan manis karena cukup kamu aja yang manis"

__ADS_1


Aku menoleh sambil memutar mataku dengan malas mendengar Mario merayuku


Aku duduk di depan Mario setelah meletakkan gelas teh


"Aku kesini sengaja pamitan"


Aku ber O panjang


"Tumben?"


"Ya kan kamu sudah resmi jadi calon istri aku jadi wajar dong aku pamitan"


Aku terkekeh


"Makan ya Yo, aku sudah masak loh"


Mario mengangguk lalu aku segera berdiri dan memberikan piring yang sudah terisi nasi dan lauk pauk


"Kita nikahnya dipercepat aja ya Ntan, jangan sampe setahun" ucap Mario lagi sambil mengunyah


"Lah rembukan keluarga waktu lamaran kemarin gimana ceritanya?"


"Ya ayah kamu masih minta waktu beberapa bulan, padahal aku pengennya bulan depan kita nikahnya"


Kembali aku tergelak


"Haduh Mario, Mario. Nggak lama lagi juga kita bakal menikah kok, kok malah kamu makin nggak sabar"


Mario tersenyum mendengar jawabanku


Sebelum Mario naik keatas motor dinasnya, Mario kembali menoleh ke arahku dan aku langsung mengulurkan tanganku menjabat dan mencium punggung tangannya


Bukannya melepaskan tanganku Mario malah mengecup keningku dengan dalam


"Kan kalau suaminya berangkat kerja, kaya gitu....." ucap Mario cepat saat aku akan protes


"Dasar!" aku mendecak


"Harusnya kamu senang sayang yang aku cium itu kening kamu bukan bibir kamu" godanya nakal yang langsung mendapatkan pukulan tanganku


Aku melambaikan tangan ketika Mario telah memundurkan motornya dan segera masuk kembali kedalam rumah ketika Mario sudah tak terlihat


Kembali aku meneruskan aktifitasku yang tadi sempat tertunda hingga akhirnya ketika aku turun dari kamarku, terdengar suara klakson di luar


"Iya sebentar....." teriakku sambil berjalan kearah pintu


Aku membuka pintu, dimana kudapati mantan mertuaku dan adik bungsunya mas Arif


Aku memasang senyum dan mengulurkan tanganku kearah mereka. Mama mertuaku bersikap biasa saja tak seperti biasanya yang apabila bertemu aku akan memelukku


"Yuk masuk!" ajakku masih dengan memasang senyum ramah


Setelah mereka duduk aku kebelakang membuatkan teh hangat lalu ikut duduk bersama mereka

__ADS_1


Wajah mantan mama mertua ku masih datar bahkan terkesan cuek dan seperti marah


Seperti mengetahui jika istrinya hanya diam sejak tadi, papa mertuaku mengajakku mengobrol ringan dengan menanyakan kabarku dan juga kabar kedua anakku


Aku menjawab setiap pertanyaan papanya mas Arif sementara mamanya mas Arif dan adiknya mas Arif masih diam, bahkan teh yang kusuguhkan belum mereka sentuh


"Diminum ma" tawarku lagi sambil berusaha tersenyum


"Sejujurnya kami kesini karena ada yang ingin kami omongkan sama kamu Ntan" akhirnya mamanya mas Arif bersuara walau masih terdengar tak ramah


"Benar kamu sudah tunangan?"


Aku diam mendengar pertanyaannya


"Kok diam Ntan, benar?"


Kembali aku mencoba tersenyum seraya mengangguk


"Benar ma, seminggu yang lalu"


Mama dan papanya mas Arif langsung saling toleh


"Kamu tahu berapa lama kamu sudah bercerai dengan Arif, kok sekarang sudah main tunangan saja?"


Aku diam, aku sudah merasa jika arah omongannya ini tak bagus


"Masa iddah kamu juga jangan-jangan belum selesai, kok ini sudah mau main nikah saja, jangan-jangan omongan orang selama ini benar, jika kamu juga selingkuh di belakang Arif, tapi kamu pintar menyembunyikan perselingkuhan kamu sehingga tidak ketahuan seperti Arif"


Aku menelan ludahku lalu menghembuskan nafasku dalam-dalam mencoba menenangkan diriku mendengar omongan mama mertuaku


"Jika tidak, tidak mungkin secepat ini kamu menerima pinangan orang lain. Kamu kan sering keluar, bisa jadikan kamu janjian dengan pria itu"


Kembali aku harus menekan emosi ku yang sudah siap meledak mendengar omongannya


Tapi aku harus sabar, karena omongan beliau tidak sepenuhnya salah, aku memang bertemu kembali dengan Mario saat aku masih menjadi istrinya mas Arif, tapi saat itu karena mas Arif ketahuan mesum hingga sampai masuk berita di tivi


"Tuh, lihat pa, nggak bisa jawabkan dia?" cibir mamanya mas Arif


"Ma, Mario itu pacar aku sebelum aku pacaran sama mas Arif, jauh sebelum aku dekat dengan mas Arif aku sudah jalan dengan Mario. Jadi jika mama bilang aku berhubungan dengan Mario itu selingkuh, tidak ma. Kami dekat lagi setelah mas Arif bertingkah sampai akhirnya kami cerai barulah aku dan Mario melanjutkan hubungan kami" jawablu pelan membela diri


"Tuh benar kan pa, memang dia sebelum cerai dengan Arif, dia sudah kembali dekat dengan mantan pacarnya itu"


"Ma, jika memang mama menuduh aku berselingkuh maaf ya ma, aku tidak bisa menerimanya. Karena aku dekat dengan Mario hanya sebatas teman, kami baru resmi dekat kehubungan spesial ketika aku benar-benar telah jadi janda"


"Terus memangnya kenapa ma kalau aku dekat dengan seseorang?, kan aku sudah janda, bukan istri mas Arif lagi, lagian mas Arif dulu gonta ganti perempuan waktu masih menjadi suami aku, apa ada aku ngamuk walau sebenarnya aku sakit, bahkan di depan mata aku sendiri, aku melihat mas Arif berhubungan badan dengan selingkuhannya, apa ada mama melihat aku ngamuk?, terus kenapa giliran aku move on mama malah menuduh dan memfitnah aku yang bukan-bukan?"


Aku jelas melihat jika wajah mamanya Mas Arif terkesiap dengan jawaban lancangku


"Kamu jangan samakan dengan Arif, Arif laki-laki sedangkan kamu perempuan"


"Apa bedanya ma?, mentang-mentang mas Arif laki-laki, jadi wajar dia selingkuh dan dimaklumi jika dia gonta ganti meniduri perempuan, sedangkan aku nggak pantas karena aku perempuan?, gitu maksud mama?" jawabku lagi sambil tersenyum sinis


"Lancang kamu sekarang ya Ntan, akhirnya kamu menunjukkan wajah asli kamu di depan kami"

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku mendengar jawaban mamanya Mas Arif yang protes dengan kelakuanku


__ADS_2