
Aku menelepon mantan mertuaku memberitahu mereka jika hari ini orang yang akan membeli rumah kami akan melunasi sisa pembayaran
Tentu saja aku mendapatkan omelan dari mamanya mas Arif yang kembali memarahiku karena tidak memberitahu mereka tentang negosiasi harga
"Kan aku sudah bilang sama mama, ini tu urusan aku, masih untung aku ngasih tau mama dan mengajak mama sama papa kesini, kalau menurut keinginan hati aku sih, males banget" jawabku akhirnya karena selama satu tahun ini mantan mama mertuaku ini sanga
memusuhiku
Ketika beliau mengomeli ku panjang pendek karena tadi aku menjawab ketus, aku segera mematikan hp dan langsung merasa dongkol
"Intan, Intan dasar bodoh kamu, sudah tahu mantan mertuamu nyinyir masih saja kamu mau beritahu dia" gumamku merutuki diriku sendiri
Tak lama hp dalam genggamanku berdering dan kulihat papanya mas Arif yang menelepon
"Ya pa?"
"Maafin mamamu ya Ntan, nanti papa akan kesana sama adikmu"
Aku tersenyum mendengar ucapan papanya mas Arif, walau aku bukan menantunya lagi, setidaknya beliau masih menghargai ku dan tidak membenciku karena telah memenjarakan anaknya
Dan aktivitas jasa pengiriman ku telah aku pindahkan ke ruko yang telah aku sewa kemarin lusa, begitu juga dengan segala perabotan rumah tanggaku
Rencananya aku akan tinggal di lantai dua ruko, dan dibawahnya aku jadikan tempat usahaku
Kepada para tetangga aku telah berpamitan dan bilang jika aku akan pindah, dan meminta pada mereka untuk terus menjalin komunikasi denganku, tak lupa juga aku mempromosikan rencana baru usahaku, dan meminta restu pada mereka
"Kak, kami langsung ke ruko aja ya, langsung buka nggak apa-apa kan?"
"Iya nggak apa-apa, kakak mau nunggu orang yang mau beli rumah ini, dia bilang sekitar jam sebelas dia datang"
Adikku, Ibrahim dan dua temannya langsung pergi ke ruko setelah kunci ruko di tangan mereka
Dan sekarang tinggallah aku sendiri di rumah yang telah kosong melompong ini, hanya aku sisakan karpet untuk kami duduk nanti
Juga aku telah sediakan snack sebagai cemilan kami nanti
Jam sebelas lewat sampailah mantan mertuaku. Saat mereka turun, kupikir memang hanya papanya mas Arif dan adiknya mas Arif yang datang, ternyata mamanya mas Arif juga ikut, dan sudah bisa ku pastikan bagaimana bentuk wajahnya, sinis dan masam
"Sudah kosong???!"
Aku tak bereaksi mendengar nada kaget dari mamanya mas Arif ketika dia masuk, karena itu tidak penting untukku
Aku persilahkan mereka duduk yang tak lama setelahnya datanglah orang yang akan membeli rumah kami
"Orang tuanya mas Arif...." ucapku ketika tamu ku itu menyalami papa dan mamanya mas Arif
__ADS_1
Tak perlu menunggu waktu lagi karena memang tujuannya sudah pasti, seorang lelaki paruh baya, ayah dari orang yang akan membeli rumah langsung menyampaikan tujuan mereka
"Uangnya saya transfer ya mbak, kami tidak memberikan uang tunai" ucap lelaki yang agak muda, dan lelaki itu adalah orang yang akan menempati rumah kami selanjutnya
Aku menerima struk setoran tunai dari bank yang beliau setorkan ke rekeningku sejumlah uang yang kekurangan pembayaran kemarin
Setelah dirasa cukup, aku langsung menyalami mereka dan mengucapkan selamat menempati rumah kami
Saat mengatakan itu aku begitu emosional, sampai air mataku tumpah tak tertahankan
Mamanya mas Arif membuang mukanya ketika melihatku menangis tanpa berniat sedikitpun memberi kekuatan padaku yang bersedih
"Karpetnya nanti adik saya yang akan mengambil pak" lirihku sambil menghapus air mataku ketika aku akan keluar dari dalam rumahku
Sebelum keluar aku kembali mengedarkan pandanganku pada seluruh ruangan ini
Terlintas jelas di mataku dimana di ruangan ini kedua anakku berlarian, berkejar-kejaran, tidur di lantai ketika menonton tivi
Aku menarik nafas panjang ketika kembali aku merasakan melow
"Ayo nak....." lirih papanya Mas Arif sambil memegang pundakku
Aku mengangguk lalu membalikkan badanku dan keluar dari rumah yang bukan lagi milikku
"Kita kemana sekarang?" tanya mamanya mas Arif dengan nada tak senang
