Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Ibrahim Mengamuk


__ADS_3

Aku menunjuk ke arah atas ke arah Mas Arif, memberi kode kepadanya agar membawa Bobbi ke atas dan langsung saja mas Arif dan Bobbi naik, setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan yang jelas mereka pasti melepas rindu karena telah lama sekali mereka tidak bermain bersama


Jam tiga datang lagi lah sebuah angkot yang mengantarkan Meka Dan ketika Meka masuk aku langsung memberitahunya


"Meka segeralah naik ke atas, Karena di atas sekarang sedang ada papamu bermain bersama Bobby"


Mata Meka langsung membesar dan wajahnya tampak sumringah. Dia segera berlari cepat menaiki tangga sambil berteriak


"Papa.....!!!"


Aku hanya bisa tersenyum mendengar bagaimana antusiasnya Meka naik sambil berteriak memanggil Papanya.


Hingga akhirnya tak lama mereka bertiga turun dan Mas Arif langsung dekat ke arahku.


"Ma, boleh tidak anak-anak aku bawa keluar, sebentar saja"


Aku lalu menatap ke arah wajah kedua anakku yang menatap penuh harap lalu aku menganggukkan kepalaku


"Boleh, silakan di bawa, tapi ingat ya Meka sama Bobbi jangan bandel"


Meka dan Bobby langsung mengangguk cepat dan mereka berdua langsung segera menggandeng tangan Papa mereka.


Hingga akhirnya jam 07.00 malam Hp Ku berdering dan kulihat ternyata yang meneleponku adalah Mas Arif


" ya Mas, kenapa?"


"Ini anak-anak masih sama aku ya Ma, belum aku antar pulang. Kami masih main di playground nanti setelah agak malam baru mereka aku antar pulang nggak papa kan Ma?"


"Iya nggak apa-apa" jawabku


Lalu aku kembali fokus, karena toko masih juga banyak pengunjungnya dan sesuai rencana bahwa lusa barang yang ku pesan dengan Pak Uki kalau tidak ada halangan akan sampai di toko


Hingga akhirnya hampir jam 10.00 malam toko kami tutup tapi Mas Arif dan kedua anak kami belum juga pulang dan aku mulai khawatir.


Dan Ibrahim beserta kedua temannya yang sudah di toko yang sedang membantuku menghitung uang pun tampak kesal


"Kan sudah aku bilang sama Kakak jangan pernah berikan keponakanku kepada Papa mereka. Papa mereka itu brengsek bisa jadi kan kalau sekarang mereka dibawanya kabur"


Aku berusaha tidak terpancing dengan kepanikan Ibrahim, walau sebenarnya aku juga panik karena tidak biasanya mas Arif begini, padahal tadi Dia sendiri sudah janji bahwa tidak akan lama membawa anak-anak


Terdengar suara klakson di depan yang membuat Ibrahim segera berdiri dan langsung berlari cepat dan langsung membuka rolling dan aku langsung menarik nafas lega ketika ku lihat Meka dan Bobbi turun dari mobil kakek mereka.


"Maaf ya Ma karena lama, tadi kami mampir makan dulu dan untuk memberi kabar, hp-ku lowbat" ucap mas Arif.


Aku mengangguk dan mengusap kepala kedua anakku


Kulihat masuk pula mbak Sari, dan kami langsung berpelukan

__ADS_1


"Mbak boleh lihat-lihat Ntan?" tanyanya


"Boleh mbak, tapi barangnya tinggal yang ini mbak, yang lain masih di perjalanan, mungkin besok atau lusa baru sampai"


Mbak Sari mengangguk dan langsung berkeliling.


"Ntan, kalau sampai kasih tahu mbak ya...." teriaknya


Aku mengacungkan jempolku kearahnya


"Halah Sar, kamu mau nyari apa di toko kayak gini"


Aku tidak meladeni ucapan mamanya mas Arif, aku terus saja menghitung uang bersama adikku, Rian dan Dani


"Tidak bermutu untuk orang yang gelap hatinya, yang hatinya dipenuhi dengan iri dengki" jawab Ibrahim cepat


"Dek.....?" cegah ku sambil menggelengkan kepalaku kearahnya


"Lagian ngapain kalian kesini?, bukankah uang yang kalian minta sudah kakak saya transfer, jadi ngapain kalian masih kesini?"


