
Aku yang terus bekerja sesekali menoleh kearah Mario yang ikut membantuku
Melemparkan senyum manis padanya, bahkan sesekali membelai wajahnya
"Jangan iri...." ucapku sambil memonyongkan bibirku pada kedua kasir ku yang melirik iri pada kami
"Ibuk tu puber kedua" celetuk salah satu dari mereka
"Hah?, asem kamu yaaa...!!!" geram ku terkekeh sambil memukul lengannya
Mario ikut tersenyum melihat kami bertiga tertawa, sampai akhirnya ketika akan maghrib, ketika toko akan ditutup karena kami akan ishoma, Mario berpamitan padaku
"Aku harus dinas" ucapnya sambil mencubit hidungku ketika aku memanyunkan bibirku ketika dia berpamitan
"Kalau begitu aku juga akan pulang, biar Ibrahim saja yang aku suruh kesini nanti"
"Ya sudah kalau itu mau kamu, barengan sama aku, ya?"
Aku mengangguk. Lalu aku berpamitan dengan seluruh karyawanku yang shift kedua, barulah setelah itu kami pulang
"Papa......." Meka dan Bobby langsung berlari ketika melihat mobil Mario berhenti dan kami berdua turun
Jantung Mas Arif langsung berdenyut sakit ketika kedua anaknya lebih antusias menyambut kedatangan Mario ketimbang menyambut kedatangannya tadi
Terlebih Bobby, yang langsung melompat kedalam gendongan Mario. Sedangkan Naya langsung memeluk pinggang Mario
Dan hal itu tentu saja menimbulkan rasa iri di hati Mas Arif
"Loh, ayah kalian belum pulang?" tanyaku sambil membimbing Meka masuk
"Kata ayah dia mau nginap di sini buk"
Aku langsung menoleh kearah Mario yang juga menoleh ke arahku begitu kami mendengar jawaban Meka
Mario tersenyum kearah Mas Arif yang sejak tadi memperhatikan kami berempat yang berjalan masuk
"Turun sayang, kasihan om Mario kalau kamu ngelendot begitu" ucap mas Arif berusaha mengambil Bobby dari gendongan Mario
"Nggak mau, aku masih kangen papa...."
Tentu saja Mas Arif harus menelan ludahnya dengan perasaan kecewa mendengar jawaban jujur anaknya
"Nggak apa mas, lagian aku juga masih kangen sama Bobby"
Bobby tersenyum senang dan makin mengeratkan kedua tangannya di leher Mario
"Sayang, papa cuma nganter ibuk, papa mau dinas, kamu turun ya?" kali ini aku yang membujuknya
"Jadi papa cuma mampir?, nggak main dulu sama kita gitu?"
Mario menggeleng menjawab pertanyaan Bobby
"Tapi papa janji, sepulangnya papa dari dinas besok pagi, papa langsung kesini"
Mas Arif membuang mukanya mendengar jawaban Mario, dalam hati dia merasa tak suka karena Mario sekarang kembali lagi bersama Intan.
"Mas belum mau pulang?" tanyaku sambil berjalan menuju ruangan tempat Ibrahim bekerja
"Nggak buk, aku masih kangen sama anak-anak. Kalau boleh aku mau menginap disini"
"Hah?" aku dengan cepat menoleh kearah mas Arif lalu menoleh pula kearah Mario
"Tenang saja kak, kami akan terus berada disini. Dan seperti biasa kami juga akan kembali menginap disini. Jadi kakak nggak perlu khawatir, bukan begitu pak polisi?" jawab Dani yang melirik kearah Mario sambil tersenyum
__ADS_1
Mario tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kearah Dani
"Sayang, papa pamit ya?, papa mau dinas" bujuk Mario lagi kepada Bobby yang sepertinya masih betah ngelendot manja di gendongan Mario
"Tapi papa janji ya, besok kesini lagi. Aku itu berangkat sekolahnya setengah tujuh, jadi sebelum setengah tujuh papa sudah harus ada disini!"