Aku langsung memeluk ibuku ketika turun dari motor, dan ibuku mengelus bahuku berkali-kali
"Sabar, In Syaa Alloh nanti dapat ganti yang jauh lebih bagus dari rumah yang lama" hibur ibuku karena aku masih saja terisak
Aku melepaskan pelukanku pada ibuku ketika mobil orang tuanya mas Arif tiba di halaman
Ibuku langsung menyambut ramah mantan besannya dan mempersilahkan mereka masuk
Aku yang telah masuk duluan segera memanggil ayahku dan memberitahunya jika orang tuanya mas Arif ada di depan
Ayahku keluar bersamaku, dan tanpa basa basi aku langsung mengeluarkan bukti struk yang tadi diberikan pemilik rumah padaku
"Dan sesuai perjanjianku dengan mas Arif, uang ini dibagi tiga. Bagianku, bagian mas Arif, dan bagian kedua anakku"
Wajah mamanya mas Arif langsung berubah datar ketika mendengar perkataan tentang uang yang dibagi tiga
Saat mulutnya terbuka hendak protes segera aku sela
"Tidak ada protes-protes lagi karena ini sudah menjadi keputusan aku dan mas Arif, karena sejak awal mas Arif bilang jika rumah ini adalah rumah kedua anak kami, jadi sudah sewajarnya jika kedua anakku juga dapat bagian"
__ADS_1
"Kalau mau adil, sebenarnya uang ini bagi empat, tapi biarlah bagi tiga saja"
Mamanya mas Arif tak bisa berkata apa-apa lagi karena ucapanku dan aku tak memperdulikan bagaimana masamnya wajahnya
"Dan untuk mas Arif, uangnya akan aku transfer sama dia saat dia keluar dari penjara"
"Kenapa tidak sekarang saja uangnya kamu transfer?"
Aku tersenyum segaris mendengar mamanya maa Arif akhirnya bersuara juga dengan nada sangat kesal dan sedikit membentak yang membuat ibuku menoleh cepat kearahnya
"Ma, mas Arif punya anak istri sekarang, setelah mereka berdua keluar dari penjara, mereka juga butuh hidup, aku tidak ingin uang yang aku transfer sekarang digunakan tidak semestinya"
Kembali aku lihat wajah mamanya mas Arif masam dan melirik tajam ke arahku
"Tenang saja ma, aku tidak akan memakainya, pegang omonganku"
Kudengar mamanya mas Arif mendengus kesal mendengar ucapanku
"Aku bukan tipe serakah, aku tahu mana yang hak ku dan mana yang bukan" sindir ku
Mamanya mas Arif langsung melirik ke arahku dengan tatapan marah dan benci yang ku balas dengan senyum segaris
Aku sengaja mengucapkan kalimat tersebut karena aku masih sakit hati mengingat ucapannya dulu yang mengatakan aku serakah dan tidak tahu diri
"Papa silahkan tanda tangan disini sebagai bukti jika aku berjanji akan memberikan uang mas Arif ketika dia keluar, aku tidak mau papa keluar dari rumah orang tuaku, di luaran terdengar kabar buruk bahwa aku menguasai harta dan tidak membagi adil untuk mas Arif" kembali aku melirik kearah mamanya mas Arif yang kembali kena mental akibat sindiran ku
Aku segera memberikan map yang sejak tadi ada di pangkuanku pada papanya mas Arif yang menerima map tersebut dan membacanya lalu segera membubuhkan tanda tangannya
"Satu untuk papa pegang sebagai bukti, satunya aku" ucapku lagi memberikan selembar kertas yang tadi telah beliau tanda tangani
"Terima kasih ya pa karena sudah mau mampir, salam buat yang lain" ucapku ketika beliau melipat kertas perjanjian yang tadi beliau tanda tangani
Papanya mas Arif menatap dalam mataku lalu tersenyum samar
"Ntan, walaupun kamu bukan menantu papa lagi, tapi papa tetap menganggap kamu seperti dulu, kamu tetaplah anak papa"
Aku mengangguk dan berusaha tersenyum walau senyuman getir.
Setelah itu beliau berpamitan dengan orang tuaku, dan aku mencium takzim punggung tangan beliau
Sebelum naik keatas mobil, papanya mas Arif merogoh kantong celananya dan memberikan sebuah amplop padaku
"Nafkah dari papa untuk kedua anakmu, karena kedua anakmu tanggung jawab papa setelah kamu bercerai dari Arif, harusnya memang Arif yang menafkahi, tapi karena Arif masih dipenjara, jadi tanggung jawabnya pindah sama papa"
"Ini adalah nafkah seadanya, maaf kalau kurang, tapi In Syaa Alloh ini berkah karena papa tahu kamu pintar mengelola keuangan"
__ADS_1
Aku mengangguk dan tak bisa berkata-kata saat menerima amplop tersebut, aku memandang sedih pada papanya mas Arif yang kembali menepuk bahuku