
Selesai dengan proses ijab kabul, barulah kedua anakku diperbolehkan keluar. Aku dan Mario yang sudah duduk di pelaminan menyambut keduanya dengan senyum sumringah. Meka yang duduk di sebelahku tampak celingukan, seperti mencari sesuatu
“Ayah tadi mana buk?” bisiknya
Aku tersenyum kearahnya sambil balas berbisik
“Pulang. Kan Meka sendiri yang bilang nggak boleh ngundang mantan”
Meka memasang senyum begitu mendengar jawabanku, kemudian dia balas berbisik lagi
“Ayah pasti cemburu”
Aku kembali tersenyum mendengar ucapannya. Dan segera memintanya untuk duduk di kursi yang ada di sebelahku, dan tidak bertanya lagi tentang ayahnya, karena aku tak ingin mendengar tentang ayahnya lagi. Sementara Bobby yang telah bersama dengan Mario tampak mengelus-elus wajah tampan Mario. Dan Mario hanya tersenyum dengan perlakuan Bobby
Cara resepsi berlangsung sampai sore. Aku dan Mario yang duduk di pelaminan terus mengembangkan senyum kami kearah para tamu undangan. Tamu yang paling banyak tentulah dari para pelangganku. Karena aku memang mengundang mereka semua. Baik melalui undangan langsung juga melalui undangan di media social
Dan aku tidak menyangka, jika undanganku yang melalui media sosial direspon baik dengan teman dunia maya dan para pelangganku. Bahkan orang tuanya pak Uki turu hadir, dan memberikan bingkisan yang katanya titipan dari pak Uki dan bu Miranda untukku
Tamu selanjutnya tentulah dari teman sejawat Mario sesama polisi. Jika yang satu kantor sudah datang ketika prosesi ijab tadi pagi, maka yang berlainan kantor dan daerah datangnya sore hari. Dan yang membuatku kaget adalah temannya Mario yang dari daerah tempat mas Arif berdinas dulu
Polisi yang rumah dinasnya pernah kami jadikan tempat istirahat ketika aku memergoki mas Arif berselingkuh dengan Mirna.
“Selamat pak Mario. Akhirnya......” ucapnya ketika menjabat hangat tangan Mario
Aku pun tersenyum hangat pada beliau ketika beliau menyalamiku
Dan tamu terus berdatangan sampai akhirnya kembali ada tamu yang tak diundang naik kearah kami yang masih sibuk menyalami para tamu yang terus antri menyalami kami
“Mirna…..” lirihku kearah Mirna yang saaat ini naik ke atas panggung. Aku segera berbisik kearah Mario yang menganggukkan kepalanya ketika mendengar bisikanku
Ibrahim, adikku yang paling jeli sejak tadi begitu melihat Mirna naik langsung ikut naik juga dan menyerobot dan berdiri di sebelah Mario
“Ikut aku!” ucap Ibrahim menarik cepat tangan Mirna ketika wanita itu mengulurkan tangannya kearah Ibrahim. Aku lihat ada semacam penolakan ketika tangannya ditarik paksa oleh Ibrahim
Dengan setengah memaksa akhirnya Ibrahim berhasil membawa Mirna turun tanpa sempat bersalaman denganku terlebih dahulu.
“Intan……” ucap Mirna menoleh ke arahku ketika dia ditarik paksa oleh Ibrahim turun
Aku hanya memasang senyum segaris kearahnya yang terus ditarik oleh Ibrahim. Dan setelah dia berhasil dibawa turun oleh Ibrahim, barulah aku menarik nafas lega. Dan kembali mengembangkan senyumku menyalami para tamu undangan
“Lepas!!!” bentak Mirna ketika tangannya masih saja dicekal kuat oleh Ibrahim
“Siapa dia Im?” tanya keluarganya ketika melihat Ibrahim membawa Mirna masuk kedalam rumahnya. Ibrahim tidak menjawab pertanyaan dari keluarga besarnya, melainkan segera mendorong kasar tubuh Mirna hingga nyaris perempuan itu terjatuh
__ADS_1
“Nggak usah ditolong!” ucap Ibrahim cepat ketika dilihatnya salah satu bibinya berniat memegangi tubuh Mirna
“Kamu ngapain kesini, hah? Mau bikin kacau seperti suami kamu yang brengsek itu??!” bentak Ibrahim
Mirna menelan ludahnya, wajahnya menegang begitu mendengar pertanyaan Ibrahim. Dan keluarga Ibrahim yang tadi mendengar ucapannya segera berdiri, bahkan beberapa bibinya memepet tubuh Mirna
“Ohhh, jadi kamu pelakor yang dulu merebut suami keponakan saya?” tanya salah satu perempuan sambil mendorong dada Mirna
Wajah Mirna kian menegang, dan dia menggelengkan kepalanya.
