Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Aku segera berjalan meninggalkan mesin kasir ketika melihat Mas Arif masuk bersama dengan Mirna.


Sebagai pembeli mereka adalah raja, dan sudah sepantasnya kami melayani mereka dengan baik.


"Apa kabar?" Sapaku kepada Mirna yang langsung berubah tegang ketika melihatku.


Mas Arif langsung menoleh dan spontan mengulurkan tangan ke arahku.


"Jika kalian ingin berbelanja, silakan. Selamat datang di toko kami" ucapku lagi masih dengan nada ramah.


Dan Mirna yang sepertinya tidak tahu jika ini adalah tokoku, menoleh ke arah Mas Arif. Dan tatapan matanya menyiratkan jika dia tidak suka.


Karena tak ingin semakin membuat Mirna salah tingkah dan berpikiran yang bukan-bukan, aku memilih mundur dari hadapan mereka dan kembali ke tempatku.


Dua kasir yang saat ini bersamaku hanya menoleh ke arahku dan ku jawab dengan menggelengkan kepala.


"Itu mantan ibu kan?" tanya mereka takut-takut.


"Sudah nggak usah banyak tanya, lanjut kerja!" jawabku cepat yang membuat keduanya mengangguk cepat dan tersenyum tak enak.


Aku tidak pernah memperhatikan bagaimana Mas Arif dan Mirna sekarang. Karena aku telah kembali fokus bekerja.


Dan tak lama setelah itu aku lihat Mas Arif dan Mirna berjalan ke arah kasir.


Kembali aku memasang senyum ke arah Mirna yang masih saja tidak berwajah ramah padaku.


Dan setelah Kasir di sebelah aku menghitung total belanjaan Mas Arif, terlihat Mas Arif mengeluarkan uang membayar sejumlah total yang tersedia di struk.


"Terima kasih karena sudah berbelanja. Dan iya Mirna, kamu nggak usah jutek begitu sama aku. Aku yang telah memberikan Mas Arif sama kamu. Jadi aku tidak mungkin akan merebutnya kembali" ucapku sambil tersenyum yang membuat wajah Mirna terkesiap.


Dan kulihat wajah Mas Arif juga terkesiap. Dan aku tetap tersenyum ke arah mereka.


Lalu setelah itu dengan cepat Mirna menarik tangan Mas Arif, mengajaknya keluar dari toko yang membuat aku dan kedua kasirku terkekeh.


"Ibu sih ramah tadi sama bapak. Coba kalau Ibu nggak nyapa, kan itu pelakor nggak bakal jutek gitu sama ibu" ucap kasirku yang ku jawab masih dengan terkekeh.


"Lah kan tadi niat ibu itu mau nyapa. Karena ya kan sudah lama nggak ketemu sama mereka berdua. Ya niatnya sih silaturahim gitu, eh nggak tahunya yang perempuannya jutek" jawabku.


Dua kasirku kembali tertawa cikikikan mendengar jawabanku.


Aku yang kembali fokus bekerja sedikit terganggu, Ketika aku mendengar teriakan Bobby.


Tak lama menyusul Mas Arif masuk juga sambil terlihat berlari.


Melihat mereka berdua masuk dan berlarian, membuat ku segera keluar dari depan mesin kasir.


"Bobby....!!" panggilku sambil mengejarnya yang naik tangga.


Mas Arif berlari di belakang Bobby tidak menggubris teriakanku. Melainkan dia juga terus naik ke tangga mengejar Bobby.

__ADS_1


Aku yang sekarang sudah sampai di lantai dua hanya bisa melihat bagaimana Mas Arif menenangkan Bobby yang sekarang berteriak.


"Kamu kenapa sayang?" tanyaku sambil melepaskan tangan mas Arif yang sedang memegangi tangan Bobby.


"Aku benci sama Ayah Buk. Aku tadi lihat ayah menggendong seorang anak dan ayah bilang itu anaknya dan aku benci itu" jawab Bobby dengan polos sambil dadanya turun naik.


Aku menarik nafas panjang mendengar Jawaban polos Bobby, kemudian aku berlutut di depannya.


"Sayang dengerin ibu. Kan Ibu sudah pernah bilang, bahwa ayah sama ibu itu sudah pisah. Dan Ayah sudah menikah lagi. Jadi sudah tentu Ayah punya keluarga baru, dan juga punya anak. Ibu harap Bobby mengerti, ya?".


Bobby menggeleng dan matanya kian menatap tajam ke arah Mas Arif.


"Jadi karena ada anak itu, makanya Ayah meninggalkan kami?".


Mas Arif diam mendengar pertanyaan Bobby. Dan aku kembali berusaha membujuk Bobby, menjelaskan padanya dengan bahasa yang mudah di mengertinya.


"Sekarang, Bobby punya ibu dan juga punya ayah. Kita tidak bisa seperti dulu lagi. Tapi ayah sama ibuk tetap sayang sama Bobby".


Mas Arif mengangguk cepat mendengar ucapanku.


Lalu aku berdiri dan memberikan kesempatan kepada Mas Arif untuk menjelaskan kepada Bobby.


Walau masih dengan wajah marah dan kecewa, Bobby hanya diam ketika Mas Arif menjelaskan padanya.


"Sekarang Bobby peluk ayah. Karena ayah mau pulang" bujuk ku kembali.


Dan setelah Bobby tenang, Kami bertiga turun dan aku sama sekali tidak mengantarkan Mas Arif sampai di luar. Aku segera membawa Bobby masuk ke dalam tempatku bekerja dan segera menyibukkannya dengan game yang ada di handphoneku.


