Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Sedih


__ADS_3

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, enam bulan, tak terasa toko ku makin berkembang


Dan sekarang sesuai dengan arahan dari pak Uki dan bu Miranda aku makin mengembangkan dan mencari peluang usaha yang bisa aku manfaatkan dan aku kembangkan di daerahku


Hubungan kami bertiga juga semakin baik, sering berkomunikasi bahkan aku tak segan meminta bantuan mereka berdua dulu dalam memutuskan sesuatu, karena mereka berdua lah yang paling berpengalaman dalam dunia bisnis


Dan sekarang aku juga telah membuka warung makan sesuai dengan idenya Rian.


Anak satu itu memang jeli juga insting bisnisnya, dia yang paling semangat mencarikan tempat aku membuka warung makan


Alasannya sangat sederhana "biar ibuku tidak kerja menjadi buruh di sawah lagi kak"


Dan memang harus ku akui, masakan ibunya Rian memang enak, jadi beliaulah yang aku minta untuk memasak semua masakan di warung makan yang baru kami buka


Dan tentu saja tokoku adalah pelanggan tetap di sana karena aku memesan makan siang dan makan malam kami di sana


Dan hari ini kembali aku di hubungi oleh pak Uki yang memintaku untuk datang ke ibukota karena ada pelatihan entrepreneur


Tentu saja undangan dari beliau kusambut dengan baik karena aku juga memang harus lebih banyak belajar berbisnis lagi. Dan kurasa ini adalah waktunya untuk aku lebih mengembangkan skill ku melalui pelatihan.


Segera setelah mendapatkan undangan dari beliau aku langsung berbicara pada orang tua dan juga kakakku untuk meminta izin kepada mereka untuk mengizinkanku pergi ke ibukota mengikuti pelatihan selama satu minggu.


"Jika Kakak pergi, terus yang jaga toko siapa?" tanya Ibrahim adikku.


"Ya kamulah" jawabku santai sambil terkekeh.


Ibrahim langsung meninju lenganku sambil mencibir.


"Enak aja, aku kan jaga pengiriman paket".


Aku mengernyitkan dahi ku mendengar jawabannya "Benar juga" batinku


"Terus siapa yang menggantikan ku di toko" gumamku.


"Kakak suruh aja lah istri kak Malik, gampang kan?".


Aku lalu menoleh ke arah Ibuku meminta pertimbangan beliau lalu beliau menganggukkan kepalanya


"Tidak masalah, Kakak iparmu kan tidak sibuk. Jadi kemungkinan besar dia bisa menggantikan posisimu sebagai kasir di toko".


Aku mengangguk setuju mendengar usul dari ibuku. Lalu segera aku mengambil hp yang ada di dalam tas dan menempelkannya ke telinga karena aku saat itu juga langsung menghubungi kakak iparku.


Tanpa basa-basi aku langsung mengutarakan niatku pada kakak iparku dan meminta kesediaannya selama satu minggu menggantikan ku sebagai kasir di toko karena aku akan pergi ke ibukota dan alhamdulillahnya kakak iparku langsung menyetujui yang membuat aku merasa lega.


Hingga akhirnya sekarang aku sudah di dalam pesawat menuju ke ibukota.

__ADS_1


Dan karena Pak Uki sudah Ku beritahu jam penerbanganku, jadi begitu pesawatnya landing dan aku keluar dari area bandara aku sudah langsung disambut oleh Beliau.


Wajah beliau begitu cerah ketika menyambut ku.


"Bagaimana penerbangannya mbak?, masih deg-degan?!" tanya pak Uki sambil tersenyum karena beliau tahu bahwa aku takut dengan ketinggian.


Aku hanya tertawa mendengar pertanyaan beliau kemudian menggeleng


"Tidaklah Pak, aku sih sebenarnya nggak terlalu takut, cuma yaaa deg-degan dikit aja. Sepertinya aku harus terbiasa terbang jauh-jauh biar aku nggak takut dan ketinggian lagi" .


"Nah kebetulan kalau begitu Mbak. Tadi kan mbak ngomong kalau mbak itu pinginnya terbang jauh-jauh. Nah, saya ada bisnis baru yaitu bisnis tour and travel"


"Gimana kalau mbak membuka bisnis tour and travel untuk orang pergi umroh dan haji?, saya yakin di sana belum banyak yang buka bisnis kaya gini, kayaknya bagus Mbak,luar biasa loh prospeknya".


Aku diam mendengarkan ide beliau.


"Nantilah pak, akan saya pikirkan lagi" jawabku.


Beliau mengangguk-angguk mendengar jawabanku lalu sepanjang jalan menuju hotel beliau menanyakan bagaimana perkembangan tokoku dan juga bisnis kuliner yang sedang aku jalankan dan aku jawab semuanya berjalan lancar berkat bantuan, bimbingan dan juga doa serta support dari beliau.


Hingga akhirnya sampailah kami di hotel dan aku langsung beristirahat dan Pak Uki kembali lagi ke kantornya.


Dan besoknya kembali seperti dulu ada seorang pegawai Pak Uki yang menjemput ku dan membawaku ke tempat pelatihan.


