
“Stop!!!” teriak suara besar yang membuat kerumunan yang tadi sibuk memukuli Mirna sontak menghentikan aksi mereka
“Keterlaluan kalian!!!” kembali suara itu membentak sambil berjongkok dan membawa Mirna berdiri
“Siapkan mobil, kita bawa sekalian dia ke kantor polisi” ternyata yang membentak tadi adalah anak buahnya Mario yang Mario telepon untuk datang lagi ke rumah orang tuaku
“Jika ibu-ibu masih bersikap anarkis dengan main hakim sendiri, saya juga akan memenjarakan ibu-ibu semua!” ucap pria tersebut yang menarik lengan Mirna dan membawanya keluar dari dalam tenda
Bukannya takut dengan ancaman polisi tadi, para ibu-ibu itu malah menyoraki Mirna dan bahkan masih saja ada tangan yang menjambak rambutnya
Mirna yang sekarang sudah tak karuan bentuknya hanya bisa pasrah ketika digelandang masuk kedalam sebuah mobil. Dan di dalam mobil dia hanya bisa terisak ketakutan tanpa sedikitpun bisa bersuara
Dan bahkan ketika mobil berhenti di depan kantor polisi, tangis Mirna kian kencang
“Nggak mau….!!” Ucapnya setengah berteriak ketika seorang polisi memaksanya untuk turun
“Turun kamu. Jangan buat kami bersikap kasar sama kamu!” bentak polisi itu yang membuat nyali Mirna langsung menciut
Dengan langkah agak diseret akhirnya Mirna menurut ketika polisi menarik tangannya masuk kedalam kantor
“Duduk!!!” bentak polisi tersebut kearah Mirna yang segera duduk dan menundukkan kepalanya
“Punya nyali juga kamu ya datang ke pernikahan bos kami. Kamu tidak tahu apa kalau yang menikah itu adalah kepala polisi kami?” bentak petugas itu lagi yang makin membuat Mirna menunduk ketakutan
“Nggak suaminya, nggak istrinya, sama gila” ucap petugas itu lagi yang membuat Mirna makin tak berani mengangkat kepalanya
“Kamu ngapain datang kesana?”
Mirna yang menundukkan kepalanya masih tak berani bersuara sehingga membuat petugas itu kembali mengulangi pertanyaannya.
“Mencari suami saya” lirih Mirna
Kedua polisi yang duduk di depan Mirna menggelengkan kepala mereka.
“Suami kamu ada di dalam penjara kantor polisi ini. Kamu mau menyusul dia?”
Mirna mengangkat kepalanya kemudian menggeleng kuat
“Lah tadi kamu bilang mencari suami kamu, ya itu suami kamu ada di dalam penjara di belakang. Kalau kamu mau, saya bisa antarkan”
“Nggak mau…..” rengek Mirna
“Makanya sebelum melakukan sesuatu itu dipikir”
Mirna kembali menundukkan kepalanya mendengar salah satu polisi yang duduk di hadapannya membentaknya
__ADS_1
“Kamu tahu kalau hari ini ibu Intan menikah?”
Mirna menganggukkan kepalanya dengan pelan
“Dapat undangan?”
Mirna menggeleng dan makin menunduk dalam
“Sudah nggak diundang, buat onar pula” sambung petugas itu sambil mendecak kesal
“Kamu tahu kenapa kamu tadi dipukuli?”
Mirna tidak menjawab, dia hanya bisa menelan ludahnya dengan ketakutan
“Karena kamu itu pelakor. Dan ibu-ibu tadi benci sama kamu. Coba kalau kami terlambat datang tadi, kami yakin kamu sudah mati di tangan para ibu-ibu tadi”
Mirna mengusap kasar wajahnya dan mulai terisak
“Sudah nggak usah nangis, makanya lain kali itu segala sesuatu dipikir matang-matang. Jangan hanya mengandalkan emosi, ini jadinya”
Mirna terus saja terisak, dan makin tak berani mengangkat wajahnya
“Terus kita apakan wanita ini?” tanya salah satu dari pria berseragam itu
“Ya masukkan ke penjara lah. Biar dia ketemu sama suaminya. Kan dia tadi bilang cari suaminya. Kan suaminya kita tahan tadi pagi, jadi biar mereka ketemu, wanita ini kita jebloskan juga di penjara. Biar mereka mendekam untuk kedua kalinya di penjara”
“Tolong pak jangan tahan saya. Saya janji saya tidak akan membuat gaduh lagi di tempat Intan. Saya janji saya tidak akan pernah menemui dan mengganggu hidup Intan lagi” ucap Mirna dengan nada suara bergetar ketakutan
Kedua polisi tadi saling lirik, lalu salah satu dari mereka maju dari posisinya yang semula bersandar
“Kamu pikir kita percaya omongan kamu?”
Tangis Mirna kembali pecah mendengar jawaban polisi tersebut
“Sudah nggak usah banyak drama. Kamu ikut kami sekarang juga!!!”
