
Aku berusaha untuk tersenyum mendengar perkataan mamanya Mas Arif. Sedangkan kulihat wajah Mas Arif begitu tampak kaget mendengar mendengar ucapan mamanya.
"Mah nggak boleh gitu" Mas Arif bilang pada mamanya dan wajah mamanya langsung tampak masam mendengar Mas Arif yang protes padanya.
"Memang benar kan dari mana dia dapat uang untuk membuka usaha begitu besarnya kalau bukan dari uang kamu?"
"Maaf ya Ma uang Mas Arif itu masih utuh dan aku sudah pernah bilang kalau uangnya itu akan aku serahkan ketika Mas Arif keluar dari penjara dan sekarang ketika Mas Arif ke sini untuk ambil uangnya, uang tersebut akan aku berikan sekarang juga"
"Sok-sokan kamu, jangan kamu pikir kalau kami itu percaya sama omongan kamu"
Aku kembali menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha untuk sabar menghadapi perkataan mamanya Mas Arif yang kian hari kian nyelekit
" Ya sudah kalau Mama tidak percaya, Tapi aku yakin papa sama Mas Arif percaya sama omongan ku" ucapku tersenyum ke arah papa dan Mas Arif.
Lalu Mas Arif berusaha untuk melerai kejar omongan antara aku sama mamanya dengan menanyakan kabar kedua anak kami.
"Meka sama Bobbi sehat, dan sekarang mereka berdua sedang sekolah. Alhamdulillah walaupun mereka tidak punya papa, mereka masih punya aku yang sayang sama mereka, yang selalu ada waktu buat mereka dan ya alhamdulillah mereka tidak kekurangan kasih sayang karena kedua orang tuaku, adik dan kakakku sangat menyayangi mereka bahkan seluruh karyawanku juga menyayangi mereka berdua"
"Maaf ya Mas, Jika Mas ingin menemui mereka silahkan temui nanti siang. Biasanya ketika pulang sekolah mereka itu langsung pulang ke toko tidak langsung pulang ke rumah"
Kulihat wajah Mas Arif tampak sumringah mendengar jawabanku ya walau bagaimanapun, mas Arif adalah ayahnya anak-anak, dan aku yakin Mas Arif juga kangen dengan kedua anak kami jadi aku tidak mempermasalahkan jika Mas Arif ingin menemui kedua anak kami dan aku juga tahu jika kedua anak kami juga sangat merindukan Papa mereka.
"Maaf ya kita ke sini itu bukan untuk menemui anak kamu tapi kita ke sini itu ingin mengambil uangnya Arif" Jawab mamanya Mas Arif dengan cepat ketika aku bicara seperti itu.
Dan lagi-lagi Mas Arif langsung menoleh ke arah mamanya dengan wajah marah
"Ma aku ke sini itu karena aku ingin menemui kedua anak aku, untuk urusan uang itu nanti"
Aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar mamanya Mas Arif yang masih tampak kesal
"Tapi kan dari awal kita ke sini itu ingin mengambil uang kamu bukannya mau menemui kedua anak kamu, ngerti kan kamu?"
Saat Mas Arif ingin menjawab omongan mamanya tiba-tiba muncul Ibrahim adikku, kami semua langsung menoleh ke depan.
"Kak, tokonya sudah siap, sudah mulai rame, kakak kenapa masih disini?"
Aku menggelengkan kepalaku kearah Ibrahim berharap agar dia lebih menjaga sopan santunnya walaupun aku tahu dia sangat kesal dengan Mas Arif dan keluarganya.
"Iya nanti sebentar lagi kakak akan berangkat kesana"
__ADS_1
"Sekarang saja kak!"
Aku menganggukkan kepalaku terlebih ketika Rian dan Dani datang. "Mereka kerja sama kamu juga mah?" tanya mas Arif ketika melihat Rian dan Dani di depan. Sepertinya dia heran melihat ada dua teman Ibrahim yang datang
"Iya sekarang aku tidak mengantarkan paket lagi, Melainkan aku telah memiliki dua karyawan. Jadi sekarang tugasku hanya menjaga toko dan melihat perkembangan jasa pengiriman paket ini saja" begitu jawabku sambil tersenyum
Kulihat mamanya Mas Arif tersenyum sinis mendengar jawabanku.
Ibrahim yang terlihat kesal menarik kursi dengan kasar sehingga membuat Mas Arif dan keluarganya menjadi sadar dan akhirnya berpamitan pulang.
"Aku boleh kan Mah lihat anak-anak?" tanya Mas Arif sebelum dia masuk ke dalam mobil aku mengangguk
"Terserah kapanpun mas mau menemui anak-anak, aku tidak mempermasalahkannya"
Mas Arif mengangguk lalu masuk ke dalam mobil
"Ntan, boleh papa mengiring di belakang kamu?"
Aku mengerutkan keningku mendengar pertanyaan Papanya Mas Arif
"Maksudnya papa ingin melihat toko kamu. Katanya toko kamu itu rame makanya papa kepengen lihat. Siapa tahu Mama mu ada yang ingin beli, ya kan ma?"
Mamanya mas Arif tak menjawab pertanyaan suaminya melainkan melengos
Ibrahim tak memperdulikan bagaimana reaksiku. Dia terus saja memasang wajah sinis dan marah karena sejak tadi sedikitpun dia tidak pernah menyapa mantan kakak iparnya.