Seminggu penuh aku mengikuti pelatihan yang diisi oleh banyak sekali para entrepreneur yang sudah sukses dan aku betul-betul mendapatkan ilmu baru.


Saking asyiknya berbelanja kami sampai lupa waktu dan barulah menjelang malam kami mampir ke sebuah restoran untuk makan malam.


Selesai dengan acara makan malam ketika kami akan keluar dari dalam restoran dan berjalan menuju area parkir di sanalah mataku tertumbuk pada seseorang yang sangat aku kenal.


Sebelum naik ke dalam mobil aku kembali menoleh kearah sepasang anak manusia yang tidak melihat ke arahku.


Aku hanya menelan ludahku ketika mobil yang dikemudikan oleh Pak Uki melewati dua orang yang tampak mengobrol dengan akrab.


Sampai mobil meninggalkan area parkir aku masih saja terus menoleh ke belakang berharap jika orang yang tadi aku lihat juga melihatku.


Mataku Kian panas ketika aku melihat Bagaimana perempuan yang berdiri di depan lelaki itu tampak menggandeng tangan sang pria.


Aku segera menunduk dan sekuat tenaga menahan air matanya siap tumpah.


Pak Uki yang mengemudikan mobil di depan melihatku melalui kaca spion lalu dia menoleh


"Mbak Intan kenapa? Apa Mbak baik-baik saja?"


Aku segera mengusap kasar wajahku kemudian mengangguk

__ADS_1


"Nggak apa-apa pak, I'm well"


Kemudian sepanjang perjalanan menuju hotel aku lebih banyak diam. Begitu juga dengan Pak Uki dan Bu Miranda. Sepertinya mereka mengetahui perubahan mood ku yang tiba-tiba.


Bu Miranda mendekap ku ketika aku akan masuk ke dalam hotel.


"Sampai jumpa lain waktu ya Ntan, kami menunggu kabar kesuksesanmu selanjutnya" .


Aku menganggukkan kepalaku kemudian melambaikan tangan ke arah sepasang suami istri yang sangat baik hati itu ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.


Aku segera masuk ke dalam kamar hotel dan langsung menelungkupkan wajahku ke dalam bantal kemudian menangis sepuas-puasnya.


Harusnya aku sadar bahwa sudah lama aku berpisah dengan Mario dan nyaris satu tahun aku berpisah dengannya.


Harusnya aku sadar jika dia memang sudah membuka hatinya untuk perempuan lain. Terus mengapa aku masih bersedih?.


"Ya Tuhan... sesakit inikah patah hati?" batinku pilu.


Sepanjang malam aku menangis menyesali mengapa aku datang ke kota ini. Coba saja jika aku tidak datang ke kota ini tentulah aku tidak akan melihat Mario bersama perempuan lain.


Berkali-kali aku mencoba menghibur hatiku sendiri. Dengan mengatakan jika perempuan tadi bukanlah pacarnya Mario melainkan teman kerjanya tapi kembali kesadaranku normal dan membuatku kembali menangis.


Hp yang ada di genggaman tanganku sudah bolak-balik aku lihat. Niat hatiku ingin menghubungi Mario. Tapi di satu sisi hatiku melarang ku melakukan itu.


"Tidak, tidak..... aku tidak boleh menghancurkan hati Mario kembali. Aku harusnya bahagia melihat akhirnya Mario menemukan perempuan lain yang bisa dia cintai selain aku" putus ku.


Sambil berlinang air mata aku membuka sosial mediaku lalu membuat status galau yang tidak pernah aku buat sebelumnya.


Aku tahu melepaskan mu itu sulit, tapi itu harus aku lakukan demi kebahagiaanmu


Kemudian aku juga menambahkan di mana lokasiku terkini setelah itu baru status tersebut aku bagikan.


Setelah membagikan status tersebut yang kupikir hatiku akan lega, tetapi ternyata tidak. Aku masih merasa terbebani dan masih merasa sedih.


Karena aku masih larut dalam kesedihanku, aku segera log out dari sosial mediaku. Kemudian mencoba untuk memejamkan mata, tapi ternyata tak bisa, yang ada aku malah kian terisak


Mario yang begitu sampai di rumah dinasnya langsung membuka sosial media dan tampak tertegun begitu membaca status yang dibagikan oleh Intan


Dan hatinya kian kaget ketika melihat di mana posisi Intan sekarang.


Tanpa pikir panjang lagi segera dia mendial nomor Intan.


Dan aku yang memang belum tidur dan masih menangis hanya melirik sekilas ke arah HP yang berdering.


Aku hanya memejamkan mataku ketika melihat tertera nama Mario di layar HP.

__ADS_1


Hingga akhirnya panggilan itu terabaikan dan kembali HP ku berdering dan kembali aku lihat di layarnya bahwa yang menghubungi ku masih juga Mario. Hingga beberapa kali panggilannya masuk, tapi sedikitpun tidak ada niat untuk aku mengangkat panggilannya.


Dan Mario yang kian gelisah karena Intan tidak juga mengangkat teleponnya hanya bisa menarik nafas panjang.


__ADS_2