“Ngapain kamu kesini, mau menghancurkan kebahagiaan keponakan saya lagi?” lanjut perempuan itu lagi dengan terus mendorong dada Mirna sehingga Mirna membentur tembok
“Nanti bi, kita perlu dengar apa alasan dia kesini” ucap Ibrahim cepat dengan menarik mundur bibinya yang terus mendorong Mirna
“Sudahlah dek, kakak pusing” jawabku yang masuk ke dalam rumah, dan langsung menarik tangan Ibrahim
Keluarga besarku yang melihat kami masuk, beralih mendekapku dan Mario secara bergantian
“Heeehhh, kamu mau kemana?” tanya bibiku yang gercep menangkap tangan Mirna yang mau kabur
“Sayang kamu kalau mau masuk, masuk aja. Aku mau ngomong sama Mirna” ucapku menoleh pada Mario yang menggelengkan kepalanya
“Masalah kamu, masalah aku. Aku nggak akan biarkan perempuan ini nyakitin kamu” ucap Mario
“Kamu dengar apa yang dibilang suami aku?. Apa perlu aku ulangi siapa suami aku, hah?” ucapku santai sambil melepas asesoris di kepalaku lalu memberikannya pada mua yang berdiri di dekatku
“Kamu ngapain kesini? Cari suami kamu, iya?” tanyaku lagi karena sejak tadi Mirna hanya diam
“Jawab atau kamu aku tabok!” ucap bibiku yang tampaknya sudah sangat kesal
“Mas Arif mana, kemarin mas Arif pergi dari rumah, dia bilang jika dia mau menemui kamu” jawab Mirna takut-takut
Aku tertawa mengejek mendengar pertanyaannya.
“Nyari suami sendiri ketempat aku. Gila kamu!!” bentakku
“Sebentar, kamu nyari suami kamu kan. Sebentar yaaa…..” jawab Mario santai sambil mengusap layar handphone nya
“Mana lelaki yang kalian bawa tadi, tunjukkan wajah dia!”
Kami semua yang ada di ruangan besar rumah orang tuaku, menatap kearah Mario yang saat itu tampak serius menatap layar hp nya. Sepertinya dia sedang video call dengan anak buahnya. Tak lama terdengar suara bentakan, dan aku yakin itu bentakan dari anak buahnya Mario ketika dia memanggil nama mas Arif
“Nih suami kamu!!” ucap Mario memamerkan hp nya kearah Mirna yang tampak menelan ludahnya
__ADS_1
“Mas……?” hanya itu suara yang dapat keluar dari mulut Mirna
“Ngapain kamu disana?. Kan aku sudah bilang, nggak usah susul aku!!!!” terdnegar bentakan mas Arif
Mario langsung menarik kembali hp nya, dan menatap tajam wajah mas Arif
“Apa perlu istri kamu ini aku kirim juga ketempat kamu?”
Mirna menggeleng cepat begitu dia mendengar ucapan Mario
“Nggak pak, nggak mau. Aku akan pulang sekarang juga. Aku minta maaf” ucap Mirna dengan nada suara bergetar
Aku menarik nafas panjang ketika mendengar jawabannya. Kemudian aku kembali berdiri berhadap-hadapan dengan Mirna
“Sekali lagi kamu cari suami kamu ketempat aku, aku pastikan kamu akan aku kirim ke penjara!!!”
Mirna menggeleng cepat denga raut takut mendengar ancamanku
“Pergi kamu, atau kamu saya tabok sekarang juga!!!” bentak bibiku yang langsung membuat Mirna lari terbirit-birit keluar dari dalam rumah orang tuaku
Aku kembali menarik nafas panjang ketika akhirnya pengacau yang datang ke pernikahanku pergi semua. Aku menoleh kearah Mario yang tampak terkekeh bersama keluargaku yang lainnya, tak sedikitpun terlihat kesal atau lelah di wajahnya
Sementara Mirna yang telah lari keluar dari dalam rumah orang tuaku, sekarang berjalan cepat di dalam tenda.
“Eitss, tunggu dulu!!!” ucap beberapa ibu-ibu memotong langkah cepat Mirna.
Kembali wajah Mirna menegang ketika sekelompok ibu-ibu tadi mengehentikan langkahnya
“Kamu pelakor yang dulu ada di video Intan kan?”
Mata Mirna terbelalak, dan wajahnya kian menegang. Dia menggeleng cepat, tetapi barisan ibu-ibu itu menggeleng tak percaya melihat jawabannya. Secara kompak mereka menyeret paksa Mirna dan memukuli tubuh dan kepala Mirna dengan geram
“Dasar wanita gatel. Tadi yang laki kesini. Sekarang yang perempuan. Punya nyali kamu yaaa….” Geram mereka sambil terus memukuli Mirna yang berteriak minta tolong
Aku yang mendengar suara gaduh diluar melongokkan kepalaku. Begitu juga dengan keluargaku yang lain
“Sudah kamu masuk saja Ntan. Biar bibi yang urus” ucap bibiku yang tadi hendak memukul Mirna
Secepat kilat dia keluar diikuti oleh bibi-bibiku yang lain. Dan langkahku yang sudah hendak menyusul mereka dihentikan oleh Mario
“Biarkan. Kita masuk!” ucapnya yang terpaksa kujawab dengan anggukan kepala
Sementara di dalam tenda, barisan ibu-ibu yang memukuli Mirna kian banyak sehingga membuat wanita itu makin tersudut dan tak berdaya. Teriakan minta ampun dan tolong dari mulutnya tidak dihiraukan oleh para ibu-ibu yang sudah terlanjur geram padanya. Berbagai sumpah serapah keluar dari mulut mereka menyumpahi dan memaki-maki Mirna
__ADS_1