Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Menemui Tasya dan Raisa


__ADS_3

Mario mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dadanya dipenuhi dengan amarah. Untuk sampai di rumah kedua adiknya yang berada cukup jauh dengan tempatnya berdinas setidaknya membutuhkan waktu hingga empat jam


Selepas isya barulah mobilnya memasuki halaman rumah Tasya. Sebuah rumah mewah karena Tasya bersuamikan seorang pekerja perbankan sedangkan Tasya pegawai kantor pemerintahan


Sampai di depan pintu Mario tak langsung menekan bel, melain segera mengeluarkan hp dan mendial nomor adiknya


"Kakak di depan pintu rumah kamu sekarang!"


Tasya melototkan matanya demi mendengar suara dingin Mario. Tasya yang sedang berselancar di dunia maya segera bangkit dari kursi dan langsung menuruni tangga menuju ruang depan


Suaminya yang sedang bermain dengan ketiga anak mereka tampak menoleh ketika dilihatnya Tasya berjalan terburu dengan wajah tegang


Degup jantung Tasya berpacu cepat ketika dirinya semakin dekat dengan pintu


Dan Mario yang berdiri membelakangi pintu berkali-kali menarik nafas panjang berusaha mengurangi emosi yang sudah memenuhi kepalanya


Sampai akhirnya pintu terbuka, secepat kilat Mario membalikkan badannya. Tasya berdiri mematung dengan wajah tegang menatap kearahnya


"Ikut kakak, kita ke rumah Raisa!" sambil berkata begitu Mario telah berjalan mendahului Tasya


Tasya bergeming yang akhirnya membuat Mario yang sudah berdiri di sebelah pintu mobil mengulang berjalan kearahnya


"Suami kamu ada di dalam?"


Tasya mengangguk, tanpa permisi Mario masuk dan langsung menuju sumber suara bercengkerama


"Assalamualaikum...." nada suara Mario berubah manis ketika melihat ketiga keponakannya dan adik iparnya


"Om Mario?" ucap ketiga anak Tasya yang langsung berdiri dan menghambur kepelukan Mario


Mario memeluk ketiga keponakannya dengan sayang dan mengusap kepala ketiganya


"Kapan sampai kak?" sapa suami Tasya sambil mengulurkan tangannya menjabat hangat tangan Mario


"Barusan, dan ini Ferdian, aku kesini mau ngajak Tasya ke rumah Raisa, ada urusan sedikit, boleh kan?"


Ferdian, suaminya Tasya melirik kearah Tasya yang berdiri tak jauh dari mereka, dan wajahnya masih tampak tegang


"Boleh kak, kenapa nggak?"


Mario mengangguk sambil tersenyum, lalu Mario menunduk kearah ketiga keponakannya yang masih memeluk pinggangnya


"Om pergi sebentar ya, Om mau ngajak mama kalian ke rumah tante Raisa"


"Kami ikut Om...." teriak mereka bertiga


Mario kembali tersenyum


"Nggak bisa sayang, lain kali, ya?"


Wajah ketiga anak Tasya tampak kecewa, tapi segera diambil alih oleh Ferdian, papa mereka


"Nanti kita nyusul, tapi sekarang biar Om Mario sama mama berangkat duluan, ya?"


Ketiganya mengangguk, lalu kembali Mario mendekap ketiganya dan berpamitan


Tasya masih berwajah tegang ketika mengekor di belakang Mario, begitu juga ketika dia duduk di bagian tengah

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju rumah Raisa yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan, keduanya sedikitpun tidak ada yang bersuara


Dan Tasya semakin yakin jika kakaknya benar-benar marah, terlihat dari wajahnya yang tegang dan merah seperti menahan amarah


Kakak sekarang bersama kak Mario di jalan menuju rumah kamu begitu pesan yang dikirim Tasya pada Raisa


Dan duduknya kian gelisah ketika tidak ada balasan dari Raisa


Mario yang masih dipenuhi amarah, menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi hingga tak sampai setengah jam keduanya sudah sampai di depan rumah Raisa


Rumah Raisa tak kalah mewah dengan rumahnya Tasya, karena suami Raisa adalah seorang dokter, sama seperti dirinya yang juga seorang dokter


Sama seperti ketika tiba di rumah Tasya tadi, Mario mengeluarkan hpnya, tapi bedanya panggilannya tak juga diangkat oleh Raisa walau telah lima kali di hubunginya


Tasya yang berdiri agak jauh dari Mario masih diam dan hanya bisa bungkam sambil melirik takut kearah Mario


Karena tak juga diangkat oleh Raisa, akhirnya Mario menghubungi suaminya Raisa, dan langsung diangkat


"Buka pintu, saya sudah di depan rumah kamu"


