
Ibrahim memasang wajah datar ketika melihat bekas kakak iparnya berjalan ke arah ruko
"Im ?" sapa Mas Arif ketika dia berjalan masuk ke arah ruko
Ibrahim berusaha untuk tersenyum merespon sapaan mantan kakak iparnya
"Meka sama Bobi ada?" tanya Mas Arif sambil menarik kursi lalu duduk di depan Ibrahim
Ibrahim tampak menoleh ke arah tangga kemudian mengangguk dengan malas
"Iya ada. Meka sama Bobi di atas. Palingan mereka sedang main handphone kalau nggak mereka tidur siang"
"Oh begitu ya ?" jawab Mas Arif lagi sambil berusaha untuk tersenyum karena dia bisa melihat bagaimana wajah Ibrahim tak ramah ketika menjawab pertanyaan dan bertatap muka dengannya
"Mas boleh minta tolong ?"
Ibrahim langsung menatap ke arah Mas Arif. Dia yang sejak tadi fokus menatap layar komputer karena menginput data tentang pengiriman barang langsung mengalihkan pandangannya. Dan Serius melihat ke arah Mas Arif
"Mau minta tolong apa Mas? mas tahu sendiri saya sedang sibuk"
Kembali Mas Arif berusaha untuk tersenyum ramah ke arah Ibrahim
"Mas boleh ketemu sama anak-anak ?. Mas sudah minta izin kok sama Intan, Mas tadi dari tokonya"
"Intan sendiri yang meminta pada mas untuk menemui anak-anak di ruko. Karena kata Intan, anak-anak pasti ada di ruko jika mereka tidak menemuinya di toko. Karena itulah Mas langsung ke sini untuk menemui Meka sama Bobby"
"Begitu ?" tanya Ibrahim dengan nada tak yakin
Dan Mas Arif menganggukkan kepalanya dengan pasti
"Kalau kamu nggak percaya, kamu boleh hubungin Intan. Dan tanyakan langsung sama dia"
"Oke" jawab Ibrahim santai sambil segera meraih handphone miliknya yang terletak di sebelah mouse
Segera benda tersebut ditempelkannya ke telinganya, sambil matanya terus menatap ke arah Mas Arif
"Ini kak, di ruko ada Mas Arif. Dia bilang dia mau menemui Meka sama Bobby. Dan juga dia bilang bahwa dia sudah izin sama Kakak, bener ?" tanya Ibrahim ketika panggilannya dijawab oleh Intan
Ibrahim mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Intan sambil matanya terus menatap ke arah Mas Arif
"Oh ya sudah kalau gitu, makasih ya Kak" jawab Ibrahim sebelum akhirnya dia meletakkan kembali handphonenya ke atas meja
"Sebentar, aku akan panggilkan Meka sama Bobby" jawab Ibrahim masih dengan nada dingin, yang segera beranjak dari kursinya lalu berjalan menaiki tangga menuju ruang atas di mana Meka sama Bobby sedang berada di kamar mereka
"Guys, di bawah ada Ayah kalian. Tuh segera temuin"
Meka dan Bobby langsung meletakkan HP Mereka masing-masing. Kemudian langsung turun dari ranjang dan segera menuruni anak tangga dengan cepat karena mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayah mereka
Mas Arif langsung mengembangkan senyumnya ketika mendengar teriakan dari Meka dan Bobby
__ADS_1
Dengan cepat Mas Arif merentangkan kedua tangannya sehingga dengan mudah kedua anaknya langsung masuk ke dalam dekapannya
"Ayah jahat. Ayah kok baru sekarang sih nemuin kita. Apa ayah nggak kangen sama kami ?" tanya Meka dengan nada manja sambil tak hentinya memeluk ayahnya
Mas Arif tersenyum lalu mengusap kepala Meka dan Bobby secara bergantian
"Tentulah Ayah sangat merindukan kalian. Kan kalian anak kesayangan ayah"
"Ayah bohong. Bukankah ayah juga punya anak dari istri baru ayah?"
