
Kembali aku masuk dan duduk di dekat bu kades. Ada banyak pria yang sudah dewasa dan berumur yang masuk bersama ayahnya Mirna
Aku melirik kearah Mario yang duduk bersebalahan kursi denganku, wajah Mario tampak serius yang membuatku yakin jika kedatangan para lelaki kerumah pak kades ini tentulah bukan hanya sekedar bertamu biasa
Kemudian pak kades menanyakan maksud dan tujuan rombongan para lelaki itu kerumahnya, lalu perwakilan dari rombongan tersebut bersuara yang akhirnya harus membuatku menarik nafas panjang
"Bagaimana bu, apakah ada yang ingin ibu sampaikan?"
Kembali aku menarik nafas panjang
"Kalau boleh jujur pak kades, tidak ada istri yang mau membagi suaminya dengan perempuan lain, begitupun dengan saya, saya tidak ikhlas membagi mas Arif dengan selingkuhannya"
Mulailah ruang tamu rumah pak kades ramai dengan suara kasak kusuk, dan kembali bu kades mengelus punggungku
"Terus bagaimana dengan anak saya bu, tidak akan ada lagi lelaki yang mau menikahinya?"
Aku hanya menatap kosong pada ayahnya Mirna
"Kan bapak sudah tahu jika mas Arif beristri, terus kenapa malah bapak sebagai orang tuanya tidak menasehati anak bapak untuk menjauhi suami saya?"
Pria paruh baya itu diam dan menunduk
"Bukankah pertama kali kita ketemu di kebun bapak mas Arif sudah bilang jika saya istrinya, itu artinya mas Arif sudah berkeluarga, harusnya saat itu bapak melarang anak bapak untuk menggoda suami saya"
Para lelaki yang tadi kasak-kusuk begitu mendengar penjelasanku terdiam
"Jadi bapak sebenarnya sudah tahu jika pak Arif ada istri?" tanya mereka
Ayahnya Mirna diam dan aku tersenyum sinis
"Bahkan saat itu kami bertemu dengan bapak, saya membawa kedua anak saya" tambahku lagi
"Jadi jika bapak menganggap mas Arif menjebak atau membohongi kalian itu semua salah, karena sebenarnya baik ayahnya maupun Mirna sudah tahu jika mas Arif sudah berkeluarga, sudaj punya anak dan istri"
Ayahnya Mirna makin menunduk dalam
"Terus bagaimana ini?, tidak mungkin mereka tidak kita nikahkan?, orang satu desa sudah tahu semua kejadian semalam bahkan seluruh dunia juga sudah tahu karena sudah menyebar di sosial media"
"Kalau itu kalian bicarakan dengan mas Arif, kan yang merusak Mirna mas Arif" jawabku santai
"Jika nanti pak Arif tidak mau menikahi anak saya bagaimana bu?" suara ayahnya Mirna melemah
"Itu bukan urusan saya pak, urusan saya sudah selesai. Saya telah melaporkan mereka berdua dengan pasal perzinahan dan saya yakin mereka berdua akan dihukum"
__ADS_1
Kembali terdengar suara kasak kusuk setelah aku mengatakan kalimat tersebut
"Saya rasa tidak ada lagi yang perlu saya jelaskan disini, semuanya sudah cukup jelas" tambahku
"Tolong bu, kami orang biasa, orang susah, kami tidak mengerti apa-apa, tolonglah bu jangan penjarakan anak saya"
Aku bergeming menatap kearah ayahnya Mirna yang sekarang wajahnya memucat dan tampak sekali kesedihan di wajah itu
"Saya hanya mengikuti prosedur pak, untuk dipenjara atau tidak itu bukan kuasa saya, sudah ada pasal dan aturan yang mengaturnya, tugas saya hanya melaporkan tindakan salah mereka berdua"
"Tapi bu, tidakkah ibu kasihan dengan kami, tolonglah bu. Mirna juga korban disini"
Aku tersenyum getir
"Justru yang korban sebenarnya disini adalah saya pak. Anak bapak bukan korban, tapi doyan. Jika dia korban, pasti dia sudah berteriak minta tolong atau dia melapor dengan pemerintah setempat jika dia sudah dilecehkan dengan mas Arif"
"Tapi dia sama sekali tidak melapor, bahkan kepada anda orang tuanya, malah semalam ketika ditanyai oleh polisi anak bapak mengaku, jika hampir setiap malam dia mendatangi rumah dinas mas Arif dan mereka melakukan hubungan terlarang itu, apa itu yang namanya korban?"
