
Kembali Raisa dan Tasya tersenyum sinis
"Tak seharusnya kalian bicara masa lalu" ucap Mario
Aku kembali mengusap lengannya dan membawanya duduk
"Nanti kita bicara di rumah" aku dengar nada marah pada suara Mario
Aku menoleh kearahnya dengan menggelengkan kepalaku
"Biarkan, aku nggak apa-apa kok"
Raisa dan Tasya membalikkan badan mereka, melihat ke arahku dengan tatapan datar
"Karma memang akan kembali pada orang yang menciptakannya, hukum tuai tebar itu memang benar adanya"
"Tasya!!"
Aku kembali memegang tangan Mario
"Ada apa ini?" tanya mamanya Mario yang datang, mungkin karena beliau mendengar suara Mario yang meninggi tadi
"Kita pulang ma!" ucap Tasya yang menarik tangan Raisa, lalu keduanya keluar tanpa pamit
Aku berdiri dan menatap bingung kearah mamanya Mario dan kearah luar dimana aku dengar suara mesin mobil hidup
"Apa yang terjadi Ntan?"
Aku menggeleng kearah mamanya Mario, sedangkan Mario kulihat tampak mengusap wajahnya
"Maaaa.... ayo cepat!!!" terdengar teriakan lantang di luar
"Mama pulang ya Ntan, mama minta maaf jika Tasya dan Raisa membuat keributan disini"
Aku mengangguk dan segera mengantarkan mamanya Mario sampai depan pintu
Setelah mobil putih yang membawa Mama Mario keluar dari halaman rumah kami, aku masuk, mencoba tersenyum kearah Mario yang wajahnya masih tampak tegang
Aku duduk di dekat Mario, mengusap wajahnya dengan sayang sehingga membuat Mario tersenyum dan mengecup keningku
"Maafkan Tasya ya Ntan?"
Aku mengangguk
"Kan kamu sendiri yang bilang jika mereka sangat menyayangimu, makanya mereka melakukan ini"
Mario kembali tersenyum dan kembali mencium pipiku
"Aku sangat menyayangimu, kamu tahu itu kan Ntan?"
Aku mengangguk dan kembali menyentuh wajahnya dengan sayang
"Dan kamu juga tahu bagaimana sayangnya aku sama kamu"
__ADS_1
Mario menarik nafas panjang lalu menarikku kedalam pelukannya
Sementara di rumah Mario, begitu mobil yang dikemudikan Tasya masuk ke halaman rumah orang tuanya dan berhenti, dengan wajah marah Tasya segera keluar dari dalam mobil dan membanting keras pintu mobil yang membuat sang mama kaget
"Tasya!!?" kejar sang mama ketika melihat Tasya berjalan cepat
Raisa yang berjalan paling belakang berwajah sama masamnya dengan sang kakak
Tasya segera melemparkan tas keatas sofa dan melipat kedua tangannya, sang papa yang sedang menonton tivi menoleh kearah luar ketika didengarnya suara sang istri
"Kalian berdua kenapa?"
Tasya dan Raisa tak menjawab omongan sang mama, keduanya masih menekuk wajah mereka
"Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa, karena tadi mama dengar dengan jelas jika kakak kalian membentak"
Tasya masih diam dan wajahnya kian cemberut
"Tasya?"
Tasya mendecak kesal mendengar sang mama masih bertanya padanya
"Kami nggak suka ma sama mbak Intan" akhirnya Tasya bersuara dan nadanya jelas sekali mengandung kekesalan
Mata mama Mario membulat, refleks beliau menyandarkan tubuhnya ke sofa dan memandang pada kedua anak perempuannya dengan wajah bingung
"Mama sama papa kenapa malah merestui hubungan kak Mario sama mbak Intan?, mereka nggak level ma"
"Apanya yang nggak level?" sang papa yang mendengar Tasya berbicara kesal pada mamanya mengundang tanda tanya besar pada hati sang papa
Raisa menggeser kakinya agar sang papa bisa lewat, ketika papanya telah duduk, kembali beliau mengulangi pertanyaannya
"Ma?"
Mamanya Mario menggeleng, beliau masih diam, bingung harus menjawab apa karena beliau juga tampak shock
"Mereka masih tunangan kan ma, masih bisa putus, orang yang udah nikah bertahun-tahun saja masih bisa cerai, apalagi ini yang masih tunangan"
"Maksud kamu apa Sya?"
Tasya kembali mendecak dan memasang wajah masam kearah papanya
"Kami nggak setuju kak Mario menikahi mbak Intan!"
Wajah sang papa sama kagetnya seperti wajah sang istri
"Kenapa?, Mario sangat mencintai Intan, apa yang salah dengan hubungan mereka?"
Masih dengan wajah masam Tasya dan Raisa menjelaskan jika antara Mario dan Intan tidak satu level, beda karakter dan yang paling mencolok adalah karena Intan sudah memiliki dua anak, dan itu berbeda dengan Mario yang walaupun duda tapi duda keren masih terlihat seperti perjaka
Mama dan papa Mario menggelengkan kepalanya mendengar perjelasan kedua anak perempuan mereka
"Dengarkan papa, kalian mungkin tidak lupa bagaimana dulu terpukulnya Mario begitu mengetahui jika Intan menikah, ya kan?"
