Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Penolakan


__ADS_3

Aku hanya bisa menelan ludahku mendengar Mario berkata seperti itu


Tatapannya kian mengintimidasi yang membuatku makin gelisah


"Mereka ngomong apa?"


"Nggak ada Yo" jawabku meyakinkan Mario


Mario menganggukkan kepalanya lalu menarik nafas panjang


"Oke kalau kamu tidak mau jawab, tapi aku yakinkan sama kamu, begitu aku sampai rumah, aku pasti mendapatkan jawabannya"


Aku menggeleng kuat dan segera menarik tangan Mario yang sudah hendak pergi


"Mario jangan!" ucapku dengan nada khawatir


Mario memutar kepalanya, melirik ke arahku yang saat ini berdiri di sampingnya dengan menarik tangannya


"Kenapa nggak boleh?"


Aku kembali menggeleng


"Aku nggak ingin Raisa dan Tasya makin salah faham"


Mario kembali menarik nafas panjang dan dengan tangan kanannya diacaknya rambutku


"Tasya dan Raisa terlalu menyayangiku dan mereka tak ingin aku kembali kecewa, itu saja. Jangan diambil hati, ya?"


Aku mengangguk dan kembali berusaha tersenyum


"Sini....." ucap Mario sambil menarikku kedalam pelukannya


Aku menghembus nafas panjang ketika berada di dekapan hangat Mario


"Bagaimana jika mereka tidak menyetujui aku menjadi istrimu Yo?" lirihku pelan


Mario menggeleng sambil memegang bahuku dan aku mendongakkan wajahku menatapnya


"Tak ada satu orangpun yang bisa memisahkan kita, pegang omongan aku"


Aku hanya menelan ludah sambil terus menatap Mario yang terus meyakinkanku


Setelah aku tersenyum, kembali Mario mengacak rambutku, dan mengecup keningku, barulah setelah itu dia pulang


Sepeninggal Mario aku masuk kedalam, mempersiapkan makan malam untukku dan kedua anakku


Meka dan Bobbi bertanya mengapa tidak jadi makan malam di rumah oma, padahal mereka sudah mulai akrab dengan kelima ponakan Mario


Aku hanya menjelaskan jika aku tiba-tiba ingin pulang dan ingin makan bertiga saja dengan mereka

__ADS_1


Selesai makan, dan kedua anakku masuk ke kamar mereka, sedangkan aku memilih masuk ke kamarku. Berusaha menenangkan pikiranku yang tiba-tiba menjadi kacau karena teringat ucapan kedua adiknya Mario tadi


"Tasya dan Raisa benar, aku memang tidak pantas untuk Mario" lirihku menahan tangis


Aku mencoba merebahkan tubuhku, menatap ke langit-langit kamar dan memikirkan ucapan Raisa dan Tasya tadi


Aku kaget ketika hp yang kuletakkan di sebelah bantal berdering


"Nomor baru?" gumamku


Kulihat jam sudah menunjukkan hampir angka sepuluh


"Siapa yang nelpon malam-malam begini?" kembali aku bergumam sambil menerima panggilan tersebut


"Hebat ya, sudah main ngadu aja sama kak Mario"


Aku tertegun begitu mendengar suara di seberang


"Aku nggak bilang apa-apa sama Mario, sumpah!!!" jawabku setelah sekian detik diam


"Halah nggak usah main sumpah-sumpahan, dasar janda genit"


Aku menarik nafas panjang lalu aku mengklik ikon rekam, biar jika nanti mereka ngeles aku punya bukti


"Tanya sama Mario, aku nggak bilang apa-apa, mungkin Mario tahu sendiri, kan kalian sendiri yang tadi bilang jika Mario itu polisi pintar, bukan polisi sembarangan, jadi aku yakin kalau Mario bisa baca dari perubahan sikap aku"


"Mbak masih ngeles juga rupanya, dengar ya mbak, jangan mentang-mentang mbak sudah tunangan sama kak Mario, jadi merasa sok berkuasa atas kak Mario, dan berfikir jika kak Mario akan membela mbak, inget mbak, mbak itu siapa, dari mana, kami adiknya, kami saudara kandungnya, jadi otomatis kak Mario akan membela kami"


"Kami minta dengan hormat sama mbak, tolong jauhi kakak kami, kami malu mengetahui kakak kami menikah dengan janda anak dua, kaya kakak kami nggak laku aja nikah sama janda"


Mataku telah panas, ucapan adiknya Mario benar-benar melukai hatiku, hingga tanpa sadar air mataku mengalir


"Aku minta maaf sama kalian berdua, tapi sungguh aku tidak menyangka akan sejauh ini cinta kami, tapi jika kalian memang meminta aku untuk pergi dari kehidupan Mario, aku pikir-pikir dulu, karena kami sudah bertunangan dan mau tak mau sebentar lagi kami akan menikah, jadi aku mohon sama kalian, tolonglah ikhlaskan Mario memilih aku menjadi istrinya"


