
Aku segera membuka bungkusan tersebut, dan melihat isinya yang ternyata nasi uduk
Dan aku hanya menganggukkan kepalaku ketika melihat isinya. Setelahnya aku kembali ke depan dan melihat suamiku yang masih tampak pulas
"Sepertinya kamu mulai tebar pesona" lirihku sambil tersenyum sinis
Aku kembali kebelakang, membereskan perabotan yang kotor semua, belum lagi pakaian kotor yang menumpuk. Sepertinya mas Arif memang sengaja menumpuk pakaian kotornya karena dia tahu jika aku akan datang
Cukup lama aku berjibaku di belakang sampai Meka dan Bobbi yang sudah bangun, sudah bermain di luar aku masih belum juga selesai mencuci
"Maaf ya ma"
Aku hanya menoleh sekilas kearah mas Arid yang masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya
"Nyucinya tiap hari biar nggak numpuk!" sungutku
Mas Arif tidak menjawab melainkan langsung menghidupkan kompor memasak air, untuk dipakainya menyeduh kopi
"Kakaaakk....." panggil mas Arif
Terdengar suara teriakan dari halaman
"Sama papa beli sarapan yuk?"
Aku yang selesai membilas pakaian dan sedang membuang air di dalam bak segera menjawab
"Udah ada nasi uduk tuh di dalam tudung saji"
Suara dentingan sendok yang mengenai gelas terhenti, kulihat mas Arif tampak menoleh ke arahku
"Ada cewek yang nganter nasi uduk tadi pagi kesini" jawabku tanpa memperdulikan mas Arif yang diam melihatku mengangkat bak pakaian dan sekarang berjalan keluar, kearah belakang, menjemur pakaian
Sambil menjemur pakaian aku meneriakkan nama kedua anakku untuk meminta mereka mandi
Selesai semua aku sengaja mengajak mas Arif beli nasi uduk, tidak mungkin dia tidak tahu tempat jualannya, walau sebenarnya aku sudah masak
Walau aku lihat ada raut tegang di wajah suamiku tapi aku tetap memaksa
Akhirnya mas Arif menurut, dengan berjalan kaki, kami berjalan di daerah ini, daerah pedesaan yang jalannya masih jalan tanah bercampur koral
Daerahnya benar-benar sejuk, dan membuat betah dengan pemandangan alamnya yang juga indah
Di kanan kiri jalan berjejer tanaman bunga liar yang pohonnya sudah cukup tinggi, juga banyak terdapat tanaman sayur merambat yang tak terurus
"Masih jauh?" tanyaku karena telah cukup berjalan tapi kami masih belum menemukan adanya sebuah warung sarapan
"Sudah tutup mungkin ma, kan sudah siang"
Aku menganggukkan kepalaku seperti setuju, tapi karena pemandangan dan kesejukan tempatnya aku menjadi betah berjalan walau sudah cukup jauh kami meninggalkan rumah
"Pak....?" sapa seorang pekebun ketika kami melintasi kebunnya
Kami menghentikan langkah kami, dan terlihat beliau berjalan mendekat kearah kami
Aku mengembangkan senyum kearah pria paruh baya tersebut ketika beliau sudah dekat kearah kami
"Tadi pagi Mirna ketempat bapak"
Aku langsung mengerling kearah mas Arif
__ADS_1
"Oh iya, dia bertemu dengan istri saya pak, ini pak kenalkan, istri saya dan kedua anak kami"
Aku dapat menangkap raut kaget di wajahnya, tapi yang menjadi perhatianku bukanlah perubahan raut wajah pria paruh baya tersebut, melainkan sikap suamiku yang gugup sejak pria paruh baya ini memanggil kami
"Oh istrinya pak Arif?"
Aku menganggukkan kepalaku dan kembali tersenyum
"Jadi cewek yang tadi pagi ketempat kami anak bapak?" tanyaku
Pria tersebut mengangguk sambil tersenyum kaku
"Kami juga mau pak nasi uduknya, bilang sama anak bapak, besok pagi untuk mengantarkan empat bungkus ke rumah, ya?" jawabku masih dengan nada tak berubah
Kembali pria paruh baya tersebut mengangguk, setelahnya kami berpamitan melanjutkan perjalanan
Karena ini daerah perkebunan, jadi di kebun-kebun banyak para pekebun yang bekerja. Dan ketika melihat kami, sebagian dari mereka yang panen memanggil dan memberi hasil panen mereka pada kami, jadilah kami pulang ke rumah dengan membawa banyak sekali sayuran
Mataku menghijau layaknya sayuran segar yang ada di pangkuanku saking senangnya aku mendapatkan sayur gratis dari mereka
"Makanya mama ikut pindah sini saja" ucap mas Arif ketika dia melihat kebahagiaanku
Aku tak menjawab melainkan terus saja berjalan menuju rumah. Sepanjang jalan setiap berpapasan dengan warga kami selalu bertegur sapa
Hingga akhirnya langkahku kembali terhenti ketika aku melihat perempuan muda yang tadi mengantarkan nasi uduk ke rumah tampak sedang menyapu halaman dan segera melengos dengan gugup ketika melihat kami di jalan
"Hei mbak?" sapaku
Perempuan muda tadi menghentikan pekerjaannya dan tersenyum kaku kearah kami
"Yang tadi pagi ke rumah, kan?"
