
Aku segera turun ke bawah ketika hp ku berdering tanda panggilan masuk dari Mario. Langkahku terhenti ketika aku melihat Mas Arif tertidur di sofa dengan posisi melengkung.
“Ya Tuhan…” gumamku. Tapi tak urung aku tetap meninggalkannya dan terus berjalan kearah depan. Segera aku membuka kunci dan menarik sedikit rolling agar pintunya terbuka
Kulihat Mario berdiri tepat di depan rolling ketika pintu rolling terbuka. Dan dia mengembangkan senyum ketika melihat wajahku
“Hai……” sapanya
Aku mengembangkan senyum dan segera mengambil tangannya yang terulur ke arahku. Ternyata Mario bukan hanya ingin menyentuh tanganku melainkan melabuhkan kecupan di keningku dengan merangkul bahuku sebentar
“Siapa buk?”
Baik aku maupun Mario langsung menoleh kedalam ketika mendapati mas Arif sudah berdiri tak jauh dari kami.
“Loh, Mario? Ngapain kamu kesini pagi buta begini?” Tanya mas Arif sambil berjalan mendekat kearah kami
Mario hanya tersenyum mendengar pertanyaan mas Arif kemudian dia yang semula berdiri di luar, masuk. Dan mas Arif kulihat menatap penuh curiga kearah Mario, kemudian menoleh ke arahku
“Aku sengaja datang kesini mas, mau tidur”
“Mau tidur?”
Mario mengangguk
“Aku baru pulang dinas mas, dan ngantuk banget. Makanya aku kesini, aku mau tidur”
Ku dengar mas Arif tampak tertawa sinis mendengar jawaban Mario
“Kamu ini lucu Mario. Kamu kan punya rumah sendiri, kok malah mampir kesini, numpang tidur di sini pula. Kalau kamu ini ngekos atau jauh dari keluarga, wajar. Lah ini rumah orang tua kamu dekat dari sini. Kok malah kamu mampir kesini, tidak langsung pulang”
Aku mendecak mendengar ucapan mas Arif. Memang aku kaget dengan Mario yang tiba-tiba kesini, walau aku tahu jika dia dinas semalam. Tapi kan aku tidak tahu jika dia akan memilih pulang ketempatku dari pada pulang kerumah orang tuanya
“Mas lupa apa anak-anak bilang apa semalam sebelum aku pergi dinas?”
Kembali kulihat mas Arif tampak tersenyum kecut mendengar alasan Mario, dan aku segera melerai keduanya. Jika tidak, bisa jadi mereka akan terus berdebat hal yang tidak penting
“Sudah, sudah. Mas ngapain sih nanya kayak gitu?. Kan memang kemarin anak-anak minta Mario kesini sebelum mereka pergi sekolah.”
“Ya tapi tidak sepagi ini juga kan buk?”
Aku berusaha tersenyum, mencoba menghargai pendapatnya namun tidak ingin juga menyalahkan dan merendahkan Mario
“Kalau Mario pulang ke rumah orang tuanya, bisa dipastikan jika Mario akan langsung tertidur dan tidak akan bangun sampai siang. Sedangkan anak-anak itu pengennya Mario ada disini sebelum mereka berangkat sekolah. Sudahlah mas, nggak usah diperpanjang. Kasihan Mario, aku yakin dia semalaman nggak tidur, jadi biarkan Mario tidur dulu ya mas….”
Kembali kulihat wajah mas Arif tampak tak suka mendengar jawabanku. Walau saat itu dia tersenyum tapi aku tahu jika dia tidak suka dengan alasan dan caraku
“Mario, kamu naik aja langsung ke kamarku. Tidur saja disana”
“Hah?!”