Aku hanya menarik nafas dalam mendengar Ibrahim yang tampaknya belum puas meluapkan amarahnya


"Kakak ingin bertemu dengan Meka dan Bobbi, Im...." jawab mas Arif pelan


Ibrahim tersenyum sinis mendengar jawaban mas Arif sedangkan wajah mamanya mas Arif memandang marah pada Ibrahim


"Jaga mulut kamu ya, anak kecil tapi tidak mengerti sopan santun" protes mamanya mas Arif dengan mata sinis dan wajah marah


Aku kembali menggeleng dan memegang lutut adikku, berusaha menenangkannya


"Ayo Rif kita pulang, ngapain kita disini, kamu lihat sendirikan bagaimana bekas adik ipar kamu ini ngatain kita"


Papanya mas Arif hanya bisa menarik nafas dalam mendengar ucapan istrinya


"Jangan sombong kalian, baru punya toko seperti ini saja sudah sok, jika tidak menjual rumah itu belum tentu juga kakak kamu punya toko ini. Toko nyewa saja sudah sombong"


Ibrahim yang telah dikuasai emosi langsung berdiri cepat dan aku juga langsung berdiri memegangi bahunya


"Tanya anak anda, siapa yang bersikeras ingin menjual rumah itu?, bukan kakak saya, jadi jangan salahkan kakak saya jika uangnya kakak saya bagi tiga. Cukup kalian mendzolimi kakak saya, jangan mentang-mentang kami selama ini diam kalian anggap takut"


"Dek....?" ucapku mencoba kembali menenangkannya


"Cukup kak, bukannya aku tidak tahu bagaimana dia menghasut kedua adiknya kak Mario sehingga adiknya kak Mario makin membenci kakak"


Refleks mataku langsung menoleh kearah mamanya mas Arif


"Apa-apa lihat?" bentak mamanya mas Arif

__ADS_1


"Benar mama yang menghasut mereka berdua?" tanyaku tak percaya


"Siapa juga yang menghasut mereka, mereka itu orang pintar, jadi mereka tahu bahwa kamu memang tidak pantas untuk kakak mereka"


Aku menggelengkan kepalaku lalu menoleh kearah papanya Mario yang saat ini juga menatap istrinya dengan tajam


"Mario mana ma?" tanya mas Arif


"Mario, tunangannya kakak saya!" jawab Ibrahim lantang


Terdengar tawa mencemooh dari mamanya mas Arif


"Tunangan?, yakin masih tunangan?" ucapnya sambil tersenyum mencibir ke arahku


Aku hanya menelan ludahku mendengar pertanyaannya


"Mario?" ulang mas Arif


Aku menganggukkan kepalaku


"Iya Mario, Mario Pratama. Mungkin mas masih ingat siapa Mario" jawabku


Kulihat ada raut kaget dari wajahnya mas Arif, dan aku hanya tersenyum getir


"Masih saja ya kamu bermimpi menjadi istri Mario" mamanya mas Arif bersuara dan kembali dia tertawa mencemooh


"Mama cukup, tidak seharusnya mama mencampuri urusan Intan sejauh ini" geram papanya maa Arif


"Ikut campur apa?, mama nggak ikut campur apa-apa" jawabnya santai


Aku kembali menggelengkan kepalaku


"Sudahlah ma, semuanya juga sudah berlalu, tanpa hasutan dari mama pun kedua adiknya Mario memang tidak menyetujui hubunganku dengan kakak mereka, jadi jikapun mama menghasut mereka itu tidak berarti apa-apa buatku, karena aku juga sudah pasrah dengan takdir Tuhan"


"Sampai saya membuktikan jika anda ikut campur, saya tidak akan tinggal diam" geram Ibrahim


"Maaf pa, bukannya aku mengusir lebih baik kalian pulang, ini juga sudah malam" ucapku lirih karena aku tiba-tiba merasa tak enak hati


"Tanpa kamu usir pun kami akan pergi!" jawab mamanya mas Arif lantang


Dengan kasar tangan mamanya masa Arif ditarik kasar oleh suaminya dan dibawanya keluar dari dalam toko


"Saya sumpahi kamu menjanda selamanya Intan.....!!!" teriaknya lantang


Ibrahim yang kalap segera berlari keluar dan aku beserta dua temannya langsung berhamburan keluar menyusulnya


"Apa kamu bilang, hah???!!!"

__ADS_1


PLAAAKKKK......


Mataku langsung melotot ketika tangan Ibrahim melayang ke wajah mamanya Arif berkali-kali sampai mas Arif turun tangan menariknya paksa agar melepaskan mamanya


__ADS_2