Terdengar suara tertawa sinis dari seberang


"Cinta?, mbak pikir ini cinta?, ini bukan cinta tapi mbak memang sengaja menggoda kak Mario agar kak Mario kembali tergoda sama mbak, mbak lupa apa, dulu mbak pernah ninggalin kak Mario dan nikah sama pria lain, dan sekarang sok-sok an bilang ini cinta, preeett"


Aku mengusap kasar wajahku yang basah oleh air mata


"Jika kalian memang meminta aku untuk mundur dari Mario, tolong jangan aku yang kalian minta mundur, tapi kalian bilanglah sama Mario untuk melupakanku"


"Pede banget mulut mbak"


Aku tersenyum getir mendengar suara bentakan adik Mario


Karena tak ingin terus mendengarkan ocehan mereka aku memutus sepihak panggilan dan meletakkan hp ku dengan wajah yang kembali basah


Aku menelungkupkan wajahku dalam bantal lalu menangis sejadi-jadinya. Hal yang dulu aku takutkan akhirnya kejadian sekarang, sebuah penolakan karena statusku. Terlebih karena status ku yang telah jadi janda

__ADS_1


Entah berapa lama aku terisak, yang aku ingat aku menangis sampai larut malam, dan kata-kata kedua adik Mario terus terngiang di telingaku yang semakin menambah sakit dan pedih ulu hatiku


"Aku tidak perlu mendengarkan omongan mereka, karena Mario bilang sendiri jika tidak ada yang bisa memisahkan kami" batinku berusaha menguatkan hatiku yang hancur dan sedih


...----------------...


Jam sembilan pagi, week end. Kedua anakku tidak sekolah karena mereka sekolah cuma lima hari, dan hari ini setelah sarapan keduanya sudah bersantai di depan tivi menonton film kartun favorit mereka


Suara ketukan di depan membuatku yang sedang beres-beres di dapur berjalan kearah depan


Dari kaca aku lihat jika yang berdiri di depan saat ini adalah mamanya Mario dan kedua adiknya Mario


"Ya Tuhan......" desisku panik


Walau degup jantungku menjadi tak karuan karena saat ini yang berdiri di luar adalah mamanya Mario bersama adiknya Mario, aku berusaha untuk tenang


Wajah mamanya Mario langsung mengembangkan senyum ketika aku membuka pintu


"Mama?, kok nggak bilang jika mau kesini?" tanyaku sambil membuka lebar pintu


Tasya dan Raisa menatap tajam ke arahku. Aku berusaha tersenyum ramah pada mereka yang memandangku dari atas sampai bawah


"Ini serius calonnya kak Mario ma?" ucap Tasya sambil melihatku dari atas sampai bawah


Mamanya Mario dengan cepat menyikut lengan Tasya yang membuatnya menoleh dengan raut tak suka


Aku kembali tersenyum getir dan membenarkan leher dasterku yang sedikit merosot ke samping, mengajak mereka masuk dan memanggil Meka dan Bobbi agar menyalami mamanya Mario


Kembali kulihat wajah Tasya dan Raisa tersenyum kearah mereka, bahkan mama sampai mengecup kepala kedua anakku


Aku mempersilahkan keduanya duduk sedangkan aku beranjak ke belakang membuatkan teh hangat


"Nggak usah repot-repot, kami nggak lama"


Aku yang tengah mengaduk teh menoleh kearah Tasya yang tahu-tahu sudah berdiri di dapur


Kulihat Tasya tampak mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dan kulihat jika bibirnya sedikit bergerak ke samping, membatin mungkin


"Kami sengaja minta mama membawa kami kesini, kami pengen lihat bagaimana rumah kamu, dan yaaa lumayanlah, nggak jelek-jelek amat"


Aku menelan ludahku karena kembali nada bicara Tasya tampak meremehkanku


"Gimana?, sudah berpikir semalam ini?, aku lihat mata mbak bengkak, aku yakin mbak nangis semalaman, dan aku ingatkan sekali lagi ya mbak, jika mbak masih berani melanjutkan hubungan ini, aku yakinkan jika mbak akan menangis setiap malam"


Aku diam dan hanya bisa menelan ludahku tanpa berani menjawab perkataan Tasya


"Kita ke depan saja dulu, kita bahas di depan sama mama" jawabku sambil mendahuluinya berjalan


"Awas kalau mbak berani ngadu macam-macam sama mama"

__ADS_1


Aku tak memperdulikan perkataan Tasya yang mensejajari langkahku melainkan terus berjalan dan mengembangkan senyumku kearah mama yang tersenyum begitu melihatku


__ADS_2