
Besoknya ketika aku turun ke lobby karena hari ini aku akan pulang, kembali pandanganku tertumbuk pada seseorang yang saat ini berdiri di depan lobby.
Segera aku menghentikan langkahku Ketika aku melihat Mario menoleh ke arah di mana saat ini aku sedang berjalan.
"Intan...." lirih Mario yang berjalan cepat ke arahku.
Aku hanya bisa menelan ludahku ketika Mario sudah berdiri tepat di depanku.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mario melihat ke arah koper yang saat ini aku tarik.
"Pulang" jawabku sama lirihnya dengan suara Mario.
Mario menggeleng kemudian dia menarik tanganku dan membawaku duduk di kursi yang ada di lobby.
"Kenapa kamu tidak bilang jika kamu ada di sini?" tanya Mario.
Aku hanya tersenyum getir mendengar pertanyaan Mario.
"Apa saat ini yang berhak untuk aku lakukan sama kamu Mario?, aku sudah tidak punya hak lagi atas diri kamu. Jadi untuk apa aku memberitahu kamu jika aku ada di sini".
Mario menggeleng, lalu tanpa malu segera didekapnya tubuhku
"Maksud kamu apa?, kamu mempunyai hak penuh atas diriku, kamu tahu itu"
Dengan pelan aku mendorong dada Mario kemudian menggeleng
"Aku harus pulang Mario, sudah sembilan hari aku disini"
Mario menarik tanganku, tapi dengan cepat aku menghentakkan nya. Kemudian dengan cepat aku berjalan kearah resepsionis lalu menyerahkan kunci kamar pada petugas tersebut.
Lalu aku menarik cepat koper dan segera berjalan keluar dari dalam hotel
"Intan.... Intan Permata Sari!!!" teriak Mario
Aku tidak menghiraukan bagaimana Mario terus meneriakkan namaku
Segera aku menghentikan sebuah taksi yang melintas dan langsung masuk
"Antar saya ke Bandara pak!"
Supir tersebut menganggukkan kepalanya, lalu segera melajukan mobil meninggalkan halaman hotel
Dan Mario yang mengejar ku di belakang dengan mengendarai motor tampak melajukan motornya dengan ngebut
"Cepat pak!" pintaku pada supir yang hanya menganggukkan kepalanya
Segera mobil melaju kencang dan meninggalkan Mario di belakang.
Dan aku hanya bisa menarik nafas panjang ketika akhirnya Mario tidak terlihat lagi di belakang kami.
Ketika sampai di Bandara, aku segera membayar sejumlah tagihan yang tertera di Argo, lalu berjalan cepat masuk ke dalam waiting room.
__ADS_1
"Kamu nggak bisa pergi begitu saja!" ucap sebuah suara yang terpaksa membuatku menoleh ke belakang.
Aku menarik nafas panjang ketika kulihat Mario duduk di belakangku.
"Kamu apa lagi Mario?, kan sudah aku katakan, aku mau pulang".
Mario menggeleng cepat kemudian menggenggam erat tanganku.
"Bilang sama aku, Kamu kenapa?"
Aku mengernyitkan keningku, kemudian aku balik bertanya
"Harusnya yang bertanya Kamu kenapa itu aku, bukan kamu" .
Mario menggeleng mendengar jawabanku.
"Kamu tahu sendiri Intan, beberapa bulan yang lalu saat kita terakhir ngobrol aku pernah bilang sama kamu untuk menunggu aku. Apa kamu sudah mengingkari itu?".
Aku berusaha tenang mendengar pertanyaan Mario kemudian aku tersenyum getir menatap matanya.
"Kamu tahu sendiri Mario, aku sudah memilih mundur dan itu artinya memang aku telah mundur dari hidup kamu. Aku harap kamu menghargai keputusanku". ucapku sambil menunduk
Mario menggeleng sambil tersenyum getir.
"Tatap mata aku Intan kalau kamu berani. Kamu bilang kalimat itu sambil menatap mata aku!" .
Aku berusaha menelan ludahku kemudian berusaha juga untuk tersenyum, mengumpulkan seluruh keberanian yang kumiliki, lalu aku menatap mata Mario dengan dalam.
"Mario......!!" teriak sebuah suara yang membuat kami berdua refleks menoleh.
Seketika mataku langsung terasa panas ketika melihat seorang wanita yang semalam memegang tangan Mario berjalan ke arah kami dengan anggunnya.
Aku langsung memalingkan wajahku kemudian mengejap-ngerjapkan mataku berusaha agar Mario tidak melihat bahwa mataku sudah mulai berkaca-kaca.
"Mario aku pergi!" ucapku dengan cepat sambil langsung menarik koperku dan meninggalkan Mario.
