
Tampak dengan jelas raut Mario berubah tegang ketika menyalami kami semua sebelum kami berjalan ke arah landasan pesawat.
Dan Pak Uki yang juga mengantarkan Kami kembali ke Bandara tampak tersenyum penuh arti ke arahku.
Aku mencium takzim punggung tangan Beliau sebelum aku menarik koper berjalan mengikuti semua yang telah berjalan terlebih dahulu.
"Hati-hati ya Mbak, begitu sampai nanti kabari aku" lirih beliau.
Aku menganggukkan kepalaku menjawab perkataan Pak Uki. Lalu aku melirik ke arah Mario yang melengos ketika melihat Pak Uki berbicara dekat padaku.
Aku juga mencium takzim punggung tangan Mario, dan mata kami saling tertumbuk menatap satu sama lain.
"Aku akan secepatnya pulang Intan" ucap Mario.
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku menjawab perkataan Mario. Lalu aku juga menyalami perempuan yang masih saja berdiri di samping Mario.
"Titip Mario ya mbak" lirihku sambil melirik kearah Mario.
Sebenarnya aku menahan pilu di dalam hatiku ketika Aku mengucapkan kalimat tersebut.
"Tenang saja, aku akan menjaga Mario. Ya walaupun dia selalu bersikap dingin padaku, tapi aku akan terus berusaha meyakinkan Mario, kalau aku memang terbaik untuk dia" jawab perempuan itu percaya diri yang membuat aku kembali melirik ke arah Mario.
Tampak raut wajah Mario terlihat tidak senang ketika perempuan itu berkata demikian.
Dan aku hanya bisa tersenyum getir mendengar jawaban perempuan itu.
Aku langsung membalikkan tubuhku tanpa menoleh lagi ke arah Mario yang masih terus menatap kepergianku.
Di dalam pesawat aku lebih banyak termenung. Dan Ibrahim yang duduk di sebelahku, menyentuh bahuku dan mengusapnya perlahan.
"Mengapa kakak tidak bilang sejujurnya, kalau Kakak masih mencintai Mario. Mengapa Kakak harus bersikap kekanak-kanakan tadi dengan menyuruh pak Uki datang?".
Aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Ibrahim.
"Apa kamu tidak lihat tadi, Bagaimana perempuan itu menempel terus pada Mario?, kamu pikir deh Dek, jika mereka tidak ada hubungan spesial, tidak mungkin perempuan itu selalu nempel sama Mario" .
"Ya tapi kan kita nggak tahu Kak".
"Sudahlah Dek. Lagian wajarlah jika Mario cari perempuan yang jauh lebih di atas kakak. Perempuan tadi loh, lebih modis dan dia juga seorang pramugari. Apalah dengan dibandingkan sama kakak yang hanya seorang pedagang, nggak ada levelnya......".
Kembali Ibrahim mengusap-usap bahuku, dan aku hanya menoleh ke arahnya sambil berusaha untuk tersenyum.
Satu setengah jam berikutnya pesawat yang kami tumpangi mulai landing. Dan kami semua turun.
Aku segera turun dengan kembali menarik koperku dan ketika sampai di bandara aku berbelok ingin ke toilet.
"Intan tunggu!!"
__ADS_1
Aku langsung menoleh ke arah mamanya Mario yang berjalan di belakangku.
"Mama mau ke toilet juga?"
Mamanya Mario mengangguk, kemudian aku segera menggandeng tangan Beliau berjalan bersama-sama menuju toilet.
Saat keluar dari dalam toilet, mamanya Mario kembali menarik tanganku.
"Lelaki tadi bener Tan pacar kamu?" tanya beliau yang membuat aku langsung gugup.
"Mama nggak yakin kalau lelaki tadi adalah pacar kamu. Karena mama melihat bagaimana kamu tadi begitu gugup"
"Dan juga mama melihat dari pancaran mata kamu, betapa kamu sangat cemburu ketika perempuan yang duduk di sebelah Mario, terus menempel sama Mario, iya kan?"
Aku tidak menjawab semua pertanyaan Mama Mario. Melainkan aku menunduk menahan air mata yang telah siap tumpah .
"Benarkan apa kata mama, lelaki tadi bukan pacar kamu".
"Mah..., Jujur saja aku cemburu melihat perempuan tadi begitu nempel sama Mario. Tapi di satu sisi aku sadar Ma, aku yang meninggalkan Mario. Dan ini bukanlah yang pertama, tapi sudah yang kedua kalinya"
"Jadi wajar Mah, jika Mario kecewa sama aku. Memang seharusnya Mario mencintai perempuan lain. Aku berusaha untuk ikhlas mah jika memang Mario mencintai wanita itu. Aku nggak apa-apa" jawabku lirih.
"Tapi mama yakin, jika Mario tidak ada hubungan dengan perempuan itu. Kamu lihat sendiri kan bagaimana tadi Mario bersikap dingin sama perempuan itu?".
Kembali Aku berusaha untuk tersenyum mendengar jawaban mamanya Mario
"Kita sama-sama mendoakan yang terbaik saja ya Ma untuk Mario" jawabku sambil mengusap lengan beliau.