Karena tak ingin terlambat dan berdebat dengan Ibrahim akhirnya aku segera naik ke atas motor dan melaju menuju toko, sementara di belakang mobil Papanya Mas Arif mengikuti ku dari belakang dan ketika sampai di toko Benar yang dikatakan Ibrahim bahwa toko telah ramai.
Kulihat 3mtiga karyawanku yang kemarin membantuku menghitung belanjaan tampak kerepotan dan mereka hanya tersenyum ke arahku ketika melihatku masuk.
Seorang karyawanku langsung mendekati mamanya Mas Arif ketika melihat beliau masuk.
Sedangkan Mas Arif dan papanya juga tampak mengelilingi di seluruh toko.
Tak lama mamanya Mas Arif mendekat ke arahku.
"Mana uangnya Arif? segera kamu berikan, kami mau pulang, sepet mata saya lama-lama di toko kamu, toko begini tidak ada yang menarik untuk saya" ucap mamanya Mas Arif seperti meremehkan.
Aku segera menganggukkan kepalaku, lalu melambaikan tanganku ke arah Mas Arif. Setelah mas Arif dan Papanya mendekat ke arahku aku lalu mengajak mereka naik ke ruang atas dan di ruang atas itulah akhirnya kami kembali duduk bersama-sama
__ADS_1
Kembali aku menjelaskan kepada Mas Arif berapa total rumah yang dibeli oleh orang dan kembali juga aku menjelaskan berapa nominal pembagian yang didapatkan oleh Mas Arif sesuai dengan perjanjian semula bahwa total harga itu dibagi tiga, rata. Tidak ada yang besar dan tidak ada yang kecil semuanya aku bagi rata.
Lalu aku mengeluarkan HP dan bertanya pada Mas Arif untuk menyebutkan nomor rekeningnya karena aku akan mentransfer jumlah uang yang harus dia terima. Lalu Mas Arif mengeluarkan hp-nya. Kemudian aku segera menekan jumlah nominal yang harus Mas Arif terima setelah ada pemberitahuan bahwa transaksi yang kulakukan berhasil lalu aku memberikan HP ku kepada Mas Arif yang tak lama Mas Arif juga mengecek Hp-nya yang ternyata transferan yang barusan aku kirim telah masuk ke dalam rekeningnya.
Kemudian aku langsung menatap wajah mamanya Mas Arif
"Tuh kan Ma, uangnya Mas Arif depan Mama sendiri sudah aku transfer ke mas Arif, itu artinya tidak ada satu sen pun uang mas Arif aku ambil"
"Bahkan uang pembagian untuk Meka dan Bobby itu juga aku masukkan ke rekening atas nama mereka sendiri tidak aku otak-atik"
Mamanya Mas Arif tidak bereaksi sedikitpun mendengar jawabanku malah wajahnya kian masam.
Dan Mas Arif yang diam hanya bisa menatap mataku dengan dalam lalu Aku menoleh kepadanya lalu tersenyum
"Pulanglah Mas, jika memang ingin pulang. Nanti jika mas ada waktu mas bisa ke sini lagi untuk menemui Meka dan Bobbi" ucapku
Mas Arif menggeleng, kemudian berkata
"Jika kamu perbolehkan, aku akan menunggu Meka dan Bobby di sini"
Aku diam tampak berpikir kemudian aku mengangguk
"Boleh, mas boleh menunggu anak-anak disini" jawabku
"Ngak bisa kita harus pulang!" jawab mamanya mas Arif cepat
lalu Mas Arif menggeleng
"Tidak ma, kalau mama dan papa mau pulang silakan pulang duluan tapi aku tidak, aku akan menunggu kedua anakku. Nanti ketika telah bertemu sama mereka baru aku akan pulang"
Papanya Mas Arif mengangguk lalu menepuk pundak mas Arif berkali-kali
"Ya memang itu harus kamu lakukan karena kamu sudah lama tidak bertemu dengan dua anakmu, Nanti Jika kamu ingin pulang hubungi saja papa biar papa yang jemput"
Mas Arif mengangguk. Papanya Mas Arif mengulurkan tangan padaku dan langsung kusambut dengan hangat sedangkan mamanya mas Arif langsung ngeloyor pergi
Secara bersama kami turun ke bawah. Dan dapat kulihat Bagaimana pandangan karyawan dan juga pengunjung toko melihat ke arah kami yang berjalan, terlihat mereka berbisik-bisik sepertinya mereka tahu bahwa Mas Arif itu adalah mantan suamiku.
Aku tidak mengantarkan orang tuanya Mas Arif sampai di luar hanya Mas Arif saja yang mengantar mereka sampai di luar ketika orang tuanya telah pergi mas Arif kembali lagi masuk ke dalam toko dan ikut membantuku.
__ADS_1
Hingga akhirnya jam 02.00 sore mulai datanglah angkot di depan toko dan terlihatlah Bobbi turun.
Mas Arif yang melihat jika yang masuk itu adalah Bobbi segera berlari menuju arah pintu dan segera menyambar tubuh anak bungsunya. Dan dapat kulihat dengan jelas jika saat menggendong Bobbi mas Arif tampak menangis, begitu juga dengan Bobbi memeluk erat leher papanya.