
Tatapan mata kedua adik perempuan Mario langsung tertuju pada tangan Mario yang kulepaskan
Aku langsung merasa tak nyaman tatkala tatapan mereka menusuk ke arahku
Kembali aku berusaha tersenyum, sementara Mario kembali menggenggam tanganku dan mengajakku masuk
Mamanya Mario langsung menggeser duduknya dan Mario langsung mendudukkan ku di dekat mamanya, sementara kedua anakku dibawa Mario duduk di dekatnya
Papanya Mario yang saat itu duduk di dekat lima anak kecil yang aku yakini adalah anaknya adik-adik Mario tampak tersenyum kearah kedua anakku
"Sana kenalan sama cucu opa" ucap papanya Mario pada kelima cucunya yang menatap kearah Meka dan Bobbi yang tampak diam, kentara sekali jika mereka juga kagok
Kelima keponakan Mario, sekitar seumuran Meka dan Bobbi mengulurkan tangan mereka yang disambut juga oleh kedua anakku
Namanya anak-anak, adaptasi mereka cepat karena tak lama setelah itu mereka langsung akrab dan bermain bersama, di ruang atas
Dan masih aku lihat tatapan mata kedua adik Mario saat melihat kedua anakku ikut naik keatas dengan anak mereka
Aku hanya bisa menggigit bibirku untuk menutupi kegugupan yang masih menyerang hatiku, suasana masih hening dan itu makin membuatku tak nyaman
"Kok kalian berdua sejak tadi diam?, katanya mau lihat calon istri kakak" ucap Mario memecah kesunyian
Kedua adik Mario saling lirik lalu memasang senyum ke arahku
"Apa kabar mbak?" sapa salah satu dari mereka yang kalau aku nggak salah namanya Tasya
Aku tersenyum kaku dengan menjawab jika aku baik-baik saja
"Oh iya mbak, yuk ikut kami kedalam, kita siapin makan malam" ajak adik Mario yang satunya lagi
Aku mengangguk dan menoleh kearah Mario dan mamanya yang tersenyum ke arahku
Aku mengekor di belakang mereka dengan jantung yang masih berdegup kencang
"Mbak ambil nasi di rice cooker ya?" ucap adik pertama Mario
"Maaf, mbak lupa nama kalian" ucapku sambil kembali memasang senyum kaku
Keduanya mengulurkan tangan ke arahku.
"Aku Tasya" ucap adik pertama Mario yang ternyata tebakanku tadi benar jika dia yang bernama Tasya
"Aku Raisa" ucap adik Mario yang satunya lagi
Aku menyambut tangan mereka berdua dan tersenyum kearah mereka
Setelah itu aku segera mengambil nasi dalam rice cooker, dan aku tertegun ketika kulihat kedua adik Mario malah duduk dan hanya melihat ke arahku
Tanpa menaruh curiga aku meletakkan rice cooker tersebut lalu menatap kearah mereka
"Sekalian piring dan yang lainnya mbak" ucap Tasya yang membuatku kaget dan mengangguk
"Mbak berbakat ya jadi pembantu" lalu terdengar keduanya menahan tawa
__ADS_1
Aku yang sedang mengambil gelas menghentikan gerakan tanganku
"Maksudnya?"
Tasya bangkit dari kursinya dan sekarang berdiri tepat di depanku
"Mbak itu dulu pernah ninggalin kak Mario terus menikah dengan orang lain, terus kenapa sekarang malah kak Mario tiba-tiba ngajak mbak menikah?"
Aku diam tak menjawab ucapannya, karena memang aku tidak memiliki jawaban mengapa Mario mengajakku menikah, yang kutahu Mario dan aku masih sama-sama mencintai, oleh karena itulah kami kembali menjalin kasih
"Nggak bisa jawab kan?" lanjut Tasya
"Apa mbak main dukun?"
Aku menggeleng cepat yang langsung disambutnya dengan senyum sinis
"Model begini kok mau menikah dengan kak Mario" kembali Tasya berkata sambil melihatku dari atas sampai bawah, tatapan yang meremehkan
Seketika jantung ku langsung berdenyut sakit
"Kamu kan janda mbak, kenapa sih masih nempel sama kakak kami, apa nggak bisa cari laki-laki lain?" kali ini Raisa yang berkata
Aku hanya menoleh kearahnya dengan menelan ludahku
"Kakak kami itu polisi mbak, dan mbak tahu sendiri kak Mario itu bukan polisi sembarangan, masa nikahnya sama janda kaya mbak?"
