
Aku hanya bisa menelan ludahku ketika Mario dengan tatapan marah mengarahkan pistol yang ada di tangannya kearah mas Arif dan Ibrahim. Sementara Dani dan Reno reflex mengangkat tangan mereka. Mungkin jika suasananya tidak seserius seperti ini aku pasti sudah terbahak-bahak melihat ekspresi ketakutan Dani dan Reno yang mirip penjahat yang akan ditangkap
“Beraninya keroyokan” sungut mas Arif
“Diam kamu!!!” bentak Ibrahim
“Kamu yang diam, ini urusan aku. Kamu anak kecil jangan ikut campur!!” mas Arif tak kalah membentak
BUGGHHHHH
Kembali tinju melayang kewajah mas Arif dari Ibrahim, dan kembali tanpa bisa dielak keduanya kembali baku hantam
Dani dan Reno bergeming dengan tangan yang masih terangkat di atas. Melihat keduanya diam aku segera membentak mereka, meminta bantuannya karena aku kewalahan melerai mas Arif dan Ibrahim
“Berhenti!!!. Mas Arif, jangan buat aku khilaf mas!!!” Mario membentak sambil melayangkan tendangan kearah kepala mas Arif yang membuatnya yang tadi menindih Ibrahim langsung ambruk kesamping
Aku langsung mengangkat kepala Ibrahim, menopangnya di pahaku, sementara Dani dan Reno langsung mengunci pergerakan mas Arif. Dan Mario dengan wajah marahnya, saat ini langsung menarik paksa dagu mas Arif sementara pistol yang sejak tadi ada di tangannya di selipkannya kembali ke pinggang
“Pengecut kamu Mas. Bukan begini kalau gentle” geram Mario sambil membuang wajah mas Arif
Lalu Mario mendekatiku dan Ibrahim, lalu dia segera menarik tangan Ibrahim dan membawa Ibrahim masuk
“Cepat kamu pergi dari sini, jika tidak aku akan telpon polisi dan suruh mereka menangkap kamu karena kamu telah membuat keributan disini” geramku kearah mas Arif dengan tatapan benci
Setelah itu aku langsung menyusul Mario dan Ibrahim masuk. Dani dan Reno langsung menyeret mas Arif dan membawanya ke jalan raya yang memang berjarak sekitar dua puluhan meter dari ruko tempatku
“Awas kalau kesini lagi!!” bentak Dani dan Reno sambil mengarahkan tinju mereka kearah mas Arif
Mas Arif mendengus kesal dan hatinya makin kesal dan marah dengan Intan. Disaat dia kesal dan marah, hp nya berdering dan itu panggilan dari istrinya, Mirna
Segera dimasukkannya kembali hp kedalam saku celana dan mas Arif langsung menyetop sebuah angkot yang lewat
Dan kembali ketika di dalam mobil, hp nya berdering dan dengan kesal akhirnya diterimanya juga telepon dari istrinya tersebut
“Aku lagi di jalan mau kerumah mama, nanti begitu sampai rumah mama aku telepon”
Selesai berkata begitu, tanpa menunggu jawaban dari Mirna, mas Arif langsung mematikan hpnya.
Butuh sekitar setengah jam untuknya sampai di rumah orang tuanya, karena suasana masih pagi, tentulah rumah orangtuanya masih sepi
Mas Arif langsung berjalan kearah samping, lewat belakang dan benarlah dugaannya. Papanya sedang duduk di amben yang ada di bawah pohon rambutan sedang memberi makan burung peliharaannya sementara mamanya berkutat di dapur. Sepertinya sedang masak, karena tercium aroma lezat ketika mas Arif tiba di halaman belakang
“Assalamualaikum” ucap mas Arif ketika tiba di dekat papanya
Tentulah papanya kaget dengan terlonjak dan menoleh cepat kebelakang
“Loh Rif, pagi-pagi kok kamu sudah disini?”
Mas Arif tidak menjawab pertanyaan papanya melainkan segera masuk dan kembali terdengar suara kaget dari sang mama, sama seperti papanya
Tak lama mas Arif keluar lagi dari dalam rumah dengan membawa gelas berisi air hangat dan langsung duduk di dekat papanya yang memperhatikannya dengan serius
“Wajah kamu kenapa?”