Dengan cepat salah satu dari polisi itu menarik lengan Mirna dan memaksa wanita muda itu berdiri. Dan Mirna kembali memohon dan bersikeras mempertahankan tubuhnya agar tidak ditarik oleh polisi tadi. Hingga dengan terpaksa akhirnya polisi tadi menyeret paksa tangan Mirna
“Hei, ngapain kamu disini!!!” bentak sebuah suara ketika didengarnya suara gaduh dan begitu dilihatnya jika yang tadi memohon adalah Mirna
Mirna menoleh cepat kedalam salah satu penjara, dimana dilihatnya suaminya, mas Arif yang berdiri dengan memegangi jeruji besi ruang tahanan
Mata mas Arif memandang penuh amarah kearah Mirna yang tampak menangis
“Mas tolong aku, pak polisi ini mau memenjarakan aku….” rengek Mirna lagi
__ADS_1
Mas Arif mendecak kesal dan masih memandang marah kearah Mirna yang sekarang tak bisa berbuat apa-apa lagi. Salah satu polisi membuka kunci ruangan penjara tempat Mas Arif, lalu polisi yang tadi memegangi tangan Mirna segera membawa Mirna masuk kedalam ruangan tersebut
Dengan sedikit mendorong kasar tubuh Mirna, polisi tersebut segera menutup pintu ruang penjara dan menguncinya
“Pak, tolong pak. Aku nggak mau di penjara. Tolong lepasin aku pak….” Teriak Mirna sambil berurai air mata ketika polisi menggembok ruangan penjara tempatnya dan mas Arif berada sekarang
“Nikmati malam kalian di penjara…..” ucap petugas tersebut sambil meninggalkan mas Arif dan Mirna yang hanya bisa menangis
“Diam!!!” bentak mas Arif karena kesal pada Mirna yang terus terisak. Mirna tidak mempedulikan bentakan suaminya, dia terus saja terisak
“Ngapain kamu ke tempat Intan, hah?. Kan sudah aku bilang, jangan cari aku lagi. Aku sudah tidak sudi hidup sama kamu!!!” mas Arif membentak Mirna lagi
“Kalau sudah begini siapa yang repot, hah? Menyusahkan saja. Kamu tahu nggak sih, hidup aku tuh kacau sejak menikah dengan kamu. Aku dipecat dari pekerjaan, teman-teman tidak ada yang mau kenal lagi sama aku. Hidup sengsara di ujung dunia sana. Huuuhhhhhh…..” geram mas Arif
“Mas kok menyalahkan aku sih. Kan aku tidak tahu kalau mas sudah beristri”
“Nggak tahu kamu bilang?. Kan Intan sama kedua anak aku sudah pernah datang ke rumah dinas aku. dan kamu sendiri ketemu Intan langsung. Jadi kamu nggak tahu dari mana? Dasar saja kamu gatel”
Air mata Mirna kian deras mengalir mendengar mas Arif memakinya. Dia tidak menyangka jika pengorbanannya tidak berarti sedikitpun di mata mas Arif
“Dan sekarang, gara-gara kamu aku masuk penjara lagi!!!”
“Kok gara-gara aku. Kan mas sendiri yang datang ke pernikahan Intan”
“Diam kamu!!!”
Tubuh Mirna kembali menciut karena bentakan Mirna. Sementara dua orang petugas yang tadi membawanya masuk kedalam penjara hanya tersenyum simpul mendengar sepasang suami istri itu ribut di penjara
“Dasar orang aneh. Dulu ketika masih jadi istri disia-siakan, sekarang giliran sudah menikah, malah menyesal”
Temannya hanya mengangkat bahu sambil menarik nafas panjang mendengar ucapan temannya. Sementara di lain tempat, aku yang telah berganti baju selepas mandi segera mengajak Mario untuk keluar, bergabung dengan keluarga besar ku yang masih berkumpul di ruang keluarga
“Dibawa ke kantor polisi akhirnya wanita tadi…..” ucap bibiku
“Siapa bi?” tanyaku yang ikut duduk bergabung dengan mereka
“Itu pelakor yang tadi kesini….” Jawab bibiku santai
“Hah? Maksud bibi Mirna?” tanyaku dengan nada kaget
Bibiku mengangguk, kemudian dia kembali melanjutkan ceritanya dengan berapi-api. Sementara aku yang sekarang mengetahui jika Mirna juga dibawa ke kantor polisi menoleh kearah Mario
Aku memberi kode dengan mengangkat alisku pada Mario yang dibalasnya dengan mengangkat bahunya. Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tak gatal melihat jawabannya. Dan kembali menoleh kearah bibiku yang masih menirukan bagaimana tadi para ibu-ibu yang ada di luar tadi memukuli Mirna
“Jadi Mirna dipukuli juga?” tanyaku masih dengan nada kaget
__ADS_1
Beberapa bibiku dan anggota keluargaku yang lain menoleh ke arahku
“Please deh Ntan jangan munafik kaya gitu” sungut bibiku sambil meneyeng keningku dengan kesal