"Intan berhenti, Intan Permatasari!!!" teriak Mario.
Aku semakin mempercepat langkahku dan segera masuk ke dalam koridor yang akan membawaku menuju ke landasan dan tidak lagi menoleh ke arahnya, dimana petugas yang saat ini tengah menghentikan laju lari Mario yang mengejar ku.
Kembali aku harus terduduk dengan lesu di kursi bagian dalam bandara.
Dan mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi paru-paru ku yang terasa hampa.
Ketika announcement yang mengatakan bahwa penerbanganku akan segera take off aku segera berjalan cepat menuju ke dalam pesawat dan segala duduk di kursi sesuai dengan nomor tiketku.
Sementara di lain tempat, Mario yang tidak bisa masuk kembali mengejar Intan hanya bisa menarik rambutnya dengan frustasi.
Dan perempuan yang saat ini berdiri di depan Mario hanya bisa melihat Mario dengan penuh keheranan.
"Are you okay Mario?" tanya wanita cantik tersebut.
__ADS_1
Mario hanya menarik nafas panjang kemudian membuang nafas dengan kasar lalu menoleh pada wanita cantik tersebut
"Kamu ngapain bisa ada di sini?" katanya Mario dingin.
Wanita cantik tersebut mengernyitkan dahinya kemudian menggeleng sambil tertawa heran
"Kok kamu nanya gitu sih Mario?, aku jelas ada di sini lah. Kan aku pramugari dan aku ada penerbangan hari ini makanya aku ada di bandara"
"Harusnya aku yang bertanya sama kamu, ngapain kamu ada di sini?, pakai baju dinas lagi, apa kamu nggak dinas?" tanya perempuan cantik itu.
Mario mengusap kasar wajahnya kemudian menarik nafas dalam. Lalu menoleh ke arah perempuan cantik tersebut
"Hufff, semuanya kacau. Dan aku yakin ini semua pasti gara-gara kamu".
Perempuan cantik tersebut langsung memundurkan kepalanya lalu menatap bengong ke arah Mario.
"Kamu ngomong apa sih Mario?, aneh....." ucap perempuan tersebut sambil berdiri meninggalkan Mario yang masih terduduk dengan kebingungan.
Dan Mario kembali hanya bisa menarik nafas panjang ketika mendengar announcement yang menyebutkan penerbangan menuju kota tempat Intan akan segera take off.
Dan aku langsung memejamkan mataku ketika merasa pesawat akan mulai merangkak naik.
"Selamat tinggal Mario....., aku doakan semoga kamu bahagia" batinku dalam hati dengan pilu
...----------------...
Satu bulan sejak kepulanganku dari ibukota sehabis mengikuti pelatihan entrepreneur yang diundang oleh Pak Uki, aku mulai mengembangkan bisnis lain
Aku mulai membuka usaha kuliner baru yang selama ini aku impikan yaitu tempat kuliner yang bisa menyatukan antara tempat makan dan juga tempat rekreasi.
Selain dengan menu yang bisa didapatkan dari daerahku, aku juga mengembangkan menu lain yang belum pernah ada di daerahku yaitu makanan Seafood
Jadi secara langsung aku menghubungi teman dunia maya ku yang pernah aku temui di marketplace yang menjual aneka kerang dan juga hasil laut lainnya.
Walau belum pernah bertemu dan bertatap muka secara langsung tapi kami sudah menyepakati untuk berbisnis bersama.
Dan mulailah aku meminta padanya untuk mengirimkan hasil laut yang fresh ke restoran keluarga milikku.
Respon masyarakat ketika aku mulai mempromosikan restoran keluarga yang homy di media sosialku begitu menggembirakan .
Sehingga tanpa ragu aku langsung mencari orang yang bisa memasak makanan laut untuk aku jadikan chef di restoran baruku .
Dan tentu saja usahaku ini membuat aku bisa memberdayakan orang-orang yang ada di sekitarku.
Kakak iparku adalah orang yang aku serahin tugas untuk menjadi Kasir di rumah makan ini dan Kakakku adalah orang yang bertanggung jawab dalam pengelolaannya. Sedangkan aku fokus di toko.
Sejak kejadian terakhir kali aku melihat Mario di bandara, mulai hari itulah aku belajar kembali untuk melupakan Mario. Walaupun tentu saja itu sulit bagiku tapi aku sampai detik ini terus berusaha untuk melupakannya.
Dan setiap kali Mario berusaha untuk menelpon atau mengirim pesan, tidak ada satupun pesannya yang aku balas. Begitu juga dengan teleponnya, sama sekali tidak pernah aku angkat.
"Aku yakin ini adalah yang terbaik untuk kita Mario" lirihku merana
__ADS_1