
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Mario
Aku berusaha untuk tersenyum dan menganggukkan kepalaku serta menjawab jika aku baik-baik saja.
"Meka sama Bobbi mau tidak menemani Oma sama Opa melihat barang-barang?" tanya Mamanya Mario yang sepertinya sengaja membiarkan aku sendiri biar lebih leluasa mengobrol dengan Mario.
Meka dan Bobbi langsung mengangguk cepat
"Ayo oma, Meka temani, biar nanti Meka yang melayani apa yang mau oma pilih" ucap Meka yang telah berjalan mendahului kedua orang tua Mario.
Aku hanya tersenyum kaku ke arah kedua orang tuanya Mario saat mereka berkata jika mereka akan turun ke bawah.
Dan sekarang, tinggallah aku sendiri yang hanya bisa menatap bingung pada layar HP yang ada di tanganku.
"Apa kabar kamu Intan?" tanya Mario kembali
Aku kembali berusaha untuk tersenyum saat mendengar pertanyaan yang sama dari Mario
"Aku baik-baik saja Mario, Bagaimana dengan kamu?" tanyaku.
Terdengar Mario menarik nafas dalam kemudian dia menatap ke arahku tanpa menjawab pertanyaanku.
Kulihat wajahnya tirus tidak seperti berapa bulan yang lalu ketika terakhir kali kami bertemu.
"Jaga kesehatannya Mario" lirihku.
Mario menganggukkan kepalanya kemudian berusaha tersenyum ke arahku.
"Dan kamu jaga hati kamu untuk aku ya Ntan" ucap Mario yang mampu membuatku menelan ludah dengan susah payah.
Aku mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca lalu aku menunduk dalam karena aku tak kuasa untuk menatap wajah Mario kembali.
"Aku lihat kalau kamu semakin sukses. Selamat ya Ntan, aku turut bangga dengan keberhasilan kamu" .
Aku mengangkat wajahku, menatap wajah Mario dan berusaha untuk tersenyum.
"Ini semua berkat doa dan dukungan kamu Mario" jawabku sendu.
Lalau kami berdua sama-sama terdiam untuk sekian lama dan hanya bisa saling memandang.
Sebenarnya ingin sekali aku berkata pada Mario jika aku sangat merindukannya
"Ada yang ingin kamu sampaikan Ntan?" tanya Mario.
Aku tergagap kemudian menggeleng cepat
"Tidak ada, tidak ada yang ingin aku sampaikan Mario, memangnya aku mau ngomong apa?" tanyaku.
Kembali aku lihat Mario menarik nafas panjang.
"Ya... mungkin saja kamu mau bilang jika kamu merindukanku, mungkin" tebak Mario yang menatap dalam ke arahku.
Aku berusaha untuk tersenyum walaupun senyuman getir. Aku menggelengkan kepalaku dan berusaha untuk tertawa.
"Apa Aku masih berhak untuk merindukanmu Mario?" lirihku pelan nyaris tak terdengar.
"Apa Tan? kamu bilang apa? aku nggak dengar" tanya Mario yang membuatku tersadar yang dengan cepat menggeleng
__ADS_1
"Tidak Yo, aku tidak bilang apa-apa kok" .
Aku lihat Mario tersenyum getir mendengar jawabanku lalu kembali kami berdua sama-sama saling diam dan hanya saling memandang.
"Bagaimana di tempat dinas barunya Mario?" tanya ku mengalihkan topik pembicaraan.
"Baik, semuanya baik dan berjalan lancar cuman hati aku saja yang tidak baik" kembali Mario seakan-akan memancing pembicaraan kami yang belum tuntas tadi.
"Semuanya akan berjalan lancar, aku yakin kamu orang hebat" ucapku memberi semangat padanya.
Mario tersenyum mendengar jawaban ku dan aku juga ikut bertemu melihatnya tersenyum.
"Apa kamu tidak sibuk Mario?" tanyaku
"Aku tidak sibuk, sepertinya yang sibuk itu kamu, karena sekarang kamu makin banyak bisnis. Dan aku senang kamu semakin mengembangkan bakat mu" .
Aku tersenyum mendengar pujian Mario padaku.
"Masih dalam tahap belajar Mario dan aku masih butuh support dari orang-orang terdekatku dan juga aku masih perlu belajar banyak. Aku belum sukses tapi aku masih mencoba" jawabku merendah.
"Kalau untuk support, tenang saja aku akan selalu mensupport mu Intan apapun itu. Bahkan jika kamu butuh mood booster dariku, aku dengan suka rela akan menjadi mood booster bagimu".
Aku lalu tertawa mendengar ucapan Mario.
"Justru Kamu adalah mood booster terbesar buat Mario. Sehingga aku bisa berada di posisi sekarang" jawabku pasti.
Senyum lebar langsung menghiasi wajah Mario mendengar jawabanku.
"Apakah mulai hari ini kita bisa kembali seperti dulu?" tanya Mario.
Aku menggeleng
Kembali kulihat wajah Mario berubah sendu dan dia mengangguk-anggukkan kepalanya
"Baiklah Intan jika itu adalah keputusanmu" .
Aku tersenyum mendengar jawaban Mario
"Terima kasih ya Mario untuk pengertiannya" ucapkan.
