
Semuanya bubar ketika sudah beranjak malam, dan aku yang telah letih karena seharian harus duduk berdiri di pelaminan juga masuk kedalam kamar menyusul Mario yang telah lebih dulu masuk
Aku nyengir kearah Mario yang menatap ku dengan dalam, kemudian aku mengeringkan wajahku yang tadi aku basuh sebelum aku masuk ke dalam kamar
"Siap?" tanya Mario ketika aku sudah meletakkan bantal untukku di sebelahnya yang telah lebih dulu berbaring
Aku menggeleng
"What?, kenapa?" tanya Mario begitu melihat aku menggeleng
"PMS" jawabku lagi
Mario langsung terhenyak dan mengusap kasar wajahnya dan kembali mengubah posisinya menjadi miring ke arahku
"Kamu nggak bohong kan sayang?" tanyanya tak yakin
Aku menepuk keningku dan segera turun kembali dari ranjang, membuka lemari dan mengeluarkan pembalut yang memang aku letakkan di sana
"Nih kalau nggak percaya, apa mau aku buka juga biar kamu yakin?" tantang ku
"Siapa takut?" tantang Mario balik
"Heeehhh...." jawabku cepat sambil menggeleng kuat kearahnya
"Terus malam pertama harus aku lewati dengan merana kalau begini ceritanya?" tanya Mario yang ku jawab dengan terkekeh
"Ya paling dua har lagi juga selesai kok" jawabku santai dengan segera menarik selimut dan memiringkan posisiku dengan mendekap pinggang Mario
Mario menoleh dan tampak sekali wajahnya frustasi
"Ya elah, timbang nunggu dua hari loh" protes ku ketika dia berkali-kali menarik nafas panjang
Mario akhirnya kembali menarik nafas panjang kemudian balik mendekap ku juga
"Janji ya dua hari lagi...." ucapnya sendu sambil membelai wajahku
Aku diam dan balas membelai wajahnya, kemudian wajah kami sama-sama mendekat dan bibir kami langsung menyatu
Dapat kurasakan jika nafas Mario sangat memburu dan terdengar kasar, sehingga membuat aku harus mengusap wajahnya dan kembali meminta maaf padanya
"Okelah, saya sudah biasa kok nahan" jawab Mario yang kembali terdengar frustasi
Aku menahan tawa saat mendengar jawabannya. Ingin sekali aku tertawa kencang, tapi aku takut membuatnya tersinggung
"Sudah, kamu tidurlah. Tidur di pelukan aku ya?" lirih Mario sambil menarik kepalaku sehingga aku meletakkan kepalaku di lengannya
Entah memang aku yang ngantuk atau memang begitu nyamannya tidur bersama Mario, sehingga mata aku langsung terpejam. Hingga aku tak tahu bagaimana susahnya Mario menahan hasratnya semalaman
Sementara di tempat lain, tepatnya di dalam penjara, Arif yang masih menahan dongkol pada istrinya hanya bisa duduk di pojokan tanpa sedikitpun mendekati istrinya yang saat ini mulai berbaring di lantai
__ADS_1
"Menyebalkan....!!" geram Arif
Dan pikirannya mulai menerawang mengingat bagaimana jika ini adalah malam pertama bagi Intan dan Mario
Dan kepala Arif semakin terasa sakit membayangkan itu. Sehingga rasa dongkol pada Mirna, istrinya makin menjadi-jadi
"Heh, Mirna, kalau tidur jangan ngorok, buat pusing kepala aku saja!" kembali Arif membentak istrinya
Mirna yang memang sejak tadi tidak mengorok, menoleh tajam kearah suaminya dengan wajah masam
"Mas tahu jika aku tidak ngorok selama ini. Mas nggak usah cari alasan menumpahkan kekesalan sama aku"
Arif melengos, dan dia menekuk wajahnya
...****************...
Aku terbangun seperti biasanya, segera aku keluar dari dalam kamar dan langsung bergabung dengan keluarga besar ku yang membereskan belakang
"Eh pengantin baru sudah bangun..." goda mereka ketika melihatku
"Gimana?" goda yang lain
"Apanya?" jawabku yang segera turut membantu mereka
Yang lain pada cekikikan sehingga aku langsung memasang wajah manyun
Kembali keluarga besar ku cekikikan yang membuatku menjulurkan lidah ke arah mereka
Ketika aku masih sibuk membantu yang lain, Mario bangun. Dan terlihat celingukan
"Kenapa?" tanyaku berjalan mendekap kearahnya
Mario tersenyum kemudian langsung menarik tanganku masuk kembali ke dalam kamar
"Kita hari ini pulang ke rumah mama, ya?" ucapnya yang membuatku bengong
"Biar impas, sehari di rumah ibuk, sehari di rumah mama, terus sudah itu kita balik ke ruko. Atau kamu mau kita tinggal di rumah dinas?"
