
Mata Meka tampak berkaca-kaca saat aku memberitahunya jika rumah yang kami tempati akan dijual
Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkannya yang harus aku jawab dengan hati-hati dan bisa dicerna oleh akal anak seusianya
Dan Bobbi juga ikutan bertanya dan mendengarkan penjelasanku mengapa rumah ini harus dijual
"Terus kita tinggal dimana ma kalau rumah ini dijual?"
Aku diam mendengar pertanyaan mereka, aku juga tidak berfikir sebelumnya akan tinggal dimana kami setelah nanti rumah ini laku terjual
Tapi waktu orang tuaku ku mintai pendapat tentang keinginan mas Arif menjual rumah ini, orang tuaku memintaku dan anak-anak kembali ke rumah mereka sampai nanti aku menikah
"Mungkin kita kembali ke rumah nenek"
Meka dan Bobbi saling toleh lalu kembali menatap ke arahku
"Kami boleh ketemu papa tidak ma?"
Aku diam mendengar pertanyaan Meka
"Sudah lama sekali ma kami tidak ketemu papa" sambungnya
Aku menarik nafas dalam setelah cukup lama diam aku akhirnya menganggukkan kepalaku yang dijawab Meka dan Bobbi dengan wajah sumringah
"Nanti ketika akhir pekan baru kita temui papa, ya?"
Kedua anakku mengangguk dan aku tersenyum melihat keduanya yang tampak bahagia akan bertemu papa mereka
"Sekarang tidur dulu, ya?"
Meka dan Bobbi segera bangkit dari depan tivi lalu segera masuk ke kamar mandi untuk cuci kaki
Sepeninggal kedua anakku aku kembali termenung, merebahkan kepalaku di sandaran sofa dengan menarik nafas panjang
Berbagai macam pikiran buruk berkecamuk di dalam otakku, lama aku termenung sendiri di ruangan ini sendiri, hingga hp yang berdering tak ku hiraukan, begitu juga dengan adanya pesan yang masuk
Setelah cukup lama aku termenung dengan berbagai macam pikiranku, aku akhirnya berdiri dari sofa, meraih hp dan berjalan ke kamarku
Sebelum meletakkan hp di atas meja hias ku, aku membuka hp, melihat bilah notifikasi pesan masuk dan panggilan yang tak terjawab tadi
Aku hanya bisa menarik nafas panjang ketika melihat siapa yang mengirimiku pesan dan siapa yang tadi meneleponku
Mau jadi parasit, iya?!. Tidak akan kami biarkan kamu masuk dengan seenak hati kamu ke rumah kakak kami
Aku kembali hanya bisa menarik nafas panjang membaca pesan yang dikirimkan Tasya
Mengusap wajahku dengan kasar lalu meletakkan hp. Berusaha memejamkan mataku dan melupakan semua kalimat yang dikirimkan Tasya tadi
...----------------...
Meka dan Bobbi berlari menghambur kearah mas Arif ketika mereka lihat papa mereka berjalan menuju ketempat kami
__ADS_1
Dapat aku lihat dengan jelas bagaimana mas Arif mendekap kedua anak kami dengan berlinang air mata
Begitu juga dengan Meka dan Bobbi, keduanya juga menangis ketika memeluk papa mereka, dan aku membuang wajahku melihat mereka bertiga menangis
Mas Arif sampai berlutut ketika memeluk kedua anaknya dan berkali-kali menciumi wajah keduanya
Aku yang ikut merasa emosional ketika melihat ketiganya berusaha mengedipkan mataku berkali-kali agar air mata yang menggenang di pelupuk mataku tidak jatuh di wajahku
Setelah dirasa cukup untuk mereka melepas rindu, ketiganya berjalan ke arahku yang duduk di kursi menatap mereka yang berjalan bersama, dengan Meka dan Bobbi yang melingkarkan tangan mereka ke pinggang mas Arif
Aku segera membuang mukaku, mengusap sedikit sudut mataku yang mengeluarkan air mata lalu mengulurkan tanganku kearah kedua anakku berharap jika mereka duduk di dekatku
Tapi ternyata Meka dan Bobbi lebih memilih duduk di pangkuan papa mereka
"Duduknya di kursi saja nak, kasihan papa jika harus memangku kalian berdua" bujuk ku yang ditolak keduanya
Dan mas Arif juga tampak tak mempermasalahkan kedua anaknya yang duduk manja di pangkuannya, dia malah mengusap-usap kepala kedua anak kami dengan sayang
"Terima kasih ya ma karena sudah membawa anak-anak kesini"
Aku hanya tersenyum segaris mendengar ucapan mas Arif
"Anak-anak ingin ketemu kamu, makanya aku bawa mereka kesini"
Kembali mas Arif mengusap kepala Meka dan Bobbi
"Mama keluar ya nak, biar kalian berdua bisa leluasa ngomong sama papa" ucapku berdiri
Mas Arif tampak mendongakkan kepalanya ketika melihat aku berdiri
"Keluar, biar anak-anak bisa leluasa ngobrol sama kamu"
Mas Arif menoleh kearah Meka dan Bobbi yang mendongakkan kepala mereka ke arahku
"Kenapa mama tidak disini saja bersama kami?"