Terdengar jawaban kaget dari suaminya Raisa tapi tak urung hal itu membuatnya bangkit dari sofa dan langsung berjalan kearah depan


Dari pantulan kaca dilihatnya kedua kakak iparnya berdiri di luar


Begitu pintu terbuka, Mario langsung memasang wajah ramah dan suaminya Raisa langsung menjabat hangat tangan Mario dan menanyakan kabarnya


Suami Raisa menoleh kearah Tasya yang berdiri agak jauh dari Mario, dia memasang senyum ramah yang dibalas Tasya dengan senyum ramah pula


"Ica ada di dalam Go?" tanya Tasya


"Ada di kamar kak"


Secepat kilat Tasya langsung melesat masuk begitu mendapat jawaban suami adiknya tersebut, langsung naik ke lantai atas dan langsung mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat


"Dek?, Ica?"


Raisa yang sedang fokus menatap layar laptop menoleh kearah pintu, wajahnya tampak bengong, meyakinkan diri jika yang memanggilnya barusan memang benar Tasya, kakaknya


"Ca?" ulang Tasya sambil mengetuk pintu


Setelah yakin jika yang memanggil adalah Tasya, Raisa bangkit dan berjalan sambil menjawab


"Kakak??!" ucapnya kaget ketika membuka pintu kamar


Tasya langsung masuk dan menutup pintu kamar, menarik tangan Raisa mengajaknya duduk di atas ranjang


Raisa yang heran memandang bengong dengan gelagat sang kakak


"Di bawah ada kak Mario" ucap Tasya dengan nada khawatir


"What?, kak Mario?, terus??!"


Tasya menarik nafas panjang


"Kamu mikir nggak sih kenapa tiba-tiba kak Mario ketempat kita tanpa memberi kabar dulu, mana wajahnya kayanya marah gitu lagi"


"Kakak serius?"

__ADS_1


Tasya menganggukkan kepalanya


Hp Raisa berdering, Raisa bangkit dan berjalan kearah lemari, dimana suara dering hp tampak dari sana


"Kak Mario!" ucap Raisa memamerkan hpnya


Tasya memberi kode dengan kepalanya agar Raisa menerima panggilan tersebut


"Ya kak?" jawab Raisa pelan dan takut-takut


"Turun, kakak ada di bawah!"


Mulut Raisa membulat ketika mendengar ucapan singkat Mario, lalu dia menoleh kearah Tasya yang wajahnya kembali tegang


Raisa kembali melihat kearah hpnya


"Ya Tuhan, ada lima panggilan tak terjawab dari kak Mario" gumamnya ikut panik juga.


"Kakak juga tadi ngirimin kamu pesan, tapi belum kamu baca" jawab Tasya


Raisa lalu kembali membuka hpnya dan benar ucapan Tasya, ada pesan dari kakaknya tersebut


"Yuk buruan turun, nanti kak Mario makin marah lagi" ajak Tasya


Keduanya segera berjalan keluar dan berjalan takut-takut ketika menuruni tangga


"Virgo, saya bawa adik saya dulu, ya?, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada mereka berdua" ucap Mario ketika dilihatnya kedua adiknya menuruni tangga


Virgo menoleh kearah istri dan kakak iparnya lalu bergantian melihat kearah Mario yang berdiri di sebelahnya


"Kenapa nggak bicara di rumah saja kak?"


Mario menggeleng


"Saya akan naik keatas jika memang pembicaraan kakak sama adik-adik kakak bersifat pribadi" lanjut Virgo


Raisa dan Tasya yang sudah berdiri di depan Mario hanya bisa menelan ludah demi mereka lihat wajah Mario yang berubah datar ketika menggeleng


"Sebentar kok, nggak lama"


Virgo mengangguk karena kakak iparnya masih kekeuh pada keputusannya


"Aku pergi keluar sebentar ya pa" pamit Raisa


Virgo mengangguk


"Salam buat dua keponakan saya" ucap Mario sambil menepuk pundak Virgo


"Siap kak" jawab Virgo sambil tersenyum


Mario berjalan mendahului kedua adiknya, membuka pintu mobil dan masuk duluan


Tasya dan Raisa duduk di bagian tengah, sebelum naik keduanya saling toleh dan menggigit bibir mereka dengan raut wajah penuh kekhawatiran


Setelah kedua adiknya masuk, Mario segera memundurkan mobil dan langsung menjalankan mobil, awalnya mobil berjalan pelan tapi ketika tiba di jalan raya, Mario langsung menjalankan mobil dengan ngebut


Tasya dan Raisa yang tidak pernah melihat Mario membawa mobil dengan kecepatan tinggi hanya bisa menelan ludah mereka dengan ketakutan dan saling berpegangan tangan

__ADS_1


__ADS_2