"Siap komandan!!!"
Bobby terkekeh kemudian dia menurut ketika Mario menurunkannya
"Im, mas pamit ya?"
Ibrahim dan kedua temannya mengangkat jempol mereka kearah Mas Mario yang melambaikan tangan kearah mereka
Kemudian Mario berpamitan pada Mas Arif dan memeluk aku sebentar ketika dia akan pulang. Dan mas Arif kembali membuang wajahnya ketika Mario mendekap ku hangat
"Hati-hati" ucapku sambil melambaikan tangan kearahnya
Mario tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Dan aku yang tadi memang berniat hendak masuk kedalam ruangan Ibrahim melanjutkan langkahku
"Dek, kamu ke toko ya?"
Ibrahim memandang tak suka ke arahku, kemudian dia melirik kearah luar ruangan
"Kakak bukan bermaksud mengusir aku karena ingin berduaan dengan mas Arif, kan?"
Aku memundurkan kepalaku dengan bibir sedikit terangkat keatas
"Maksud loh apahhh?, enak aja!!" jawabku sambil segera meneyeng kepalanya
"Ya kali aja, tuh lihat lelaki itu tanpa malu malah mau nginep disini"
"Ststst...." aku berusaha membekap mulut lemes Ibrahim karena aku tak enak jika mas Arif sampai mendengar ucapan Ibrahim
"Kakak mau menikah sama Mario, lusa" ucapku yang membuat Ibrahim dan kedua temannya kaget
"Serius kak?" tanya mereka
Aku menganggukkan kepalaku, lalu aku menceritakan jika lusa itu kami akan sidang nikah dinas dulu, baru setelah itu kami akan nikah resmi
"Ya Alloh kak, aku senang banget dengernya" ucap Ibrahim sambil memelukku
"Makanya jangan suudzon jadi orang" jawabku sambil kembali meneyeng kepalanya
"Aku akan ke toko, kalian berdua jagain kak Intan dan dua keponakanku, jika Mas Arif macam-macam, kalian hajar saja dia" lirih Ibrahim ketika dia bangkit dari kursinya
Aku terkekeh sambil memukul lengannya begitu aku mendengar ucapan Ibrahim
Dan ketika Ibrahim keluar dari ruko, dia melirik tajam kearah mas Arif yang sekarang tampak mengobrol dengan Meka dan Bobby di tempat mereka tadi
Dan aku hanya membiarkan kedua anakku mengobrol dengan ayah mereka. Mungkin yang dikatakan Mas Arif benar, jika dia memang masih kangen dengan kedua anaknya, dan mungkin Meka dan Bobby juga kangen dengan ayah mereka
"Kemana buk?" tanya mas Arif ketika aku melewati mereka
"Belakang" jawabku sambil ngeloyor pergi
Selagi aku sibuk memotong bahan sayuran untuk aku masak malam ini, aku mendengar ada langkah kaki masuk ke dapur. Aku segera kembali ke pekerjaanku ketika aku melihat jika yang datang adalah mas Arif
"Anak-anak akrab ya buk sama Mario" ucap mas Arif ketika dia sudah duduk di kursi
Aku tidak menjawab melainkan hanya tersenyum saja
"Aku nggak nyangka jika ibuk dekat lagi dengan Mario" tambah mas Arif lagi
__ADS_1
Aku yang telah selesai memotong sayur segera membawanya ke wastafel dan mencucinya
"Aku juga nggak nyangka mas, mas tahu sendirilah bagaimana dulu aku menjauhi Mario" jawabku sambil membelakanginya
Mas Arif tersenyum kecut mendengar jawaban Intan
"Nggak nyangka ya mas, janda burik kayak aku bakal jadi ibu bhayangkari" tambahku lagi sambil sekarang membuka kulkas
Dan kembali mas Arif tersenyum kecut
"Itulah jodoh, kita nggak tahu dengan siapa akhirnya kita hidup menua. Siapa sangka jika aku bakal menikah dengan pacar dan cinta pertamaku. Puluhan tahun loh mas kami terpisah. Tapi karena jodoh tadi, mau sejauh dan selama apapun, jodoh akan menemukan caranya sendiri"
Mas Arif hanya diam ketika aku berkata demikian
"Ngomong-ngomong, mas sudah bilang belum sama Mirna jika mas disini?"