Aku memejamkan sebentar mataku mendengar nada kaget dari suara mas Arif, tapi Mario yang sepertinya sudah sangat mengantuk lebih memilih pergi ketimbang menjawab dan meladeni kekagetan mas Arif
__ADS_1
Mario hanya mengangkat tangannya ketika dia berjalan menaiki tangga ketika mendengar mas Arif berteriak memanggil namanya
“Mas, kamu apaan sih?” tanyaku menghentikan mas Arif yang tampak emosi ketika meneriakkan nama Mario
Mas Arif memutar tubuhnya yang semula mengarah kearah tangga sekarang mengarah ke arahku
“Yang apaan itu kamu buk!!!” bentaknya
Aku langsung memasang wajah tak suka kearah mas Arif ketika mendengar dia membentakku
“Jaga sikap ya mas, jangan sampai aku tersulut emosi dan tidak menghargai mas lagi”
Mas Arif tersenyum menyeringai mendengar jawaban marahku dan segera menangkap tanganku ketika aku akan berjalan meninggalkannya
“Biasa kamu mengurung lelaki disini?!” sentaknya sambil menarik tanganku
Aku langsung menghentikan gerakan kakiku dan langsung menatap marah kearah mas Arif
“Jaga mulut kamu ya mas. Aku yakin kamu tahu bagaimana sifatku. Atau jangan-jangan kamu malah tidak pernah faham?”
“Oh iya aku lupa, kan dulu mas selalu tidak menganggap aku, aku ini cuma perempuan yang halal kamu tidurin, yang melahirkan anak kamu sama pembantu kamu, iya kan?”
Wajah mas Arif terkesiap mendengar jawabanku. Dan aku tersenyum sinis melihat perubahan sikapnya, dan aku kembali memilih meninggalkannya
“Tunggu!!” kembali mas Arif mengejar langkahku yang sekarang berjalan kearah belakang
“Sayangi nyawa kamu Arif!!!!”
Aku langsung menelan ludah ketika mendengar suara Ibrahim menggeram marah. Dengan cepat aku memutar badanku menoleh kesumber suara dimana Ibrahim dan kedua temannya telah berdiri. Jika kedua temannya berdiri dengan mata merah khas mengantuk, tapi berbeda dengan Ibrahim, aku melihat jelas kemarahan dari raut wajah dan matanya.
“Kakak nggak apa-apa dek, jangan gitu ah”
Ibrahim menepis tanganku, kemudian dia menatap ke arahku masih dengan wajah marahnya
“Kan aku sudah bilang sama kakak, jangan kasih hati sama laki-laki itu, ya ini akibatnya”
Aku mengelus bahu Ibrahim kemudian menoleh kearah Dani dan Reno yang kembali bermata sendu
“Sudah, kembali lagi tidur kalian, kan ruko bukanya masih lama”
Dani dan Reno yang tadi matanya meredup kembali membesar mendengar suaraku kemudian menggaruk kepala mereka dan tersenyum kecut ke arahku
“Tidurlah lagi, nanti kakak yang akan bangunkan kalian jika sudah siang”
Ketiganya tidak menjawab melainkan memilih kembali ngeloyor masuk kearah kantor pengiriman paket, tempat mereka biasa tidur.
