
Dengan cepat Tasya menghubungi Raisa, dan benar saja, baru saja dia mendial nomor adiknya tersebut, langsung diangkat
"Kakak serius?" terdengar nada panik dari suara Raisa
"Ya serius lah, mama ngomelin kakak panjang pendek, bahkan mama ngancam jika kita masih mengusik Intan, papa yang akan turun tangan"
Raisa menelan ludahnya
"Terus kita harus gimana sekarang kak?"
Tasya diam, keduanya sama-sama diam
"Kakak tahukan gimana papa?"
Terdengar tarikan nafas panjang dari Tasya
"Untuk sekarang kita cari aman saja dulu kak, kita nggak usah ngurusin Intan"
"Kamu benar ca, atau kita cari cara lain aja, kita serang sosial medianya"
"Kak, ingat kak Mario itu polisi, kita bisa kena undang-undang ITE"
Kembali terdengar tarikan nafas dari Tasya
"Kita pikirkan nanti saja untuk itu Ca, sekarang kita nurut apa kata mama, tapi ketika kita ada kesempatan, kembali kita serang dia"
"Setuju kak"
Lalu panggilan berakhir dan Tasya kembali menarik nafas panjang sambil berjalan gontai masuk kembali kedalam kantor tempatnya berdinas
...----------------...
Sedangkan aku yang kembali fokus dengan jualanku sekarang sibuk membuka paket yang datang hari ini. Alhamdulillah banyak pesanan yang datang dan itu artinya aku harus mengantarkan pesanan sore nanti
Tiiiinnnnn.....
Suara klakson panjang di depan membuatku kaget dan berdiri dari dudukku
Aku menarik nafas dalam ketika kulihat dari pantulan kaca jika itu mobil orang tuanya mas Arif
"Ya Tuhan mau apalagi mereka kesini?" gumamku
Walau demikian aku segera berjalan kearah pintu dan segera membuka lebar daun pintu
Aku langsung melebarkan senyumku ketika melihat mamanya mas Arif dan mbak Sari berjalan kearah teras
Lalu menyusul papanya mas Arif dan suaminya mbak Sari
"Ma...." sapaku sambil mengulurkan tangan dan mencium punggung tangannya
Walau tak ada lagi dekapan hangat dari beliau, setidaknya uluran tanganku masih diterima oleh beliau walau wajah beliau tak seramah dulu lagi
Mbak Sari mendekap ku, sedangkan papanya mas Arif dan suaminya mbak Sari tampak tersenyum saat aku menyalami mereka
__ADS_1
"Ayo masuk!" ajak ku sambil berjalan mendahului mereka
Segera aku merapikan barang-barang yang aku letakkan di atas kursi dan lantai ruang tamu, membawanya dengan terburu ke dalam kamar Meka
"Ini apa Ntan?" tanya mbak Sari sambil ikut mengangkat
"Orderan orang mbak, paketan baru sampai, baru aku buka, lihat isinya"
Aku tak memperdulikan tatapan mamanya mas Arif saat aku memindahkan semua paketan ke kamarnya Meka, aku lihat jelas tatapannya masih tidak bersahabat
Selesai memindahkan semua paket aku segera berjalan kearah dapur membuatkan teh hangat sambil melihat isi rice cooker
Selagi menunggu airnya mendidih, aku menyiapkan piring dan gelas untuk menyuruh mereka makan siang, aku yakin mereka pasti belum makan, biasanya sih seperti itu
Selesai membuat teh aku segera membawanya ke depan dan meletakkan di atas meja
Aku ikutan duduk dan kembali memasang senyum kearah mereka
"Diminum pa, ma, mbak, mas" tawarku
Mereka menganggukkan kepala, kecuali mamanya mas Arif
"Meka dan Bobbi belum pulang Ntan?"
"Belum pa, mereka pulangnya agak sore, full day sekolahnya" jawabku
Kulihat mamanya mas Arif melengos dan aku tak mempermasalahkan wajah masamnya, mungkin beliau masih marah padaku atas kejadian terakhir kemarin ketika mereka kesini
Papanya mas Arif tersenyum dan menatap mataku dengan dalam
"Terima kasih ya Ntan karena kamu masih bersikap baik sama kami"
Aku balas tersenyum kearah beliau
"Tidak ada alasan untuk aku membenci kalian pa, kalian pernah menjadi keluarga aku, dan akan selamanya seperti itu" jawabku
Ku lirik mamanya mas Arif melengos mendengar ku berkata demikian, tapi terserahlah, yang kekuatan benar, walau bagaimana pun tak ada alasan untuk aku membenci mereka, karena mereka adalah kakek dan neneknya kedua anakku
"Ma, makan ya...?"
