
"Apa?, mas Arif ngajak kamu rujuk?"
Aku mengangguk kearah Mario yang duduk di depanku, saat ini kami sedang berada di rumah, sementara kedua anakku sedang bertandang ke rumah orang tuaku
"Terus kamu jawab apa?"
Aku diam, menggerakkan kepalaku kearah Mario yang berpindah duduk di sebelahku
"Ntan...?"
Aku masih diam, pura-pura memasang wajah sedih dan terlihat bingung
"Intan....?"
Aku menarik nafas panjang dan masih berusaha menunjukkan wajah sedih
"Kami punya dua anak Mario"
Mario yang begitu pindah di sebelahku memandang serius wajahku sekarang menarik nafas dalam dan membuang wajahnya
"Mas Arif benar, tidak ada lelaki yang benar-benar akan mencintai dan menyayangi kedua anak kami seperti dirinya"
Dengan cepat Mario menarik bahuku, diarahkannya padanya
"Lihat aku Intan Permata Sari!"
Aku menelan ludahku mendapati wajahnya yang kian serius
"Tidak perduli Meka dan Bobbi itu anak mas Arif, ketika aku menjadi suami kamu, mereka berdua otomatis menjadi anak aku juga. Aku tidak akan mengabaikan mereka, aku mencintai kamu dan juga anak-anakmu, sampai sini faham kan?"
Aku hanya bisa mengedip-ngedipkan mataku mendengar ucapan Mario
"Tapi...?"
"Nggak ada tapi-tapian, Meka dan Bobbi anak aku juga, aku bakal menyayangi mereka sama seperti mas Arif menyayangi mereka"
"Kamu tidak berkata setuju kan dengan ajakan mas Arif?"
Aku masih diam dan masih terus memandang dalamnya mata Mario yang menatapku dengan serius
"Ntan....?"
Aku menarik nafas panjang kemudian melepaskan tangan Mario yang masih menggenggam kedua bahuku, lalu memandang ke depan, menghindari tatapannya
"Intan??!"
Aku menoleh karena nada suara Mario meninggi
"Menurut kamu aku harusnya menjawab apa?"
"Tolak, aku adalah masa depan kamu, aku jauh lebih mencintai kamu ketimbang mas Arif, aku jauh lebih mengenal kamu dibanding mas Arif, Ntan" nada suara Mario masih tinggi, aku yakin saat ini dia telah marah
"Jika kamu sungguh-sungguh mengenal aku terus kenapa kamu masih bertanya?"
Mario langsung terdiam, matanya yang tadi memandang tajam ke arahku berubah teduh dan wajahnya yang semula tegang berangsur tenang
"Jadi kamu menolak?"
Aku mengangguk dan memasang senyum menggoda kearah Mario yang matanya berubah gemas melihat aku menahan tawa
__ADS_1
"Kamu....." geramnya sambil menarikku kedalam pelukannya
"Jangan bercanda seperti tadi, aku nggak suka"
Aku yang saat ini berada di dadanya mendongakkan kepalaku lalu mengangguk, dan aku memejamkan mataku ketika Mario berkali-kali menciumi puncak kepalaku
"Aku sangat mencintaimu Ntan, sangat mencintaimu"
Senyumku kembali mengembang dan aku makin menempelkan kepalaku di dada bidangnya
"Aku juga mencintaimu Mario....." lirihku
Detik berikutnya sudah bisa kutebak bagaimana akhirnya Mario menarik wajahku dengan kedua tangannya. Lalu kurasakan bagaimana lembutnya bibir Mario menyesap bibirku, dalam sangat dalam
Hingga aku yang semula duduk bersebelahan dengannya berpindah duduk di pangkuannya dengan melingkarkan kedua tanganku di lehernya
...----------------...