Karena ketiganya sudah pergi, aku menarik nafas panjang dan hanya mampu melihat Ibrahim yang tidak menoleh kebelakang lagi. Kemudian aku kembali melanjutkan niatku yang semula ingin kebelakang
Jam enam pagi, aku segera naik keatas, membangunkan Meka dann Bobby. Sebelum masuk ke kamar kedua anakku, aku memilih masuk ke kamarku dulu, mengintip Mario yang sekarang tengah tertidur dengan pulas nya
Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum ketika melihatnya tertidur pulas dan kembali menutup pintu kamar dengan pelan, lalu segera berjalan kearah kamar kedua anakku, membangunkan mereka dan menyiapkan seragam keduanya
__ADS_1
Suara gradak gruduk Meka dan Bobby yang berjalan menuruni tangga sambil menarik tas mereka, membuat mas Arif yang duduk di sofa mengangkat kepalanya dan segera tersenyum kearah kedua anaknya
“Pagi anak-anak ayah….” Sapa mas Arif yang disambut Meka dan Bobby dengan berjalan cepat kearahnya dan langsung duduk di dekatnya
“Sarapan dulu nak, ajak ayah. Ibuk sudah siapkan sarapan kalian” ucapku tanpa menoleh sedikitpun kearah ketiganya
Meka dan Bobby segera berdiri, tapi tidak dengan mas Arif, dia masih tampak duduk. Sehingga membuat Bobby menarik tangannya dan memaksanya mengikuti mereka
Aku segera memberikan piring yang sudah ku isi pada kedua anakku. Dan memberikan piring kosong kearah mas Arif
“Papa mana ya buk?, kan papa sudah janji mau kesini”
Aku tidak menjawab ucapan Meka, melainkan ikut duduk di sebelahnya dan mengerling kearah mas Arif yang tampak minum air putih. Mungkin dia juga tidak senang mendengar ucapan Meka
“Makanlah dulu, papa masih tidur. Tadi pagi buta papa sudah kesini, dan sekarang di atas, tidur”
Meka dan Bobby langsung berdiri dari kursi mereka dan langsung berlari tanpa bisa ku cegah. Kulihat bagaimana keduanya berteriak memanggil papa, dan aku kembali melirik kearah Mas Arif yang hanya bisa menarik nafas panjang melihat kedua anaknya meninggalkan meja makan
“Aku harus bicara empat mata sama Mario” ucap mas Arif sambil ikut berdiri pula
Aku tak mau kalah, aku segera berdiri dan dengan cepat menghentikan langkah mas Arif
“Jangan buat keributan, malu” ucapku penuh penekanan kearah mas Arif
Mas Arif mendecak kesal, dia menghembus nafas panjang dan memilih kembali duduk di tempatnya semula
Sementara aku dengar suara Meka dan Bobby dari arah dalam berjalan menuju dapur, tempat kami. Dan bisa kulihat bagaimana sekarang Bobby sudah menggelendot manja di gendongan Mario
“Pagi……”sapa Mario sambil tersenyum kearah kami
Aku tersenyum kecut kearah Mario yang masih nampak sangat mengantuk, begitu juga dengan mas Arif
“Sarapan?” tanyaku
Mario yang duduk dengan Bobby yang masih menempel di gendongannya menggeleng.
“Sayang turun ah, kasihan om Mario nya….” Ucap mas Arif
Bobby manyun, lalu sedikit mendongakkan kepalanya menatap kearah Mario, kemudian dia menuruti perintah ayahnya untuk segera turun dan kembali ke kursinya dan melanjutkan sarapannya. Sedangkan Meka yang tadi duduk di dekatku, sekarang memilih menggeser kursinya dan duduk di dekat Mario
“Papa baik banget sih, menepati janjinya sama kami” puji Meka sambil menatap mesra sambil tersenyum kearah Mario
Mario tersenyum kemudian mengusap sayang kepala Meka
“Sarapan lah yang cepat, sebentar lagi jemputan kalian sampai” ucapku sambil menyiapkan bekal untuk mereka berdua
Kedua anakku menganggukkan kepala mereka, lalu keduanya segera menghabiskan sarapan mereka, dan aku yang mengambilkan sepatu keduanya sekarang meletakkan sepatu tersebut di depan
“Papa gendong…..”
Kembali mas Arif harus menelan ludahnya ketika Bobby lebih memilih minta gendong dengan Mario ketimbang dirinya.
__ADS_1
Dan Mario tidak menolak sedikitpun. Segera dia sedikit membungkuk hendak mengangkat tubuh Bobby ketika dengan cepat tubuh Bobby disambar oleh Mas Arif
“Papa gandeng aku saja”ucap Meka dengan langsung menggandeng tangan Mario dan berjalan ke depan dimana aku hanya bisa menarik nafas panjang melihat mereka berempat