
Kulihat Mario sedang memeluk erat kedua orang tuanya, dan aku hanya bisa tersenyum kecut melihatnya
Selesai dari sana barulah Mario mendekati keluarga besar ku, dan kembali seperti waktu kami mau berangkat, Mario juga menyalami kedua orang tua dan saudara-saudaraku.
Dan aku masih berdiri mematung memperhatikan Mario tanpa sedikitpun berniat mendekatinya.
Hingga akhirnya Mario membalikkan badannya menghadap ke arahku lalu tersenyum.
"Gimana? boleh salaman nggak?" tanyanya bercanda yang ku jawab dengan tersenyum malu.
"Kamu apaan sih Yo..." jawabku
Dan kulihat Mario juga tampak kagok, sampai akhirnya aku yang berinisiatif mengulurkan tanganku yang langsung disambutnya dengan hangat
"Aku merindukanmu Mario....." batinku sambil menatap wajahnya
Dan kulihat Mario juga menatap dalam padaku.
"Mario.......!!!!"
Aku segera melepaskan tanganku dari jabatan Mario lalu menoleh kearah sumber suara
Dan aku langsung menarik nafas dalam ketika kulihat perempuan yang dulu pernah berteriak memanggil nama Mario di bandara ini sekarang tengah berjalan cepat kearah kami
Aku segera membuang wajahku lalu mundur dari hadapan Mario, lalu aku bergabung dengan keluargaku yang melihat kearah wanita yang berteriak tadi
Ku lirik Mario menggaruk kepalanya dan entah mengapa itu membuat dadaku rasanya panas
Begitu sampai di dekat Mario, wanita itu langsung menarik tangan Mario, seperti hendak memeluk Mario.
Dada ku kembali terasa panas dan aku kembali membuang mukaku, begitu melihat bagaimana perempuan itu dengan beraninya menarik tangan Mario di depanku dan di depan kami semua.
"Kamu apaan sih?" elak Mario menepis tangan perempuan itu yang saat ini sedang menarik tangannya .
Perempuan tadi tersenyum kecut ke arah Mario, kemudian seperti tersadar dia menoleh ke belakang
"Mereka siapa?" tanya perempuan itu menoleh pada kami semua, lalu dia membalikkan badannya menghadap ke arah Mario lagi
Melihat Mario dari atas sampai ke bawah
"Kamu ngapain ada di sini?, ini masih jam kamu dinas kan?, ahhh jangan-jangan kamu memang mau jemput aku yaaaa??!"
Dada ku kian panas mendengar ucapan manja perempuan itu.
Kulihat mamanya Mario melihat ke arahku, lalu aku berusaha untuk menghindari tatapan beliau padaku. Aku tak ingin beliau menangkap cemburu di mataku
"Kamu siapa?, kami adalah orang tuanya Mario" ucap mamanya Mario yang membuat perempuan yang tadi terus menghadap ke arah Mario kembali membalikkan badannya menghadap ke arah kami.
"Oh....., jadi tante ini mamanya Mario...." kembali perempuan itu bersuara dengan manjanya dan tampak sekali bahwa dia begitu antusias.
Perempuan itu langsung menarik tangan Mamanya Mario kemudian mencium punggung tangan Mama Mario. Lalu dia juga mendekap erat mamanya Mario. Dan aku yang melihatnya hanya bisa menelan ludahku.
__ADS_1
"Aku temannya Mario, tante...." ucap perempuan itu sambil melirik ke arah Mario.
Entah kenapa lirikannya itu menurutku mengisyaratkan bahwa dia adalah teman spesial nya Mario.
"Ini pasti papanya Mario kan?" perempuan itu kembali berkata dan langsung mencium takzim punggung tangan Papanya Mario.
Aku kembali melirik ke arah Mario yang tampak gelisah. Dan Aku berusaha untuk bersikap biasa saja agar Mario tidak mengetahui jika aku saat ini terbakar cemburu.
"Kamu kok nggak bilang si Mario kalau orang tua kamu ada di sini?, kan kalau kamu bilang orang tua kamu ada di sini kan aku nggak terbang, aku bisa pending penerbangan aku". bisik perempuan itu
"Kami baru pulang umroh dan ini rencananya kami mau terbang lagi pulang ke daerah kami" jawab mamanya Mario.
Aku yang sejak tadi hanya melihat ke arah mereka berempat, makin merasa tidak nyaman.
Hingga akhirnya aku bilang pada Ibuku jika aku akan ke toilet sebentar.
"Kak aku ikut!" sela Ibrahim menghentikan langkahku.
Aku mengangguk kearah Ibrahim, kemudian Ibrahim langsung berjalan cepat ke arahku dan kami bersama-sama berjalan menuju toilet.
"Kakak Cemburu ya?" tanya Ibrahim yang membuatku langsung menoleh ke arahnya.
"Kamu apaan sih?" jawabku sambil berusaha untuk tersenyum.
Ibrahim tertawa mendengar jawabanku.
"Mata Kakak nggak bisa bohong" jawabnya yang membuatku langsung terdiam.
Sampai di dalam toilet, aku segera menyandarkan tubuhku di tembok dan mendongakkan wajahku ke atas.