Aku tertegun begitu melihat postingan yang kemarin aku buat begitu banyak komentar dan like
buanglah mantan pada tempatnya
Aku tersenyum membaca satu komentar yang menggelitik hatiku
*balikan sama mantan itu ibarat membuka buku lama, yang isinya sudah bisa ditebak
itulah mengapa ada istilah 'hargai selagi ada'
Semangat Intan sayang, kami tahu kamu wanita kuat*
Aku kembali tersenyum membaca komentar-komentar dari para temanku baik teman yang aku kenal maupun teman dunia maya
"Oh.... ada mbak Sari...." gumamku yang menyadari jika mamanya mas Arif pasti diberitahu oleh mbak Sari tentang postinganku
Puas dengan melihat postinganku kemarin, aku kembali ke mode normalku, menjadi pedagang online lagi
Kembali aku memposting daganganku lalu setelah muncul komentar-komentar aku membalasnya, begitu seterusnya sampai akhirnya ada pesanan yang lumayan banyak yang membuat senyumku merekah
Dua jam sudah waktu yang aku habiskan dalam bersosial media, hingga akhirnya aku berhenti ketika Bobbi pulang sekolah
Rutinitasku langsung berubah menjadi emak-emak dengan mengurusi Bobbi hingga dua jam berikutnya Meka pulang, dan kembali aku mengurusi Meka
Saat sore, sewaktu aku dan kedua anakku duduk di teras belakang, ada suara ketukan pintu di depan. Aku tidak mendengar, melainkan Meka karena saat itu dia ke depan untuk mengambil bukunya karena dia ada pekerjaan rumah dan memintaku untuk membantunya mengerjakan
"Masuk oma, mama ada di belakang"
Sambil berkata begitu Meka sudah berlari ke belakang dan memberitahuku
Aku segera berdiri dari kursi lalu berniat masuk kedalam ketika mamanya Mario yang sekarang telah kupanggil dengan sebutan mama muncul di ambang pintu
"Mama?" ucapku sambil mengulurkan tanganku
Mama mengambil tanganku sambil merangkulku
"Bisa malam ini ke rumah mama?"
Aku mengernyitkan dahiku
"Kedua adiknya Mario pulang, dan mereka ingin ketemu sama kamu"
__ADS_1
"Kenapa nggak diajak sekarang saja ma mereka kesini?"
Mamanya Mario tersenyum sambil ikut duduk
"Mereka baru sampai, capek katanya"
Aku tersenyum kaku mendengar ucapan mamanya Mario
"In Syaa Alloh ma, ba'da Isyaa aku kesana sama anak-anak"
"Mama akan suruh Mario yang jemput kamu"
"Loh, Mario kan dinas ma?"
"Sekarang dia sudah di jalan pulang, dia begitu dikabari kalau kedua adiknya pulang langsung bilang jika dia akan pulang"
Aku tersenyum mendengar ucapan mamanya Mario. Selanjutnya kami mengobrol ringan sampai akhirnya mamanya Mario pamit pulang dan aku mengantarkan beliau sampai di depan motornya
Aku dan kedua anakku melambaikan tangan kami ketika mamanya Mario menjalankan motornya
Hingga akhirnya jam setengah delapan malam, telah terdengar suara deru motor di depan
"Sayang.....?" ucap Mario sambil mengetuk pintu
Aku yang memang sudah sejak tadi menunggunya segera membuka pintu dan menyambut kedatangan Mario
"I miss you" lirih Mario sambil mengecup keningku
Aku memukul lengannya karena perlakuannya yang sering mendadak mengecup dan menciumku tanpa memberi aba-aba dulu
"Sudah siap kan?, yuk....!" ajaknya
Aku mengangguk lalu memanggil Meka dan Bobbi
Dengan cepat kedua anakku berlari menghambur kearah Mario yang merentangkan tangannya, mendekap mereka dengan sayang
"Anak papa sudah cantik dan ganteng banget sih, memangnya mau kemana?" goda Mario
Meka dan Bobbi terkekeh tapi terus mengeratkan pelukan mereka pada perut Mario
Aku yang masuk kedalam tak lama telah keluar dengan membawa buah tangan untuk calon ipar ku yang saat ini telah menunggu kedatanganku
Kulihat wajah Mario tampak memandang heran pada kantong kresek yang ku tenteng
"Untuk kedua adik kamu, nggak enak aku jika nggak bawa apa-apa buat mereka" ucapku yang faham dengan tatapan herannya
Mario mengacak rambutku sambil tersenyum
Lalu setelahnya aku naik ke atas motor dengan Bobbi yang berdiri di depan dan Meka yang duduk di antara aku dan Mario
Lima menit berikutnya kami telah masuk ke halaman luas rumah Mario. Dan degup jantungku tiba-tiba berpacu cepat ketika motor berhenti, dan kami turun
Sepertinya Mario mengetahui jika aku gugup, dia segera mengulurkan tangannya, menggenggam erat tanganku
"Kamu kenapa gugup begini?, rileks saja, di dalam itu cuma adik aku, bukan sesuatu yang menakutkan sehingga kamu harus gugup begini"
Aku memaksa senyum kearah Mario dan mengikuti langkahnya yang terus menggenggam erat tanganku
Dan degup jantungku kian berpacu cepat ketika sampai di ruang tamu, semua mata langsung tertuju kearah kami.
__ADS_1
Aku langsung melepaskan tanganku dari genggaman tangan Mario dan memaksa senyum kearah mereka yang saat ini menatap kearah kami