Mas Arif mengangguk, dan aku rasanya tak yakin
"Kasih tahulah istri mas di rumah biar dia nggak khawatir. Bilang sama dia, jika mas nemuin anak-anak"
Kulihat mas Arif tampak menarik nafas panjang
"Harus aku akui buk, aku tidak sepenuhnya mencintai Mirna"
Aku langsung membuang wajahku dan berdecak mendengar jawabannya. Aku yang tadi duduk berseberangan dengannya sekarang memilih untuk berdiri
"Apa kurangnya Mirna?, toh dia nggak jelek-jelek amat. Dia manis, dan aku yakin dia isti yang baik buat mas" jawabku sambil memetik cabai
"Tapi dia tidak sebaik kamu buk..."
Aku langsung menghentikan gerakanku memetik cabai lalu memutar badanku sehingga aku sekarang kembali berhadap-hadapan dengannya
"Mas, kapan sih mas itu bersyukur?. Mau wanita secantik miss world sekalipun, kalau mas nggak bersyukur memiliki dia, mas nggak bakal merasa bahagia"
"Kan aku sudah pernah bilang, belajarlah mencintai Mirna, stop ngelaba nya. Pikir masa depan, jangan hanya mikir ************"
"Toh rasanya sama saja kan mas?, nggak ada bedanya. Paling yang membedakan cuma gaya, iya kan?"
Kulihat wajah mas Arif terkesiap ketika aku berkata seperti itu
"Mas bilang Mirna nggak sebaik aku, tapi dulu aku juga nggak sebaik Mirna kan mas. Kalau aku baik, kalau aku sempurna, mas nggak akan ngelaba di luaran, mas nggak bakal terciduk sat pol pp, dan mas nggak bakal kepergok sama aku. Jadi sudah lah mas, nggak ada wanita sempurna di dunia ini"
"Kalau mas mau cari yang sempurna, mas nggak bakal nemuin nya, ke ujung dunia sekalipun"
Kali ini mas Arif langsung tertohok mendengar jawaban telak ku.
Dan aku yang semula bersikap baik padanya langsung memasang wajah masam
"Mas kalau kesini cuma mau menjelek-jelekkan Mirna, mas salah tempat. Aku nggak bakal mengompori mas untuk makin nggak suka sama Mirna. Justru aku nggak suka sama lelaki yang suka menjelek-jelekkan istrinya"
"Kan aku sudah pernah bilang, Mirna itu merelakan masa depannya dirusak sama mas, jadi hargain dong mas pengorbanan Mirna, jangan malah ngatain dia"
"Dan satu lagi, aku akan menikah dengan Mario. Jadi aku harap mas jangan berpikiran aneh-aneh. Hubungan kita hanya sebatas orang tua kedua anak kita, itu saja"
"Aku nggak mau Meka dan Bobby merasa kurang kasih sayang kedua orang tuanya, jadi tolong mas kita saling hargain"
Mas Arif masih diam ketika aku kembali membalikkan badanku dan sekarang memotong bumbu
Selesai masak, aku segera meletakkan menu yang tadi aku masak ke atas meja makan dan mengajak semuanya makan tak terkecuali mas Arif
"Makanlah, sudah lama kan mas nggak nyicipin masakan aku"
Mas Arif hanya tersenyum kecut ketika aku mengucapkan kalimat tersebut
__ADS_1