
Aku menghapus air mataku saat beliau menepuk bahuku
"Kalau kamu menikah beritahu papa ya Ntan, papa pasti datang"
Kembali aku hanya bisa mengangguk ketika beliau berkata seperti itu dan melambaikan tanganku saat mobil yang beliau kendarai mundur dari halaman rumah orang tuaku
Ibuku menarik nafas panjang ketika melihatku mengusap kasar wajahku
"Sudah jangan nangis lagi, berangkatlah bekerja, justru dengan ini kamu harus giat, buktikan bahwa kamu bisa sukses"
Aku menoleh kearah ibuku kemudian aku mengangguk lalu menoleh kearah ayahku yang juga mengangguk pasti ke arahku
"Kalau begitu Intan pergi ya buk" pamit ku sambil mencium punggung tangan kedua orang tuaku
Segera aku naik keatas motor dan melaju kejalan raya menuju ruko tempatku sekarang
Tak butuh waktu lama, sekitar lima menit aku sudah sampai di ruko dimana kulihat adikku dengan kedua temannya sedang sibuk menata ruangan dibantu oleh beberapa pekerja bangunan yang memang aku suruh membantu membuat sekat-sekat di ruangan ini
"Mobil ekspedisi sudah dijalan kak" ucap adikku ketika melihat ku masuk
Aku hanya menjawab pendek lalu segera naik keatas menyimpan bukti surat perjanjian dan juga bukti struk bank serta uang yang tadi diberikan oleh papanya mas Arif
Sebelum meletakkan amplop tersebut kedalam lemari, aku membuka dan melihat isinya
Aku tersenyum ketika melihat dan mengetahui jumlahnya
"Lumayanlah lima juta, bisa untuk bayar biaya sekolah anak-anak" ucapku tersenyum lega sambil meletakkan amplop tersebut kedalam lemari lalu menguncinya
Saat aku menuruni tangga kulihat sebuah mobil box masuk dan sedang diarahkan oleh teman adikku tempat parkirnya agar memudahkan mereka membantu menurunkan barang
Aku segera mengambil foto karyawanku dan orang ekspedisi yang sedang menurunkan barang lalu membuatnya status di sosial mediaku dan juga status what's app
Beberapa menit berikutnya beberapa pesan masuk yang mengucapkan selamat dan senang mereka pada usaha baruku
Dan iseng aku melihat siapa saja yang melihat status what's app ku, dan jantungku langsung berdebar kencang ketika mengetahui jika ada nama Mario yang melihat status yang ku bagikan
Entah bagaimana kabarnya sekarang, sudah nyaris dua bulan ini aku tidak pernah mengetahui kabarnya, dan kami sama sekali tidak berkirim pesan walau hanya sekedar bertanya bagaimana kabar kami
Rindu sudah pasti, tapi aku harus bisa menahannya, aku tidak ingin hatiku yang telah memaafkan keadaan kembali porak poranda seperti dulu
Sok asik kamu, mau pamer?
Aku tertegun membaca pesan masuk dari Tasya
__ADS_1
"Ya Tuhan, wanita masih juga memusuhiku walau aku sudah menuruti keinginannya untuk melepaskan kakaknya" gumamku sambil menghapus pesan darinya
Aku tak ingin pesannya merusak semangatku siang ini. Aku harus optimis dan ceria karena itu juga berpengaruh positif untukku
Segera aku membantu karyawanku dan petugas ekspedisi memasukkan barang ke dalam toko
Setelah semuanya selesai, kembali aku dibantu adikku dan temannya memilah paketan dan membuat laporan jika paket sudah transit di tempatku
Selagi aku sibuk mengajari adikku mengentri laporan paket, hp ku berdering, video call dari pak Uki
Panggilan beliau langsung aku jawab
"Saya lihat postingannya mbak sudah di ruko ya?"
"Iya pak, ini...." jawabku dengan langsung mengedarkan hp ke seluruh ruangan
"Bagaimana mbak, lancar?"
