Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Permintaan Orang Tua Mario


__ADS_3

Aku mengusap wajah ku berkali-kali karena tiba-tiba ada rasa sedih dalam hatiku melihat foto itu


Walau aku tersenyum, tak kupungkiri ada juga rasa sedih, bukan tanpa alasan aku sedih, dua tahun berpacaran dan lebih sembilan tahun menikah dengan mas Arif dan sekarang melihatnya sudah menikahi selingkuhannya tentulah membuat sudut hatiku agak bergetar


Selamat untuk pernikahannya mas Arif mbak, sampaikan ucapan selamat ku untuk mereka berdua, semoga ini adalah pernikahan terakhir mas Arif dan semoga mereka menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohma tulisku membalas status mbak Sari


Kemudian aku meletakkan hp, menghembus nafas panjang dan kembali mengusap wajahku


"Aku kenapa sih?, kan aku sudah tidak mencintai mas Arif lagi" gumamku


Mungkin memang Mirna lah nantinya perempuan yang bisa membuat Mas Arif jinak dan tidak liar lagi, mungkin memang Mirna type wanita yang selama ini mas Arif cari, kembali aku membatin


Ting....


Aku meraih hp ku yang berdenting


Terima kasih Ntan, nanti akan mbak sampaikan


Aku tersenyum membaca balasan mbak Sari, lalu kembali meletakkan hp di atas meja


Dari pada aku bengong karena tidak ada kerjaan aku memilih menyalakan tivi dan menonton acara gosip


Fokusku terganggu ketika hp ku berdering


"Iya Mario....?" jawabku manja


"Bisa ke rumah mama?"


"Untuk apa?"


"Kesinilah, kami tunggu"


Aku mendecak dan akhirnya mengiyakan permintaannya. Secepatnya aku mengeluarkan motor lalu segera melaju menuju rumah mamanya Mario


Baru juga aku mengucap salam ketika berdiri di depan pintu, pintu tersebut telah terbuka dan muncul wajah Mario


"Kamu kok pulang terus sih Yo, apa nggak kena marah sama komandan kamu?"


"Baru juga nyampe aku Ntan, semalaman aku ngejar penjahat dan ingin istirahat di rumah mama"


Aku yang dibimbingnya masuk hanya ber O panjang


"Loh kok rumahnya sepi?, ibuk mana?"


"Ibuk lagi di belakang, mau nyusul?"


Aku mengangguk, dan kembali Mario menuntunku masuk ke dapur


"Buk?" sapaku ketika kulihat ibunya Mario tampak menyiangi ikan


"Sini buk biar aku saja" ucapku yang mengambil pisau yang ada di tangan mamanya Mario


Mario tersenyum ketika aku yang mengambil alih pekerjaan mamanya


"Ntan sudah ini masakin aku ya?" godanya yang kujawab dengan mencibir


Mamanya Mario tersenyum melihat aku mencibir pada anaknya


"Ntan, bisa tidak hari ini kamu ikut ibuk sama bapak?"


Aku yang sedang mencuci ikan yang telah selesai aku siangi menoleh


"Kemana buk?"


"Entah ini Mario mau ajak kita kemana"


Aku mengernyitkan dahiku, melongok kan kepalaku mencari Mario yang tak tampak lagi berada di dapur


Aku lalu memasang senyum kaku pada mamanya Mario

__ADS_1


"Nggak lama kan buk?"


"Nggak tahu juga Ntan, nantilah kita tanya Mario dulu dia mau ngajak kita kemana"


Aku menganggukkan kepalaku sambil mengelap tanganku.


Kulihat mamanya Mario mulai meracik bumbu


"Buk, beneran istrinya Mario meninggal?" tanyaku ragu sambil membantunya membuang tangkai cabai


Mama Mario mengangkat kepalanya, menatap ke arahku


"Kamu baru tahu?"


Aku mengangguk


"Emang kamu nggak pernah dengar beritanya apa?"


Aku menggeleng, mamanya Mario tersenyum


"Ibu fikir kamu sudah tahu lama kalau Mario duda"


Aku kembali tersenyum kaku


"Bagaimana dengan hubungan kalian?, masih lanjut?"


Aku langsung menelan ludahku mendengar pertanyaan mamanya Mario yang tiba-tiba ini


"Mario masih menantikan kamu Ntan, apalagi sekarang kalian sudah sama-sama sendiri, jadi ibu fikir tidak ada lagi alasan untuk kalian bersama lagi


Aku hanya diam tak berani menjawab ucapan mamanya Mario


Hingga akhirnya aku memasak ikan sesuai dengan bumbu yang diinstruksikan oleh mamanya Mario


"Masakan kesukaan Mario, jadi jika nanti kalian sudah menikah kamu jadi tahu kalau ada ikan harus dimasak apa untuk Mario"


Kembali aku tersenyum kaku saking gugupnya aku


"Sana, panggil dulu Mario, ibuk yakin dia ada di kamarnya, kamarnya ada di atas"


Aku mengangguk lalu berjalan keluar dari dapur dengan ragu, begitupun ketika aku menaiki tangga menuju kamar Mario


Di depan sebuah kamar yang pintunya tertutup aku memberanikan diriku mengetuk pintu tersebut


Tiga kali aku mengetuk masih juga tak ada jawaban, kembali aku mengulangi dengan memanggil nama Mario, tapi masih tak ada juga jawaban


Dengan menggigit bibir karena masih ragu aku mendorong pintu kamar yang ternyata tidak dikunci tersebut