...----------------...
Esoknya rutinitas ku kembali berjalan seperti biasanya. Aku kembali menjadi Kasir di tokoku, Begitu juga dengan Ibrahim. Dia kembali ke tempat pengiriman paket, semuanya berjalan seperti biasanya.
Sampai akhirnya ketika siang, hp-ku berdering.
Dan di layar tampil nama Mario. Dan itu seketika membuat degup jantungku berdebar kencang.
Aku segera melambaikan tanganku ke arah kasir cadangan. Setelah itu aku langsung lari menaiki tangga, naik ke lantai dua .
"Iya Mario?" jawabku.
"Kamu di mana Tan?" tanya Mario.
"Di toko, terus aku harus dimana lagi jika bukan di sini?, kan memang aku seorang pedagang"
Terdengar tarikan nafas panjang dari seberang.
"Ada apa Mario?".
__ADS_1
"Begini Ntan, Aku waktu kamu pulang kemarin, aku langsung berbicara sama pacar kamu itu".
Aku langsung menelan ludahku mendengar ucapan Mario.
"Ya walaupun lelaki itu bersikeras mengaku pacar kamu, tapi aku tidak percaya jika lelaki itu pacar kamu".
"Kenapa kamu nggak percaya?".
Terdengar suara tawa di seberang
"Intan, apa kamu lupa jika aku ini seorang polisi handal? aku bisa membaca gesture kamu, bisa membaca ekspresi wajah kamu. Begitu juga dengan lelaki itu. Aku tahu jika kalian berdua itu berbohong".
"Kamu nggak ada hak Mario untuk mengatakan itu. Mau Pak Uki pacar aku atau bukan, itu bukan urusan kamu. Kamu urusin saja pacar pramugari kamu itu" jawabku dengan nada tinggi.
"Dari nada suara kamu itu menunjukkan bahwa kamu cemburu Intan".
Aku tertawa sinis mendengar jawaban Mario.
"Percaya diri sekali kamu Mario mengatakan jika aku cemburu. Tidak ya, Aku sama sekali tidak cemburu kamu sama perempuan itu. Justru aku bahagia, akhirnya kamu bisa mendapatkan wanita yang memang jauh lebih segala-galanya dibanding aku. Dan memang itulah yang selama ini aku harapkan".
"Intan, sekali lagi kamu bilang begitu. Aku akan terbang menemui kamu, dan aku akan memaksa kamu ke KUA!!".
Aku langsung menelan ludahku mendengar Mario membentak ku. Karena seumur hidupku, Baru kali ini Mario membentak ku.
"Kamu tahu kan alasan aku jauh dari kamu itu apa?, Aku ingin memberikan kamu kesempatan untuk membuktikan diri kamu, bahwa kamu memang layak menjadi pendamping aku"
"Tapi ternyata apa?, sepertinya malah aku yang tidak layak menjadi pendamping kamu. Karena kamu telah menjadi pengusaha sukses sekarang, usaha kamu ada dimana-dimana, dan tentunya pendapatan kamu jauh lebih besar dari aku"
"Jadi wajar jika kamu lebih memilih lelaki kemarin ketimbang aku".
Lemas rasanya kakiku mendengar ucapan Mario. Karena sejujurnya tidak pernah terlintas di benakku untuk berpaling dari dia.
"Mengapa kamu bisa berpikiran seperti itu Mario, hemm?"
"Aku masih seperti yang dulu, aku tidak berubah, justru kamulah yang berubah!".
"Aku berubah?, tidak Intan. Aku tidak pernah berubah. Aku selalu menjaga hati aku untuk kamu. Aku tidak tertarik dengan wanita manapun selama ini selain kamu!!!".
"Kamu bohong!!, Dulu aku pernah memergoki kamu dengan perempuan itu. Sewaktu aku sama Pak Uki dan istrinya keluar dari restoran. Di saat itu aku melihat kamu berdua sama perempuan itu di parkiran. Dan dengan mata kepala aku sendiri, aku melihat, bagaimana perempuan itu menggenggam dan menggandeng tangan kamu dengan mesranya"
"Apalagi kemarin, perempuan itu terus menempel sama kamu. Tidak mau jauh-jauh dari kamu. Kamu pikir, aku enggak tahu jika kalian punya hubungan spesial?, Aku bukan bodoh Mario!!".
Di seberang, Mario mengusap kasar wajahnya mendengar jawaban Intan.
"Intan.... kamu sudah salah sangka" lirih Mario.
"Tidak ada yang salah sangka di sini Mario. Aku melihat jelas di mata perempuan itu jika dia sangat mencintai kamu".
__ADS_1
"Terserah kamu Intan, kamu mau ngomong apa. Tapi yang jelas, perempuan itu tidak ada hubungan apa-apa dengan aku. Dan secara tidak sengaja, kamu sudah mengatakan dengan jelas jika lelaki kemarin bersama kamu itu bukanlah pacar kamu".
Aku langsung membekap mulutku mendengar jawaban Mario.