Maria mengangguk dan tersenyum ke arahku .
"Maaf ya Mario aku harus mengakhiri obrolan kita karena aku mau menemani mamamu untuk memilih-milih barang, siapa tahu ada daganganku yang menarik minatnya" .
Mario mengangguk kemudian mengangkat kedua jempol tangannya
"Baiklah jika begitu. Titip salam buat mama sama papa dan juga untuk kedua anakku bilang jika aku sangat menyayangi dan merindukan mereka".
Aku mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Mario lalu kami berdua sama-sama melambaikan tangan untuk mengakhiri obrolan kami.
Setelah obrolanku dengan Mario berakhir aku segera turun ke bawah dan langsung menuju ke arah mamanya Mario yang saat ini sedang bersama dengan Meka.
"Wah....., anak Mama pintar ya jadi pelayan" puji ku pada Meka yang dijawabnya dengan ketawa kecil.
Kulihat di keranjang belanjaan mamanya Mario sudah ada beberapa barang yang dipilihnya.
"Mari ma Intan yang temani" tawarku.
__ADS_1
Mama nya Mario tersenyum lalu Kami bertiga kembali mengelilingi setiap rak dan bagian barang-barang untuk mencari kira-kira barang apa yang diinginkan oleh mamanya Mario.
Hingga akhirnya keranjang belanjaan yang memang kami sediakan di toko penuh oleh barang yang sudah dipilih oleh mamanya Mario dan segera kami berjalan ke arah kasir.
Dua orang pelayan langsung memasukkan dan memilah-milah barang-barang yang tadi telah dipilih oleh mamanya Mario ke dalam kantong kresek.
Lalu aku kembali melambaikan tangan ke arah dua pelayan laki-laki yang segera datang dan langsung mengangkat dua kantong kresek belanjaannya mama Mario
"Tolong ini bawa ke mobilnya ada di depan, ya" ucapku .
Kedua pelayanku mengangguk lalu segera membawa dua kantong tersebut keluar di mana papanya Mario dan Bobbi menunggu di luar.
"Berapa totalnya Mbak?" ucap mamanya Mario ke arah kasir yang tadi menghitung belanjaannya.
Kasir tersebut menggeleng kemudian tersenyum
"khusus untuk ibu semua belanjaan ini free" jawabnya.
Mamanya Mario langsung menoleh ke arahku kemudian menggeleng cepat
"Tidak Intan, barang ini kamu beli pakai uang, pakai modal. Jadi Mama harus membayar semua belanjaan yang Mama beli di sini bukan dengan gratis" protes mamanya Mario padaku.
Aku lalu merangkul bahu perempuan paruh baya tersebut sambil mengusap-usap bahunya berkali-kali
"Mama adalah mamanya aku, mamanya Mario. Orang yang sangat aku cintai, nggak mungkin kan ma aku menyuruh orang tuaku membayar belanjaannya?" jawabku meyakinkan beliau jika memang barang yang dipilih beliau tadi semuanya gratis.
"Tapi Intan?" mamanya Mario masih berusaha untuk protes
Aku menggeleng cepat
"Nggak Mah, ini semua memang gratis untuk Mama karena aku bersyukur dan bahagia sekali karena mama akhirnya mau mengunjungi aku dan melihat Meka sama Bobbi" sambung ku cepat sambil tersenyum meyakinkan beliau.
"Wah ini kalau Mario tahu mama bisa kena marah sama Mario" jawab Mamanya Mario lagi dengan wajah sedih
Aku tersenyum mendengar ucapan beliau
"Kenapa Mario marah sama Mama? kalau Mario marah sama mama, mama bilang saja, aku yang ngasih mama, ya?" bujuk ku lagi.
Beliau akhirnya hanya menganggukkan kepalanya sambil mengusap kepalaku.
"Terima kasih ya Tan untuk kebaikan kamu, ternyata kamu memang tidak berubah".
Aku tersenyum mendengar ucapan beliau.
"Doakan semoga Intan sampai kapanpun tidak akan pernah berubah ya ma".
Beliau kembali menatap wajahku dengan lembut.
"Mama selalu berdoa untuk kebaikanmu Intan terutama kesuksesanmu agar kamu sama Mario bisa bersatu kembali, itulah doa Mama" jawab beliau.
Aku tersenyum haru mendengar ucapan beliau lalu kembali kami saling berangkulan sampai akhirnya beliau keluar dari toko bersamaku yang mengantarkan beliau sampai ke parkiran di mana Papanya Mario sudah menunggu kami.
Sebelum keduanya masuk ke dalam mobil aku bersama kedua anakku mencium punggung tangan beliau berdua dengan takzim.
"Sering-sering datang ke sini ya Oma, Opa" teriak Meka dan Bobbi ketika Papanya Mario mulai menjalankan mobil.
Mama dan Papanya Mario tersenyum dan melambaikan tangan ke arah kami yang kami balas dengan melambaikan tangan pula.
__ADS_1
Sepeninggalnya orang tua Mario aku tersenyum lega.
"Mario...., Aku akan terus menjaga hatiku untuk kamu, seperti yang kamu pinta tadi" batinku.