"Alhamdulillah pak...." tambahku
"Begini mbak, saya tadi pergi kepusat perbelanjaan terbesar di negeri ini, turun langsung mencari agen barang murah yang bisa saya tawarkan sama mbak"
Mataku langsung membulat mendengar perkataan beliau yang sepertinya tak tanggung-tanggung dalam membantuku
Lalu beliau mulai menceritakan segala jenis perabotan rumah tangga, pakaian hingga aksesoris beliau sudah mendapatkannya tinggal aku nya saja kapan ada waktu menemui beliau
"Bagaimana kalau lusa pak saya kesana nya?, kalau besok nggak bisa soalnya saya harus mengurusi paketan yang baru masuk"
"Okelah, nanti ketika mbak mau berangkat saya share loc tempat saya atau nanti saya suruh orang buat jemput mbak di air port"
Aku mengiyakan dan obrolan kami berakhir
Ibrahim menoleh ke arahku dan dia tampak memandang serius padaku
"Lusa kakak harus ke ibukota, menemui pak Uki, kamu bisa kakak andalkan kan?"
Ibrahim mengangguk pasti setelah aku menceritakan alasan aku menemui pak Uki
"Minta doa dan dukungannya ya dek....." ucapku sambil merengkuh bahunya. Dan Ibrahim mengangguk sambil mengelus kepalaku yang menempel di pundaknya
"Doa kami selalu menyertaimu kak, kami tak ingin kakak sedih lagi, apapun yang ingin kakak lakukan selama itu demi kebaikan kami selalu mendukung dan akan selalu ada untuk kakak"
Aku makin terharu mendengar ucapan adik bungsuku ini, tak kusangka dia sudah dewasa dan bijak sekali perkataannya
__ADS_1
"Sekarang kakak ajari aku lagi, biar kakak bisa fokus sama bisnis yang lain"
Aku mengangguk lalu kembali kami sama-sama menatap layar laptop sementara dua karyawanku sibuk memilih paket yang akan mereka antar besok
Jam makan siang, aku meminta pada Ibrahim untuk membeli nasi bungkus, dan nyaris satu jam lamanya barulah Ibrahim kembali dengan alasan tempat membeli nasinya bagus
"Kak, kenapa kakak tidak buka warteg juga?" ucap Rian, salah satu karyawanku ketika kami makan
"Repot Yan, kakak nggak bisa masak yang aneh-aneh" jawabku
"Kalau kakak mau, ibuku pintar masaknya dan sering disuruh masak di acara hajatan, jadi biar ibuku saja kak yang masak"
Ibrahim dan Dani terkekeh mendengar saran Rian
"Pintar kamu ya...." jawab adikku sambil memukul lengan Rian
"Akan kakak pikirkan Yan ide kamu, sepertinya itu ide bagus" jawabku melerai mereka bertiga yang saling pukul
Hingga besoknya, ruko tempat usahaku benar-benar sudah selesai dan rapih
Dani dan Rian telah siap dengan motor mereka masing-masing untuk mengantarkan paket ke pemiliknya
Dan aku menghubungi pak Bayu memberitahu beliau jika besok aku akan ke ibukota menemui pak Uki, apakah beliau mau sekalian ikut atau ada barang yang ingin beliau titipkan
Dani aku minta mampir ke rumah pak Bayu ketika aku diberitahu beliau ada barang yang akan beliau titipkan untuk pak Uki
Dan pagi ini, pagi-pagi buta aku telah bangun dan menyiapkan sarapan untuk kedua anakku dan karyawanku karena jam sembilan aku harus segera ke bandara, karena penerbanganku dijadwalkan akan terbang jam sebelas siang
"Kalian tidur di ruko aja ya, jagain ruko" pintaku pada Ibrahim dan kedua temannya ketika aku akan naik taksi
Kedua anakku telah aku titipkan pada kedua orang tuaku, agar ketika mereka pulang sekolah angkot yang antar jemput mereka langsung mengantarkan kedua anakku ke rumah orang tuaku
Kini, saatnya aku naik ke pesawat yang akan membawaku ke ibukota, sebelum naik aku sudah mengirimi pak Uki pesan, jika pesawat yang membawaku akan segera take off
Satu setengah jam berikutnya pesawat yang membawaku sudah landing dan aku segera turun
Karena ini adalah kali pertamanya aku menginjakkan kakiku di kota terbesar negeri ini, aku cukup kagok juga
"Mbak Intan?"
Aku segera menoleh ke belakang dimana berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi, berwajah putih bersih dengan rambut hitam bergelombang agak ikal dan berkacamata putih
"Pak Uki?" tanyaku tak yakin karena beliau sangat berbeda dengan di video call
__ADS_1
Pria itu mengangguk sambil mengulurkan tangannya yang kusambut dengan mengulurkan tanganku juga