Tampak olehku Mario tidur telentang dengan sangat lelap. Dengan berani aku mendekat kearah ranjang dan menatap wajahnya yang tampak tenang


Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya yang terlelap. Lalu aku mengedarkan seluruh pandanganku kesetiap sudut ruangan ini


Aku berjalan kearah jendela, membuka jendela agar udara bisa masuk lalu kembali berjalan kedekat ranjang


Aku lalu duduk tepat di sebelah kepala Mario. Nafasnya terdengar teratur dan sepertinya memang dia sangat lelah, sehingga kehadiranku sama sekali tak dia sadari


Tanganku terulur lalu mengusap pelan wajahnya sambil tersenyum


"Aku mencintaimu Mario...." batinku


Setelahnya aku menarik nafas panjang, lalu berdiri dan keluar dari dalam kamar Mario


"Loh Mario nya mana Ntan?" tanya papanya Mario saat melihatku turun


"Masih tidur pak, aku nggak tega banguninnya"


"Loh....?" jawabnya bingung


Aku hanya nyengir kemudian kembali ke belakang saat mamanya Mario sedang meletakkan piring di atas meja makan

__ADS_1


"Loh Ntan, Mario nya mana?"


"Masih tidur buk, aku nggak tega banguninnya, kasihan Mario. Sepertinya dia sangat lelah" jawabku sambil menuangkan air kedalam gelas


"Lah.....kok bisa gitu?"


"Mario bilang semalam dia ngejar penjahat, dan bisa jadi kan buk dia nggak tidur semalaman?"


"Iya juga sih" jawabn mamanya Mario sambil melihat seluruh isi meja yang telah siap


"Kamu duduk aja, ibuk akan panggil papanya Mario dulu"


Aku mengangguk dan menurut. Tak lama muncullah mama papanya Mario yang terlihat masih sangat romantis walau mereka sudah tua


"Ini Mario nggak bakal dipanggil lagi?" tanya papanya Mario sambil menarik kursi


"Kata Intan kasihan, pa" jawab mamanya Mario sambil tersenyum sembari memberikan piring pada suaminya


"Lah, kok malah kasihan, anak itu kalau tidak dibangunkan bisa sampai besok dia tidur"


Aku dan mamanya Mario tergelak. Lalu kami bertiga makan dengan penuh kekeluargaan, dan aku makan dengan sangat canggung


"Makan yang banyak, yang berlalu biarlah berlalu, live must go on Ntan, kamu harus menatap masa depan kamu, jangam terpuruk dengan kesedihan"


Aku hanya mengangguk seraya tersenyum kaku mendengar ucapan papanya Mario


Selesai makan aku segera membersihkan piring kotor dan kembali ke depan dimana mama papa Mario sedang mengobrol


"Sini Ntan duduk!"


Aku berjalan kearah mereka lalu ikut duduk. Mama dan papanya Mario menatapku dengan dalam yang membuatku deg-degan


"Begini Ntan tujuan kami meminta kamu kesini, sebenarnya ada hal yang ingin kami sampaikan"


Debar jantungku kian berdetak kencang dan aku mulai gelisah


"Kami tahu hubungan kamu dengan Mario sudah terjalin kembali, walau dulu kalian memang pernah pacaran lama dan berpisah karena kamu menikah"


Aku menelan ludahku mendengar kalimat pertama papanya Mario yang to the point tersebut


"Dan sekarang kalian dekat lagi dengan status yang sama-sama telah sendiri, dan itu membuat kami sangat senang karena akhirnya cinta kalian yang dulu sempat tertunda bisa kalian lanjutkan kembali"


Aku masih diam tak menjawab


"Begini Ntan, papa dan mama mau tanya sama kamu, kamu beneran masih mencintai Mario?"


Aku langsung menunduk, entah pertanyaan ini sangat membuatku malu, yang kurasakan adalah wajahku panas saat mendengar pertanyaan tersebut


"Karena jika memang kamu masih mencintai Mario, papa dan mama rencananya malam besok mau melamar kamu dengan kedua orang tua mu?"


Secepat kilat aku mengangkat kepalaku


"Apa pak, melamar?" tanyaku kaget


Kedua orang tua Mario yang sejak tadi menatapku menganggukkan kepala mereka


"Iya, kenapa?"


Aku makin gelisah, aku memang mencintai Mario tapi aku takut dengsn statusku yang hanyalah orang biasa


"Apa bapak dan ibu mau mempunyai menantu seperti saya?" tanyaku pelan sambil kembali menundukkan kepalaku


"Loh, memangnya kenapa?"


Aku menganggkat kepalaku lagi


"Aku hanyalah orang biasa pak, buk. Dan aku juga dari keluarga biasa saja, sedangkan bapak dan ibuk orang berada ditambah lagi dengan Mario yang bukan orang sembarang, apa bapak dan ibu tidak malu, Mario bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih di atas saya"


Mama dan Papa Mario terkekeh, sampai mamanya Mario yang semula duduk di sebelah suaminya pindah duduk ke sebelahku

__ADS_1


"Mario itu maunya sama kamu Ntan, jika memang selama ini dia mau dengan gadis yang jauh di atas kamu, sudah sejak lama dia menikah, tidak menduda selama ini. Dan ibuk tidak pernah menuntut menantu sempurna dan kaya raya, tapi wanita yang dicintai Mario, dan wanita itu kamu"


Mataku langsung berkaca-kaca dan mamanya Mario langsung mendekap ku dengan terkekeh


__ADS_2