Mas Arif tampak mengusap wajahnya yang terasa sakit bekas pukulan Ibrahim yang membabi buta tadi. Tak lama muncul pula sang mama dengan membawa secangkir teh dan meletakkannya di depan Arif
“Wajah kamu kenapa bengep-bengep gitu?”
Mas Arif kembali harus menahan sakit ketika mamanya menarik wajahnya, dan berusaha melepaskan tangan sang mama dari wajahnya
__ADS_1
“Kamu digebukin orang?”
Mas Arif tidak menjawab melainkan menarik nafas panjang dan menarik rambutnya dengan kasar
“Rif?” kejar mamanya lagi
“Aku berkelahi dengan adiknya Intan, ma”
“Ibrahim? Kok bisa?”
Kembali Arif menarik nafas panjang dan mulai menceritakan semuanya
“Lah, kenapa kamu sewot tahu Intan mau nikah?” Tanya mamanya setelah mas Arif selesai dengan ceritanya
Mas Arif tidak menjawab melainkan menatap kosong ke depan
“Jangan ngomong kalau kamu masih mencintai perempuan itu” geram sang mama sambil membuang mukanya
“Ma, aku nggak suka aja Intan menikah. Kalau Intan menikah, terus anak-anak aku bagaimana? Mereka akan hidup dengan ayah tiri. Nggak ada ayah tiri yang baik ma, apalagi aku ada anak perempuan” jawab mas Arif memberi alasan
Mamanya tertawa kecut mendengar alasan yang dilontarkan oleh anaknya
“Sudahlah Rif, kamu mau alasan apa juga mama nggak percaya. Mama tahu kok kamu masih mencintai Intan. Kamu nggak suka Intan menikah bukan karena kamu khawatir masa depan anak kamu. Tapi kamu nggak rela Intan bahagia, iya kan?”
Mas Arif membuang mukanya dan terburu mengambil cangkir teh yang tadi diletakkan mamanya di depannya, segera menyeruputnya untuk menghindari pertanyaan lanjutan dari sang mama. Sementara papanya diam saja dan lebih fokus mengurusi burung peliharaannya ketimbang masuk kedalam obrolan anak dan istrinya
“Kapan Intan nikah?” Tanya mamanya lagi
“Besok ma, nikah dinas dulu”
“Nikah dinas?” kembali mamanya bertanya, tapi kali ini dengan nada bingung
“Polisi?, serius kamu? Polisi mana yang mau sama janda burik kaya dia?”
Mas Arif mendecak kesal mendengar ucapan mamanya tentang Intan
“Dia sekarang janda kaya ma, tentulah semua laki-laki mau sama dia”
Mamanya mas Arif mencibir, dan melengos tak senang mendengar jawaban anaknya. Dan mas Arif langsung meluruskan kakinya ketika hp nya kembali berdering
Dengan mendecak akhirnya diterimanya juga panggilan dari Mirna
“Mas kemana sih, janjinya pergi sebentar, semalaman nggak pulang. Ini sudah pagi masih juga nggak pulang”
Mas Arif langsung memutar matanya dengan malas begitu mendengar suara Mirna marah. Lalu dia bangkit dari duduknya dan masuk kedalam rumah. Dia tak ingin orang tuanya mendengar keributan mereka
“Sejak kapan kamu berani melarang-larang aku pergi, hah? Terserah aku mau kemana, bukan urusan kamu”
“Mas, aku ini istri kamu. Aku wajib tahu kamu kemana dan dimana. Apalagi kamu pergi nggak pamit, aku khawatir mas”
“Sudahlah Mirna, jangan banyak bacot jika masih mau jadi istriku”
“Nggak sopan kamu ya mas, aku nanya baik-baik kamu malah jawabnya kaya gini”
“Aku di rumah mama sekarang. Faham kamu!!”
“Iya sekarang, kemarin sama semalam kamu dimana?, jangan bilang kalau penyakit selingkuh kamu kumat lagi ya mas”
Mas Arif tertawa mengejek mendengar ucapan Mirna
__ADS_1
“Yakin kamu mau dengar aku dimana kemarin dan semalam?”