Mamanya mas Arif tidak menjawab melainkan masih membuang mukanya, tampaknya beliau enggan melihat ke arahku
"Kalau mama nggak mau, biar kami saja Ntan, kebetulan mbak lapar, tadi kesini belum sempat sarapan" jawab mbak Sari berdiri duluan sambil mencolek bahu suaminya
Aku segera berjalan mendahului mbak Sari dan suaminya, segera aku membuka tudung saji, dan ketik mbak Sari sampai dia langsung bergumam senang karena masakan yang aku masak menggugah seleranya
"Makan yang banyak, jangan malu-malu" ucapku sambil berlalu dari hadapan mereka
Saat aku akan sampai di ruang tamu, aku berpapasan dengan papa nya mas Arif
"Loh mama nggak ikut makan sekalian pa?"
"Masih kenyang kata mamamu"
__ADS_1
Aku ber O panjang mendengar jawaban beliau, lalu aku tersenyum kemudian berjalan kembali menuju ruang tamu
Kembali mamanya mas Arif membuang wajahnya ketika aku makin dekat ke kursi tamu
"Kok nggak ikut makan, ma?" tanyaku sambil tersenyum
Beliau tak menjawab melainkan terus melengos, aku hanya bisa tersenyum kecut melihat sikapnya
Sekitar lima belas menit kemudian mbak Sari dan suaminya muncul dengan tertawa senang bahkan mbak Sari sampai bersendawa
"Terima kasih ya Ntan, kenyang perut mbak"
Aku hanya tersenyum melihat kearahnya
Tak lama muncul pula papanya mas Arif. Melihat beliau aku segera berdiri tapi saat aku mau berjalan langsung dihentikan oleh beliau
"Nggak usah, sudah papa beresin"
"Lohhh....???" jawabku bengong tak enak hati
Papanya mas Arif tertawa ringan kemudian beliau duduk kembali dan tampak menyulut rokoknya
Dan aku mengobrol ringan dengan mbak Sari. Tapi dalam hati aku menduga-duga ada gerangan apa mereka kesini lagi, pasti ada hal penting yang ingin mereka sampaikan
"Begini Ntan...." ucap papanya mas Arif menyela obrolanku dengan mbak Sari
Aku segera menoleh kearah beliau dan menatap beliau dengan penuh tanda tanya
"Tujuan papa dan keluarga kesini selain ingin bersilaturahmi sama kamu dan melihat keadaan cucu-cucunya papa, kami kesini juga ada yang ingin kami sampaikan"
Aku kian menatap lekat kearah beliau, dan degup jantungku tiba-tiba berdebar keras, seperti ada hal yang buruk yang akan beliau sampaikan
"Kemarin kami membesuk Arif, dan seperti yang kamu tahu, tiga bulan lagi In Syaa Alloh Arif bebas, dan alhamdulillah istrinya Arif juga sudah melahirkan, dan anaknya sehat, perempuan"
Wajahku langsung sumringah ketika mendengar kalimat yang diucapkan beliau tentang Mirna yang telah melahirkan
"Terus anaknya dimana pa?" selaku tak sopan
Beliau tersenyum
"Ada di rumah neneknya di daerah tempat Arif dinas dulu"
Aku ber O panjang dan menganggukkan kepalaku
"Cepat pa langsung ke intinya saja, nggak usah bertele-tele" sungut mamanya mas Arif yang membuatku refleks menoleh kearah beliau yang wajahnya masih masam
"Mama, nggak sopan ah" geram mbak Sari yang dibalas mamanya dengan membuang wajahnya kembali
"Bilang aja pa, apa tujuan papa kesini" ucapku karena aku makin tak enak melihat wajah mamanya mas Arif yang makin tampak sengit melihat ke arahku
"Arif bilang dia ingin rumah ini di jual"
"Hahhhh...???!" mulutku langsung ternganga mendengar kalimat yang diucapkan papanya mas Arif
__ADS_1