Mas Arif langsung menelan ludahnya dengan susah payah mendengar jawaban dari Meka
"Sayang semua kok Nak, tidak ada yang ayah beda-bedakan. Semua anak ayah itu, Ayah sayangi semuanya, tanpa terkecuali"
Meka hanya memanyunkan bibirnya mendengar jawaban ayahnya
"Apa iyaaa??" jawabnya ngece
"Ayah dari mana?" tanyanya lagi
"Dari tempat ibuk"
"Ada papa nggak di sana?" tanya Meka dengan nada antusias
"Papa?, siapa itu papa?" tanya Mas Arif heran
Mas Arif tampak tersenyum kecut mendengar jawaban Meka, tidak disangkanya jika kedua anaknya telah akrab dengan Mario
"Ibuk sama papa Mario sudah lama dekatnya?" tanya Mas Arif lirih
Meka dan Bobby mengangguk
"Papa orangnya baik, selalu ngajak kami jalan, papa juga sayang sama kami"
Kembali Mas Arif harus tersenyum mendengar jawaban polos Bobby
"Sayangan ayah apa papa Mario?" ucap mas Arif mengetes kedua anaknya
"Nggak tahu, yang pastinya papa Mario baik sama kami, tidak pernah buat ibuk nangis, selalu buat ibuk bahagia, dan yang paling penting papa Mario selalu ada buat kami. Bahkan papa Mario rela meninggalkan pekerjaannya jika kami memintanya datang"
"Oh Ya?" Mas Arif merasa tak yakin dengan perkataan Meka
"Iya. Dan kata mama, mama mau menikah dengan papa. Tentu saja kami senang, karena akhirnya papa Mario bakal beneran jadi papa kami"
Ibrahim yang mendengar ucapan kedua ponakannya hanya tersenyum sinis ketika melirik kearah Mas Arif
Dan mas Arif yang semakin tak merasa enak hati karena kedua anaknya terus memuji Mario di depannya hanya bisa menarik nafas dalam dan tersenyum kecut
"Kalau kalian libur, mau tidak ke rumah ayah?" mas Arif berusaha mengalihkan topik pembicaraan
__ADS_1
Meka dan Bobby langsung saling toleh kemudian kompak menggeleng
"Loh kok nggak mau?" tanya Mas Arif dengan nada kecewa, dan kembali hal tersebut membuat Ibrahim makin tersenyum sinis penuh kemenangan
"Tempat ayah jauh dari kota, sepi. Dan aku juga nggak suka sama istri baru ayah" jawab Meka ketus
Tentu saja jawaban Meka mampu membuat Mas Arif terkesiap
"Kenapa?, ibuk baru kalian baik kok. Dia pasti suka jika ayah bawa kalian ke rumah"
"Nggak ah yah. Karena wanita itu ayah meninggalkan kami. Dan itu ayah bilang baik?, tidak yah"
"Wanita baik itu tidak akan merebut kebahagiaan orang lain. Dia bukan saja menyakiti hati ibuk, tapi dia juga menyakiti hati kami. Karena dia kami tidak punya ayah lagi, karena dia ibuk menangis, karena dia ibuk menjual rumah, dan karena dia juga eyang putri memaki ibuk"
Mas Arif nyaris tak bisa berkata apa-apa lagi sekarang mendengar jawaban menohok dari Meka. Dia tidak menyangka jika gadis kecilnya bisa mengucapkan kalimat di luar prediksinya itu
"Ayah kaget kenapa aku bisa ngomong kaya gini?. Itu karena aku sering buka internet ayah. Aku sering tak sengaja lihat quotes tentang wanita yang terzalimi. Dan itu persis seperti yang ibuk dan kami rasakan"
"Pelakor. Istri ayah itu pelakor kalau orang zaman sekarang menyebutnya"
Mas Arif hanya mampu terdiam mendengar semua perkataan Meka. Gadis kecil berusia sepuluh tahun yang sudah bisa membungkam dirinya untuk menjelaskan kepada kedua anaknya betapa baiknya istri barunya itu
"Ibuk baru kalian itu tidak seperti yang Meka lihat di internet. Dia baik kok" mas Arif kembali berusaha meyakinkan kedua anaknya
Meka menggeleng
"Tidak ada yang lebih baik dari pada ibu kandung kami sendiri"
Dengan susah payah, mas Arif berusaha menelan ludahnya karena lagi-lagi omongannya dipatahkan oleh Meka
"Lantas kenapa Meka bisa berkata jika papa Mario baik? Padahal papa Mario bukan ayah kandung kalian. Yang ayah kandung kalian itu ayah. Tentulah ayah jauh lebih baik dari papa Mario"
Meka diam mendengar pertanyaan ayahnya, cukup lama dia diam sampai akhirnya dia menarik nafas panjang dan memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong
"Papa Mario tulus mencintai ibuk. Bahkan mau menerima ibuk apa adanya. Walau ibuk tidak cantik, tapi papa Mario selalu memanggil ibuk dengan kata sayang. Dan papa Mario selalu mengatakan jika ibuk sangat cantik dimatanya. Tidak perduli bagaimana orang lain menilai ibuk, di mata papa Mario ibuk adalah satu-satunya wanita tercantik di dunia ini"
"Dan satu lagi, papa Mario sangat mensupport ibuk. Dan menerima kami sebagai anaknya"
Mas Arif tertunduk dalam mendengar ucapan Meka. Dia merasa benar-benar tersindir dengan ucapan anaknya tersebut
Dulu dia sama sekali tidak pernah menganggap istrinya itu cantik, bahkan menganggap istrinya itu kucel melebihi pembantu rumah tangga
Bahkan dia sempat malu mengakui Intan adalah istrinya di depan teman-temannya
Dan dia sangat ingat, dia dulu lebih memilih memodali wanita lain ketimbang istrinya agar istrinya itu cantik
Bahkan dirinya mudah sekali tergoda dengan perempuan lain, tak terkecuali Mirna, gadis polos yang jauh dari kata cantik seperti Intan
Mungkin benar seperti yang dikatakan orang karena dia sering melihat yang haram-haram, karena itulah dia tidak pernah bisa melihat bagaimana anggun dan cantiknya Intan
__ADS_1