Dan Arif yang kembali keluar, sekarang berdiri di depan Mirna yang kembali wajahnya ditekuk.


"Biasa saja. Kamu sudah tahu sejak awal jika aku sudah mempunyai istri dan anak. Jadi kamu nggak usah berwajah masam begitu" ucap Arif dingin ke arah Mirna.


Mirna yang dibentak oleh Arif semakin menekuk wajahnya dan mengikuti Arif masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tuanya Arif, Mirna sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Begitupun juga dengan Arif. Dia ikut diam karena dia kesal dengan perilaku yang ditunjukkan Mirna ketika tadi bertemu dengan Intan.


Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai oleh Arif Masuk ke halaman rumah orang tuanya.


Dan orang tuanya Arif terutama mamanya, hanya bersikap biasa saja ketika melihat Mirna turun dari dalam mobil.


Mirna yang mengetahui jika sejak awal mama mertuanya tidak pernah menyukainya, hanya bisa menelan ludah dan menatap takut-takut.


Arif segera mengulurkan tangannya menjabat hangat tangan kedua orang tuanya diikuti oleh Mirna yang melakukan hal serupa.


Papanya Arif, tersenyum senang dan segera mengambil cucunya yang sedang berada di gendongan Mirna.


Sedangkan wajah mamanya Arif masih seperti dulu jika bertemu dengan Mirna, masam dan tak bersahabat.

__ADS_1


Arif segera masuk ke dalam rumah tanpa mengajak Mirna yang kembali membuat Mirna seakan merasa asing dan terabaikan


"Dari mana kalian nak?" tanya papanya Arif ketika melihat Mirna duduk tak jauh darinya.


"Dari tokonya Mbak Intan Pah. Dan tadi juga ketemu sama anak keduanya Mas Arif. Dan tadi juga sempat terjadi kejar-kejaran antara Mas Arif sama anak keduanya" jawab Mirna pelan.


Mamanya Mas Arif begitu mendengar suara Mirna mengatakan jika dari tokonya Intan langsung menoleh.


"Kalian belanja di sana?, mana belanjaan kalian?".


Mirna kembali menelan ludahnya mendengar pertanyaan ketus dari mama mertuanya.


"Ada di dalam mobil mah. Sengaja tidak kami turunkan, karena kami hanya mampir" jawab Mirna yang membuat wajah mamanya Mas Arif kembali ditekuk.


Sedangkan Papanya Mas Arif langsung bertanya, Mengapa terjadi kejar-kejaran antara Mas Arif dan juga Bobby. Tetapi Mirna menggeleng, karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kita sudah lama ya mah tidak melihat kedua cucu kita. Dan papa rasanya kangen sama Bobby dan Meka" ucap Papanya Mas Arif lirih.


Mamanya Mas Arif hanya melengos mendengar ucapan suaminya. Karena tidak terbersit sedikitpun di dalam hatinya Jika dia merindukan kedua cucunya itu.


"Bobby ngamuk tahu aku sudah punya anak dari perempuan lain" jawab Arif yang tiba-tiba muncul lalu duduk di sebelah mamanya.


Mamanya Mas Arif dan juga Mirna langsung refleks menoleh ke arah Arif dan wajah keduanya langsung terkesiap.


"


Tapi Untunglah Intan dengan bijaksana menjelaskan kepada Bobby, Apa yang sebenarnya terjadi diantara kami"


"Walau aku akui, sejak kejadian aku berpisah sama Intan, aku sangat susah untuk bertemu mereka. Dan mereka juga sudah jauh padaku, tapi walau begitu aku tetap menyayangi mereka".


Terlihat Arif menarik nafas panjang dan wajahnya tiba-tiba berubah murung.


"Dan ini lagi si Mirna. Bukannya ramah kepada Intan dia malah bersifat kekanak-kanakan. Padahal Intan sudah berusaha untuk ramah kepada dia" sungut Arif.


Mirna tak berkutik mendengar Arif memarahinya di depan kedua orang tuanya.


Dia hanya bisa menelan ludahnya sambil menunduk dalam dan berusaha mati-matian menahan air matanya.


"Lagian kenapa sih kamu ngajak istri kamu ini belanja ke tempat Intan?" tanya mamanya Arif dengan ada marah.


"Ya kan tujuan aku baik mah. Aku ke sana karena aku ingin bertemu Intan, ingin silaturahmi sama dia. Karena terakhir kita ke sana itu kan terjadi insiden. Jadi niatku ingin minta maaf kepada Intan. Terus yang kedua, ya kan aku rindu sama kedua anakku mah. Tapi ternyata kedua Anakku masih sekolah. Tapi beruntunglah aku tadi bertemu dengan Bobby. Walaupun sempat terjadi insiden kecil".


Sementara aku yang saat ini masih ada di toko kembali menenangkan Meka karena dia juga terlihat marah ketika Bobby mengatakan kepadanya jika tadi ayahnya datang bersama perempuan lain.


"Meka sayang, kamu kan tahu ibu sama ayah itu sudah pisah. Dan ayah kalian sudah menikah lagi. Jadi untuk apa kalian marah?" bujuk ku.


Wajah Meka tetap di tekuknya. Dan itu membuatku segera mengusap kepalanya. Kembali berusaha untuk menenangkannya.


"Jikapun nanti Ibu menikah sama papa, otomatis jika Tuhan menghendaki Kami juga akan punya anak. Apa Meka sama Bobby juga kan marah sama ibu?" tanyaku.

__ADS_1


__ADS_2