
Aku segera mengangkat hp ku ketika benda itu berdering
"Intan Permata Sari!!!"
"Apa Mario Pratama?" jawabku ketus karena itu adalah telepon dari Mario
"Aku tunggu kamu di rumah"
"Rumah siapa?"
"Rumah kita lah" jawabnya sambil terkekeh
"Ih ngarang" jawabku masih dengan nada sewot
"Di depan sudah ada travel yang menjemput kamu, cepatlah kamu berkemas"
"What??!" jawabku kaget
Dan benar saja ada suara klakson travel langgananku yang dulu pernah mengantarkan aku ke rumah Mario
"Loh belum siap mbak?"
Aku bengong
"Lah emangnya mau kemana?"
"Loh bukannya semalam mbak yang minta dijemput jam delapan?"
"Hah???!" jawabku kaget bercampur bingung
"Sebentar" jawabku sambil meletakkan hp kembali ke telingaku
"Ini pasti kerjaan kamu kan Mario?!" geramku
Terdengar suara terkekeh dari seberang yang membuatku harus memutar mataku dengan malas
"Cepatlah ambil baju, nggak usah mandi, mandi di rumah aku aja"
"Nggak mau!!!"
"Intan Permata Sari, ada hal penting yang harus kita bicarakan" jawab Mario dengan nada lembut
Aku langsung mengeraskan rahangku dan masuk kedalam rumah dengan menghentak-hentakkan kakiku
"Tunggu sebentar mas, aku ambil baju dulu" ucapku pada supir travel yang menganggukkan kepalanya
Dengan cepat aku mengambil baju seadanya memasukkannya kedalam kantong kresek lalu menyambar tas selempang
__ADS_1
"Buk, nanti Meka sama Bobbi ajak ke rumah ibu dulu ya, aku ada keperluan mendadak, mungkin pulangnya sore" ucapku di hp pada ibuku yang mengiyakan permintaanku
Aku langsung duduk di dalam travel dan kembali menempelkan hp ke telingaku ketika kembali Mario menelepon
"Iya, ini sudah di jalan" jawabku kesal
Setelah berkeliling menjemput penumpang lain, akhirnya travel berjalan dengan kecepatan sedang menuju kota tempat Mario dinas
"Masih ingatkan mas alamatnya kemarin?" tanyaku pada supir travel
"Masih mbak"
Aku segera menarik nafas lega dan merebahkan kepalaku ke sandaran kursi lalu memiringkan kepalaku menatap keluar
Dua jam berikutnya aku sudah turun di depan rumah Mario dan langsung mendorong pagarnya
Suasana rumah sepi dan tertutup rapat
"Kemanalah orangnya" gumamku menahan kesal
Aku celingak celinguk melihat kearah rumah di depan dan samping rumah Mario yang juga tertutup
Dengan mendecak kesal aku kembali berjalan ke depan pintu, mengetuknya berkali-kali
"Asem ni Mario" geramku karena tak ada sahutan dari dalam
Berdering tapi tak diangkat, dan rasa dongkolku kian bertambah ketika beberapa kali panggilanku tidak diangkat oleh Mario
"Awwww...." pekikku tertahan ketika sebuah tangan menarik tanganku dengan cepat
BRAKK, CEKLEKK
Pintu ditutup dan langsung dikunci oleh Mario. Aku segera berusaha menarik tanganku yang dipegangnya dengan kuat
Sekali sentak aku sudah menubruk dada Mario dan langsung mendongakkan kepalaku dengan kaget
Belum lagi rasa kagetku hilang, tahu-tahu Mario telah menangkupkan kedua tangannya ke wajahku dan langsung melahap bibirku
Aku berusaha mendorong dadanya dan berusaha melepaskan bibirku yang terus disesapnya, tapi usahaku sia-sia
Aku hanya bisa menurut ketika Mario membawaku kearah sofa tanpa melepaskan pagutannya dari bibirku
Aku yang mulai kehilangan kesadaranku akibat ciumannya, duduk di pangkuannya dan mengikuti permainan ganas bibirnya
Aku berdiri dengan kaget ketika kurasakan ada yang aneh dari diri Mario, dengan cepat aku mengelap bibirku lalu membuang mukaku karena degup jantungku yang tiba-tiba berdegup kencang
Kudengar nafas Mario memburu dan terdengar tak teratur
__ADS_1
"Intan....." lirihnya gelisah
Aku menggeleng kuat dan menjauhi Mario
"Tolong...."
Kembali aku menggeleng
"Aku mau minum" lanjut Mario yang membuatku mendelikkan mataku padanya yang tertawa terpingkal
"Kurang ajar kamu!" geramku
Mario yang terkekeh sekarang berpindah duduk di sebelahku
"Aku kangen sama kamu Ntan" lirih Mario lagi
"Jadi karena kangen kamu minta aku kesini?" tanyaku dengan kesal
Mario mengangguk yang membuatku makin kesal dan memukul lengannya, tapi tanganku yang berkali-kali memukulnya dengan sigap ditangkap oleh Mario dan kembali dia menyesap bibirku
Dan kembali aku terbuai dengan manisnya bibir Mario hingga aku kembali duduk di pangkuannya dengan mengalungkan kedua tanganku di lehernya
Entah sudah berapa lama kami ciuman sehingga aku tak sadar jika ciuman Mario telah berpindah ke leher dan dadaku
Aku yang telah lama tidak merasakan sentuhan mulai belingsatan dan berteriak tertahan ketika ciuman Mario makin berani bergerilya di leher dan dadaku
"Cepatlah jadi janda" ucap Mario menghentikan aksinya dan mendekapku dengan sangat erat
Aku hanya menarik nafas panjang dan memejamkan mataku sambil mendekap kepalanya yang menempel di dadaku
...----------------...
Nyaris tiga bulan ini aku habiskan dengan bolak balik datang kepersidangan. Baik itu sidang perrceraian maupun sidang kasus mas Arif
Capek, lelah dan jenuh memenuhi otakku selama menghadapi panjangnya masa persidangan hingga akhirnya hari ini adalah sidang putusanku di pengadilan agama
Aku dan mas Arif yang duduk bersebelahan mendengarkan pembacaan keputusan hakim yang memutuskan sah perceraian kami
Setelah hakim mengetok palu tiga kali, aku mengusap wajahku dengan lega dan segera bangkit menyalami hakim ketua dan hakim anggota
Sedangkan mas Arif aku lihat wajahnya merah dan basah, sebelum keluar dari ruang persidangan aku menjabat tangannya
"Maafkan aku ya mas jika selama jadi istri kamu nggak bisa jadi yang kamu inginkan" ucapku
Mas Arif tak bisa menjawab perkataanku, dia hanya menunduk dengan bahu yang berguncang
"Nikahilah Mirna, bahagiakan dia, cukup aku saja yang mas lukai" sambungku lagi sambil menepuk pundaknya
__ADS_1
Setelah itu aku berjalan dengan perasaan plong. Dan memasang senyum di wajahku kearah mobil Mario yang telah menunggu ku di parkiran