Aku yang masih memegang nampan berisi gelas langsung meletakkannya di atas meja
"Mbak nggak usah keluar, kami belum selesai ngomong!" ucap Raisa dingin dengan langsung memegang tanganku ketika aku akan pergi
"Tolong mbak tinggalkan kakak kami, mbak mungkin tahu jika mbak itu tidak pantas untuk kakak kami, jadi mbak jangan memaksakan diri deh, kakak kami itu sudah punya pacar, dan pacar dia jauh lebih cantik dari mbak, dan yang paling penting dia masih gadis bukan janda kaya mbak" lanjut Raisa lagi
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku menahan air mata yang menggenang di pelupuk mataku mendengar ucapan kedua adik Mario
"Kak Mario beli paket hemat dek, dapat istri langsung dapat bonus anak" sambung Tasya yang disambut keduanya dengan tawa tertahan
Aku melepaskan tanganku yang dipegang Raisa, menatap mereka berdua dengan dalam
"Aku tidak pernah memaksa apalagi mengguna-gunai Mario agar dia mencintaiku lagi, tapi inilah kenyataannya, cinta kami kembali bersemi tanpa bisa kami duga sebelumnya"
"Halah pret, mana mungkin tiba-tiba kak Mario mencintai mbak jika bukan mbak yang menggodanya"
Aku hanya menghembus nafas panjang mendengar ucapan Tasya
"Kalau keinginan kalian bertemu alu hanya ingin mengatakan ini, terima kasih, tapi sekali lagi aku katakan jika aku sama sekali tidak menggoda apalagi menggunai-gunai Mario"
Dengan pelan aku melepas cengkeraman tangan Raisa lalu berjalan ke depan dan berpapasan dengan mamanya Mario
"Loh Ntan, kamu mau kemana?"
"Ini ma, di rumah rupanya ada keluarga aku dari jauh dan sekarang mereka sudah menunggu, makanya aku nggak bisa ikut makan malam" jawabku berbohong
"Iya ma, padahal kami masih ingin mengobrol banyak sama mbak Intan eh malah mbak Intan nya mau pulang" sela Tasya dan Raisa yang muncul
__ADS_1
Aku tidak menoleh kearah mereka melainkan menatap mamanya Mario yang wajahnya tampak menyiratkan kekecewaan
Setelah mengambil tangan mamanya Mario dan mencium punggung tangannya, aku segera berjalan keluar dari tempat itu, kembali keruang tamu dimana masih ada Mario dan papanya yang tampak mengobrol serius
"Yo tolong panggilin anak-anak" ucapku ketika sampai di dekat mereka
Mario menoleh ke arahku dan menatap heran
"Aku mau pulang karena di rumah ada tamu"
Mario berdiri dan menatap mataku dengan tatapan curiga yang membuat degup jantungku kembali berdebar
"Lihat mata aku!"
Aku yang tadi mencoba menghindari tatapan matanya, menatap mata Mario dengan keberanian yang ku punya
Mario mengangguk, lalu berlalu dari hadapanku. Aku duduk dan memasang senyum kaku pada papanya Mario yang tampak memperhatikanku
Dari dalam muncul mamanya Mario dan kedua adiknya Mario dan sekarang kedua adik Mario berdiri di dekat sofa, menatap kearah tangga dimana Mario turun bersama kedua anakku
"Salim sama opa dan oma" ucapku ketika Meka dan Bobbi telah berdiri di dekatku
Kedua anakku menurut, mereka segera mencium punggung tangan mama dan papanya Mario lalu berpindah pada Raisa dan Tasya yang memasang wajah manis pada mereka berdua
"Aku antar Intan dulu ya ma" ucap Mario sambil langsung memegang bahu kedua anakku
"Nggak usah Yo, aku sudah minta adik aku untuk jemput kesini" tolakku
Dan makin kulihat tatapan curiga dari Mario mendengar penolakanku
Mario menggeleng dan segera mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja
Lalu aku mengulurkan tanganku kearah papanya Mario dan mengulangi menyalami mamanya Mario dan tak lupa aku juga menjabat hangat tangan Raisa dan Tasya yang memasang senyum penuh kemenangan padaku
Mario masih membimbing Meka dan Bobbi lalu segera menghidupkan motor begitu kami semua telah naik
Sepanjang jalan aku hanya diam tak bersuara sedikitpun, ucapan kedua adik Mario tadi sangat mengena di hatiku dan itu cukup membuatku shock sekaligus sakit
Aku tergagap ketika motor berhenti dan kedua anakku segera turun. Meka langsung berlari masuk ke teras dengan membawa kunci rumah yang tadi kuberikan padanya. Setelah pintu terbuka keduanya langsung berlari masuk
"Intan berhenti!" ucap Mario yang memaksa ku menghentikan langkahku
"Apa yang dikatakan kedua adikku?"
Aku dengan cepat menggeleng kearah Mario yang memandang wajahku dengan serius
"Aku sudah menghadapi ratusan penjahat, dan aku tahu mana tatapan jujur mana tatapan bohong"
Aku menelan ludahku mendengar ucapan serius Mario
"Nggak ada Yo, aku cuma tiba-tiba nggak enak badan aja, makanya aku pulang"
Mario menggeleng dan menggenggam erat tanganku
__ADS_1
"Kamu pembohong yang payah, Intan Permata Sari!" ucapnya masih dengan wajah serius