Terdengar tarikan nafas panjang dari seberang. Dan mas Arif semakin bernafsu ingin membuat hati istrinya itu cemburu dan marah
“Kenapa diam, takut?”
Mirna masih diam, sejujurnya dia tidak berani mendengar jawaban dari suaminya, tapi harus diakui olehnya jika dia penasaran
“Kamu dimana?” akhirnya kalimat itu meluncur pula dari bibirnya
“Aku di rumah Intan. Dan aku tidur disana”
Mirna mendekap mulutnya, dan tak terasa air mata mengalir di wajahnya
“Ah sudahlah, mood ku hilang sekarang. Jangan telepon aku lagi, jika aku pingin pulang, aku akan pulang, tapi jika tidak… yaa bisa dipastikan jika aku tidak akan pulang”
“Tapi mas?”
“Nggak ada tapi-tapian, aku ngantuk. Aku mau tidur lagi, semalaman aku begadang dengan keluargaku”
Dan air mata kembali mengalir deras di wajah Mirna mendengar jawaban dari suaminya
“Tega kamu mas, aku disini semalaman nggak bisa tidur mikirin kamu, khawatir jika kamu kenapa-napa, malah kamu senang-senang dengan Intan” isak Mirna yang jelas ditangkap oleh telinga Mas Arif
Tapi mas Arif memang benar-benar tidak memperdulikan bagaimana perasaan istrinya, dengan santai dia kembali nyelonong keluar. Ke tempat orang tuanya tadi
Sementara aku yang masuk kedalam rumah langsung tergopoh duduk di dekat Ibrahim yang wajahnya masih menyiratkan kemarahan dan rasa kesal
Dan Mario yang duduk di sebelahnya, ikut menatap ke arahku tanpa ekspresi
“Sakit dek?” tanyaku sambil memegang wajah dan sudut bibir Ibrahim yang merah
Ibrahim dengan kasar menepis tanganku dan langsung menatap ke arahku dengan tatapan marah
“Kan aku sudah bilang sama kakak, jangan kasih hati sama orang seperti Arif. Ini akibatnya kalau nggak nurut!!!” bentaknya
Aku menelan ludahku mendengar Ibrahim membentakku. Seumur hidupku baru kali ini Ibrahim marah dan membentakku. Dan aku yakin ini pasti karena dia sangat emosi
“Awas kalau kakak nikah nanti ngundang dia!” geramnya lagi
Aku mencoba untuk nyengir, berusaha membuat Ibrahim melunak, tapi sia-sia. Ibrahim masih tampak kesal padaku
“Buanglah mantan pada tempatnya kak. Bukan berhubungan kembali dengan mantan. Nggak ada mantan terindah itu kak, omong kosong itu kalau ada” lanjutnya masih dengan nada emosi
“Ada kok Im, buktinya mas sama kakakmu. Mas dan kakakmu kan mantan dulunya” jawab Mario santai yang membuatku langsung tertunduk menahan tawa
Ibrahim melengos mendengar jawaban Mario, lalu dia segera berdiri
“Saraf kalian berdua” ucapnya kesal dengan wajah cemberut
Aku langsung terbahak begitu Ibrahim meninggalkan kami, begitu juga dengan Mario. Dan Mario langsung mengusap kepalaku
“Aku tahu niat kamu baik sama mas Arif, Intan. Tapi benar apa yang dikatakan Ibrahim, jangan terlalu dekat dengan mantan. Nggak baik. Aku nggak cemburu mas Arif disini, tapi aku nggak suka saja ketika dia bilang bahwa dia nggak rela aku menikah sama kamu”
“Kesannya bahwa mas Arif masih mencintai kamu, dan itu membuat sudut hati aku meradang” lanjut Mario
“Itu namanya cemburu, Mario…..” jawabku sambil mencubit kecil hidungnya
“whatever lah Intan, tapi yang pasti, besok kita akan nikah dinas. Dan setelah itu secara kedinasan kamu sah istri aku. Jadi mas Arif nggak bisa berkutik lagi”
__ADS_1
Aku tersenyum lalu segera memeluk Mario