Sekuat tenaga aku menahan jangan sampai air mataku tumpah, mulutku bisa berkata jika aku memang tidak cemburu pada Mario tapi tidak dengan hatiku.
Aku menangis dalam diam di dalam toilet ini. Berusaha menarik nafas dalam-dalam, untuk melegakan hatiku yang hingga detik ini masih terasa panas.
"Pak Uki, iya Pak Uki. Aku harus minta bantuan Pak Uki" gumamku sambil mengeluarkan HP.
Segera aku mendial nomor Pak Uki, dan langsung tersambung. Begitu tersambung tak lama Pak Uki langsung menjawab panggilanku
"Ada apa Mbak?" tanya beliau.
Aku langsung menjelaskan maksud dan tujuanku menelpon beliau dan meminta bantuan beliau saat ini juga. Dan beliau langsung menyetujui permintaanku.
"Bawa dulu rombongan keluarga Mbak ke restoran yang tidak jauh dari bandara. 10 menit lagi aku akan sampai di sana" ucap Pak Uki mengakhiri obrolan kami.
Aku segera mengucapkan terima kasih kepada Pak Uki, Karena beliau sudah bersedia membantuku.
Segera obrolan kami berakhir, dan aku segera mencuci wajahku. Agar keluargaku tidak tahu jika aku tadi menangis.
"Kok lama Kak, nangis ya?" tanya Ibrahim begitu aku keluar dari toilet.
Aku hanya menoleh sekilas ke arahnya kemudian mendecak kesal dan itu membuat Ibrahim terkekeh.
__ADS_1
Ternyata perempuan yang tadi bersama Mario masih saja ada di sana. Dan itu semakin membuatku ingin membalas rasa cemburu kepada Mario.
"Dekat sini ada restoran kan?, bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan kita ke restoran saja?" tawar ku kepada mereka semua ketika aku sampai di dekat mereka
Perempuan tadi langsung menoleh ke arahku, kemudian menatapku dari atas hingga ke bawah.
"Kamu keluarga Mario juga?" tanyanya masih dengan nada manja.
Aku segera menganggukkan kepalaku sambil melirik kearah Mario.
Sebenarnya dia adalah..." ucap Mario yang segera ku potong.
"Teman sekolahnya Mario, aku teman sekolahnya Mario dulu" ucapku sambil tersenyum kaku.
Mario hanya menatap ke arahku, dan aku menatap ke arahnya dengan wajah datar.
"Ayo, nanti kita keburu terlambat loh. Karena penerbangan kami 3 jam lagi" lanjut ku yang segera mengajak mereka semua keluar dari area bandara.
Aku segera menggandeng tangan Ibuku dan Mario menggandeng tangan mamanya. Tapi kembali tangan Mario ditarik oleh perempuan tadi yang semakin membuatku panas melihatnya.
"Sabar....." bisik Ibrahim yang ku balas dengan pukulan pada lengannya.
Benar apa yang dikatakan oleh Pak Uki. Tak jauh dari bandara memang ada sebuah restoran mewah. Segera kami masuk restoran tersebut dan langsung memesan makanan.
Aku sudah menoleh ke sana kemari berharap pak Uki segera datang. Dan sepertinya Mario melihat jika aku saat ini kelihatan gelisah.
Aku berusaha tersenyum ke arah Mario yang sejak tadi melihat kegelisahanku. Dan aku juga melirik ke arah perempuan tadi yang saat ini duduk di sebelahnya.
Di pintu masuk restoran aku melihat Pak Uki datang dengan pakaian setelan jas. Sebagaimana yang sering dia pakai, dan itu memang terlihat sangat menawan.
Aku mengangkat tanganku ke arah Pak Uki dan melambai .
Pak Uki segera berjalan cepat ke arah kami kemudian dia langsung menuju ke kursiku. Memegang bahuku, dan mengusap kepalaku
"Sudah lama sayang ya?, maaf ya, jalannya macet" ucap Pak Uki.
Aku masih menatap ke arah Pak Uki dengan tersenyum sambil menggeleng
"Nggak kok, barusan kok pak eh mas".
Pak Uki tersenyum kemudian kembali dia mengusap kepalaku, lalu melihat ke seluruh orang yang ada di meja makan ini yang sejak tadi menatap ke arahnya.
"Oh maaf, saya sampai lupa menyapa kalian semua. Saking saya antusiasnya bertemu dengan pacar saya" lanjut pak Uki lagi.
Dengan cepat aku melirik ke arah Mario ketika Pak Uki mengucapkan kalimat tersebut. Kulihat ada raut kaget dari wajah Mario.
"Kenalkan Pak eh Mas ini orang tua aku, ini adik aku, ini kakak aku dan istrinya, terus ini mama papa aku dan juga itu teman sekolah aku, Mario sama pacarnya".
Masih kulihat raut kekagetan di wajah Mario ketika aku memperkenalkan mereka semua. Tapi berbeda dengan perempuan yang duduk sebelah Mario, wajahnya tampak berseri-seri ketika akan menyebut bahwa dia adalah pacarnya Mario.
Pak Uki langsung menyalami mereka semua dan Ibrahim yang duduk di sebelahku segera mencolek pahaku yang ku balas dengan cubitan.
__ADS_1