Aku memasang senyum sekilas kearah Meka
"Bicaralah apa yang ingin kalian katakan sama papa, mama nggak mau dengarnya, nanti papa kalian malah mikirnya itu disuruh mama, nanti papa kalian malah berpikirnya jika yang kalian katakan adalah doktrin dari mama"
Mas Arif kembali mengangkat kepalanya menatap ke arahku yang berkata menyindirnya
Dan aku tak perduli dengan tatapannya, aku memilih segera meninggalkan mereka bertiga
"Mama tunggu kalian di luar" ucapku ketika akan melangkahkan kakiku
Lalu aku segera melenggangkan kakiku berjalan keluar dan tidak menoleh lagi kearah mas Arif dan kedua anak kami yang menatap kepergianku dengan diam
Aku yang sudah sampai di luar memilih duduk di kursi di bawah pohon, mengeluarkan hp dan memasang ear phone ke telingaku, memutar lagu yang ada di dalam handphone ku
Sesekali aku memasang senyum pada beberapa orang yang menoleh ke arahku, sepertinya mereka juga membesuk keluarga mereka, juga aku memasang senyum pada petugas lapas yang juga melihat ke arahku
Sambil mendengarkan lagu, aku membuka aplikasi what's app yang tadi berdenting karena ada pesan masuk
__ADS_1
Kembali aku menarik nafas dalam ketika itu adalah pesan dari Tasya
Berkali-kali aku menoleh gelisah karena tiba-tiba hatiku terbakar emosi membaca pesan yang dikirimnya
Bagaimana aku tidak emosi, dipesannya kembali Tasya menghinaku dengan mengatakan jika aku sengaja menjual rumah karena aku ingin menikmati hidup di rumah kakaknya, hidup enak dengan membawa kedua anakku dan kakaknya akan menjadi sapi perah menghidupi kami bertiga, ya Tuhan..... sebegitu nya penilaian Tasya tentang aku
Kembali aku harus menarik nafas panjang ketika ada panggilan masuk, aku yakin Tasya tahu aku aktif, apalagi pesan yang dikirimnya telah centang biru, karena itulah mungkin dia menghubungiku
Aku hanya membiarkan saja panggilan masuk darinya tanpa sedikitpun berniat untuk mengangkatnya
Kembali harus aku terima pesan darinya yang mengatakan jika aku memang sengaja tidak mengangkat panggilannya karena aku takut padanya
"Sabar Intan, sabar....." lirihku berusaha menyabarkan diriku sendiri
Kembali panggilan dari Tasya masuk dan kali ini panggilannya aku tolak, dan kembali harus aku terima pesan makian darinya
Karena aku tersulut emosi setelah membaca pesannya, segera pesannya aku screenshoot lalu aku kirimkan pada Mario
Tak ada pilihan lain, Mario harus tahu apa yang kembali diperbuat oleh adiknya padaku
Tak butuh waktu lama, pesan yang ku kirim pada Mario langsung centang biru
Dan aku kembali menarik nafas dalam ketika panggilan dari Tasya kembali masuk
"Mau kamu apa sih Sya?" jawabku emosi
Panggilan ini langsung aku rekam, aku tak ingin Tasya mengambil keuntungan dari panggilan ini
Terdengar tawa mengejek dari seberang, dan langsung aku dengar bagaimana Tasya merendahkan dan mengejekku
"Terserah kamu mau ngomong apa Sya karena aku tidak perduli sedikitpun dengan omongan kamu" jawabku berusaha tak peduli walau sebenarnya aku sakit hati
"Dasar wanita murahan, wanita kaya kamu memang tidak peduli dengan omongan orang lain karena yang ada di otak kamu hanyalah uang"
Aku memejamkan mataku mendengar hinaannya
"Terima kasih Sya, terima kasih untuk segala hinaan kamu, tapi aku bukan wanita murahan, tolong kamu tarik omongan kamu"
Kembali aku mendengar suara tertawa mengejek darinya
"Murah murah saja Ntan, nggak usah sok mahal, semua orang juga tahu bagaimana kualitas kamu"
Tessss
Kali ini air mata aku mengalir, aku benar-benar merasa tersinggung dengan ucapannya
"Dan sekarang aku juga tahu bagaimana kualitas kamu Sya, percuma gelar dan profesi kamu kalau mulut kamu tidak bisa kamu jaga" jawabku menohok
Setelah itu aku langsung mematikan obrolan, menutup wajahku dan terisak
Kembali aku melihat kearah hp ku yang bergetar, panggilan masuk dari Mario
"Jangan telepon dulu, nanti saja" jawabku cepat sambil segera mematikan panggilan dari Mario
__ADS_1
Dan Mario yang mendengar jelas suara Intan yang menangis yakin jika adiknya kembali berulah, terlebih tadi ketika dia menghubungi Intan, Intan sedang berada dalam panggilan lain