"Berdoalah pak semoga mas Arif mau menikahi Mirna" lanjutku
Ayahnya Mirna mengusap wajahnya berkali-kali mendengar jawaban santai ku sedangkan para bapak-bapak yang lain menggeleng-gelengkan kepala mereka
"Ini sudah terlalu siang, saya harus kembali ke rumah, dan saya mohon maaf bapak semua jika saya tidak bisa membantu Mirna, tapi saya harap bapak semua memahami perasaan saya"
Setelah berkata seperti itu aku berdiri lalu mendekap kembali bu kades yang juga telah berdiri di sebelahku. Bersama Mario aku melangkah keluar dari dalam rumah pak kades dan dengan diiringi tatapan mata mereka kami masuk kedalam mobil
Lalu setelah mobil menjauh aku segera merebahkan kepalaku kesandaran kursi dan mengerjap-ngerjapkan mataku, menahan air mata yang siap tumpah
Tangan Mario terulur kearah kepalaku, lalu dia mengusap-usap kepalaku dengan lembut
"Menangis saja kalau mau menangis"
Aku tak menggubris ucapannya, aku masih menatap lurus ke depan dengan menggigit kuat bibirku menahan air mata yang telah siap tumpah
Hampir dua jam kami perjalanan, di sebuah jalan yang agak jelek dan berlubang aku melihat mobil mertuaku yang berlawanan arah dengan mobil Mario
"Itu mobil mertuaku" tunjukku kearah depan
"Mau berhenti tidak?" tanya Mario sambil menoleh ke arahku
"Tidak usah"
Mario hanya mengangkat bahunya lalu ketika mobil kami saling berpapasan aku hanya menoleh sekilas
__ADS_1
Karena kaca mobilnya gelap jadi aku tidak melihat siapa saja yang ada di dalam mobil tersebut, tapi mau siapa saja yang ada di dalam sana bukanlah urusanku, karena aku tidak mau lagi berurusan dengan keluarga mas Arif
Cukuplah kemarin mereka memintaku untuk bersabar, memintaku untuk memaafkan kekhilafan mas Arif, tapi tidak untuk kali ini, kali ini tidak ada kata maaf untuk mas Arif, pengkhianatannya benar-benar nyata kulihat dengan mata kepalaku, dan itu sulit untuk aku memaafkannya
Tiba di kota Mario membelokkan mobilnya kesebuah rumah makan yang ada di kota kecil ini
"Kita butuh makan untuk menghadapi kenyataan" ucapnya sambil melepas safe belt di pinggangku
Aku berusaha tersenyum mendengar ucapan Mario. Lalu secara bersama-sama kami turun dari mobil dan berjalan menuju warung makan tersebut
Aku langsung memilih lauk yang menggugah seleraku ketika memesan makanan begitupun dengan Mario. Cukup lama kami duduk di warung tersebut, sekalian istirahat karena perjalanan kami masih sangat panjang
Empat jam berikutnya, mobil Mario berhenti di halaman rumahku, saat itu hari sudah mulai gelap. Mario turun dan mengekor di belakangku, masuk kedalam rumah
Aku langsung menghidupkan lampu lalu menyiapkan cemilan yang tadi aku beli di jalan dan air teh hangat untuk aku suguhkan pada Mario
"Aku tinggal sebentar ya, aku mau mandi" ucapku pada Mario yang menganggukkan kepalanya
Sepeninggal Intan, Mario mengitari rumah luas ini dengan matanya, berkali-kali dia tersenyum melihat jika kehidupan Intan bahagia bersama dengan mas Arif, hal itu tampak dari bangunan rumah yang cukup besar dan cukup mewah tapi ternyata isi di dalamnya tidaklah secantik dan semewah rumahnya, di dalamnya dipenuhi dengan pengkhianatan dan ketidaksetiaan
Aku yang masuk kedalam kamar mandi segera menyiram air ketubuhku lalu dengan cepat keluar dari dalam kamar mandi, berganti baju lalu turun kembali menemui Mario yang sedang berdiri melihat-lihat foto yang tergantung di tembok
"Kok nggak dimakan?" tanyaku sambil berdiri di sebelah Mario
Mario menoleh dan melihatku dari atas sampai bawah
"Kamu kok seksi banget sih Ntan...." gumamnya
Aku memundurkan kepalaku mendengar ucapannya, heran
"Seksi dari mana?, orang aku cuma pakai daster"
Mario tersenyum sambil menarik kecil hidungku
"Tapi bagiku itu sangat seksi, benar-benar menunjukkan sosok seorang istri dan ibu yang bersahaja"
Aku terkekeh lalu mendahului Mario duduk di kursi. Mario segera menyeruput teh nya lalu tak lama kemudian dia berpamitan
Sebelum keluar dari rumah, Mario kembali mengusap lembut kepalaku
"Jangan jadikan beban kejadian berat yang menimpa kamu, justru kamu harus kuat karena ini"
Aku mengangguk dan tersenyum pada Mario
__ADS_1
"Terima kasih Mario karena telah rela menjemput dan mengantarku" lirihku sambil memandang dalam matanya
"Apapun akan aku lakukan demi kamu Intan....." jawab Mario dengan pelan yang mampu membuat jiwaku melayang terbang tinggi saking bahagianya aku mendengar ucapannya