__ADS_1
Raisa dan Tasya diam tak menjawab perkataan papa mereka
"Dan sekarang ketika Intan sudah menjadi janda, apa ada yang salah jika Mario kembali mencintai Intan dan mengajaknya menikah?"
"Salah pa, Mbak Intan itu sudah mengkhianati kak Mario, kak Mario aja yang nggak sadar, nggak mungkin kan pa gujug-gujug mbak Intan nikah tanpa pacaran terlebih dahulu dengan mantan suaminya?"
Papanya Mario diam
"Apapun yang kamu bilang, pokoknya mama bahagia karena akhirnya Mario menemukan kembali cinta dan kebahagiaannya, harusnya sebagai saudaranya Mario kalian berdua itu senang karena akhirnya kakak kalian mengakhiri masa dudanya yang panjang"
"Tapi tidak kembali dengan mantannya juga ma" jawab Raisa
"Jodoh maut rejeki itu semuanya di tangan Tuhan, kita tidak ada yang tahu, oke ingin kalian kakak kalian nikah dengan perempuan kaya, perempuan karir, yang modern, yang modis, yang gaul, tapi kalau ternyata Tuhan menggariskan Mario dengan Intan kita bisa apa?, mama suka sama Intan, anaknya baik, pekerja keras pula, dan yang paling penting karena Mario mencintainya, dan mama selalu mendukung apapun dan siapapun pilihan Mario, karena yang bakal menjalani kehidupan berumah tangga itu Mario, bukan kita!!!"
"Tapi ma?"
"Nggak ada tapi-tapian, buat malu saja kalian berdua ini, mama kira kalian benar-benar ingin bersilaturahmi ke rumahnya Intan, rupanya ini yang kalian lakukan, pantes Mario marah, atau jangan-jangan kalian berdualah yang menjadi penyebab Intan buru-buru pulang malam tadi?"
Tasya dan Raisa diam, mereka hanya menggigit bibir mereka melihat mata mama mereka yang memandang tajam kearah mereka
"Ya Tuhan nak, kenapa kalian melakukan hal serendah ini, mama dan papa tidak pernah mengajari kalian membeda-bedakan orang, apalagi itu sama calon kakak ipar kalian sendiri" ucap sang papa dengan nada kecewa
"Kalian tidak mengenal Intan, dari mana kalian bisa menilai jika Intan itu tidak pantas menjadi istri Mario?"
Tasya dan Raisa yang masih memasang wajah masam kembali saling lirik mendengar ucapan orang tua mereka
"Ma, dia itu cerai sama suaminya, bukan suaminya meninggal, dan kita semua tahu, cerai hidup itu pasti memiliki masalah pelik, kami berdua tak ingin kak Mario mengalami kecewa karena sifat buruk mbak Intan"
Papa dan Mamanya Mario menarik nafas dalam
"Kalian belum mengenal Intan, terus dari mana kalian bisa menilai jika Intan itu memiliki perangai buruk?"
Keduanya kembali diam
"Setahu mama Intan itu wanita kuat, tabah. Kalian berdua beruntung karena memiliki suami yang bertanggung jawab dan royal sama kalian, tidak seperti Intan yang memiliki suami tukang selingkuh, tukang mesum, pelit pula"
Wajah Tasya dan Raisa tampak kaget
"Kalian kan pintar bersosial media, cobalah kalian lihat itu sosial medianya Intan, apa yang dibuatnya disana, biasanya para perempuan kan paling senang curhat di media sosial, coba kalian lihat, kalian baca keluh kesahnya, siapa tahu dengan ini kalian bisa memahami bagaimana sifat Intan"
Tasya dan Raisa bungkam, diam seribu bahasa, tak lagi memiliki jawaban atas ucapan sang mama
Sementara di rumahku, aku segera menyiapkan makan siang untuk kami berempat. Dan kembali Mario melakukan hal manis pada kedua anakku, jika biasanya aku yang menyuapi Bobbi makan, maka kali ini tugas itu Mario yang ambil alih
Aku hanya melihatnya sambil tersenyum, setelah kedua anakku selesai makan barulah kami berdua berniat makan
Saat aku meletakkan piring kotor bekas Meka dan Bobbi di wastafel tempat cuci piring, secara mendadak bahuku ditarik oleh Mario dan dengan cepat disesapnya bibirku
Aku yang mendapatkan serangan mendadak dari Mario segera menarik tubuhnya ke belakang pintu. Aku tak ingin ciuman kami dilihat oleh kedua anakku
Aku menghentikan aksi tangan Mario yang telah menjalar di belakangku, mendekap tubuhnya dengan erat
"Hanya tinggal beberapa bulan lagi" bisikku di telinganya yang membuat Mario menarik nafas panjang dan kembali menyesap bibirku
__ADS_1