Perempuan muda itu mengangguk
Kembali perempuan muda itu mengangguk dan tersenyum kaku
"Loh pa, kok papa nggak ngucapin terima kasih?" ucapku pada mas Arif yang sejak tadi diam
Mas Arif tersenyum kaku ke arahku, lalu mengucapkan terima kasih pada gadis muda yang juga tersenyum kaku kearahnya
Setelah cukup basa-basi nya, aku mengajak keluarga kecilku melanjutkan perjalanan. Dan sepanjang jalan menuju rumah mas Arif lebih banyak diam, dan aku semakin menaruh curiga pada perubahan sikapnya
...----------------...
Pagi besoknya tidak ada lagi yang mengetuk pintu rumah dinas mas Arif dan aku semakin yakin jika ada apa-apa diantara mereka
Tapi aku bersikap biasa saja, seakan-akan aku tidak curiga. Bahkan ketika mas Arif dan kedua anakku bangun kami sarapan makanan yang aku masak, tanpa sedikitpun menyinggung masalah nasi uduk yang ku pesan
Dan mas Arif pun sepertinya tidak ingin membahas masalah nasi uduk pagi kemarin
Dan ini adalah hari kedua kami disini, dan rencananya siang ini kami akan pulang, sebelum pulang aku membereskan dan merapihkan rumah, seluruh pakaian mas Arif aku setrika
"Suruh orang buat bersihkan rumah jika mas malas" ucapku
"Nggak usahlah ma, papa bisa kok"
"Harusnya sih memang bisa, wong cuma bersihkan rumah kecil kaya gini kok"
Mas Arif yang menungguiku menyetrika tersenyum
__ADS_1
"Tiap mau mandi pakaiannya langsung dicuci, piring juga, biar nggak numpuk"
"Siap ma"
"Kalau sarapan kan bisa beli" lanjut ku sambil mengerling kearah suamiku yang langsung gelisah
Selesai semuanya aku dan mas Arif duduk santai di teras, sementara kedua anak kami bermain di halaman
"Mama sudah maafin papa kan?"
Aku menarik nafas panjang
"Entahlah mas, tapi yang pastinya aku masih kecewa, aku juga bukanlah istri yang sempurna, tapi begitu mengetahui aku dikhianati, rasanya sakit saja"
Kudengar mas Arif menarik nafas panjang, dan aku tersenyum getir
"Jam berapa travel jemput?"
Mas Adi melihat ke hpnya
"Satu jam lagi ma"
Aku berdiri bersiap memasukkan barang-barang kami kedalam koper. Dan aku menoleh ketika mas Arif masuk
Aku bergeming ketika mas Arif memeluk bahuku dari belakang dan menciumi tengkukku
"Maaf, aku belum bisa" tolak ku
"Papa sudah menyiapkan pengaman ma"
Aku menggeleng
"Maaf....."
Mas Arif menarik nafas panjang dan berusaha tersenyum getir ke arahku yang menatap matanya
Tepat satu jam berikutnya, travel yang mengantar kami dua hari yang lalu tiba
Wajah kedua anakku tampak murung ketika memeluk papa mereka, begitu juga dengan wajah mas Arif. Kulihat matanya tampak berkaca-kaca ketika memeluk Meka dan Bobbi.
Begitu juga ketika memelukku. Aku hanya mengelus punggung mas Arif ketika kulihat wajahnya basah
"Dua minggu lagi kami akan kesini lagi" janjiku menghiburnya
Dengan diiringi lambaian tangan dari mas Arif, kami bertiga masuk kedalam mobil
Dua jam berikutnya kami sudah sampai di perkotaan dan kedua anakku telah sejak tadi tidur
"Belanja buk?" tanya supir
"Nggak Om, langsung pulang saja"
Saat aku berusaha memejamkan mataku hp ku berdering
"Ya Yo?"
"Sudah pulang?"
"Ini lagi di jalan"
__ADS_1
Lalu mulailah mengalir kata rindu dari Mario yang membuatku tersenyum-senyum malu
"Aku juga merindukanmu Mario...." bisik hatiku