Aku diam, tampak berfikir sejenak. Kemudian aku mengangguk menyetujui ide Mario untuk menginap di rumah mamanya
"Tapi agak siangan dikit. Aku masih bantu-bantu" ucapku yang dijawab Mario dengan anggukan kepala
Jadilah ketika selesai makan siang, dan seluruh pekerjaan beres-beres selesai aku dan Mario berpamitan pada keluarga besar ku
"Main-mainlah ke ruko kami, atau bisa juga ke toko. Terserah mau ambil apa, gratis" tawarku yang langsung dijawab ucapan setuju dari keluarga besar ku
Setelahnya barulah kami naik kedalam mobil Mario, bersama kedua anakku
Kedatangan kami ke rumah mama Mario tentulah disambut beliau dengan sukacita. Hingga aku merasa jika aku itu pulang ke rumah orang tuaku, bukan ke rumah mertuaku
__ADS_1
Malamnya Meka dan Bobby tidur di kamar sendiri-sendiri, karena memang di rumah mama ada dua kamar yang tidak terpakai, kamarnya Tasya dan Raisa
Dan besoknya kami kembali berpamitan pada mama dan papa untuk kembali ke ruko
"Kenapa hanya semalam disini?" tanya mama dengan wajah sedih ketika kami berpamitan
"Tenang saja ma, kami janji tiap weekend kami bakal kesini kok" janjiku pada beliau
Karena merasa jika Mario bukanlah milik beliau seutuhnya lagi, akhirnya mama merelakan Mario untuk tinggal bersama kami di ruko
Kami tiba di ruko sore hari, saat itu telah ada Ibrahim dan dua temannya yang sudah pulang dari pengantaran paket
"Ada paket khusus untuk kakak" ucap Ibrahim ketika melihat kami masuk
Aku segera berjalan kearah sebuah kardus besar yang bertuliskan namaku di sana lengkap dengan alamatnya
Dan aku tersenyum begitu membaca pengirimnya
"Padahal beliau sudah mengirimkan amplop pada ayahnya" gumamku ketika membuka kardus besar tersebut
Dan senyumku kembali mengembang ketika aku melihat isinya. Isinya bukanlah kaleng-kaleng
Pak Uki dan ibu Miranda mengirimi aku sepatu dan tas mahal. Tak lupa juga mengirimkan sepatu untuk Mario
Mario ikut tersenyum ketika mendengarnya. Dan setelah mengucapkan terima kasih pada Ibrahim kami naik ke atas karena hari memang telah gelap
Dan aku yang begitu naik keatas langsung masuk kedalam kamar mandi dan keluar dengan handuk yang melilit di kepalaku
"Kok keramas?" tanya Mario
"Kan sudah selesai" jawabku santai dan mengambil handuk lain untuk mengeringkan kakiku
Tapi ternyata aku salah jawab, jawabanku malah membuat Mario yang semula berbaring sambil main hp segera turun dari atas ranjang dan langsung menyeret ku
Aku yang kaget dengan perbuatan Mario hanya terpekik tertahan dan tak kuasa menolak dirinya yang telah siap memangsa ku
"Maghrib ini....." rintih ku di bawah kungkungannya
Mario tak menjawab, dia terus saja melancarkan aksinya hingga membuat aku sampai terguncang-guncang tak beraturan di atas ranjang
Sepertinya hasrat yang terpendam selama ini ingin Mario tuntaskan saat ini juga. Hingga dia tak sedikitpun memberikan aku kesempatan untuk istirahat
Hingga nyaris Isya barulah permainan ini selesai dengan keadaan ranjang yang porak poranda seperti kena badai tsunami
Dan aku yang tadi telah mandi terpaksa harus bangun lagi karena aku harus mandi kembali
Dan ternyata Mario menyusul ku masuk ke dalam kamar mandi, dan kembali permainan yang baru saja kami sudahi berlanjut di dalam kamar mandi ini
Aku tidak menyangka jika Mario akan seliar ini. Dan sepertinya aku memang harus menyiapkan fisikku untuk menghadapi gempurannya yang seakan tiada habisnya
__ADS_1